
"Kiya mana Zil, ko kamu yang cuci piring"
"Mbak Kiya tadi ke kamar bang katanya"
"dia nyuruh kamu cuci piring"
"apa an sih bang, tadi aja kalo nggak di paksa mana mau mbak Kiya ngizinin aku cuci piring"
"terus di mana dia "
"di kamar mungkin"
"kayanya Mbak Kiya sakit deh bang, mukanya pucat banget"
"masa sih Zil"
"periksa aja sendiri"
"sayang kita harus balik, ada panggilan dari rumah sakit"
"ah, iya daf, ini juga sudah selesai ko"
Kaka beradik itu kompak berbalik menghadap Daffa, zila membilas tangan nya, kemudian ia meraih tangan Zidan untuk di Salimi
"bang kami pulang dulu ya, bilangin juga ke mbak Kiya" Zidan Hanya mengangguk, mengantar ipar dan adiknya Sampai pintu gerbang
"jangan ngebut daf pelan pelan aja"
"iya dan, kita Balik assalamualaikum"
"waalaikumsallam"
Zidan menyusul ke kamar mencari Kiya, wanita itu duduk dengan kepala ia letakkan di atas meja sedangkan tangan nya , Kiya gunakan sebagai bantal "
"kiyaa" panggi Zidan, dengan menggoyangkan pundak wanita itu, pria itu mengira istrinya sedang tidur
Kiya mengangkat wajah nya, menatap Zidan dengan tatapan sayu
"kenapa zi"
"kamu sakit Ki, muka kamu pucat banget " zidan meletakkan tangan nya di dahi Kiya, kepalanya tidak Hangat, tapi wajah pucat Kiya begitu terlihat jelas.
"kepala ku pusing banget zi"
"terus kenapa gak tidur, malah duduk di sini"
Bukannya menjawab Kiya justru berdiri berniat menemui iparnya, Kiya berusaha melangkah, mungkin karena terlalu lemah , juga pusing, wanita itu kehilangan keseimbangannya, zidan dengan sigap menangkap tubuh istri nya, membawa Kiya berpindah ke atas ranjang.
"Kalo sakit itu jangan di paksa, so kuat banget sih jadi perempuan, sakit sakit aja, jangan so so.an"
"Zi__ bisa nggak sih jangan ajak aku berdebat dulu, kepalaku rasanya hampir pecah, di tambah kamu ngomel terus"zidan memutar matanya jengah, ia duduk di pinggir ranjang samping Kiya berbaring
"masih pusing, sudah minum obat"
__ADS_1
"emm sudah"
"kamu turun aja dulu zi, Kesian zila sama Daffa di tinggal sendiri"
"mereka sudah balik"
"ko nggak bilang ke aku sih"
"lah kamu aja ngilang, gimama sih"
Zidan duduk tepat berada di samping kepala Kiya, tangannya terulur memijat kepala sang istri, Kiya menyunggingkan senyum melihat apa yang suaminya lakukan, meskipun zidan kecewa tapi kalo Kiya sudah sakit, Zidan akan selalu ada untuk nya
Kiya memejamkan mata menikmati pijatan suaminya
"Zi aku ada hadiah buat kamu"
"apa "jawab Zidan ketus , tangannya masih di atas pelipis sang istri .
Kiya berusaha bangun tapi dengan cepat zidan mendorong jidat Kiya menggunakan jari telunjuknya, alhasil Kiya kembali tertidur.
"mau kemana sih, sudah tau pusing masih aja di paksa"
"aku mau ngambil tas ku zi" zidan merotasikan matanya malas, kemudian berdiri untuk membantu kiya mengambil tas nya di atas nakas
"nih" zidan melempar tas itu di samping Kiya
"tutup mata dulu deh"
"tutup mata dulu"
"males" Zidan berdiri, ikut membaringkan diri di samping Kiya, Kiya menyerah membujuk suaminya, Kiya memeluk Zidan dari belakang satu tangannya menggenggam hasil usg juga tes kehamilan
"tadaaa, aku hamil zi" Zidan diam sejenak merespon ucapan Kiya, ia juga terus menatap benda yang ada di tangan kiya
"jangan bercanda kamu Ki
"aku serius zi" Zidan berubah duduk, di ambilnya hasil USG juga tes kehamilan dari tangan Kiya, zidan masih menatap dalam bebas itu, tanpa ia duga air kata jatuh begitu saja dari sudut matanya, Kiya ikut mendudukkan diri di hadapan Zidan, tangan Kiya terulur menghapus air mata kebahagiaan di wajah sang suami
"kamu senang zi
Zidan mengangguk, kemudian memeluk wanita itu
"aku akan jadi ayah, aku akan di panggil ayah, kita akan jadi orang tua"
Kiya mengangguk di pelukan zidan.
"terima kasih ya tuhan" zidan mendongak menatap langit-langit kamar, matanya berkaca-kaca, lisannya tidak henti berucap syukur pada sang maha pencipta
...
"Ueeek"
"ueeek"
__ADS_1
"Baru juga makan sudah di muntahin lagi" Zidan mengoleskan minyak angin ke tengkuk zila, Zidan memijat perlahan tengkuk sang istri yang masih muntah di hadapannya.
"gimana sudah mendingan"
"emm"
"tunggu sini aku ambil kan air dulu"
Tidak lama zidan kembali ke kamar, ia duduk di samping Kiya.
"Mau aku bawakan apa kalo pulang?"
"Aku lagi pengen makan mi ayam zi"
"Nanti aku pulang kerja, aku bawain, kamu tiduran aja, kalo kepalanya pusing lagi, aku berangkat dulu, assalamualaikum "
"waalaikumsallam "
Kiya benar benar merasakan apa itu morning sickness, Kiya hanya bisa memasak tapi tidak bisa memakan masakannya, ada bau bau tertentu juga yang tidak kiya sukai dalam perbumbuan.
tapi itu Nikmat tersendiri bagi ibu hamil, apa lagi semenjak hamil,Kiya seperti mendapatkan Zidan nya lagi, zidan yang selalu ada untuknya, walaupun Kiya tau itu semua zidan lakukan hanya karena anak yang Kiya kandung, tapi tidak masalah itupun Kiya sudah sangat bersyukur.
Semenjak hamil Kiya lebih sering menghabiskan waktunya di atas kasur, sambil menunggu zidan pulang, seperti sekarang Kiya tiduran dengan kepala bersandar di atas dipan, matanya terus melirik ke arah jam dinding yang terpajang di dalam kamar, Kiya selalu ingin zidan dekat dengannya, mungkin karena bawaan bayinya.
mendengar bunyi mobil yang terparkir di garasi, koya bergegas keluar menyambut suaminya seperti biasa, dengan senyuman yang tidak pernah luntur, kiya menyambut tangan zidan untuk di salimi, Kiya juga tetap membawakan tas bawaan zidan, meski zidan sudah melarang nya.
"makan zi, aku sudah siapkan makanan kesukaan kamu"
"Hem"
Kiya menyendok nasi di piring zidan beserta lauknya, sedangkan mi ayam yang zidan Belikan sudah ada di dalam mangkuk.
Mi ayam yang ada di depan Kiya hanya di aduk aduk sampai dingin, sampai zidan kesal melihat nya,Zidan menahan tangan Kiya agar berhenti mengaduk mi ayamnya
"bisa gak sih , jangan bikin emosi"
"kenapa, aku dari tadi diam aja"
"kamu dari tadi cuman ngaduk ngaduk mi ayamnya, aku pusing liatnya, di makan jangan di aduk terus"
"tapi aku nggak selera zi"
"nggak selera, nggak selera, tadi kamu mau mi ayam , pas di beliin bilang nggak selera, mau kamu apa sih"
"aku juga nggak tau zi, aku juga nggak minta kaya gini, aku juga mau makan semua yang aku masak, tapi nggak bisa, kamu paham nggak sih"
"terus kamu mau apa, kalo nggak makan Gimana, nanti anak yang ada di dalam kandungan kamu juga terkena dampaknya "
Kiya lebih memilih pergi dari sana, entahlah mood nya mudah sekali berubah setelah hamil, demi menghindari pertengkaran yang berkelanjutan Kiya lebih memilih pergi dari sana.
"Kiya, makan dulu Ki"
"kalo sudah makan, tarus di sana aja zi, nanti aku yang beresin" zidan menarik nafas panjang, mengatur emosi yang sudah memuncak.
__ADS_1