Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
paparazi


__ADS_3

"daf kita ke toko buku dulu yok"


Daffa hanya mengangguk yakin, mengeratkan genggaman tangannya di jemari zila, sungguh zila tidak pernah menyangka ia bisa pergi ke toko buku berdua dengan Daffa seperti ini, tidak pernah ada di dalam kamusnya semenjak menikah dengan Daffa dimana suatu hari nanti ia bisa bergandengan tangan dengan senyum mengumbar menandakan kebahagiaan di sana, apa yang ia rasakan sekarang masih seperti mimpi, jemari hangat Daffa menggenggam erat jemari dinginnya, senyum Daffa tatapan tulus Daffa, perhatian kecil Daffa jika mengingat di masa dua tahun pernikahannya , rasanya tidak mungkin ia mendapatkan semuanya seperti sekarang, yang ada ia terus di hantui jika sewaktu-waktu Daffa menginginkan perpisahan Dengannya , tapi takdir berkata lain, rumah tangganya yang hampir berada di ujung tanduk, kini seakan berada di tengah awan.


sulit untuk di jelaskan seperti apa rasanya sekarang, yang pasti zila berharap semuanya nyata bukan khayalan semata, bukan angan sebelum tidur, bukan mimpi yang akan usai, bukan pula bayangan yang akan pergi ketika pet'tang datang.


"mau cari buku apa" tanya Daffa lembut


"emm, cari aja dulu yang menarik kalo ketemu ya beli, udah lama ga beli buku baru, kangen nyium wangi buku baru "


"ada ada aja kamu" Daffa menyunggingkan senyum mendengar alasan zila yang ingin membeli buku baru.


"habis beli buku kita makan dulu yah, aku udah lapar"


"yaudah kita makan dulu aja, baru beli buku gimana"


zila menggeleng yakin


"Katanya lapar"


"mau makan sambil baca buku"


"yaudah kita beli buku dulu baru makan, tapi kamu ga pusing kan"


"enggak Daffa"


"cantik banget sih ya Allah" Daffa mencubit gemas hidung mancung zila


"Baru sadar ya, udah mau tiga tahun juga" zila berucap sinis sambil tetap meneliti setiap buku yang tersusun rapi dalam rak nya, Daffa hanya tersenyum mendengar respon sang istri, membiarkan zila puas memilih sedangkan ia hanya mengekor di belakang


"kamu ga nyari buku"


"enggak, buku aku yang kemaren masih belum selesai" zila hanya berooh ria


cekrek


bunyi ponsel Daffa yang lupa ia diamkan membuat zila menoreh menghadapnya, ia Daffa memotret zila diam diam, Daffa seperti tertangkap basah sedang mencuri, padahal ia hanya mengambil foto istrinya sendiri


"kamu moto aku"


"iyaa" jawab Daffa kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, entah ada apa Dengan nya


"coba lihat" Daffa mendekat ingin melihat hasil jepretan Daffa


__ADS_1


"ko aku kelihatan kecil ya daf"


"kamu memang kecil sayang"


"masa sih, kan selama hamil aku berisi"


jujur Daffa mulai takut jika zila sudah membahas bentuk tubuhnya, takut apa yang ia ucapkan salah lagi dan berakhir zila marah lagi, tau sendiri kan seperti apa wanita jika sudah membahas mengenai bentuk tubuh salah sedikit bisa di bahas sampai besok


"ko diam iya kan" siapapun tolong selamatkan Daffa dari keadaan menegangkan ini, di jawab salah ga dijawab juga salah


"iyaaa sayang"


"iyaa apa" tanya zila sinis


"iya, kamu berisi tapi di foto ini kelihatan kaya masih anak SMA"


"masa sih" zila terus menatap manik Daffa yang kebingungan menjawab setiap pertanyaan zila


"udah ayo cari lagi bukunya, katanya lapar" Daffa berusaha mengalihkan perhatian zila dari pertanyaan menjebak


....


"makan di sana aja daf"


mereka makan di satu stand tidak jauh dari toko buku tadi



"kamu moto aku lagi yah" Daffa juga duduk di samping zila yang lebih dulu duduk di sana , Daffa mengusap perut buncit zila, zila meletakkan tangannya di atas tangan Daffa


"iyaah"


"Kenapa perut nya keram yah" zila mengangguk menikmati usapan tangan Daffa di perutnya


"Kayanya dia udah ga sebar pengen keluar deh"


" dua Minggu lagi kan"


"iyaah"


"makasih mbak" Daffa kembali memposisikan dirinya untuk duduk dengan benar setelah pelayan resto mengantarkan makanan mereka


" Daffa aku mau minum air putih aja"


"air putih"

__ADS_1


"iyaa, "


"bentar yah, aku pesankan dulu"


"Hem"


Selang beberapa menit Daffa kembali dan melihat istrinya sedang berbincang dengan wanita di sana, daffa tidak bisa melihat wajahnya karena posisi wanita itu memunggunginya.


" Sayang ini minumnya" baru lah Daffa bisa melihat wajah wanita yang duduk dengan zila, Zahra!! entah kenapa dunia ini serasa sempit untuknya dengan zila, seakan takdir selalu mempertemukan mereka dengan Zahra


"yaudah Zil, mbak biar pindah aja"


"jangan mbak kita makan aja di sini bertiga, ga papa kan daf" terulang lagi, Daffa hanya mengangguk tidak mungkin juga ia tidak membolehkan, Zahra bisa merasa tidak enak


"enggak usah zil, biar mbak di sana aja"


"di sana di mana sih mbak , gak ada meja kosong Lo ini"


"yaudah mbak, cari tempat makan yang lain aja"


"mbak kenapa, ga enak sama daffa?" daffa langsung menatap zila, begitu juga dengan Zahra ia menatap zila bergantian menatap Daffa


"eng_ _enggak gitu Zil, Mbak__cuman gak mau ganggu waktu Kalian"


"mbak ini menunya" Zahra terpaksa ikut makan dengan mereka, sebenarnya kebetulan ia juga memasuki restoran yang sama, zila memanggilnya karena lebih dulu melihatnya, mereka berbicara mengenai kandungan zila, sampai Zahra tidak sadar kehabisan tempa di sana, sebenarnya zila juga tidak enak makan bertiga, takut suaminya tidak nyaman, tapi apa zila akan membiarkan Zahra pergi begitu saja tanpa menahannya, toh zila juga tau suaminya tidak lagi memiliki perasaan untuk Zahra , wanita yang pernah mengisi hati suaminya di masa lalu, zila juga ingin memperbaiki hubungan mereka yang sempat merenggang, dan ini pertemuan kedua mereka setelah hari itu Zahra datang kerumah mereka.


Dan akhirnya mereka harus berbagi meja yang sama,Daffa seakan menganggap kehadiran Zahra tidak nyata , tidak sekalipun Daffa mengajaknya berbicara walaupun untuk sekedar basa basi semata, Zahra juga tidak pernah mengharap apapun, ia sadar posisinya, Zahra juga sudah belajar cara melupakan masa lalunya meskipun sulit untuknya.


"Mbak, punggung zila akhir akhir ini sering sakit"


"iya Zil, usia kandungan kamu kan sudah masuk 9 bulan, 2 Minggu lagi HPL kan"


"iya mbak"


mereka juga membicarakan tentang Aulia, wanita yang pernah menampar zila , sekarang wanita itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, berkat rekaman cctv __ Hana langsung melaporkan perbuatan Aulia CS ke kantor polisi.


setelahnya tidak terjadi lagi obrolan apapun, mereka makan dengan keheningan. selesai makan tanpa mau berlama-lama Zahra berpamitan untuk pulang lebih dulu, sebenarnya jujur __Zahra sangat tidak menikmati makanannya, terlalu Canggung rasanya makan satu meja dengan zila yang pernah ia sakiti perasaannya walaupun tanpa sengaja, dengan pria itu Zahra Hanya bisa menahan perasaannya dan melupakan semuanya tentang daffa.


"kenapa liatin aku kaya gitu"


"enggak papa sayang, mau kemana lagi kita"


"beli bahan makanan, aku mau buatin masakan kesukaan mamah papah"


"ga usah sayang kita pesan aja yah"

__ADS_1


"enggak ya daf, aku mau masak sendiri, ga berat juga ko" daffa memang selalu kalah jika harus berdebat dengan zila, dari pada zila ngambek daffa akhirnya mengiyakan saja keinginan zila, Daffa hanya Kawatir istrinya itu kelelahan, apalagi usia kandungan zila sudah ada di bulan akhir, itu membuatnya kesulitan untuk bergerak, bahkan setiap malam zila selalu mengeluh sakit pinggang dan berkahir daffa yang harus begadang mengelus punggungnya untuk sekedar mengurangi rasa sakit yang zila rasakan, bukannya Daffa keberatan, Daffa Hanya tidka tega melihat istrinya kesakitan, apa lagi saat melahirkan, daffa terus meminta zila untuk melahirkan Cesar saja, tapi zila tetap kekeh ingin melahirkan normal, itu sudah menjadi keinginannya sejak awal.


__ADS_2