
"intan, saya pergi dulu ya"
"iya mbak"
mendengar zila masuk rumah sakit membuat Zahra begitu kawatir, Zahra menutup kliniknya lebih cepat, Zahra meraih tas kecilnya , mengambil kunci mobil dari laci dan keluar tergesa gesa , tujuannya satu rumah sakit.
Zahra mampir untuk membeli beberapa buah yang bisa di makan zila sebagai buah tangan.
Sampai lah zahra di depan ruangan zila, Zahra masuk dengan keranjang buah di tangannya, tubuhnya membeku Melihat hal yang membuat matanya memanas, apa pantas Zahra merasakannya , cemburu!! , ia cemburu melihat Daffa memeluk zila begitu hangat, Zahra memutar kembali tubuhnya berniat pergi, tapi suara zila menghentikan langkahnya
"mbak Zahra"
panggil zila
Zahra dengan cepat menghapus air matanya dan kembali memutar tubuhnya, tapi sebelum nya __Zahra sudah memasang senyum termanis di wajahnya.
sedangkan di tempatnya zila berusaha membangunkan Daffa, tapi ya namanya Daffa di mana pun tidurnya , urusan bangun paling susah, seperti sekarang __Zahra sudah berdiri di samping zila, sedangkan dia masih saja merengkuh zila, zila tersenyum kik kuk pada Zahra
"Daffa bangun ada mbak Zahra" zila mencubit tangan Daffa menggunakan tangan kirinya yang terpasang infus di sana, alhasil darah zila jadi naik ke atas selang infusnya
"Zil jangan bergerak, infus kamu berdarah"
mendengar suara Zahra, Daffa akhirnya bangun, bukan karena Zahra, tapi karena Zahra menyebut darah , infus zila berdarah, Daffa Kawatir dan lekas turun dari ranjang zila, membenarkan infus istrinya.
"gimana tangannya__sakit"
zila menggeleng, dan kembali fokus ke Zahra yang sudah duduk di samping nya, sedangkan Daffa belum sadar dengan kehadiran Zahra di sana
"mbak ko ga bilang mau ke sini"
Ok sekarang Daffa sadar bukan hanya mereka berdua di ruangan zila ada orang lain di sana, dan ok__ sekali lagi Daffa di buat terkejut, ternyata Zahra yang datang menjenguk istrinya.
"iya, mbak Kawatir Zil, sampai lupa ngabarin kamu, gimana sekarang sudah baikan?"
"Alhamdulillah mbak"
__ADS_1
"Zil, mas pulang dulu ya, mau bersihin badan" Daffa memasang kembali jasnya, Daffa mengusap kepala zila, mencium kening zila.
Apa Daffa lupa ada Zahra di sana atau dia sengaja ingin membuktikan pada zila kalo ia sedang berusaha melupakan Zahra.
apa Daffa tidak memperdulikan perasaan Zahra, Melihat pria yang ia cintai memperhatikan wanita lain , meskipun wanita lain itu istrinya sendiri, Zahra cemburu, marah, ia ingin ada di posisi zila, mendapat perhatian dari Daffa , Zahra ingin meraung kesetanan sekarang, tapi semua itu ia sembunyikan dengan tetap memperlihatkan senyum termanis di wajahnya.
"Daf, bawain Qur'an ku yah, yang ada di atas meja"
"iya, ada lagi"
"itu aja"
"kalo gitu mas pergi dulu yah"
"Zahra, saya tinggal yah"
"iya daf". mendengar Daffa menyebut namanya membuat hatinya menghangat, panggilan itu yang Selalu ia rindukan, terakhir kali Daffa memanggilnya dengan sebutan dokter waktu di klinik, dan waktu di rumahnya pun Daffa sama sekali tidak menggubris kehadirannya.
Zahra tau ia salah mencintai Daffa yang sekarang sudah milik zila, melupakan sosok Daffa yang sudah bertahun tahun mengisi hatinya , apa bisa di lupakan begitu saja.
Zahra bahkan memandangi punggung Daffa yang berjalan meninggalkan ruangan rumah sakit, Zila sadar akan Zahra yang memperhatikan suaminya __tapi zila bisa memaklumi hal itu, justru zila malah semakin merasa bersalah karena memisahkan dua orang yang saling mencintai.
"kenapa bisa pingsan Zil" tanya zahra lembut"
"kelelahan mbak" zila mencoba bangun dari tidurnya, Zahra membantu zila yang kesusahan merubah posisinya.
"kamu nih, bikin mbak Kawatir aja tau nggak, pantas mbak tunggu di klinik ga Dateng"
"maaf ya mbak, zila lupa ngabarin "
"kamu tu seharusnya istirahat aja di rumah ga usah kerja lagi"
"tapi mbak, zila bosen kalo di rumah aja"
" Iya mbak tau, tapi sekarang kamu ga sendiri Zil, ada bayi di dalam perut kamu " tangan Zahra mengusap perut zila
__ADS_1
"ada si kecil di dalam perut kamu"
zila menatap lekat manik Zahra, wanita di depannya ini sangat tulus, apa Zahra mengira kalo zila tidak tau hubungan nya dengan Daffa, kenapa Zahra sangat tulus, Bahkan zila tidak melihat kebohongan di manik teduh Zahra.
Jika seperti ini terus , rasa bersalah zila semakin besar pada wanita di depannya ini, tidka salah daffa begitu mencintainya __ tidak seperti dirinya , Jika di bandingkan dengan Zahra , zila menilai dirinya tidak ada apa apanya.
Semua kriteria pria ada di diri Zahra, cantik, baik, tulus, pintar, semuanya
"Mbak"
"iya kenapa Zil, ada yang sakit" zila menggeleng
"Mbak ko baik banget sih" Zahra mengerutkan keningnya
"kenapa mbak bisa sebaik ini, zila jadi ga enak "
"kamu tuh sudah mbak anggap seperti adik mbak sendiri Zil, mbak juga punya adik seumuran kaya kamu, mbak jarang ketemu , liat kamu jadi ngingetin mbak sama dia, sikap dia juga sama kayak kamu , anaknya tertutup banget, dan mbak juga ga punya alasan untuk ga baik ke kamu Zil"
"mbak" zila tidak tahan lagi air matanya jatuh, rasa bersalah dengan wanita di depannya itu begitu besar.
Zahra memeluk erat tubuh zila yang tiba tiba menangis, Zahra berusaha menenangkan zila, tanpa tau sebab tangisan zila
"Kamu kenapa Zil"
"mbak terlalu baik, zila ga sanggup"
"Kamu lucu banget sih Zil" Zahra terkekeh zila terlalu gemas menurut nya.
.....
Di rumah __Daffa baru saja keluar dari kamar mandi, Dafa mengeringkan rambut nya menggunakan pengering rambut milik zila , duduk di pinggir ranjang di dalam kamar zila.
Daffa meraih Poto pernikahan nya di atas meja zila, Daffa mengusap wajah cantik zila di bingkai Poto kecil itu, di Poto itu istrinya tersenyum manis , gigi taring yang tidak tumbuh pada tempatnya membuat senyum zila terlihat lebih manis , mata teduh yang polos, kulit putih pucat , Kenapa Daffa baru menyadari nya sekarang __kalo istrinya itu sangat cantik, Kemana aja dia selama ini, menyia-nyiakan istri cantik dan baik seperti zila.
Daffa selama ini sudah di butakan dengan cinta nya ke Zahra, sampah menyakiti perasaan setulus zila.
__ADS_1
Daffa memasukkan satu pasang baju ganti untuk zila, iya hanya satu , besok zila sudah boleh pulang jika keadaan nya stabil, Daffa juga memasukkan Qur'an dengan sampul warna coklat milik zila kedalam tas
Daffa bergegas mengganti pakaiannya, Daffa ingin segera menemui zila, Daffa ingin kembali terlelap di pelukan zila, Daffa tidak tenang meninggalkan zila lama lama, walaupun Zahra pasti akan menjaga zila dengan baik di rumah sakit.