
"Bisa nggak sih sehari aja nggak bikin aku nangis, sehariii ajaa' ucap Kiya lirih
"aku sudah pernah bilang ke kamu kalo kamu nggak sanggup, silahkan __silahkan pergi aku nggak akan larang" Zidan berucap enteng menatap dingin wanita yang duduk di depannya
"Aku juga nggak lakuin apa apa ke kamu, kamunya aja kelewat cengeng"
"dikit dikit nangis , dikit dikit nangis, nggak capek nangis terus, aku bosan liat kamu nangis"
, Kiya menghapus air matanya, menatap langit-langit kamar menahan agar air matanya berhenti mengalir, Kiya kembali tidur membelakangi Zidan
"aku nggak akan pergi dari hidup kamu zi, aku nggak akan nyerah dengan semua sikap kamu ke aku, kecuali takdir yang berkehendak, takdir yang akan memisahkan kita , barulah aku menyerah " kiya meremas selimut yang ia gunakan, menutup mata menahan sesak yang teramat menyiksa
"di mana hari itu tiba, aku nggak bisa lagi berusaha tetap bertahan di samping kamu, aku akan menyerah, karena itu bukan lagi inginku tapi kehendak takdir, jadi stop meminta ku untuk pergi, karena aku nggak akan pernah pergi hanya karena sikap kasar mu itu"
"terserah" ucap zidan menimpali
"Aku harap kamu nggak pernah menyesal dengan ucapan kamu zi"
"nggak akan pernah " zidan merubah posisinya membelakangi Kiya
..
pagi harinya , Kiya bisa bersikap manis lagi pada Zidan, seakan tidak pernah terjadi pertengkaran tadi malam, Kiya tersenyum menyambut Zidan di lagi hari, penyiapan segala keperluan Zidan, membuat sarapan _padahal ia tidak berselera sama sekali untuk makan.
"zi aku ijin keluar ya hari ini"
"mau kemana kamu"
"emm, ketemu teman"
"emm, emang kamu punya teman, bukanya cuman aku yaa, yang mau dekat sama kamu "jawab Zidan dengan senyum merendahkan
"Iyaa , teman waktu di panti " Kiya berusaha sesabar mungkin menyikapi Zidan
"oohh"
"Kenapa nggak makan" tanya Zidan lagi setelah memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya.
"lagi gak selera aja, makan yang banyak zi, liat kamu makan aja buat aku senang" Kiya tidak henti menatap suaminya dengan sudut bibir membentuk senyum
"Aneh kamu"
"kalo aku hamil kamu mau maafin aku nggak zi, apa kamu bakalan perhatian lagi ke aku" Zidan menaikkan satu alisnya bingung, dengan ucapan istrinya.
__ADS_1
"Ya__ya tergantung"
"loh ko tergantung, ya jelas zi jawabannya"
"kamu hamil nggak dulu?, enggak kan?, ya udah jangan nanya yang macam macam,. hidup sewajarnya aja" Kiya meraih tangan Zidan untuk di genggam
"kan misalnya zi"
"kamu mau aku kaya gimana?, mau aku kaya dulu?"
Kiya mengangguk antusias
"nggak akan pernah, aku nggak akan pernah menjadi zidan yang labil kaya dulu, zidan yang begitu mencintai seorang wanita tanpa memperdulikan kesalahannya"
Kiya kembali mengangguk, tersenyum miris kemudian berucap
"iya nggak papa, sekiranya aku sudah tau jawabannya, jadi aku nggak perlu ngarap apapun lagi ke kamu"
Kiya berdiri, merapikan piring bekas makan zidan, pria itu masih ada di sana, ia menatap datar wanita di depannya.
"aku pergi assalamualaikum "
"waalaikumsallam, hati hati zi"
..
Setiap pagi Kiya tidak pernah absen untuk melaksanakan sholat Dhuha, ia berharap semua kegiatan yang dilakukan suaminya di lancarkan, tidak ada halangan.
setelahnya Kiya bersiap untuk menemui dokter kandungan, Kiya memang suka merias wajah __awalnya, tapi sekarang Kiya tidak pernah lagi melakukan hobinya itu, semenjak berhenti bekerja Kiya tidak pernah lagi merias wajahnya, ia Hanya menggunakan produk yang bisa melindungi wajah nya dari tabir Surya di tambah pemerah bibir.
Kiya masih duduk di depan cermin riasnya, ia menatap dalam wajahnya, matanya terlihat sendu, Kiya membuka laci mejanya, ia ambil satu amplop berlogokan rumah sakit di sana
Kiya meremas amplop itu, dadanya kian sesak hanya sekedar melihat amplop nya, Kiya memberanikan diri membuka isi amplop tersebut.
Dengan tangan bergetar kiya membaca surat itu, air matanya jatuh setelah membaca isi suratnya, pasokan oksigen seakan menipis di udara,
kenyataan pahit ia dapatkan dari memeriksakan diri beberapa waktu lalu saat masih di Korea.
Kiya menghirup udara rakus, ia seka air matanya, di remasnya kembali surat itu beserta amplopnya hingga berubah bentuk menjadi gumpalan, Kiya memasukkan suratnya ke dalam tas, sebelum berdiri Kiya menyempatkan diri tersenyum di depan cermin.
"Bisa aku bisa, kamu bisa ki" gumam wanita itu seorang diri
__ADS_1
...
Setelah menunggu cukup lama Sekarang giliran Kiya yang masuk, Kiya dipersilahkan untuk berbaring di atas dipan
Kiya tidak hentinya berucap syukur melihat hasilnya, dirinya benar benar hamil, usia kandungannya baru berjalan dua Minggu, masih sangat kecil juga rawan.
Kiya di berikan obat untuk mengurangi rasa mual nya.
"Mbak jangan banyak pikiran dulu ya , jangan setres, kurangi pekerjaan berat"
"iya dok makasih"
"iya selamat ya mbak sekali lagi"
"iyaa"
setelah menemui dokter kandungan Kiya juga menemui Neuro-onkologi.
Dokter spesialis neuro-onkologi yang khusus menangani tumor ataupun kanker pada otak ataupun saraf tulang belakang.
iya __benar, Kiya di di diagnosis kanker otak stadium akhir, ia sendiri juga baru tau 2 bulan sebelum pulang ke Indonesia, Kiya memang sering merasa nyeri di kepala nya , tapi ia abaikan rasa sakit itu, sampai ia memberanikan diri untuk memeriksakan kondisinya dan kenyataan pahit yang ia dapatkan, Kiya di diagnosis terkena kanker otak stadium akhir.
setelah berdiskusi dengan dokter yang ahli , Kiya akhirnya memutuskan untuk di resep kan obat saja, tentu obat yang aman untuk ia konsumsi selama hamil, biaya pengobatan untuk penyakitnya terlalu mahal, Kiya tidak sanggup, uang tabungannya juga tersisa sedikit karena habis membantu zidan mengurus kepindahan mereka, sedangkan uang bulanan yang zidan berikan mana cukup untuk biaya pengobatan nya, Kiya Hanya bisa pasrahkan semua pada sang maha kuasa, jika ia di beri ijin untuk melahirkan anaknya, maka Kiya pasti bisa melalui semua nya, jika pun tidak ada kesempatan untuk Kiya, maka Kiya tidak bisa berbuat banyak selain pasrah akan ketetapan nya.
"makasih ya dok"
...
Kiya berjalan Melawati setiap lorong rumah sakit dengan perasaan campur aduk, ia begitu bahagia akan kabar kehamilannya tapi di sisi lain Kiya pun merasa takut dengan keada kesehatan nya
Kiya terus menatap hasil USG nya, senyum miris terlihat jelas di wajahnya.
"anak ibu, sehat sehat di dalam ya nak, jadilah penguat untuk ibu dan ayah"
Kiya mengusap perutnya yang masih rata.
Kiya tidak langsung pulang ia memilih menghabiskan waktunya di taman, duduk di ayunan dengan kepala bersandar di rantai ayunan, kakinya ia ayunkan perlahan agar ayunan yang ia duduki bergerak.terlalu rumit masalah yang ia hadapi, apalagi Kiya harus menanggung nya sendiri tanpa ada seorangpun yang bisa menjadi penguatnya, bahkan itu suaminya sendiri.
Kiya melihat anak kucing yang terlihat kurus, tidak terawat, Kiya begitu iba melihat anak kucing malang itu, ia memberikan satu ekor ikan yang tadi ia beli untuk anak kucing itu, Kiya juga mengusap kepala kucing tersebut.
"malang sekali nasib kamu cing, makan yang banyak yaa"
__ADS_1
Hay ges sedikit catatan untuk bab ini, yang bagian kesehatan itu murni hasil riset aku sendiri, dan aku juga bukan anak kesehatan, aku nggak tau pasti tentang penyakit tersebut, semuanya aku dapat dari Mbah Google, semoga kalian bisa paham.dan mengerti, juga menjadikan hal itu sebagai hiburan semata saja jangan anggap serius ya geess, love sekebon.