Bukan Kamu Yang Aku Inginkan

Bukan Kamu Yang Aku Inginkan
Mimpi


__ADS_3

Dengan segala pertimbangan akhirnya zila mengalahkan egonya, ia pulang dengan di antar Zidan, sebenarnya Zidan tidak mengijinkan zila pulang dan kembali __tapi zila berjanji akan pulang setelah memastikan keadaan Daffa baik baik saja dan pulang lagi ke Bandung, karena zila sudah yakin, ingin berpisah dengan Daffa setelah anak nya lahir, zila tidak ingin keputusannya goyah jika terlalu lama bersama Daffa


Sesampainya di pintu apartemennya , zila memasukkan pin yang sama dan berhasil, zila awalnya ragu takut Daffa mengganti PINnya.


Keadaan gelap lah yang pertama kali zila dapati, apa Daffa belum pulang, baiklah zila akan menunggu


Pertama__ zila menyalakan lampu rumah, dan alangkah terkejutnya zila melihat keadaan rumah yang satu bulan ia tinggalkan,


sampah di mana mana, banyak piring juga gelas kotor yang berhamburan di atas meja, lantai pun di penuhi dengan tumpahan kopi dimana mana


"Astagfirullah, kenapa rumah nya kotor banget"


"suami kamu bisa tinggal di tempat kotor kaya gini Zil" mata Zidan menyusuri setiap sisi ruangan tamu Daffa yang kotor minta ampun


braaak


bunyi benda jatuh membuat atensi keduanya teralihkan.


"Daffa di atas" zila ingin melangkah memastikan , tapi Zidan mencekal tangan nya


"tunggu di sini, biar Abang lihat dulu"


"enggak bang Zila ikut naik, perasaan zila ga enak"


"ya udah tapi pelan pelan naiknya"


zila yakin suara pecahan itu berasal dari kamarnya.


"Daffa" lirih zila, setelah melihat keadaan Daffa yang terbaring lemas di atas ranjangnya, pecahan kaca berhamburan di lantai, sedangkan keadaan kamar nya jauh berbeda dari ruangan lain di rumah ini, kamar zila tetap bersih hanya saja ada pecahan kaca.


zila berjalan mendekati Daffa, Daffa ingin bangun tapi sungguh ia ta sanggup untuk sekedar duduk pun Sulit


"sayang hati hati banyak beling" di tengah ketidak berdayaannya Daffa masih sempat memeringati istrinya


zila tidak sanggup lagi menahan air matanya, perasaan nya tidak bisa berbohong, Daffa suami yang ia kasihi sedang tidak baik baik saja.


"Daffa" lirih zila


"kamu pulang sayang, mas kangen' Daffa berusaha bangun sekuat tenaganya, sungguh zila tidak tega melihat kondisi daffa sekarang, di mana suami nya yang sehat bugar dulu, Daffa di hadapannya terlihat kurus tidak berdaya, apa yang sudah di hadapi pria itu selama ia pergi.


"kamu sakit daf, kita kerumah sakit ya, bang Zidan tolongin suami zila" sungguh perih hati zila melihat kondisi memprihatinkan Daffa, Zidan mendekat membawa Daffa untuk duduk,


"Sayang" Daffa meraih zila ke dalam dekapannya


"sayang__mas kangen, jangan pergi lagi ,mas bisa mati tanpa kamu , mas mohon"


"kita ke rumah sakit yaa, kamu harus berobat"


Daffa menggeleng, zila bisa merasakan gelengan di bahunya, zila juga bisa merasakan bajunya basah karena air mata Daffa


"aku ga akan kemana mana, tapi kita ke rumah sakit yah"


"mas lapar, mas mau kamu masakin mas kaya dulu Zil, mas ga bisa makan selain masakan kamu"


"Kamu tunggu sebentar aku buatkan bubur dulu"


Daffa mengangguk, zila sebenarnya hanya tidak tega berlama lama melihat kondisi Daffa, ia ingin menumpahkan air matanya tapi tidak di hadapan Daffa.

__ADS_1


dengan di bantu Zidan zila turun lagi untuk membuat bubur kesukaan Daffa, matanya sudah berlinang air mata


"Huus, jangan nangis Zil, suami kamu cuman sakit"


"Abang ga ngerasain liat orang yang Abang cintai sakit selain ayah sama bunda, coba Abang ada di posisi zila, mbak Kiya sakit, apa Abang bisa tenang kalo zila minta Abang buat tetap tenang, hah"


"iya iya abang minta maaf, Abang cuman ga mau lihat kamu sedih aja"


zila melepaskan tangan Zidan di bahunya, melangkah pergi menuju dapur, kesal zila mendengar ucapan Zidan , dia bilang suaminya cuman sakit, emang Zidan mengharapkan apa.


Zidan lebih memilih membantu zila membersihkan rumahnya yang sudah seperti kapal pecah dari pada terus membuat adiknya itu emosi bisa bisa piring melayang tepat di wajahnya.


kondisi dapur juga tidak jauh berbeda, tumpukan piring yang di biarkan berkarat tidak di cuci, meja makan yang kotor, isi kulkas yang kosong hanya ada ayam yang entah kapan di beli Daffa, bumbu bumbu dapur yang masih sama sejak zila pergi, tidak berubah sama sekali.


zila menghapus air matanya dan mulai memasak bubur untuk Daffa tapi tidak ada sayuran di kulkas.


zila mencari abangnya yang selalu membuat nya kesal, ingin minta tolong membeli beberapa sayuran untuk pelengkap bubur buatan nya.


"bang Zidan"


Zidan yang tadinya sibuk mengelap meja, berlatih menatap sang adik yang berdiri tidak jauh darinya, dengan tangan yang terus mengusap perutnya yang besar


"apa" Zidan mendekati sang adik


"minta tolong beliin sayuran"


"mana catatan nya entar Abang lupa, kirim ke hp Abang"


"emm __ok, kamu tunggu sini jangan naik ke atas dulu tunggu Abang"


"cepetan yah"


"iyaa"


.....


selagi menunggu Zidan , zila membereskan rumah nya, meraih benda beda yang masih ia bisa raih di atas lantai dengan perut yang membuncit, zila juga mencuci piring kotor.


zila juga sudah membuat buburnya, masalah sayuran bisa di tambah belakangan.


Zila duduk di kursi makan karena kelelahan.


"zila" samar samar zila mendengar daffa memanggil nya __ingin naik, tapi ia takut jatuh


"zila,kamu ga Pulang kan Zil"


"iya daf , aku di bawah , tunggu sebentar yah, ini aku masih buatin buburnya"


"iyaa"


"kamu ga akan pergi lagi kan Zil"


"enggak" dengan suara bergetar, entah mendengar suara daffa yang lemah membuatnya ingin menangis


"janji jangan pergi lagi"


"iyaa"

__ADS_1


Zila terkejut bukan main tuba tiba mendapati tangan dingin daffa sudah melingkar di lehernya


"Daffa"


"janji jangan pergi lagi" karena tidak tahan berdiri lama , Daffa jatuh bersimpuh tapi masih dengan posisi duduk


"Daffa" zila panik bukan main sekarang, zila bersusah payah ingin berjongkok tapi susah


"Ya Allah daffa, kan aku sudah aku bilang tunggu aku di atas"


"aku Hanya takut kamu pergi lagi"


"enggak aku gak akan pergi daf"


Mendengar bunyi pintu zila dengan cepat menemui Zidan, tidak tega melihat Daffa dengan posisi seperti sekarang


"kamu kenapa" Zidan jadi ikut panik melihat wajah adiknya


"tolong Daffa bang "


"Daffa kenapa jangan bikin panik deh"


"itu __di dapur ayo" zila menarik tangan Zidan


"Lo ko dia bisa di sini"


"ga usah banyak nanya deh cepat tolongin bawa ke kamar tamu aja"


Zidan membantu daffa berdiri memapahnya untuk masuk ke kamar tamu


Zidan meninggalkan mereka berdua


zila mengusap kening suaminya yang berkeringat, matanya sayu, tangan nya dingin


"Aku ga akan kemana mana daf" ucap zila dan terus Mengusap kepala suaminya, entah berapa lama daffa tidak mencuci rambutnya


"maafin aku Zil, maaf"


"aku yang harusnya minta maaf, harusnya aku ga egois, kamu ga bakal kaya gini maafin aku"


dengan susah daffa mengusap air mata zila


zila meriah tangan daffa dan menciumnya berkali kali


"Maafin aku" ucap zila lirih


"jangan meminta maaf atas kesalahan ku Zil, jangan"


"yang mana sakit__ Hem, Yang mana" tangan zila,meraba-raba sekujur tubuh suaminya


" aku sehat sekarang, kamu obat nya, aku Hanya perlu makan biara ada tenaganya"


"iya kita makan yah, tunggu sebentar aku ambil bubur kamu" dengan suara bergetar zila berucap


zila kembali ke dapur dan kembali lagi ke kamar dengan naman di tangannya


zila membantu daffa untuk duduk bersandar di dasbor ranjang, menyuapi daffa dengan hati hati, daffa terus saja memandangi zila , ia masih tidak menyangka istri yang ia rindukan ada di depan, Daffa Hanya berharap semua itu nyata, walaupun itu mimpi __daffa berharap tidak dibangun kan lagi.

__ADS_1


__ADS_2