CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
10


__ADS_3

"Cathrineee!! Bangun gih, udah jam 7 nih... Gw mau balik....... " Risa mengoyangkan tubuhku.


Aku masih terbang antara alam mimpi dan kenyataan. Aku berada di kamarku sendiri di kampung.


Namun saat aku perlahan membuka kedua mataku. Aku bersama Risa di kost.


Aku membersihkan kotoran mata dengan kedua tanganku. Rupanya Risa sungguh akan kembali ke kost.


Aku perlahan duduk dan mengantur pandanganku. Aku masih ingin memejamkan mataku. Tapi gadis di sampingku sudah memasang wajah kezal.


"Buruan deh, keburu siang panas... Nanti kulit gw kebaran Cath!!"


"Iya bentar astagaa.... " Aku masih menguap dan menggaruk kepalaku.


Risa sudah siap dan berdiri di balik pintu. Aku menyusulnya dan membuka pintu.


Kami pun berjalan keluar dari kamarku. Sinar matahari masuk cukup banyak pagi itu.


Rupanya pintu depan sudah di buka. Dan samar - samar aku melihat ada orang yang sedang berdiri.


Ia seperti sedang melakukan senam pagi.


"Sapa tu Cath? Tumben amat? Biasa tante kost lo keluar kalo mau ke pasar sama mall doang.. " Risa menarik kaos ku.


Ia sepertinya takut dan malu. Aku pun percaya diri berjalan keluar.


Risa bersembunyi di belakangku.


Lalu, aku membuka pintu penutup dari kawat besi.


"Oh... Kak Yofie.... Yaampun kak.... " Aku menyapa pria manis di hadapanku.


Ia bertelanjang dada, dengan celana putih. Sepertinya itu seragam dari salah satu cabang beladiri.


"Hai Cathrine.... Baru bangun?" Yofie membalasku.


"Iya kak, mau nganter Risa ni. Kita binggung kok pintu depan udah di buka.. Ga tau nya..... "


"Ga tau nya ada cowo ganteng sama macho... Hehee... " Risa langsung menyambarku.


Raut wajahku berubah jadi ewh.... Aduh...


Wajah Yofie pun agak memerah. Jujur aku bilang dia cukup manis dan wajahnya tidak membosankan untuk di pandang.


Risa seperti tersihir, ia malah diam dan memandang Yofie. Aku pun memberi kode dengan menekan sikutku ke samping.


"Eh kak Yofie, aku balik dulu ya kak... Kapan hari boleh ya main sini lagi... " Risa berucap sambil tersenyum.


"Boleh kok Risa... Selama ada Cathrine kan kamu boleh main kesini... " Jawab Yofie.


"Heh... Maksud nya pas ada Kak Yofie aja. Kalo Cathrine mah udah biasa kak. Kalo kaka itu hehe.... Luar biasa... "


Aku rasanya mau muntah dan kembali tidur saja mendengarnya. Aku memasang wajah kecut, namun Yofie malah melihat ke arahku terus.


"Terus gimana.... Balik ga lo?" Aku melirik tajam ke Risa.


"Iya gw balik.... Kak Yof, kapan Risa kesini lagi ya... Babaii kaka..... " Risa melambaikan tangan dengan Centil ke arah Yofie.


Aku pun membuka pintu pagar dan mengantar Risa sampai keluar dari rumah. Lalu aku kembali masuk ke dalam dan menutup pintu.


Aku lihat Yofie masih berlatih beberapa gerakan bela diri. Aku pun lebih baik kembali ke kamarku dan menyiapkan tenaga.


"Cathrine, tunggu dulu... " Yofie menghentikan langkahku.


Seperti nya ia mengerti jika aku ingin langsung masuk ke dalam...


"Gimana kak? Bisa di bantu?" Aku menoleh ke Yofie.


"Eeh..... Gini..... " Yofie terbata ingin mengatakan sesuatu.


"Bubur. .. Bubur...... Buburayaamm.... Tengtengteng.... " (Suara tukang bubur)


"Makan bubur... Yuk makan bubur... Kakak yang bayarin... Buat kamu..... " Yofie menyelesaikan dengan jeda yang jauh antar kata nya.


"Boleh kak, pas banget aku belum makan.... " Aku lalu duduk di kursi yang ada di teras.


"Mang...! Bubur 2 komplit...! " Yofie berteriak ke tukang bubur.


"Siaaapp ndan....!! " Jawab tukang bubur.


Yofie pun duduk di samping kananku. Sesekali aku melihat ke perutnya. Rata dengan otot yang tidak terlalu terlihat.


Cukup bagus perutnya, aku lebih suka melihat pria yang seperti ini. Badan nya bukan seorang binaraga tapi smua proporsi dengan tingginya.


Aku meregangkan kedua tanganku.. "Hoaammmmm...!! " Tentu saja aku menguap.


Kami tak saling bicara hanya senyum yang terlihat sesekali. Entah apa dan mengapa aku tidak dapat berbicara dengan santai.


"Nih buburnya.... " Tukang bubur memberi masing - masing ke aku dan Yofie.


"Makasih mang... " Ucapku.


"Okai mang..... " Jawab Yofie.


Lagi kami saling memandang tapi tanpa kata. Pagi itu suasananya canggung sekali.

__ADS_1


Aku asik mengabiskan bubur dalam mangkuk putih tersebut. Aku lihat Yofie pun juga begitu.


Tapi, saat aku mengamatinya. Ia begitu manis juga... Dan aku memandang nya pun tak merasa jenuh atau bosan.


"Cath, hari ini kerja sampe malem lagi?" Yofie berkata, dan itu membuatku sadar dari lamunanku.


"Benernya aku pas libur, cuman dapet pesenan buat PH disana kak.. Jadi aku bantu aja nanti... Lumayanlah dapet lemburan.." Aku menjawab sambil mengaduk sisa buburku.


"Oh gitu, eh iya kamu udah nonton film Dark Knight Rise belom?"


"Belum lah kak, mau nonton sama siapa? Terus juga sayang duitnya... Hahahaa... " Aku tertawa mendengar pertanyaan Yofie.


"Oh gitu, nonton sama kakak mau?"


"...... " Aku diam dan memandanh Yofie.


"Iya nonton nanti malem... Mau?" Yofie mengulangi kata - kata nya.


"Boleh kak... Boleh banget... Tapi sama siapa aja kak? jessy pergi, esyeh juga pergi sama keluarga calonnya.. "


"Ya sama kakak aja lah, nanti kakak jemput di warung padang depan jam 5 ya... Nonton jam 6.30 kakak nanti beli di web dulu aja... " Yofie terlihat bersemangat sekali..


"..... Atur aja deh kak, yang penting nanti aku kabarin ya kalo udah balik. Kakak engga usah jemput ke warung.... " Aku menjawab.


"Yaudah, kakak mau lanjut kerja dulu. Sini mangkuk nya, kamu masuk aja sana... Siap - siap... " Yofie berdiri dan meraih mangkuk buburku.


Saat tangan kami bersentuhan rasanya hangat. Ya hangat dan hatiku merasa aneh sekali. Rasanya seperti aku membutuhkan nya...


"Makasih ya kak, aku masuk dulu ya kak... Bye... " Aku pun melepaskan tangan Yofie.


Aku berlari ke dalam, aku masuk ke dalam kamarku. Aku berdiri di balik pintu dan mengatur nafasku.


Rasanya aneh, apa ini?


Dia itu cuman anak Tante kost.. Ibu kost mu Cathrine!!


Tok..... Tok..... (Pintu di ketuk).


"Cath... Ini kakak... " Suara Yofie.


"Iya kak... Sebentar.... " Aku pun berbalik dan membuka pintu.


"Nih, tulis nomer hp kamu. Nanti kakak sms ya.. " Yofie menyodorkan ponsel berwarna silver di hadapanku.


Aku mengangguk dan mengambil ponsel tersebut. Lalu aku mengetik dan menyimpan nomerku.


"Ini ya kak, Cathrine Kost ... " Aku mengembalikan ponsel tersebut.


"Nama nya lucu, kamu tu lucu Cath..."


"Engga... Engga ada apa - apa kok... Udah ya... See you...." Yofie pun berlari ke lantai dua rumah ini.


Iya mereka tinggal di atas dan kami di bawah. Rumah yang luas dengan ruang tamu luas, sayang mereka jarang menggunakannya. Malah kami penghuni kost yang lebih sering mendudukinya.


*******


Suasana yang hectic sekali di warung. Hanya kami bertiga yang menyiapkan semua pesanan.


Uda sibuk mengaduk nasi yang matang. Aku membungkus setiap lauk yang ada. Sedang Uni mulai menata ke dalam dus yang ada.


Semua sangat sibuk, aku tak memperdulikan lagi noda di bajuku. Yang penting situasi sangat genting.


Akhirnya setelah 2 jam kami menyiapkan. Semua siap untuk di angkut, kami pun memasukkan ke dalam mobil.


"Nak... Ikut antar dengan kami ya.." Uni memeluk pundakku.


"Memang Uni antar kemana?" Aku berkata sambil membawa dua bungkusan terakhir.


"Itu syuting film di jalan Cemara. Uda sama uni engga paham dimana belok nya. Kamu kan pernah disana kan? Syuting dulu... "


"Pernah Uni.. Saya lumayan hafal jalan cepat nya juga kok... "


Kami pun masuk ke dalam mobil. Suasana dalam mobil seperti yang aku rasakan dulu, sempit. Kami saling berbagi tempat duduk dengan anak lain.


Walau senioritas tetap ada saat itu. Aku lebih sering duduk di bawah. Biar aku duduk dengan kaki mereka. Tetapi aku lebih nyaman dengan area duduk yang luas.


"Kenapa melamun nak?" Tanya Uni.


"Indak Uni.... Dulu saya berdesakan di mobil ke lokasi itu. Sekarang saya berdesakan juga kesana. Cuman bedanya nasib saya sudah lebih baik Uni... " Jawab ku sambil tersenyum.


"Ini benar rumah nya?" Tanya Uda.


"Iya benar, itu tulisannya lokasi khusus pengambilan adegan. Masuk lewat depan aja Uda... " Aku menjawab Uda.


Mobil parkir di sudut rumah tersebut. Sepertiya ini tempat aku pertama bertemu Jimmy.


"Pak... Ini pesanannya sudah semua.. " Aku mendengar Uni berbicara dengan seseorang.


"Letak kan semua disini saja. Nanti biar di bagi oleh koordinator lapangan." Jawab orang tersebut.


Suara nya mirip dengan siapa ya??


Aku berfikir agak lama, tapi aku tak berani membalik kan badanku.


Jujur aku sedikit malu. Apalagi temanku sudah jadi artis callingan setiap hari

__ADS_1


"Nak, ayo bantu Uni... " Uni menepuk pundakku.


Aku langsung mengangguk dan membawa turun kardus nasi tersebut. Aku meletakan di atas meja depan ruangan Jimmy.


Ya ruangan Jimmy pertama kali keluar. Pertama kali pula aku berjumpa dengannya.


Aku meletakkan semua nya dengan Uda. Uni sibuk berbicara dengan Pak Teddy. Ya laki - laki Pak Teddy, namun ia tak menyapaku.


Mungkin ia sudah lupa atau memang tidak sadar bahwa ada aku.


Tapi saat aku menaruh di atas meja. Aku merasa ada yang mengawasiku dari dalam. Seperti ada yang mengamati setiap gerak gerikku.


Tapi pintu kaca warna hitam ini....


Aku tak dapat melihat ke dalam, ada siapa di dalam.


Jika itu Jimmy, mengapa tak aku lihat mobil sedan hitam miliknya di depan?


"Sudah semua Uni... " Aku mendekati Uni.


"Lhoh... Cathrine..?" Pak Teddy langsung kaget melihatku.


Aku memakai kaus warna putih dengan gambar teddy bear. Serta celana jeans dengan alas kaki sandal jepit yang hampir jebol.


Pantas saja jika Pak Teddy tak mengenaliku.


"Iya Pak, apa kabar?" Aku menjawab sambil tersenyum.


"Sehat, baik... Non gimana? Sehat? Pantas saja bapak sudah beberapa minggu engga melihat non. Udah kerja sekarang?"


"Iya Pak Teddy, saya ikut Uni sama Uda. Setidaknya saya sudah lebih baik .... " Aku menjawab sambil menahan senyumku.


"ini ada syukuran ya Pak? pesen sampe 200 dus makan siang dengan lauk komplit. siapa yang ulang tahun?" tanya Uni kepada Pak Teddy.


"anak angkat Bos kami Bu. pas berulang tahun di hari ini... karena ini hari amat penting. bos kami ingin semua makan dengan adil dan sama." pak Teddy menjawab tapi pandangannya ke arah Cathrine.


Pak Teddy seperti sedang menilai atau menerka apa yang di pikir Cathrine. ia pun senang karena bisa bertemu kembali dengan Cathrine.


sudah ada sedikit perubahan dalam Jimmy. tak bisa di pungkiri sejak Jimmy melihat Cathrine terluka. banyak hal yang terjadi dalam hidup Jimmy.


pertama kali nya ia sendiri mau pulang mengunjungi orang tuanya. Jimmy pun mulai jarang terlihat melamun dan memikirkan Mira.


semoga saja Jimmy benar bisa melupakan Mira. agar ia bisa menata hidup dan masa depannya yang masih panjang. apalagi ada Gibran yang menjadi anak angkat nya secara tidak langsung.


"Baik pak, saya terusan ya. Mumpung libur, permisi.... " Uni berpamitan langsung.


"Duluan Pak Teddy..." Aku berpamitan dan menyusul Uni masuk ke mobil.


Kami pun pergi dari sana. Aku melihat dari jauh sahabatku sedang take adegan. Memang rejeki Jessy di dunia hiburan.


Hampir aku dengar semua sutradara cocok dengannya. Setidaknya aku senang temanku juga lebih baik keuangannya.


*********


seseorang keluar dari pintu kaca berwarna hitam tersebut. seorang pria berwajah asia dengan kaos berlogo olahraga Polo.


ia melepas kacamata yang di gunakan. kemudian memasukkan ke dalam wadah yang berbentuk tabung tersebut.


ia lalu mendekati Pak Teddy.


"Rupa nya aku masih bertemu dengan dia .." ucap Jimmy.


Pak Teddy tersenyum dan menjawab. "Ia, benar.. Sepertinya dia wanita yang berbeda ya Pak... Tidak seperti... " Pak Teddy tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Maksud kamu?" Tanya Jimmy.


"Bukan apa - apa.. Dan maaf sebelum nya, saya pikir dia akan mencari cara cepat seperti teman kencan bapak yang lain ... "Jawab Pak Teddy dengan suara perlahan.


"Bukan kencan Pak, kami tidak melakukan apapun. Sepertinya ia masih polos dan tidak sadar. Ia kemarin berada di sarang para ikan yang lapar... " Kata Jimmy sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Iya pak.... "


"Bagikan saja nasi itu. Ini hari ulang tahun Gibran, aku ingin semua orang makan dengan menu yang sama... "


Jimmy menghela nafasnya, ia pun memilih pergi. ia menuju ke mobil jeep yang ada di area depan.


saat ia berjalan, Jessy tiba - tiba muncul di hadapannya. Jimmy merasa kurang suka dengan kehadiran Jessy.


"permisi... saya mau lewat... " ucap Jimmy.


"....... " Jessy malah tersenyum ke Jimmy.


"maaf, anda menghalangi jalan nya saya... bisa permisi sebentar... " Jimmy mulai kesal.


"kamu engga mau kenalan sama aku? kalau aku yang mau kenalan boleh?" ucap Jessy dengan nada manja dan menggoda.


"lo Jessy kan? gw udah tau.. permisi.... " Jimmy berjalan ke samping dan mengabaikan Jessy.


"Hei tunggu.... aku belum selesai bicara..... " Jessy membalas Jimmy.


Jimmy hanya menggelengkan kepalanya. ia tak peduli dengan wanita berwajah seperti orang Bule tersebut.


Jimmy memilih menyalakan mesin mobil Jeep nya dan pergi meninggalkan Jessy. ia merasa bosan dengan wanita seperti itu.


sudah terlalu biasa dan terlalu mudah di tebak. seperti yang sudah, bagaimana kelanjutan dan tujuannya bagi Jimmy.

__ADS_1


__ADS_2