
Jam ponsel ku menunjukan pukul 8 malam aku sudah berbaring di atas kasur. Dalam sendiri dan diam.
Aku memejamkan kedua mataku, apa aku memang terlalu childish?
"Aku terlalu kebawa perasaan ya sama hubungan ini?"
Pikiranku bercampur aduk tak tentu. Apa yang sebenarnya terjadi, aku sebenarnya juga ingin berbicara lewat telpon dengannya.
tiap aku memejamkan mata, hanya wajah Jimmy yang ada. aku sepertinya sudah gila ini.
hanya kalimat itu, bisa membuat nya marah sampai tega untuk tidak menghubungiku?
aku teringat ponselku, lalu aku mengambil dan menyalakannya. harapanku ada pesan masuk dari Jimmy.
aku menunggu... beberapa detik.. beberapa menit.. beberapa saat. .. masih tidak ada pesan masuk dari nya.
aku lalu membaringkan badanku dan menangis. kenapa ia mengabaikanku?
apa sekarang dia sedang bersama wanita lain?
apa sekarang aku bukan siapa - siapanya?
banyak tanya dalam pikiranku, membuatku hampir pusing.
aku kelelahan dan tertidur dalam keadaan menangis. rasa sedih dan tangis membuatku capek dan terlelap sampai aku lupa menjemput keluargaku.
******
pagi itu kami sarapan di restorant hotel. Aku kelelahan menangis sampai tidak sadar saat Ghea dan Ayahku datang.
kami mengambil beberapa buffet dan hidangan lain. lalu duduk di area yang penuh sofa.
"Kak... Kakak kok engga ikut kak Jimmy pulang kampung?" Ghea membuka pertanyaan.
Aku menarik nafasku sebentar, aku tersenyum ke adikku.
"Kakak masih ada kursus dan persiapan mau kuliah.. Mungkin memang baik nya kakak stay disini... " Jawabku.
"Ah... Hari ini acara kita kemana? Aku mau ke taman hiburan. Terus ngemall ya kak... " Ghea bersemangat menjawabku.
"Kalian saja, papa nanti duduk kalau - kalau capek.. Papa takut kalo terlalu seneng.. " Jawab papa memotong Ghea.
"Hmm.. Iya baik pa.. Yang penting papa ikut sama kami ya... " Jawabku.
Kami pun bergegas membereskan sarapan. Lalu menunggu pak Teddy di lobby Hotel.
Memang tidak telalu lama, orang kepercayaan Jimmy datang. Kami masuk dan melanjutkan perjalanan ke taman hiburan.
Jalanan agak memutar dan jauh dari hotel kami. Lalu lintas cukup padat dan sesekali kami terjebak macet.
"Biasanya ga macet gini lho... " Pak Teddy membuka suara.
"Oh iya pak? Ini kayanya ada kecelakaan deh..." aku melihat ke arah kerumunan mobil di hadapanku.
Kami melewati nya, rupanya benar ada tabrakan di area jalan masuk Toll. Perjalanan kembali lancar setelah titik tersebut.
Kami pun sampai ke taman hiburan, aku menuju loket untuk membeli tiket masuk.
Ayah ku menyusul bersama pak Teddy. Aku dan Ghea berjalan paling depan.
Aku masih ingat kapan terakhir aku masuk ke sini. Yah, saat itu usiaku baru 7 atau 8 tahun. Sudah cukup lama...
Banyak yang berubah, aku menaiki carousel bersama Ghea. Jujur aku jadi mengingat saat bahagia keluarga kami.
Sesaat aku bisa melupakan apa yang hatiku rasa. Wahana permainan cukup membuatku sibuk dan meluapkan segala emosi di dada.
Ghea melambai, meninggalkanku yang duduk bersama Ayah di sudut jalan. Ia menaiki wahana bersama Pak Teddy dan keluarganya.
Aku tak menyangka Jimmy membawa pegawai nya untuk ikut piknik bersama kami.
"Kak, kamu sekarang uda bahagia ya... Papa merasa malu sama kamu... " Papa berbicara kepadaku.
"Kenapa papa malu?" Tanyaku.
"Papa ngga bisa ngasih apa yang kalian butuhin, sampai kamu harus mengorbankan hati kamu... Perasaan kamu ke pria yang baru kamu temui... " jawab papa.
"Papa Harusnya seneng, anak papa berhasil di didik dengan baik. Bisa hidup dengan baik sampe saat ini. Hmm.... Aku ikhlas ngasih ini ke Papa sama Ghea.... Karena aku tahu Pa.. Kaya apa papa berusaha menghidupiku.... " Jawabku.
"Kamu harus bahagia Kak... Kamu wanita baik - baik, anak keluarga baik - baik juga.... Kalau suatu saat Papa harus pergi... Papa pengen Ghea sudah bisa mencari uang untuk menafkahi nya sendiri...."
"Ssst.... Ngga usah ngomong gitu Pa.. Aku ngga suka, aku ngga mau mikir sampe ke arah sana... Aku ngga akan siap kehilangan papa... " Jawabku penuh emosi.
"Maafkan papa ya... Kamu memang anak kebanggan papa.... " Papa pun memelukku.
Sudah amat sangat lama aku tak pernah merasakan pelukan nya. Mungkin membawaku pada memori masa kecilku saat aku ketakukan. Hanya ia yang datang dan memeluk ku.
Menenangkanku, dan berkata bahwa semua baik - baik saja. Memberiku rasa aman.
"Kak... Kamu harus jadi Ibu yang baik ya. Harus lebih baik dari saat ini, harus bisa kerja dan mencari uang sendiri.." Ucap papa kepadaku.
Aku pun hanya menganggukkan kepala. Ia lah yang membuatku mau bekerja jadi pelayan di warung. Demi beberapa lembar uang.
__ADS_1
*********
"Kau masih mikir perempuan itu?" Tanya seorang pria ke Yofie.
"Kadang... . . " Jawab nya singkat.
Ia kini memiliki toko gadget dan laptop di salah satu mall dekat dengan apartemen Cathrine.
Sebenarnya Yofie pun tak tahu dimana Cathrine sebenarnya. Namun semesta seperti mengatur segalanya.
"Tapi kapan hari ada perempuan lewat mirip lho sama cewe yang lo cerita. Manis juga aslinya.. "
"Fred... Lo liat dimana?" Yofie langsung berubah.
"Lewat sini pas ada anak cewek mau kerja disini. Kapan yah, udah dua hari lalu kali ya... " Jawab Freddy.
"Oh gw lupa.... Ohiya, perempuan itu masuk kapan?"
"Harusnya sih sekarang, cuman gw lupa bilang kapan ke cewe itu... Hahahaa... " Freddy bercanda.
"Permisi..... " Inez datang ke toko tersebut.
Yofie menoleh ke arah suara berasal. Rupanya perempuan berkulit sawo matang berdiri di ambang pintu toko.
"Inez.. Masuk sini, gw kenalin sama boss kita berdua... Ini namanya Yofie... Yofie ini Inez... "
Mereka pun bersalaman, Inez merasa canggung di hadapan Yofie. Menurutnya cukup menarik juga boss nya ini.
"Nez.. Entar gw kasih tahu apa aja yang kita jual dan kegunaannya apa aja. Emang sih lo di bagian kasir.. Cuman kalo pas gw atau boss ga ada, lo kan bisa dikit gantiin... " Jelas Freddy.
"Oh ok.... Mohon bimbingannya ya... " Jawab Inez lembut.
"Lo mau gw bimbing? Ke pelaminan ya.. " Freddy malah menggoda.
"Gila lo... Gw pergi dulu... " Yofie meninggalkan Inez dan freddy.
Ia memilih berjalan - jalan di sekitar area mall. Daerah ini cukup baru untuk Yofie.
Ia memilih juga agar jauh dari Stacy. Perempuan gila yang kini menjadi istrinya.
Bayangan Cathrine dan kenangan manis nya selalu menganggu pikiran Yofie. Apa lagi, sejak Jimmy mempertegas hubungan mereka bukan soal tinggal bersama lagi.
"Mas... Boss kita kok masi muda ya?" Tanya Inez polos.
"Iya masih muda, tapi uda punya istri. Dan istrinya itu pencemburu bangett.. Lo ati - ati deh kalo ketemu. " Ucap freddy.
"Oooo..... Ngapain juga deket - deket sama boss... " Inez membela diri.
"Ya makanya gw kasi tahu.. Boss tu baik banget. Tapi kalo bini nya uda dateng, beh... Jangan keliatan lo nganggur deh, bisa - bisa di cincang nanti.."
"Istri boss itu pencemburu, cantik lho padahal. Cuman aku denger dari Boss.. Dia kepaksa menikah, yang di senengin cewe nya uda nikah sama cowo lain... Boss juga di jebak, biar mau tidur sama istrinya.. Sampe hamil lho.. " Freddy bergosip.
"Yaelah Bro!" Inez memotong perkataan Freddy.
"Eh, lo kenapa?" Freddy kaget.
"Jaman sekarang ya... Ngga ada tu kepaksa apa di jebak sampe jadi nya yang perempuan hamil. Yang ada sama - sama mau.. Sama - sama tinggi sampe akhirnya jadi.. Kejadian lah.. Hari gini masih percaya kaya gitu... " Inez kesal.
"Ooh.. Gitu ya?" Tanya Freddy.
"Ya jelas kalik pak.. Sekarang ni kucing nih ya, ga bakalan makan ikan.. Kalo ga di saji'in di depannya. Ga mungkin lah kalo di jebak.. Emang kaya cerita fiktif?" Inez bersemangat.
"Brati gw yang bodoh ya? Mau percaya?" Tanya freddy.
"Ya kali... " Inez menjawab ketus.
************
Waktu pun berjalan dengan cepat. Hari - hari libur ku bersama keluargaku hampir usai.
Ini malam terakhir ayah dan adikku ada di kota bersamaku. Hari dimana Jimmy pulang kesini.
Sejak aku mematikan ponselku malam itu, ia tak pernah menghubungiku lagi. Sebenarnya juga aku tak perlu menjemputnya.
"Pa... Aku nanti pergi ya siang, abis makan.. Mau jemput Jimmy ke airport."
Aku membuka suara.
Seharusnya aku tak perlu menjemputnya. Apalagi dengan pertengkaran kita. Tapi, aku kalah dengan perasaan yang ada di dadaku.
"Yah, kamu pulang aja sekalia ... " Jawab Papa.
"Yah... Kok kakak pulang sih Pa??" Ghea protes.
"Ghe.. Kamu jangan gitu, kakak kamu itu uda punya keluarga. Dia harus nemenin Jimmy. Mereka lama tidak berjumpa... Wajarkan?" Papa balik menjawab.
"Gitu pa? Aku sih ga kepikiran balik ke tempat Jimmy dulu..." Jawabku.
"Kalo kalian ada masalah, hadapi.. Kabur atau menghindari itu bukan solusi, kamu hanya memindah menjadi masalah baru.. " Ucap papa.
Aku kaget dan menatap papa dalam - dalam. dari mana papa tahu?
__ADS_1
"Kenapa papa mikir gitu?" Tanyaku.
"Papa kan sudah pernah menikah. Kelihatan kok pancaran sinar mata kamu ngga cerah... " Jawab nya.
"Oh masak sampe situ pa?" Aku menahan diriku.
Jujur aku ingin bercerita segalanya kepada papa. Tapi mulutku terasa berat berkata apa yang sebenarnya.
"Sudah siap - siap dulu aja.. Sambut Jimmy dengan senyum dan keadaan terbaikmu.. " Papa lalu tersenyum kepadaku.
"Eh, kakak katanya mau beliin aku laptop? Sama berlangganan internet.. Jadi ngga? Aku besok uda balik kak... " Ghea berkata.
"Oh iya, kakak hampir lupa. Temen kakak itu kerja di toko IT gitu. Nanti abis sarapan kita abis, kita kesana ya... Deket sih ke arah bandara juga..." Aku menjawab.
Sesaat setelah kami selesai sarapan di hotel. Kami menuju ke Mall tempat Inez bekerja.
Ini masih terlalu pagi, pukul 9.30 pagi. Belum banyak tenant yang buka saat itu.
Namun kami melangkah mantab menuju ke toko Inez.
Ya, ia sudah menyambutku didepan pintu.
"Saayyang... " Inez menyambut dan memelukku.
"Bebeb.... Ya ampun uda kerja aja... Eh kenalin ini Papa sama Adek aku. " Aku memperkenalkan papa dan Ghea.
"Hallo .. Om... Hallo.. Ini Ghea yang paling disayang sama Cathrine nih.. " Inez berkata.
"Hehe... Iya kak.. salam kenal ya.. " Ghea menjawab.
"Mari masuk, pilih yang paling oke buat adek lo..." Inez menbawa kami masuk.
Kami pun masuk, didalam ada pria yang menggunakan kaos warna hitam seperti Inez. Aku rasa ia teman inez.
"Bro geser, gw mau prospek temen gw.. " Inez berkata kepada rekannya.
Ada yang aneh dari teman Inez. Ia melihatku tanpa berkedip, aku sampai merasa sungkan.
Apa ada yang aneh dari bajuku?
Setiap gerak - gerik ku dalam pantauan orang itu. Aku merasa gerah dan mencuri pandang ke teman inez.
"Bro.. Lo kenapa si?" Inez menegur.
"Ah engga... Eh, kenalin.. Freddy... " Pria itu memberi tangannya untuk bersalaman.
Aku menyambutnya, "Cathrine .... "
Kedua mata nya melotot mendengar namaku.
"Maaf, temen lo kok aneh yak?" Tanyaku ke Inez.
"Tauk ni orang, emang suka ga jelas gitu. Uda biarin aja.. Lo jadi nya ambil apa aja? Mouse wireless sama laptop hitam ini ya?"
"Iya Nez, bungkus! Eh sama mouse pad sama adek butuh apa lagi ya?" Aku bertanya ke Ghea.
Ia melihat headphone di hadapannya. Aku bisa melihat Ghea ingin memiliki benda itu.
"Adek mau itu? Yang hitam aja ya.. " Aku bertanya.
"Kak.. Mau yang ada list warna putih.. Boleh ga?" Ucap Ghea manja.
"Ya... Boleh... nez.. Sama nambah ini ya... Oh iya debit card bisa kan? Gw belum ambil cash.. "
"Bisa ... Pasti bisa bentar gw panggil si Bro.. " Inez meninggalkan kami ke dalam.
Ia memanggil partner nya untuk membantu nya. Tak lama mereka berdua keluar.
Pria itu membantu Inez menggunakan mesin EDC untuk pembayaran kami. Tetapi pandangan mata pria itu masih aneh kepadaku.
Apalagi saat aku memberi kartu debit ku yang berwarna hitam. Ada nama ku dan nama Jimmy disana.
"Nez, gw duluan ya.. Mau ngajak jalan sama jemput Jimmy. Thanks ya gw di bantu banget... " Aku berjalan meninggalkan toko tersebut.
"Gw yang makasih lo belanja barang yang bikin gw udah nutup target lho.. Thank banget Cathrine.. By the way, kayanya Freddy gimana ya tadi sama lo... Gw jadi ngga enak.. "
"Mungkin gw mirip kali sama temen dia. atau bisa jadi temen lo lagi banyak pikiran makanya gitu.. Udah ya, gw duluan ya.. Bye... " Aku meninggalkan Inez.
Menyusul Ghea dan papa yang sudah lebih dulu berjalan ke toko lain.
Rupanya Papa masuk ke toko pakaian pria. Papa sudah berada di meja kasir. Aku langsung menyusul papa kesana.
"Pa.. Kakak aja yang bayar... " Aku mengeluarkan dompetku.
"Jangan.. Simpan saja uang itu, papa beli buat papa kok.. Sama kasih ini buat suami kamu.. Papa tahu ini ga seberapa, tapi ini hadiah selamat datang dari papa... " Papa memberiku tas belanja berisi pakaian.
"Ini?" Aku membuka nya.
"Ya.. Berikan ke Jimmy ya... " Ucap papa.
Papa ingin membayar sendiri pakaian untuk nya dan Jimmy. Aku merasa tak perlu memberi nya seperti ini.
__ADS_1
"Ayo kak, kita pergi makan. Sudah siang nanti kamu telat menjemput Jimmy."
Kami pun pergi meninggalkan toko pakaian tersebut dan pergi ke area parkiran. Pak Teddy sudah menunggu kami dengan sesama supir yang ada disana.