
Aku turun dari mobil hitam. Lalu aku berdiri ke arah pintu dimana Jessy duduk.
Aku menunggunya menurunkan kaca. Namun, ia tetap menutup rapat pintu dan kaca mobil. Malah mobil berjalan mundur meninggalkanku.
Aku pun melambaikan tangan dan tersenyum. Lambat laun mobil pun menghilang dari pandanganku.
Aku masuk ke dalam rumah, saat aku buka pintu. Aku melihat ada sandal perempuan disana. 'Oh ada tamu'
Aku lalu melihat ada beberapa sandal rumah dengan warna putih. Di atas ada tulisan Esye, Jessy, Cathrine, Rina. Lalu aku melihat ada notes kecil.
TOLONG DALAM RUMAH PAKAI SANDAL INI. (TANTE KOEST)
Oh... Aku mengangguk dan memakai sandal tersebut. Lalu aku menuju kamarku.
Aku masuk dan mengunci pintu. Aku ingin segera membersihkan badan ini. Aku terbiasa membersihkan diriku setelah pergi.
Segar rasanya badanku, aku meluruskan kedua kakiku. Entah terlalu jauh jarak tempat itu atau karena mobil yang kami gunakan. Kakiku jadi pegal,tapi mobil itu mobil mahal. Ah dasar aku yang kampungan.
Eh ada TV dikamarku, sejak aku pulang banyak yang berubah. Jadi ada televisi dalam kamarku.
Aku mengambil remote dan menyalakan tv. Awh... Nyamannya...
'Eh.... Aku belum menutup pintu depan.!'
Aku langsung bangun dan keluar dari kamar...
Tak... Tak... Tap... Tap.... (Suara orang turun dari tangga).
Aku berdiri melihat, siapa yang turun. Aku berharap itu Yofie..
Tapi... Perempuan berambut lurus dan panjang, wajah nya cantik sekali. Seperti bule, hidung mancung, kulit putih dan tinggi.
Ia memakai kaos yofie?
Iya aku hafal dengan kaos yang dipakai Yofie. Kaos santai berwarna putih dengan gambar koala.
"Kamu tu jalan nya cepat.. Keburu malam sayang... " Suara wanita itu.
"Bentar Hon... Jalannya santai aja lah... " Suara Yofie, namun aku belum melihat nya turun.
"Eh... " Wanita itu berhenti tepat dihadapanku.
"Brenti hon?" Yofie lalu melihat ada aku di hadapan wanita itu.
Kami saling bertemu, aku tersenyum. "Malam kak... Malam.... " Aku melihat ke wanita cantik di hadapanku.
"Owh... Lo anak kost disini? Yang namanya siapa?" Ucap wanita itu.
"Cathrine... " Jawabku sambil memberi tangan untuk bersalaman.
Tapi wanita itu melihatku dari atas hingga bawah. Lalu ia membaca nama di atas sandalku. Apa namaku benar Cathrine.
"Gw Stacy... Ayo sayang... " Wanita itu pergi meninggalkanku.
Kak yofie mematung dan melihatku. Rasanya menjadi kikuk dan aneh..
"Cath? Maaf... " Ucap Yofie dengan suara halus.
"Ngga papa kak... Maaf titip pintu di tutup ya.. " Aku berkata lalu masuk ke dalam kamar.
Rasanya kok aneh ya.. Kaya sakit tapi engga berdarah. Memang benar yang Jessy katakan.
Aku merebahkan badanku, seharusnya aku menangis. Tapi sama sekali aku tak ingin menangis. Sakit tapi, engga yang sampai aku pengen menangis.
Malah aku terbayang dengan senyum manis Jimmy. Apa itu yang membuat Jessy marah kepadaku?
********
"Pilih aja yang kamu mau makan. Biar nanti boss yang bayarin... " Ucap Pak Lutfi sambil mencuri pandangan ke belahan dada Jessy.
"Kamu yang jadi boss kan?" Ucap Jimmy.
Kata - kata Jimmy langsung membuat Pak Lutfi diam. Raut wajahnya berubah masam.
"Hehe, boss nya kan Mas Jimmy... Ya bener kan Pak lut... " Ucap Jessy dengan centil.
Aku hanya menjadi penggembira disana. Mereka berbicara hal yang tak aku pahami. Seharusnya memang aku tak ikut saja.
Jelas, mereka berbicara soal pekerjaan dan project. Apa gunanya aku datang!?
"Enak Steak nya?" Tanya Jimmy kepadaku.
Aku menoleh ke arah dia. "Enak kok Pak. Rasanya pas dan enak. Terima kasih."
"Jangan sungkan, jika kamu mau tambah. Pilih lah, dessert yang recommend adalah Panacota. Apa kamu suka?"
"Panacota bukankah semacam pudding tapi lembut dan menggunakan Gelatin ya?" Aku berbicara dengan Jimmy.
"Ya! Benar.! Kamu bisa buat? Atau kamu chef ya, sampai tahu bahan apa yang digunakan."
__ADS_1
"Tidak Pak, saya bukan Chef. Cuman saya seneng lihat acara masak di tv dan saya suka masak... " Aku tersenyum.
"Boleh kapan kamu masak untuk saya. Saya mau coba ya... " Jimmy membalas senyum. Lesung pipi nya membuatnya manis sekali.
"Jangan Pak... Jangan.. Bapak bisa beli dari resto yang bonafit. Kalo saya masak bapak sakit gimana nanti?" Wajahku malah jadi panik.
"Sudah lah, jangan begitu... Apapun asal kamu buat saya mau... Sudah ayo lanjutkan makan. Dan.... Kamu harus coba panacota nya ya, aku pesankan.. "
Jimmy melambaikan tangan ke arah pelayan.
Pelayan pun mendekati kami. Entah Jimmy berbicara apa, suaranya pelan dan aku tak mendengar sama sekali.
"Eh, kalian ngomong apa sih. Kok asik aja berdua... " Ucap jessy.
Jimmy hanya diam, seperti dan mendengar. Atau memang pura - pura tidak mendengar.
"Jess..?" Aku memanggil.
Tapi tatapan jessy ke arah Jimmy. Ya, hanya memandang Jimmy di kedua bola matanya.
"Pak..." Aku lalu memanggil Jimmy.
"Yes... Ada sesuatu?" Jimmy menoleh ke arahku.
"Jessy bertanya pak... Kenapa kita tidak ngobrol bersama... " Aku menjelaskan.
"Oh hai, gimana? Mau tambah?" Jimmy langsung mengalihkan pandangan ke Jessy dan Pak Lutfi.
Pelayan pun datang dan membawa sesuatu di tangannya. Ia meletakkan 2 piring di hadapanku.
Piring pertama ada sebuah gelas kecil di atasnya. Dalam gelas itu ada sebuah benda berwarna putih yang di atasnya ada cairan berwarna merah. Di atasnya juga ada serutan coklat dan daun mint.
Di piring kedua ada semacam puff pastry berbentuk seperti soes. Namun ada cream di tengahnya. Serta beberapa pelengkap di sampingnya.
Jimmy memberik ku sendok berukuran kecil. Biasanya digunakan untuk dessert di restaurant.
Aku menerima sendok tersebut. Lalu aku mulai memotong isi di piring pertama.
rasanya lembut dan mudah untuk memotongnya. Cairan berwarna merah pun meleleh ke dalam.
Aku memasukkan ke dalam mulutku. Ternyata rasanya lembut sekali, aku pikir ini pudding. Ternyata berbeda, rasanya lebih lembut dan tidak terlalu manis.
Cairan merah ini ternyata strawberry. Segar, asam dan manis yang pas.
Aku terkesima dengan yang aku makan.
"Enak bukan?" Ucap Jimmy sambil memandangku.
"Boleh aku coba?" Jimmy mendekatkan wajahnya kepadaku.
Aku binggung namun, aku meletakkan sendok dessert di atas meja. Biar Jimmy bisa mengambil sendiri.
Jimmy tersenyum dan ia mulai menikmati sajian tersebut. Wajahnya tampak senang dan menikmati.
"Apa ini panacota?" Aku bertanya ke Jimmy dengan berbisik.
"Iya benar..... " Ia balik berbisik kepadaku.
Dan kami pun tertawa bersama.
Tapi saat itu aku tak memiliki perasaan apapun padanya. Aku berfikir Jimmy pun begitu.
"Kalian kok asik sendiri? Kita ber 5 lho disini." Ucap Jessy menghentikan tawa kami.
Wajah Jimmy tampak tidak suka dengan apa yang terjadi. Ia meletakkan sendok kecil di atas piringnya.
Aku pun diam dan mengambil sendok kecil lain. Aku memotong isi dari piring kedua.
Bentuknya seperti eclair(croux/soes), namun ini dari puff pastry renyah. Ada ice cream dan coklat sebagai pemanis disana.
Aku mulai memakan sendokan pertama. Yummy, renyah, manis dan meninggalkan rasa asam seperti lemon.
"Iya ni boss. Ada cewe cakep lho disini. Malah asik sama saya lho.. Ha ha ha.. " Ucap Pak Lutfi sambil membelai pundak Jessy.
Jessy langsung melotot ke arah Pak Lutfi. Wajahnya merah, marah atau malu? Mungkin keduanya.
"Maaf ya pak, ni bawahannya suka ga sopan sama saya... " Ucap jessy sambil menepis tangan Pak Lutfi.
"Saya tidak perduli, yang pasti dia sopan kepada saya. Perkara denganmu, saya rasa kalian sudah dekat dan saling paham satu sama lain.... " Jimmy malah tak menggubris apa yang terjadi.
Rasanya canggung, aku pun mencoba mencairkan suasana.
"Jess, mau coba ini?" Aku menawarkan dessertku.
"Heh, lo bisa sopan? Masak bekas gitu di tawarin. Panggil kek pelayan, pesenin yang baru buat Jessy. Lo itu cuman asisstent dia. Mantan assistant!!" Pak Lutfi berkata dengan nada kasar.
Aku bagai tersambar petir. Ternyata Jessy memperkenalkanku sebagai pelayan atau assistant dia..?
"Udah Pak, aku bisa panggil sendiri... " Jessy memasang wajah polos nya.
__ADS_1
"Eh, jangan tuan itu ga ngelakuin kerjaan begini. Harusnya dia itu mikir, kenapa sampe dipecat! Biar belajar bersikap kalo sama majikan tu gimana. Bukan kebanyakan gaya sama sok cakep" Ucapan Pak Lutfi makin merendahkan Cathrine.
"Udah pak, perkara makanan aja kita ribut. Aku aja engga marah. Sudahlah... Maap ya, sudah maafkan saja... " Ucap Jessy.
Jimmy mengangkat gelas dan meminum air kemudian meletakan di atas meja. Ia menikmati pertunjukan di hadapannya.
Kemudian tangan kanannya turun ke bawah meja. Ia lalu mengarahkan ke tangan kiri Cathrine yang bertumpu di atas lutut kaki nya.
Ia menepuk dan tersenyum ke Cathrine. Hal kecil itu membuat aku yang ingin marah malah menjadi diam.
"Nama cakep sih, sayang fisik sama wajahnya ga pantes sih. Dasar orang ga tau diri. Di bantuinalah begitu... "
"Sudah selesai?!" Jimmy bersuara agak tinggi.
"Pelayan!" Jimmy memanggil pelayan tadi.
Pelayan pun datang, "bisa di bantu Pak?" Ia berkata dengan sopan.
"Saya mau kedua dessert ini di sajikan semuanya untuk 3 orang di depan saya ini." Jimmy menunjuk siapa saja yang ia maksud.
"Oh baik Pak, berarti ada 6 total nya ya pak? Eclair lemon bliss dan panacotta today.. " Pelayan mengulang kembali pesanan Jimmy.
"Ya, 3 orang ini ingin makan semuanya. Sajikan dengan cepat. Terima kasih." Jimmy lalu meminum kembali air dari dalam gelas nya.
"Ah, jangan gitu Jimmy, nanti aku gendut kaya Cathrine.. "
"Panggil saya Pak! Anda tidak pantas memanggil nama saya! Dan satu hal lagi, jika anda tidak bisa merubah manner anda, saya akan berfikir mencari artis lain saja." Jimmy berbicara dengan tegas.
Semuanya diam termasuk aku, rasanya ini mimpi. Aku untuk pertama kali dilindungi?
"maaf kan saya Pak Jimmy. saya tidak bermaksud tidak sopan. hanya saja kita kan mau santai sore kok jadi tegang gini... " Pak Lutfi mencoba melindungi Jesy.
"seharusnya kamu sadar akan reputasi kamu. kamu masuk tv karena skandal kamu, bukan prestasi kamu. dan Lutfi! sebagai sutradara, kamu harus tahu, saya tidak akan memperpanjang kamu. jika project ini sampai tidak balik modal... " Jimmy menegaskan apa yang ia tahan.
Pak Lutfi hanya diam dan menundukkan kepala. Jessy pun demikian, sedang pria di sebelah Jessy hanya diam saja. tak merespon apa yang terjadi.
"saya sebenarnya tidak suka membuang uang untuk bisnis ini. sudah lewat buat saya. tapi perlu kamu ingat Lutfi! bagaimana kamu memohon ke saya pekerjaan. kamu bilang istri dan anak kamu butuh makan.. jangan buat saya menyesal menolong kamu.."
dan acara makan pun berakhir. ini mungkin yang membuat Jessy diam kepadaku. sepanjang jalan tak ada kata yang terucap darinya. kami saling memandang ke jendela masing - masing.
**********
Kedua mataku terbuka mendadak. Aku kaget mendengar suara tv yang tiba - tiba membesar.
Rupanya aku belum mematikan tv di kamar. Aku melihat jam dinding pukul 6 pagi. Pantas saja suaranya membesar, sudah saatnya aku bangun.
Aku bangun dan duduk di atas tempat tidurku. Aku memejamkan mata dan berdoa, aku bersyukur bisa membuka kedua mataku pagi ini. Semoga hari ini Uni sudah sehat dan warung ramai. Agar aku bisa mendapat tambahan gaji.
Kring.... Kring... (Suara ponsel berdering).
Aku membuka mataku dan mengambil ponselku. Uni nama yang muncul di layar. Aku pun menekan tombol hijau.
"Halo.... " Aku berkata.
"Cath, hari ni tutup warung. Uda ganti yang sakit. Besok sajo kita buka lagi ya."
"Oh iya Uni, cepat sembuh ya.. Salam Uni ya.. Buat Uda juga.. "
"Ya... Sudah ya.." Panggilan pun terputus.
Aku kemana hari ini? Kalo engga kerja, terus di kost ga dapet duit.
Aku membanting badanku lagi. Berbaring dan menghela nafas, padahal aku butuh bayar kost juga. Mengganti uang Jessy yang digunakan membayar kemarin.
Ting... Ting.. (Suara pesan masuk).
Anne : ketemu sama sepupuku di Plazaindah. Jam 3 jangan telat, pakaian sopan. Naik taxi, aku sudah kirim uang ke accountmu.
Me: waahh... Pas banget aku libur, nanti aku ambil sama berangkat ya Ann. Terimakasih ya Anne.. Aku akan membalas nya nanti.
Anne : sudah cepat dandan cantik. Jangan telat pukul 3 plaza indah di coffecok.
memang benar rejeki engga akan kemana. aku kemudian membuka koper. aku mencari mana baju yang bagus.
tapi, apa aku harus memakai baju putih dan celana hitam? seperti bagaimana orang akan interview kerja.
Eh, aku kan ketemunya sepupu Anne. kalo pake baju resmi, aneh dong. mana belum tentu dia langsung oke aku kerja.
pakai kemeja kotak ini, dan celana Jeans biru ini. aku berkaca dan mencoba menepelkan baju tersebut. ya sempurna ini pas untukku.
aku langsung mencari catok dari dalam lemari. rupanya Jessy meninggalkan alat make up dan hair Stylist di lemari. aku mengambil nya dan duduk di atas kursi.
aku meletakkan di atas meja rias. kemudian aku melihat ke kaca. kulitku tidak terlalu mulus, tapi syukurlah tidak ada jerawat baru yang keluar.
aku mulai menyisir rambutku dan mengatur senyumku.
"halo... aku cathrine, teman Anne. senang berjumpa.." aneh rasanya.
"sodara Anne ya?" ah sok kenal.
__ADS_1
"hello my name Cathrine... " ya kalo dia ngerti.
mengapa sulit menata kata yang pas untuk ku nanti. bagaimana aku berbicara nanti?