CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
25


__ADS_3

Sebenarnya menjadi tak terlihat hal biasa. Biasa buatku di abaikan. Tetapi kali ini aku merasa kecil.


Mall semewah ini, dengan barang yang mungkin aku butuh berapa lama menabung untuk membeli. Sepatu flatku saja hanya 50rb. Tas yang aku pakai 45rb. Baju ini.... Entah, ini aku dapat gratis dari bekas pakai.


Aku terus mencari mana Coffeecok berada. Aku hampir berputar dan lelah. Mana lagi aku mencari, tiap aku jalan selalu kembali lagi.


Aku memilih mendekat ke petugas keamanan disana. Seorang pria dengan pakaian hitam dan HT di tangan.


"Pak.. Maaf.. coffee Cok tu dimana ya? Saya muter kok balik sini terus daritadi?"


Petugas itu memperhatikanku, apa yang ada di pikirannya.


"Owh, lurus aja nanti dia di pojok mepet resto jepang." Ia menunjukan jalan dengan tangan yang memegang HT.


"Baik Pak, terima kasih ya... " Aku menjawab.


Aku membalikkan badanku, sepintas aku melihat ke dinding. Disana benda berwarna silver yang mirip seperti kaca. Lalu aku melihat, rupanya penuh kringat di wajahku.


Aku mengambil tissue dari dalam tas. Aku menempelkan di wajahku, ya Tuhan...


Setelah selesai, aku melihat kembali. Sudah lebih baik, tapi make up ku sedikit luntur. Yasudahlah, aku membuang tissue tersebut dan melanjutkan perjalananku.


Aku berhenti tepat di tempat yang agak redup. Cahayanya remang berwarna kuning. Tapi, ini terlihat mewah dan bukan tempat murah.


Aku percaya diri masuk ke dalam. Ada barista yang sibuk melayani antrian disana.


"Bisa di bantu kak?" Ucap salah satu karyawan.


(Aku melihat ia menggunakan apron/celemek yang sama dengan petugas di balik meja kasir disana.)


"Mau pesan atau mau duduk dulu kak?" Ia bertanya lagi.


"Owh... Saya sebenarnya janjian, tapi... " Aku melihat ke menu di atas meja kasir.


Astaga, harga 1 cup minuman 40ribu? Aku mencari adakah yang mereka jual di bawah itu? Uangku tinggal 30rb..


"Kamu disini?" Ucap seseorang di belakangku.


"Hah?" Aku membalikkan badanku.


"Kaget?" Jimmy berkata.


"Kamu disini?? " Aku langsung menjawab Jimmy.


"Mari duduk disana sama aku... " Jimmy berjalan, lalu aku menyusulnya.


Kami pun duduk di meja sudut dalam cafe. Aku lihat sudah ada 2 cup minuman di atas meja.


"Duduklah... " Ucap Jimmy.


Aku pun duduk di hadapan nya. Aku meletakkan tas di atas kedua paha. Aku sedikit menundukkan kepala, entah rasanya malu bertemu berdua dengannya.


"Kenapa ? Ada yang salah? Kok kamu menundukkan kepala?" Jimmy mendekatiku.


"Ah...tidak aku cuman... Malu.... " Jawabku.


"Ha.. Ha... Haa... Kita pernah pergi berdua Cath... Lupa? Kita habiskan setengah malam bersama... " Ucap Jimmy.


Aku pun tersenyum mendengarnya. Malu tapi rasanya aku senang berjumpa dengannya.


"Jadi, ada acara apa kesini? Ga sangka bisa bertemu disini... Oh iya, ini Greentea latte dingin. Kalo kamu mau minumlah... " Jimmy menunjuk ke cup di hadapanku.


"Terima kasih Pak.. Saya sebenernya janjian sama orang.. Tapi, saya tu ga punya kontaknya. Jadi susah gini... " Aku menjawab dengan canggung.


Aku pun sibuk melihat sekitarku. Siapa kira - kira pria yang aku temui?


Disana ada pria buncit yang sudah tua. Tapi ia bersama teman wanita.


Di sudut sana adanya sepasang muda mudi. Sedang yang lain mereka dengan kumpulan anak gaul. Mana lagi ? Atau jangan - jangan .....


Anne menipuku!


"Hei! " Jimmy sedikit mengagetkanku.


"Iya pak... " Aku refleks menjawab. Kaget sebetulnya aku dengan apa yang ia lakukan.


"Panggil Jimmy saja, dan.. Berhenti berkata saya.. Bagaimana jika kamu dan aku?"


"Boleh lah, boleh... Maaf Pak... Eh, Jimmy... Aku sebenarnya janjian dengan saudara dari sahabatku. Aku akan interview tapi bukan juga sih... Jadi kaya ketemu buat minta kerjaan gitu... " Aku menjelaskan.


"Oh begitu, lalu kenapa kamu engga menghubunginya?" Ucap Jimmy.


"Masalahnya, aku ga punya kontaknya dia. Katanya sih, sodaranya udah punya nomerku. Tapi kok engga telpon ato kirim pesan ya.. " Aku menjawab sambil memegang ponselku.


Jimmy menyeruput sedikit kopi panas miliknya. Lalu ia meletakkannya, rahang Jimmy begitu tegap. Sepertinya ia orang yang tegas.


"Owh begitu... Kenapa kamu engga telpon temen kamu? Menanyakan kemana dan bagaimana ciri - ciri pria atau wanitq yang akan menjadi boss mu.. "

__ADS_1


"Sudah sebelum aku sampai disini. Tapi katanya confidential nomernya, jadi aku ga bisa dapet. Kan susah aku jadinya.. .. " Aku cemberut.


Lalu aku mengambil minuman di hadapanku. Lalu aku meminum sedikit, rasanya enak. Lalu aku melanjutkan meminum lagi.


Aku menyadari banyak yang habiskan isi cup. Lalu aku berhenti dan menaruhnya.


Jimmy melihatku dan tersenyum, "habiskan saja, nanti kita pesan yang lain."


"Terima kasih ya Jimmy... " Aku membalas senyumnya.


"Oh iya bagaimana kamu kesini? Dan... Pipi kamu mengapa berwarna merah sebagian... Oh, make up.. "


"Iya Make Up saya murah. Jadinya luntur kena keringat. Saya mencari cafe ini sulit sekali.. Berputar di lantai ini saja..." Aku menjawab dengan membersihkan kedua pipiku.


"Bukan soal murah atau mahal. Kamu lebih cantik hanya menggunakan bedak dan pewarna bibir tipis. Seperti saat kita makan sore. Maaf jika menyinggungmu." Jimmy menjawab.


"Tidak Jimmy... Tidak... Mungkin aku yang sedang sensitif... Oh iya, aku kesini numpang anak pemilik kost.." Aku menjawab.


"Kost? Rumah yang dulu aku antar kamu pulang?" Tanya Jimmy.


"Iya kost.. Aduh apa ya nama lainnya.. Boarding house bukan juga.. Apa ya, kamar yang di sewain bulanan itu buat tinggal... " Jawabku.


"Ah... Aku paham. Kamu sewa kamar dalam rumah itu. Dan bayar dalam bulan kamu tinggal. " Jawab Jimmy.


"Apapun itu anggap garis besarnya sama saja ya.... " Aku sedang tidak bersemangat menjelaskan kepada Jimmy.


"Lalu, kamu mau menunggu terus? Orang yang akan memberi pekerjaan.. " Tanya Jimmy.


"Coba 10 menit lagi aku tunggu. Siapa tau ada kabar baik untukku... Ohiya, kamu sendiri suka kesini? Atau ada janjian?" Aku balik bertanya.


"Tidak, aku sebenarnya sedang menikmati sore. Dan kebetulan menunggu orang yang sepertinya tidak datang. Coba aku telpon dia, kalau sudah datang mungkin bisa lebih cepat urusanku..." Jawab Jimmy sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Oh begitu..." Aku menjawab singkat, karena aku juga binggung mau ngomong apa lagi.


"Sebentar, mana ini....ah ini dia..." Jimmy menekan panggilan dari ponselnya.


Kring.... Kring.... (Ponsel Cathrine berbunyi).


"Lhoh..... Ponselku bunyi. . Akhinyaa.. " Cathrine menunjukan ke Jimmy.


Jimmy hanya mengangguk dan tersenyum.


"Halo... " Cathrine menjawab panggilan tersebut.


"Cathrine Jons, ingat siapa saya? Aku dengar kamu butuh pekerjaan dengan bayaran yang tinggi, tapi apa keahilanmu. Mau bekerja kepadaku dengan mudah?" Ucap pria di ujung panggilan.


Jimmy tersenyum dan menutup panggilan tersebut. Lalu ia meletakkan ponsel di atas meja.


"Sudah jangan kaget, kenapa nomer ku tidak kamu simpan? Kamu kaget melihat siapa yang baru saja berbicara denganmu...." Tanya Jimmy.


"Tunggu....Tunggu maksudnya ini gimana? Bagaimana menyimpan nomer kamu. Saya saja tidak pernah kamu telpon, lagi pula ini nomer baru saja aku beli..Dan, jangan bercanda! Aku sedang mencari pekerjaan Jim!" Aku menjadi kesal melihat Jimmy.


"Jawab saja, kamu bisa apa? Program digitols, memasak atau apa?" Jimmy kembali bertanya.


"Tolong yang Jelas Jimmy yang terhormat. Saya itu butuh pekerjaan, kamu jangan ngerjain saya...apa hubungannya ini semua... " Kedua mataku mulai berkaca.


Rasanya aku seperti di permainkan. Entah darimana ia mendapat nomerku yang baru. Aku baru kemarin membeli nomer ini, saat aku kembali dari kampung.


Harapanku aku tidak di hubungi oleh debt Collector mama dan papa. Tapi darimana ia mendaapt nomerku.


"Aku lah saudara sepupu Anne, ia sudah bercerita siapa yang aku temui. Jujur saja aku malas bertemu dengan wanita semacam dirimu..." Jimmy menjawab dengan sinis.


"Memangnya mengapa? Dan apa benar kamu yang Anne maksud??" Aku masih tak percaya. Apalagi Jimmy bisa berubah dari Jimmy yang biasa aku kenal.


"Wanita milenial yang biasanya menjual diri mereka kepada pria kaya. Atau pria tua dengan tujuan yang sudah jelas.. Duit dan kehidupan enak, tanpa ada kerja keras...


Jujur, aku tidak suka membuang uangku untuk wanita murahan dan wanita yang suka berpindah dari satu pria ke pria lain...betapa kotornya.."


Aku menundukkan kepalaku, aku merasa malu dan ingin menangis. Mengapa mendengar ucapannya begitu mengiris hatiku.


Aku mencari pekerjaan, bukan menjual tubuhku. Mengapa kata - katanya begitu merendahkan ku.


"Tapi, waktu Anne bilang kalau namanya Cathrine Jons. Dan ia menunjukan foto kalian berdua.... Baiklah aku temui dirimu....mengingat bagaimana kamu dan belum lama ini kita bertemu juga di TeaGarden..


Sekarang to the point saja. aku tanya apa keahlianmu?


Karena dalam proses syuting pun... Saya lihat kamu tidak berbakat... Lantas apa yang bisa membuatku memepertimbangkan? Saya tak mungkin membuang uang saya percuma.. Membayar orang tanpa keahlian apapun..."


Aku mencoba menarik nafasku beberapa kali. Aku mengatur agar tak ada air mata yang menetes.


"Terima kasih, Bapak Jimmy yang terhormat.. Saya memang ga berbakat dalam hal akting. Ga juga lulus dari universitas bagus, saya kuliah saja tidak.. Lantas pekerjaan saya selama ini apa? Bapak mau tau? Saya kerja halal, saya.... Saya jadi Tukang cuci dan pelayan di warung padang. Bapak juga pernah makan disana....


Saya emang ga bisa masuk kualifikasi bapak... Apalagi bekerja di kantor bapak.. Jadi daripada saya membuang uang Anda...sebelumnya, maaf saya membuang waktu bapak untuk menemui saya saat ini.....


Saya permisi dulu...


Oh iya.. Terimakasih untuk minuman enak dan mahal ini. Saya permisi... "

__ADS_1


Aku berdiri dan memandang Jimmy. Sesaat kami saling berpandangan. Pria di hadapanku ini,...


Ia beberapa kali menolong dan menyelamatkan ku..


Tapi kalimatnya dan semua ucapannya sore ini. Mengapa begitu menyakitkan buatku?


Aku lalu membalikkan badanku dan pergi meninggalkan Jimmy. Aku berjalan keluar dari cafe.


Badanku lemas, kakiku rasanya tak bertulang. Aku bahkan belum makan dari pagi, hanya minuman tadi yang mengisi perutku. Jujur rasanya aku amat lapar.


Tapi mendengar ucapannya sudah membuatku kenyang.


Ada bangku di ujung sana. Aku melangkah menuju bangku itu. Langkahku melambat, pikiraku melayang mengingat semua perkataannya.


Aku duduk sendiri dalam lalu lalang manusia. Aku masih tak percaya, pria yang beberapa kali aku temui amat menyenangkan.


Membawa ku sedikit bahagia memiliki kenalan orang sukses. Mendadak sore ini aku merasa seperti di rendahkan.


Apa salah aku mencari pekerjaan?


Walau ia hanya menjadikanku Office Girl pun.. Aku menerimanya...


"Maafkan perkataanku.... " Suara Jimmy.


Aku memejamkan kedua mataku. Aku ingin menenangkan pikiranku. Aku nampaknya lapar, hingga aku berhalusinasi.


Aku mendengar suara Jimmy berkata Maaf.


"Bukalah kedua matamu Cathrine... " Suara Jimmy makin jelas.


Aku justru makin memejamkan kedua mataku. Kepalaku malah menjadi makin pusing.


"Cathrine!" Lalu Jimmy menggenggam pergelangan tanganku.


Aku langsung membuka mata dan melihat. Kedua mataku masih sembam.


"Kamu menangis? " Tanya Jimmy.


aku hanya diam memandangnya. entah rasanya aku ingin menampar wajahnya.


"maaf..... " ucap Jimmy.


aku melepaskan genggaman tangan nya. aku memalingkan padangannya ke lantai.


enggan aku memandang wajahnya.


"baiklah, perkataan ku tadi kasar buatmu. tapi, aku hanya mencoba jujur dengan dirimu... " ucap Jimmy.


"..... "


"baiklah, sekarang kamu bisa bilang alasan kamu butuh pekerjaan dengan bayaran besar..." Jimmy masih memaksa Cathrine berbicara.


"Percuma aku katakan, dalam pikiranmu sudah terukir bagaimana wanita macan diriku.... Pasti kamu akan berfikir... Ah, sama saja dengan wanita lain yang dari tadi lewat di hadapan kita... " Aku menjawab.


"No... Big no! Aku mau tau reason kamu apa? Supaya saya bisa membantu kamu... " Jimmy berusaha menekanku untuk bicara.


"Saya mau bicarapun kamu engga akan percaya... "


"Saya percayaa.... " Ucap Jimmy.


"Saya butuh uang untuk operasi jantung papa saya, bayar hutang dari usaha orang tua saya yang hancur, bayar sekolah adek saya. Biar dia bisa berangkat sekolah. Kalo saya bilang kamu percaya?!" Aku berbicara dengan nada tegas.


"....... " Jimmy diam.


"Saya tahu.. Kamu tak akan percaya. Tapi, inilah faktanya. Makanya saya mau kerja apapun. Saya kerja di warung padang pun, saya sudah berterima kasih.... Berkat majikan saya... Saya bisa memberi uang keluarga saya buat makan dan menyambung obat.... Puas?


aku yakin kamu engga akan percaya. ya, anggaplah aku wanita yang seperti kamu bilang tadi..


aku pun sadar......fisikku tak pantas untuk di hargai dengan mahal, maka dari itu...aku mau bekerja!!"


Aku tak sanggup menahan air mataku, tak kusadari menetes beberapa kali. Berat rasanya bebanku, puas juga hatiku meluapkan apa yang membuatku pusing.


Aku lalu menghapus air mata dan menahan nafasku. Biasanya berhasil menahan air mataku yang keluar. aku lalu memandang Jimmy.


ia masih diam dan melihatku...


Jimmy lalu menarik tanganku untuk berdiri.


"Ikut aku sekarang..!" ia berkata dan aku hanya mampu menuruti.


Jimmy menarikku, kami berjalan dengan cepat. ia membawaku di tengah ramainya pengunjung sore menjelang malam. Kami melewati beberapa toko di hadapan kami yang berusaha menarik Jimmy untuk mampir melihat.


genggaman tangannya erat, membuatku sakit. mau tak mau aku ikut dengannya.


Lalu ia membawaku ke area parkir. Kami menuju ke sebuah mobil Suv berwarna hitam. Aku tak pernah melihat mobil ini di gunakan Jimmy.


"Masuk!" Jimmy memintaku masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Aku takut melihatnya, lalu aku menurutinya masuk. Aku memasang sabuk pengaman dan duduk diam menunggu.


__ADS_2