CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
16


__ADS_3

aku duduk di foodcourt sebuah mall. Anne datang membawakan makanan untukku.


ia meletakkan nampan dan memberikan kepadaku segelas teh dingin.


"terima kasih, " jawabku.


Anne duduk dan meminum teh miliknya.


"jadi sampe kapan kamu pulang?"


"belum tahu, yang jelas aku harus segera kembali. aku butuh uang yang banyak." jawabku sambil memainkan gelasku.


"om memang harus di operasi ya? papa bilang kalo kamu butuh, udah kredit atau bayar nyicil aja Cath. jadi biaya operasinya udahlah... engga perlu mikir lagi... " Anne memegang garpu dan mulai memakan pasta di hadapannya.


aku hanya memainkan garpu di atas piringku. rasanya kepalaku penuh sekali, mana yang harus aku pikirkan dulu.


"biayanya besar An... kamu dan keluargamu udah terlalu baik, aku engga mau menyusahkan.... "


"sebenernya sepupu gw lagi cari cewe Cath. tapi bukan buat jadi istri... ganteng sih... cuman gw engga mau aja lo sama dia.... "


"kaya? tajir? " aku semangat mendengar cerita Anne.


"banget.... cuman gimana ya.... bukan jadi pacar atau istri Cath..... "


"terus?" aku makin penasaran dan mendekati Anne.


mimik wajahnya berubah jadi masam. seperti ia menyembunyikan sesuatu...


"ayolah Anne.... kalo emang ku bisa kerja sama dia, kenapa engga? ijazah ku cuman SMA... aku mau kerja apa...?" aku terus membujuk Anne.


"kan udah kerja kamu di jakarta. udah kerja aja disana.. ohiya kamu bilang mau jadi artis. harusnya kamu kenal dia... " Anne berkata sambil meletakkan alat makannya.


"aku kerja jadi bantu - bantu di warung padang. gajinya lumayan buat kost sama pulang sekarang. tapi sampe kapan? keburu keadaan papa ku memburuk anne.... "


"...... " Anne hanya diam.


"kalo jadi artis, ya allah, aku tu katanya nanggung wajah sama badannya. oriental engga, nasional juga engga.. kurus engga, gemuk juga engga. susah buat mereka nyari peran buat aku... eh, kalo kamu bilang aku kenal... jangan jangan ...."


"apaan ?? " jawab Anne.


"jangan jangan namanya Adam ya...? soalnya gw punya temen Astrada gitu. asistant bagian manggil talent buat syuting... "


"bukan!!namanya bukan Adam?! umurnya sih sama kita selisih antara 8-10 tahun lebih tua. yang jelas dia itu butuhnya Temen Tidur. haha ... haa... " Anne tertawa keras hingga posisi duduknya agak berantakan.


"ssst... pelang kali neng.... " aku menepuk tangan Anne.


ia pun berhenti dan menata duduknya yang agar kacau. ia pun mengatur nafasnya lalu mulai berbicara lagi.


"jadi sepupu gw ini bisa di bilang engga deket juga si.. cuman dia itu butuh temen bobok... "


"lah kalo dia kaya udah kali nyewa aja selesai. lagipula aku engga mau. haram buatku ,aku mau yang bener aja deh jalannya... apa aku cari suami yang kaya ya An? " aku mulai menghayalkan hal tersebut.


"sadar Cath... kalo cowo tajir itu cari nya juga cewe tajir. kamu tau semacam sistem kasta kan? tingkatan status sosial. nah, begitulah... "


"....... " aku diam dan menyadari aku pasti juga mendapat jodoh yang selevel denganku.


"sepupu ku ini udah nyari beberapa cewe, tapi ga ada yang oke buat dia. dann.... sekali dapet yanh aku tau, ni cewe bunuh diri. gara - gara video dia lagi mandi kesebar gitu. sampe ribut gede jaman itu... "


"hah? terus?" aku jadi penasaran, siapa yang di maksud Anne.


"jadi tu cewe juga engga cantik amat sih. cuman apa ya nyaman gitu kata abang ku.. gini deh, kalo udah mentok coba aku kenalin ya. kalo dia ga cocok at least kamu bisa minta bantuan dia. buat cari kerjaan lain, posisi apa kek di kantornya... "


"kalo dia cocok?" aku penasaran jawaban Anne.


"..... hmm... kamu mau terikat selama sekian tahun sama dia tanpa status? melayani dia tapi tidak di akui keberadaan dan status mu. pokoknya pelengkap di apartemen dia... siap? tapi yang aku tau, hidup kamu bisa di cover semua. cuman jangan minta adanya pernikahan."


"....... "


"gimana? mau?"


"....... " aku melirik ke arah bawah. aku sedikit berfikir, sebenarnya tidak buruk. daripada aku bekerja seperti ini.


"ah jangan deh Cath.... soalnya dia itu gimana ya... dari negara yang keras gitu lho... aku malah takut kamu kenapa - napa nanti.. orang aku aja yang keluarga mau ketemu dia tu harus janjian dulu... "


"hmm.... entah An.. aku cuman engga kuat liat mama sama Ghea setiap hari di pasar. nyari kerjaan disana sini. liat papa juga cuman bisa terbaring. kamu tau? barang di rumahku udah di jual semua. aku aja udah engga punya gelang yang aku beli hasil ngajar dulu.... " mataku mulai berkaca - kaca.


Anne menepuk pundakku, "iya, kemarin aku main kesana. pas nganter obat buat om, Ghea juga makin kurus sama dekil. kalo engga salah bentar lagi dia masuk kuliah juga ya?"


aku mengangguk...

__ADS_1


"dia tu pinter banget An... sayang kalo dia cuman berakhir di pasar bantu mama. dia bisa jadi dokter atau insinyur lah An, biar hidupnya engga kaya aku.."


"lah anaknya mau ngga?"


"dia mau sekolah hotel atau sekertaris aja katanya. biar cepet kerja, itulah yang bikin aku harus bisa cari pemasukan pasti. aku sayang banget sama Ghea...."


*********


Anne mengantarku sampai ke depan rumah. aku melihat lampu sudah di matikan. aku memandang dinding teras rumahku.


ada sudut bekas pembuangan air pendingin. kini sudah tak ada lagi barang tersebut. kata mama, ia tak mampu membayar listrik jika masih ada pendingin udara.


"thanks Ya Ann... " aku melambaikan tangan ke arah luar.


"dadaahh..... kabarin lho kalo butuh apa - apa... "


lalu Anne pergi meninggalkan ku.


aku membuka pintu dan masuk ke dalam. suasana menjadi hening. hanya Ghea yang masih menonton dari tv tabung kami.


"dek... nih dari kak Anne... " aku memberi bungkusan ayam goreng dengan logo pria tua.


"waaaa.... tau aja belom makan kak... " Ghea mengambil bungkusan dan membukanya.


"emang kamu belom makan?"


"semua kak... gimana mau makan, mama mau belanja udah di tagih iuran yang nunggak.. yaudah kita ga makan. mie instan aja udah abis... "


aku melotot mendengar yang Ghea katakan. lalu aku menuju kamar orang tauku.


aku berhenti di depan pintu. aku mendengar mama - papa sedang berbicara, namun tak jelas apa yang mereka katakan. yang jelas aku mendengar mama sedang menangis.


aku memegang gagang pintu. namun rasanya bukan saatnya aku membuka sendiri pintu ini.


'tok.... tok... ' (mengetuk pintu)


"ma... pa.... aku bawa ayam... dibeliin Anne.. buruan di makan ya... aku mau cuci - cuci terus tidur... " aku berbicara dengan suara agak keras.


aku lalu meninggalkan kamar mereka. aku masuk ke dalam kamarku. aku mulai mengganti pakaianku dengan baju tidur.


aku mendengar suara pintu kamar mama - papa terbuka, tak berapa lama aku melihat mama keluar dari kamar. disusul oleh papa, mereka langsung ke ruang tengah.


'apa aku menemui sodara Anne saja. setidaknya dia mungkin bisa memberiku pekerjaan lain. agar keluargaku tidak perlu seperti ini terus.' aku berbicara dalam hati.


beberapa menit berlalu, aku masih terbaring di kamarku. aku memandang langit kamar, banyak hal yang menjadi pikiranku.


bagaimana keadaan ini bisa berakhir. kapan semuanya bisa menjadi baik. setidaknya, bukan berkelimpahan, tapi bisa wajar keadaan keluargaku...


aku memandang wajah Ghea yang tidur di sampingku. aku pun membelai rambut nya...


'ya Tuhan, dia sodara yang aku punya dan sayangi. aku harus bisa menjadikan dia orang sukses. walau aku harus bekerja sampai mati.....'


*******


jam dinding menunjukkan pukul 2 siang. aku masih duduk santai di ruang tengah. biasanya Ghea sudah pulang dari sekolah.


aku sendirian siang itu, bagaimana bisa suasana rumahku begitu panas. seperti akan terjadi sesuatu,.


tok.... tok.... tok... (suara pintu di ketuk)


aku bangkit dan menuju ke pintu depan rumahku. aku mengintip dari celah jendela. siapa mereka?


seorang pria berkulit hitam dengan wajah sangar. mimik wajahnya sangat marah, namun aku baru menjumpai nya siang itu.


aku tak berfikir apapun, lalu aku membuka pintu dan mencoba untuk ramah dengan nya.


"selamat siang pak.... bisa saya bantu?" aku bertanya dengan sopan.


"mana Ayah kamu! suruh bayar tu hutang sama bank!! jangan cuman pake duit nya kalo udah engga mau bayar!! apa kamu sana jual diri kek atau gimana bayar tu Hutang!!" lelaki tersebut berbicara dengan keras.


bahkan tetanggaku sampai ada yang mengintip dari dekat rumahku. rasanya malu dan ingin ku hantamkan tanganku ke mulut nya.


namun diam sesaat dan menghela nafas. aku tak menjawab apapun. aku hanya diam dan berusaha tenang.


"diam aja! punya mulut engga situ?! cakep tapi ga punya mulut. pake tu mulut jawab saya." lagi, ia memancing emosiku.


aku tak tahan dengan ocehan dia. aku kini bertanya balik kepadanya.


"bapak mencari orang tua saya? berapa mereka hutang? dan bapak dari bank apa? jika bapak bisa menunjukkan bukti, saya beri uang ke bapak."

__ADS_1


laki - laki tersebut kaget, wajahnya berubah saat mendengar kata uang.


aku paham...


ia hanya Debt collector tangan kedua. dimana itu hanya pihak lain yang di kirim untuk menekan dan menakuti kami. agar kami mau membayar.


ia lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. lalu memberikan kepadaku.


aku tak melihat ada surat resmi dari bank. atau dari kantornya untuk mengutusnya datang.


"saya engga melihat surat tugas bapak. dan disini bapak engga bisa menyebutkan hutang dari orang tua saya. bagaimana saya mau membayar? "


"ya Pokok nya situ bayar lah. lha hutang kan dibayar!"


"bapak bisa tenang? saya bertanya lho? kalo misalkan saya kasih 5jutan nih..ini uangnya bakalan disetor ke bank atau ke kantong bapak?"


ia diam sesaat, sepertinya ia sedang berfikir.


"ke bank dong mbak!"


"tanda bukti saya apa? jangan sampai selama ini orang tua saya membayar uang ke anda. tapi uang nya engga pernah sampai ke bank. dan yang ada malah hutang orang tua saya makin besar.. "


"..... " gantian bapak tersebut yang diam.


"tunggu sebentar disini... " aku meninggalkannya.


aku masuk ke dalam kamarku. lalu aku mengambil uang pecahan 50rb dari dalam dompetku. lalu aku keluar lagi, laki - laki tersebut masih di luar menungguku.


"saya tahu dan paham kok. bapak cuman kerja untuk nekan keluarga saya. tapi saya minta sedikit saja. tolong selama sebulan ini jangan ganggu kami. dan ini uang lelah untuk anda."


"terima kasih Mbak... " ia menerima uangku tanpa malu sedikitpun.


"memang mbak, sebulan ini saya yang dikirim untuk menagih. bulan depan akan berganti orang lagi. saya berjanji mbak, sebulan ini saya tidak akan kembali lagi... "


"baguslah, jika orang tua saya tidak di ganggu orang macam ada, mereka bisa cari uang buat bayar hutang Pak. padahal kalau hutang orang mereka lunas semua, anda tidak memiliki pekerjaan lagi kan?" aku berkata dengan sinis.


"iya mbak.. saya permisi dulu. "


"silakan pergi, anda udah nerima duit buat apa lama - lama disini."


laki - laki tersebut pergi dengan motor butut nya yang berisik. namun aku sempat berbicara dengan keras.


"nyari duit kok sampe bertaruh harga diri. dikasih duit langsung diem."


aku kembali ke dalam rumahku. jantungku rasanya berdetak keras. baru pertama aku menjumpai tukang tagih dan menghadapinya sendiri.


rasanya tangan ku juga dingin. sebenarnya aku takut. tapi bagaimana lagi, hanya ada aku siang itu, suka atau tidak harus aku hadapi dia.


aku pun merebahkan badanku di kursi depan Tv. aku berfikir harus segera kembali ke kota. dengan begitu aku bisa mencari uang lagi. sedikit pun lumayan untuk membantu orang tuaku.


tak berapa lama aku mendengar pintu terbuka. aku bangun dan menengok siapa yang datang.


"kak.... adek pulang ..... " Ghea datang dengan wajah yang amat lelah. Ghea pun duduk di sampingku


"kamu kenapa dek?" aku bangun dan duduk di menemani Ghea.


"capek aja kak.... aku kan sekarang ngajar les buat anak SD kak.... lumayan buat uang jajan sama bikin tugas..."


kasihan adikku, dia masih harus mencari tambahan sehabis sekolah. sedangkan aku pada umurnya saja tidak pernah berfikir mencari uang.


pada saat itu aku menjadi guru les juga. namun penghasilanku murni untuk aku bersenang - senang. aku yang tidak tahu diri.


"kak, adek tidur siang dulu ya..."


"kamu engga makan?" aku bertanya.


"emang ada makanan? aku dan biasa kak, makan cuman pagi sama malem. udah ya kak.... "


Ghea meninggalkan diriku, ia masuk ke kamar dan menutup rapat. memang benar tidak ada yang bisa kami makan siang itu.


tapi aku sudah terbiasa dengan puasa sehari - hari selama di kota. aku kemudian mengambil ponselku dan melihat pesan yang masuk.


anne : kamu kalo jadi kenalan sama sodara aku bilang ya.... biar aku bisa jadwalin, dia itu pria yang amat sibuk.


aku : sodara kamu bisa kasi beasiswa ga? buat adikku. aku kerja pagi ketemu pagi gapapa deh, soalnya aku butuh banget. tadi ada debt coll ke rumah.


anne : dia di kota, makanya kamu kembali dulu. baru aku bisa buat jadwal sama dia. tenang dia orang baik kok. ganteng juga.


aku : engga penting ganteng nya. yang penting ada pekerjaan buatku.

__ADS_1


__ADS_2