
"Jadi... Kamu mulai berani membalas perempuan itu?" Jimmy tersenyum. lesung pipi nya terlihat jelas.
sepertinya ia suka melihat tontonan nya tadi.
"Ngga juga Jimmy, cuman aku males aja. Kalau kamu mau sama dia juga silakan. Aku akan mundur. huft...... " Aku menjawab lirih.
Jimmy langsung memingirkan mobil. Ia memilih berhenti dan berbicara dulu denganku.
Ponsel Jimmy pun bedering.. Aku melihat nama Thomson, ia buru - buru mengangkat.
"Tommy, let me call you later ya.. Im on drive... " Langsung panggilan itu di putus.
"Sorry, apa aku pernah cerita dia teman ku. Panggilan nya Tommy..sama ya nama nya dengan papa...." Jimmy menerangkan.
Aku hanya merenung melihat ke luar. Jimmy lalu menggenggam tanganku.
Aku refleks menoleh, "ada apa?" Aku bertanya.
"Tidak.." Jawab Jimmy.
"Ooo...baiklah... " Aku kembali melihat ke luar. Namun jimmy menarik wajahku.
"Ada apa denganmu?" Tanya Jimmy dengan suara tegas.
"Aku baik... Baik banget, aku cuman lagi mencerna perkataanmu kemarin... Soal orang lain yang lebih baik dari kamu... Apa ini artinya yang tadi aku lihat?" Aku menjawab.
"Bukan... Tunggu ini salah paham... Aku dengan perempuan itu hanya terikat kontrak kerja...Sebatas bisnis..." Jawab Jimmy.
Aku hanya diam tak mengubris dirinya. Ia beberapa kali mengajakku berbicara dan bercanda.
Ya... Aku memang menanggapinya. Walau dengan jawaban yang agak dingin.
Perjalanan pulang yang dingin dari biasanya.
"Jadi... Nicky itu teman se kursus mu?" Tanya Jimmy sambil menuang air putih ke dalam gelas.
"Ya.... Selama ini dia tu sinis ke aku. Ternyata kenal sama kamu..Dunia ini sempit " Jawabku malas.
Jimmy lalu membuka lemari es. Ia mengambil wadah makan. Ia lalu menaruh di atas meja makan.
"Wah.... Kentang tumbuk dan meatball... Kamu menyiapkan untukku?" Tanya Jimmy sambil memegang tutup nya.
Aku mengangguk artinya iya.
Ia mengambil garpu lalu mulai memakan. Ekspresinya agak kaget, tapi ia terus memakan sampai habis.
"Apa enak di makan?" Aku penasaran.
"Uhm.... Uhm... Sejujurnya... Uhm... Seasoning nya kurang nendang. Matang nya pas.. Kentangnya agak hambar.. Lain kali kalau kamu beli makanan begini.... Tak perlu menyisakan untukku, aku tidak begitu suka.. menurutku rasanya kurang enak... " Jimmy lalu membuang wadah makan itu ke tempat sampah.
Aku melihatnya membuang dengan tatapan dingin. Memang wadah itu bisa di pakai ulang atau di buang.
Terlihat seperti beli tapi, sedih mendengar perkataannya.
"Apa kamu cuman makan makanan yang enak?" Aku bertanya lirih.
"Ya jelas... Menurutku lebih enak di makan itu lebih ngenyangkan untukku. Seperti obat saat aku lelah bekerja seharian.... " Jawab jimmy sambil masuk ke kamar mandi.
Aku harus sedih atau biasa aja? Iya.. Dia memang tidak tahu bahwa itu buatanku..
Aku berbaring malas sambil mengganti acara di TV. Jimmy pun melirik ku dari pantulan cermin.
Ia sudah dengan pakaian tidurnya. Lalu ia mencuri pandang dari cermin. Aku bisa merasakannya.
"Apa ada yang salah?" Jimmy bertanya.
"Tidak..... Aku hanya merasa sedikit capek... " Jawabku.
**********
"Bagaimana komen nya soal masakanmu?" Inez penasaran.
"Dia ga suka, bahkan gw engga perlu membawakan atau menyisakan pun memberikan padanya jika masakan tidak enak seperti kemarin.. " Jawabku lesu.
Inez menepuk dan mengelus pundakku. Aku malah menangis diperlakukan seperti itu.
"Lho kok malah nangis?" Inez berkata.
"Ga tau, sedih aja rasanya. Kan gw nyiapin spesial buat dia. Yang ada dia malah gitu ke gw. Rasanya gw kesel... Sedih... Kaya ga bernilai. Padahal gw baru kemarin masak yang bener buat dia... " Aku mengusap air mata.
"Biasa aja lah.. Justru lo harus seneng. Tandanya Jimmy jujur soal lidah nya.. " Nicky menyambar dari belakang.
"Lo apaan sih!?" Inez melotot.
"Ya bener kalik.. Coba kalo lo di bilang enak. Pasti udah ga mau masak lagi, udah ga mau belajar lagi... Dan lo ga bakalan mau latian buat lebih baik... " Nicky membela diri.
"Hmm.... " Aku memanyunkan bibir.
"Lo diem aja kalik! Hibur kek temen sedih.. " Inez melotot lagi ke nicky.
"Eh, beneran ngapain lo nangis. Jelek tau nangis. Udah abis ni kita jalan aja makan ice cream.. Inez engga usah di ajak.. " Nicky menepuk pundakku dari belakang.
"Kok gw engga di ajak??"
"Habis lo marah sama gw. Gw kan sopir nya bebas mau sama siapa.." Nicky balik melotot ke Inez.
"Lo tu yaa... " Inez ingin melayangkan cubitan maut nya ke Nicky.
__ADS_1
"Udah diem... Inez ga ikut, gw ga mau pergi... " Aku memecah mereka yang beradu mulut.
Tak lama dosen datang, hari ini kami akan praktek kue dengan topping cream. Biasanya di gunakan untuk dessert atau cake ulang tahun.
Setelah semua selesai Inez selalu yang paling rajin membersihkan. Bahkan merapikan hasil kami yang akan di bawa pulang.
"Punya lo di bawa balik kan? " Inez menunjuk tempat makan itu.
Aku menghela nafas dan melihat tempat makan itu. Aku hanya mengangguk, Inez lalu meletakan di hadapanku.
"Udah.. Kalo lo takut denger ucapan jujur Jimmy kasi orang lain aja. Manatau malah berguna buat orang lain... " Nicky membisikan di belakang.
"Jadi kan kita mau makan es?" Inez bertanya.
"Jadi.. Harus jadi, gw butuh naikin imun.!" Aku keras menjawab.
Lalu aku membawa tempat makan itu. Aku berjalan cepat keluar dari tempat tersebut. Aku menuju apartemen untuk meletakan barang ini.
Namun langkah ku terhenti di depan mobil sedan hitam. Aku melihat pak Teddy keluar.
Ia mendekatiku dan membawa sesuatu. Aku rasa sebuah undangan.
"Selamat siang Non...saya mau memberi ini undangan ulang tahun adik dari Pak Jimmy. Kalau saya tidak salah, non pernah bertemu... " Pak Tedy berkata.
Aku menerima dan membaca. Undangan nya di sebuah hotel. Tanggal pun masih minggu depan.
"Baik pak... Apa Jimmy tahu soal undangan ini?"
"Belum..... Nona Vincent yang ingin mengundang pribadi.... " Jawab pak Teddy.
"Baiklah... Pak... Apa bapak mau cake? Saya kemarin membawa pulang hasil belajar saya. Tapi Jimmy kurang suka dengan rasa nya... Sebenarnya... Aku takut kecewa..." Suaraku pelan dengan rasa kecewa.
"Apa non memberi tahu ini buatan non?" tanya Pak Tedy.
"Tidak pak.... Harus nya dia udah tau dong... " Aku tak mau salah.
"Hmm.. Non.... Pria itu beda dengan perempuan. Mereka itu secara alami butuh di bantu dan di beri tahu daripada perempuan. Itulah kenapa wanita di sebut multi tasking...
Mahluk yang bisa berfikir dan mengerjakan sesuatu di saat bersamaan.... "
".... " Aku diam menunduk.
"Ini bagian yang non harus sadari. Perbedaan umur dan pola pikir bisa jadi bumbu dalam hubungan non.. Tetapi juga boomerang kalo non tidak bisa mengalah.... " Jelas pak Teddy.
Aku diam dan menatap kue buatanku. Haruskah aku mengalah dan berbicara gamblang jika kemarin adalah masakanku?
*********
"Lama banget sih Cathrine..?" Tanya Inez.
Aku pun naik ke mobil Nicky. Kami bertiga pergi bersama seperti kemarin.
Sebenarnya ada angin apa yang merubah Nicky menjadi baik kepada kami. Bagiku ini menjadi warna lain dalam hariku.
"Makan di mall sekalian yah.. Gw laper... " Nicky mengelus perut cungkringnya.
"Katanya lo kenyang, kalo laper mau ngerok*k aja... Sekarang ngajak makan... " Inez menggejeknya.
(Kruyuukk....) Suara perut Inez.
"Lah kan! Lo laper kan... Sok jaim.. Sok diet.. Makan tu diet!" Nicky balik membalas Inez.
Inez malu dan menutup perut nya dengan tas.
"Lo kenapa Nez.. Tumben ga banyak ngomong.?. " Aku bertanya.
"Gw tu diet Cathrine.. Jadi kemarin abis lo balik.. Ada cogan (cowok ganteng) yang ngajak gw kenalan.. Tek tok.. Chitchat... Sampe akhirnya dia bilang... Kalo... "
"Kalo Inez gendut. Jadi suruh diet... " Nicky menyambar.
"Lo tu nyosor mulu sih!" Inez menepuk lengan Nicky.
"Tandanya Nicky care sama lo... " Aku nyeletuk.
Aku rupanya belum pamit ke Jimmy. Aku mengambil ponsel dari tas.
Me : love, aku pergi dengan temanku kemarin. Aku share ketika sudah sampai.
Iseng aku mencoba memangil dengan love. Aku ingin melihat reaksinya.
Jimmy : take care, Love..
Wajahku berubah merah membacanya. Jimmy membalas memanggilku Love. Aku tersenyum dan sumringah.
"Lo napa? Salah obat?" Tanya Nicky.
"Engga.... Cuman seneng aja di bales sama Jimmy... " Aku menjawab dengan senyum.
Lalu aku memasukan ke tas kembali ponselku.
"Lo dari mana si kenal sama laki lo... Bisa kaya ayem gitu.." Inez bertanya.
"Aku cuman mencoba apa adanya. Di awal semuanya berat. Aku pun bersama belum lama.... Jadi masih jauh perjalanan kami.. "
Suasana menjadi diam. Hanya lagu di radio yang bersuara saat itu.
"Tapi kedepan gimana aku juga engga tau.. Gimana dia ke aku juga aku ga berani bertanya atau berharap... " Aku berbicara lagi.
__ADS_1
Kami pun tiba di salah satu mall di pusat kota. Kali ini Nicky meminta di temani parkir.
Lalu kami pun berjalan masuk ke dalam area mall, setelah Nicky selesai parkir.
"Jadi lo itu punya daya ingat pendek?" Inez menggoda Nicky.
"Jaga - jaga kali aja ketuker kan engga lucu.. Gw suka blank kalo liat di tempat gitu.. " Nicky menjawab.
"Lo mau makan apaan Cath?" Nicky bertanya.
"Bebas, makan ayam atau fast food gapapa sih.. Tapi gw lagi pengen waffle sama ice... "
"Eh gw juga mauu... " Inez berkata.
"Hadeh... Ya udah cuss.. Gw traktir kali ini.. Kemarin Jimmy uda bayarin gw soalnya." Nicky berkata dengan sombong.
"Lha kan cowok nya dia tajir.. Wajarlah
.. " Inez menggerutu.
"Dah ga usah ribut.. Semua cuman titipan kok... " Aku melerai mereka lagi.
*******
"Ternyata dia pergi dengan mereka. Bagus.. Aku bisa sedikit lega... " Jimmy berbicara sendiri.
Ia melihat titik koordinat kemana Cathrine pergi. Hal ini tidak lazim di lakukan dalam suatu hubungan.
Namun kejadian masa lalu membuat nya amat menjaga pasangannya.
"Ehem... Pak... " Pak Teddy memanggil dari kursi pengemudi.
"Gimana Ted? Tadi kamu jadi ketemu Vincent?" Jimmy bertanya sambil sibuk dengan tablet di hadapan nya.
"Jadi pak.. Beliau memberi undangan makan malam untuk istri bapak..."
"Apa?!" Jimmy kaget lalu melepas kaca mata pelindung gadget nya.
"Iya... Lalu saya sudah antar ke apartement bapak. Pas kebetulan nyonya sudah pulang kursus. Kami bertemu di bawah.. " Pak Teddy menjawab dengan takut.
Ia sampai meremas setir mobil. Jujur ia salah karena tidak memberi tahu Jimmy lebih dulu.
"Sejak kapan kamu lancang? Harusnya kamu memberi tahu saya dulu! Bisa saja vincent punya maksud buruk. Kamu pun tahu Teddy! Vincent... Bagaimana kalau dia sampai membuka semuanya!" Jimmy kesal. Matanya berubah menjadi merah.
Ia hampir saja menghajar orang kepercayaannya. Namun saat Jimmy menutup matanya sebentar.
Ia teringat Mira..
Wanita itu mengubah Jimmy. Mengatur emosi dan berfikir jangka panjang.
"Maafkan saya pak... Ampuni saya.. " Pak Teddy gemetar.
"Sudah... Sudah.. Maafkan saya terlalu berlebihan... " Jimmy meminta maaf.
"Ba.. Baik pak.... Lalu... " Pak Teddy takut berbicara lagi soal cake yang Cathrine beri.
"Lalu apa? Ada berita apa lagi.?" Jimmy lalu kembali ke tablet nya.
"Nyonya memberi saya cake ini.. Kata nyonya... Kemarin Bapak komentar makanannya tidak enak.. " Pak Teddy lalu memberi wadah sebuah kardus putih ke Jimmy.
Lampu yang tadinya merah berubah hijau. Pak Teddy melanjutkan perjalannya.
Jimmy mengingat apa yang semalam ia makan...
Ia keras mengingat..
"Meat ball itu!" Jimmy bersuara.
"Mungkin pak.. Nyonya memang tidak bilang ke bapak itu buatan dia. Karena sudah malu mendengar komentar bapak... Saya sudah menjelaskan juga, kalau bapak tidak mungkin paham kalau nyonya tidak bilang......
Malah saya suruh bawa cake ini.. "
"Yaa Tuhan.. Perempuan ini sulit sekali sih mengerti. Aku bukan cenayang.. " Jimmy mengumpat dirinya.
"Maaf Pak kalau saya lancang. Perbedaan umur bapak agak jauh dengan nyonya. Begitu pula status hubungan yang nyonya belum tahu.. Mungkin waktu yang akan mendewasakan keadaan pak... " Pak Teddy berkomentar.
"Saya tidak minta banyak ke Dia. Saya cuman minta dia sekolah dengan baik dan bekerja dengan baik... Kadang saya tuh mikir. Apa saya mulai memiliki perasaan ke Cathrine... " Jimmy termenung sesaat.
"Punya wajar pak.. Bapak bukan penjaja Cinta atau pria yang suka berpindah hati.. Jadi kalau bapak dan nyonya saling memiliki rasa dan ketergantungan satu sama lain.. Wajar saja, karena cinta bisa bersemi seiring jalan nya waktu... " Pak Teddy berkomentar.
"Entah lah Teddy.... Saya masih takut memulai menggunakan hati saya.... Oh iya, bagaimana dengan Gibran? Apa ada kabar baru darinya?"
"Saya belum mendapat kabar dimana tinggal nya saat ini. Ayah biologis nya sudah mengambil dan membawa nya pergi keluar kota.... Namun saya terus mencari info dari team saya... " Teddy menjawab.
"Sebenarnya Gibran bukan titipan Mira ke saya. Tapi entah hati saya berempati kepada nya. Saya sedih waktu tahu pak Haji bilang ayah nya membawa pergi. Seketika siang saya seperti tersambar petir.... " Jimmy menjelaskan.
"Apa bapak sudah ikhlas mengembalikan Gibran ke ayah kandungnya? Lalu bagaimana nyonya.."
"Tidak... Saya tidak mau anak itu tumbuh dan meniru ayah nya.. Saya masih akan mencari Gibran... Soal Cathrine harus menerima.... " Jimmy tegas berbicara.
Mungkin Jimmy seharusnya Jujur soal keadaannya. Soal Mira, Gibran dan status hubungannya.
*********
"cowok lo engga nyusul kesini?" Inez bertanya.
"engga lah, engga ngasi kabar kok.. biarin aja lagi kerja kan dia... " jawabku sambil makan ice cream dan waffle.
__ADS_1