CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
46


__ADS_3

"terima kasih.. kamu selalu baik kepadaku..... " aku berkata.


jujur aku menahan air mataku. aku akan terlihat makin tolol jika aku menangis di hadapannya.


harus nya untuk apa juga aku berterima kasih. apa yang aku beri kepadanya sudah lebih dari ini.


"Cathrine.... beri aku waktu.... aku.... berusaha untuk kita..." Jimmy mencoba meraih tanganku.


aku memandang tangan hangat Jimmy. rasanya aku untuk pertama kali di hargai oleh seorang pria.


Kata 'Kami' apa artinya? bukanya hubungan kami hanya ini....


tak aku sadari, seseorang mendekati meja kami, wanita yang aku kenal. Stacy!


"lo ada disini, kebeneran banget... boleh gw ngomong berdua aja?" Stacy melihat ke arahku.


Jimmy terlihat kurang suka dengan Stacy. ia kembali ke posisi duduknya. melepaskan tanganku.


"kalian bicara saja, anggap saya tidak ada." Jimmy menjawab Stacy.


"saya ngomong sama ni orang. jangan ikut campur!" Stacy membalas Jimmy.


"baiklah, kita bicara di luar. tapi sebelumnya tolong anda lebih sopan berbicara dengan pria di hadapan saya." aku menunjuk ke arah Jimmy.


"memang siapa dia? kakak? atau jangan - jangan dia sugar dady mu ya.... " Stacy menghina Jimmy.


aku marah mendengar Stacy menghina Jimmy. Dia pria baik dan bukan sugar daddy.


memang benar, wanita ini kurang waras.


"dia Tuan ku, jangan macam - macam....aku sekarang jadi personal Assistant darinya...aku bekerja bukan yang menumpang dan menjadi benalu...." aku menutupi hubungan kami.


sebenarnya aku ingin menjawab Jimmy sebagai tunanganku. tapi, kami baru saja bersingungan soal status hubungan.


lagipula, ini akan menurunkan diriku. mana mungkin dia percaya wanita sepertiku mendapat pria seperti Jimmy.


Jimmy melotot kepadaku, ia sepertinya kesal aku berkata demikian. aku menaikkan kedua alismu, memberi kode kepada Jimmy.


"tuan mu? dasar engga jauh ya hidupmu, jadi assistant artis kacangan. sekarang sama ni cowo udah jelas kalian pasti kan tidur bareng... " Stacy berkata sambil berkacak pinggang.


"tidur bersama pun tidak apa - apa. setidaknya ia melakukan tanpa aku harus memohon atau memaksa.. tak harus mengemis dan posesif...kami melakukan sama mau..tak ada ruginya.. " aku membalas dengan enteng.


tangan Stacy mengepal, rupanya ia panas mendengar balasanku.


Jimmy malah tersenyum simpul mendengar aku berkata demikian. sepertinya ia senang dan setuju dengan perkataanku.


"jadi, nona Stacy terhormat... kita mau ngobrol dimana? atau silakan gabung disini..tempat kami masih kosong... " aku mengeser sedikit kursiku.


"gw cuman mau ngomong, tolong lo jangan pernah balik ke rumah Yofie. kita udah mau nikah, gw engga mau sampe gagal cuman gara - gara lo...mungkin gw konyol, tapi gw mohon Cathrine...


karena gw udah engga bisa bicara lagi sama Yofie... " Stacy berkata dengan setengah berbisik.


"ehem.... terus duit deposit gw 3 bulan kedepan gimana? bisa lo balikin? barang gw juga masih disana kalik.. heran gw, kenapa lo harus repot Stac.. " aku melipat tanganku.


Wanita itu menatapku tajam. Aku rasa ia ingin melakukan sesuatu kepadaku. ya, aku bisa merasakan itu.


"Nona, bisa anda duduk? Kami merasa lebih baik berbicara dengan santai disini.... " Jimmy memberi tempat duduk di antara kami.


Stacy menarik kursi tersebut, ia duduk di antara kami. Pandangan matanya tidak berhenti menatapku.


Aku lebih memilih memandang keluar jendela. Jimmy memberi kode kepadaku lewat kaki nya.


"Baik... Kak Stacy... Aku akan meninggalkan rumah Yofie.. Aku juga berharap, Yofie berhenti mencariku.... " Aku memandang Stacy.


Wajahnya langsung berubah. Ia langsung tersenyum kepadaku.


"Baiklah jika memang lo akan pergi sendiri... Gw berterima kasih sekali... Jadi kami bisa fokus soal pernikahan.... "


Aku mengangguk, sebenarnya aku tak menjamin ini berhasil. Apa lagi yofie selalu saja mencariku lebih dulu.


"Kalau begitu gw pergi, permisi dulu... Gw harap lo ngelakuin apa yang lo bilang. Soal duit lo, gw balikin full depositnya... Karena gw udah full tinggal di rumah itu berdua sama Yofie .... "


Aku kaget mendengarnya, rupanya perempuan ini nekat. Bukan, berani untuk mengejar pria lebih dulu.


Stacy pun berdiri dan meninggalkan kami. Aku menggumam dengan memainkan kan gigiku. Aku biasanya berhasil melakukan ini untuk menahanku menangis.


Jimmy menatapku penuh tanya. Ia binggung kenapa aku menjawab demikian.


"Jangan menatapku begitu... Mood ku sedang buruk.... Aku rasanya ingin keluar dan berlari.... Tapi aku ga tau harus kemana...... Aku memang memiliki rasa pada pria itu .. Aku sadar juga, aku ngga mungkin sama dia..... " Aku bergumam sendiri.


"uhm.... lalu kamu tinggal dimana? jika kamu keluar dari rumah Yofie... " tanya Jimmy.


"entahlah...... mungkin sudah takdirku, aku berakhir di apartemen dengan mu..... "


pasrah, sangat pasrah.. aku tak sanggup berfikir akan apalagi. bagaimana dan kemana lagi..


aku juga tak ingin disebut penganggu hubungan orang.


"well.. akhirnya datang juga.. baiklah, aku akan bersiap.. kapan kita ambil barang - barangmu? sekarang?" Jimmy antusias.

__ADS_1


Pria di hadapanku menyebalkan, aku benci sikapnya. dia merasa senang?


"kamu senang bisa dan akhirnya kita tinggal bersama?" aku bertanya dengan nada tidak enak.


"tentu.. kenapa tidak? atau kamu memilih di jalanan. atau mungkin kamu lebih suka wanita tadi menganggumu terus.... aku mengembalikan semua ke tangan mu sendiri... " ucap Jimmy.


Kami berjalan keluar dari Cafe. Aku memilih masuk ke dalam mobil Jimmy.


Jimmy menyusulku dan mobil pun menyala. Ia melihatku yang memandang ke sisi jalan.


"Habis aku balik, kita pindahan ya Jim.... Aku engga mau di anggap mengejar pria itu.... " Aku berbicara sambil membuang pandanganku.


"Hmm... Sebenarnya aku lebih senang kamu pindah sekarang.. Aku tidak suka kamu berurusan dengan Yofie.... "


"Apa kamu cemburu?"


Aku konyol bertanya seperti itu pada Jimmy. Mana bisa dia cemburu padaku.


"Jelas. Aku tidak bisa dan tak sudi wanitaku bersama pria lain.... Apalagi kamu sampai di pikir mengejar pria lain. Kecuali memang kamu yang mau, aku akan meninggalkan kamu... " Jawab Jimmy.


Aku tak begitu peduli apa yang di katakan Jimmy. Rasanya sudah campur aduk di pikiran dan hatiku.


********


akhirnya kami kembali ke apartemen Jimmy. kami sama diam, menurut Jimmy seharusnya aku mendengar kalau dia cemburu.


namun, reaksiku malah tanpa kata. seperti hal yang biasa aja, bukan suatu kata yang mengandung banyak arti.


Aku membanting badanku ke arah sofa. Rasanya masih campur aduk.


Jimmy datang memberiku air putih.


"Minumlah.... "


Aku mengambil dan meminumnya, "terima kasih." Jawabku.


"hidupku kenapa gini ya? di usir sana sini, hidup sama tante Rose..aku pikir bisa menghemat uang kost... malah di jadikan seperti pembantu.... aku tidur bersama pembantu dan anjing mereka....mau tidak mau, aku tinggal kembali dengan Jessy..." aku memandang kosong ke arah meja.


aku minum lagi air putih di tanganku. menahan emosiku dengan apa yang sudah terjadi.


"aku berusaha mandiri dengan hidup kost bersama Jessy. kerja apapun aku lakukan, dapat uang berapapun aku terima... tinggal patungan walau aku banyak berhutang...


mencoba jadi artis, gagal juga kan....


malah aku di anggap menggoda lelaki orang lain...


apa aku memang ga bisa hidup tenang bentar aja... " aku berbicara lagi.


aku melirik dan mengambilnya, aku mencoba meminumnya.


rasanya pahit dan keras di tenggorokanku. tapi, aku merasa pahit nya hampir sama dengan yang aku lewati.


"aku engga boleh menyerah Jimmy... masih ada adikku yang harus aku hidupi....aku harus bisa bangkit... benar... tante Rose, dia harus melihat aku.... "


aku lalu menyandarkan kepalaku kepada Jimmy. ia pun menyambut dengan memelukku.


"cathrine, kamu masih bisa menjadi lebih baik. hidup tak akan berhenti sampai sini... bangkitlah....


ingatlah....semua yang kamu alami, membawa kita bertemu Cathrine....."


aku hanya mengangguk, malas berkata apapun. aku ingin tiduran saja saat itu.


kepalaku juga berat, aku memejamkan mataku. Jimmy bertahan pada posisi ini, ia menahan pegal pada pergelangan tangannya.


"Cathrine? kamu tidur....?" Jimmy berkata dengan halus.


Jimmy menggendong, ia membawa ke tempat tidur kami. Jimmy membelai rambut dan wajahku, ia tersenyum melihatku.


Jimmy lalu meninggalkan aku, ia duduk di laptop. ia melihat ada sebuah email masuk.


lalu ia melakukan panggilan ke Heldy.


"bang, ini tinggal gw kasi tanda tangan dan meterai kan..? abis itu ada tanda tangan si perempuan ini aja. selesai? kami ga butuh ke kantor sipil kan... " jimmy berbicara perlahan.


"benar, kalian ga butuh ke kantor. tanda tangani semua berkas dan segalanya selesai... kamu bisa tinggal disini dan kalian mendapat status menikah secara negara.... "


"Bang Heldy, jika ini di rahasiakan apa bisa? id card yang lama masih dia gunakan. gw engga mau ia merasa terikat denganku.. sampai saat tiba, ia memilih sendiri..." Jimmy melihat ke arah Cathrine.


"bisa, semua berkas yang baru akan abang beri. nanti simpan saja yang aman. maka dia tidak akan sadar kalau sudah menikah denganmu... "


"baik bang, besok saya ke kantor bawa berkas ini. sampai Jumpa."


Jimmy menutup panggilan, ia mencetak berkas dalam email tersebut. waktu tinggalnya hanya tinggal 2 hari lagi.


mau tidak mau Cathrine harus bertanda tangan di berkas itu. Pernikahan yang tidak seharusnya dilakukan.


licik? jelas! Jimmy tidak bisa kembali ke negaranya saat ini. ia pun terpaksa melakukan ini, oleh karena itu ia membebaskan Cathrine untuk kuliah lagi.


sebagai ucapan terima kasih, karena Cathrine sudah membayar dengan memberi ijin tinggal dan status pernikahan yang sah secara negara.

__ADS_1


beruntung pula ada Bang Heldy, ia pintar memiliki banyak relasi. ia bisa dengan mudah mengurus, sebenarnya mencari perempuan pun bisa.


hanya saja, Jimmy memang sudah mengincar Cathrine. sejak pertemuan pertama mereka, Jimmy sudah bisa merasa Wanita ini yang tepat.


Ini tengah malam, aku merasa ingin ke kamar mandi. Aku melihat Jimmy tidur di sampingku.


Aku bangun dan berjalan ke kamar mandi. Aku sempat berhenti, melihat ada kertas dengan tulisan disana.


Kalau bangun, tolong tanda tangan bagian nama kamu.


Thanks


-Jimmy-


Aku tak ambil pusing, aku mengambil Pena dan menandatangani semua berkas itu.


Aku hanya membaca ada nama dan berkas lain data diriku. Aku berfikir ini perjanjian tinggalku..


Biasa seperti cerita pada umumnya, perjanjian yang ujung nya drama.


Aku mengantuk juga, hingga berkas terakhir mencurigakan buatku.


Ada foto berjajar antara aku dan Jimmy.


Padahal jelas kami tidak pernah berfoto seperti ini.


Ini editan? lantas untuk apa foto ini...


Aku mencoba membaca apa tulisan yang ada disana. Belum selesai aku membaca, sudah tak sanggup menahan lagi.


Aku langsung memberi tanda tangan dan pergi ke toilet. Lega rasanya saat tiba tepat waktu.


Setelah selesai dengan urusanku, aku langsung kembali tidur. Aku menghadap ke arah Jimmy.


"Terima kasih Jimmy....." Lalu aku memejamkan kedua mataku.


aku terbangun, mendengar Jimmy sedang membereskan file dan bersiap berangkat.


"jimmy?" aku memanggil.


Jimmy melihat dan berjalan ke arahku.


"morning Cathrine.... " ia mengecup keningku.


wajahku menjadi merah, mengapa ia melakukan ini.


"sudah mau berangkat? aku bahkan baru membuka kedua mataku ... " aku masih malas di tempat tidur


ia lalu kembali bersiap dengan tas dan berkas di meja. aku ingat dengan kertas semalam.


"Jimmy, semalam aku melihat berkas di meja. aku tanda tangan semua, tapi ada yang aku binggung. buat apa ada editan foto kita... "


Jimmy tersentak, ia tak menyangka aku akan menyadari nya. Jimmy tak menjawab, ia diam dan tak membalik badan juga.


"aku heran kenapa ada foto formal seperti itu. mana wajahku jelek juga difoto.... itu file apa? apa itu kontrak seperti cerita2 film dan novel?" aku bertanya.


"iya! benar! kontrak kita tinggal." Jimmy menjawab cepat.


"owh... brati aku juga mendapat copy nya ya. kan ada tanda tanganku disana... "


"aku akan beri nanti, aku sudah telat... di atas meja ada uang untuk kamu ke salon dan makan. jika itu kurang akan aku kirim ke rekening kamu. aku pergi dulu sampai Jumpa... " Jimmy cepat pergi meninggalkan aku.


baru kali ini aku lihat ia sangat tergesa - gesa. biasanya ia selalu santai berjalan dan melakukan apapun.


aku melirik ke meja samping. oh itu uang yang ia maksud. aku menghela nafas dan kembali tiduran.


malas hari ini, tapi rasanya lebih baik dari kemarin. memang benar menangis hingga lelah. kemudian bangun, maka perasaan kita akan lebih baik.


kring..... kring.... (ponselku bunyi).


aku mengambil dan melihat siapa yang pagi begini mencariku. tante Rose! mau apa dia..


"halo, kenapa tante?" aku berkata dengan nada malas.


"kamu itu yang sopan, jawab selamat pagi atau gimana. emang ya papa kamu itu tidak bisa mengajari sopan santun... "


"..... " aku tetap pada pendirianku. buat apa menyapa dia dengan sopan.


"dengar, kita sudah lama tidak bertemu. nanti malam makan bersama di resto dengan tante.. "


"aku sibuk tante, sekarang aku sudah kerja... " aku malas bertemu dengan wanita jahat ini.


"hei...hei.. tante tahu lho, papa kamu ga punya uang buat berobat. tante mau ngasih penawaran aja, siapa tahu kamu bisa jadi pahlawan buat keluarga kan.... lumayan kan daripada kerja nyuci piring terusan... "


ingin rasanya aku menutup panggilan dan memaki nya lebih dulu. tahan Cath, papa tidak pernah mengajariku seperti itu pada orang tua.


"baik... tante kita ketemu di teagarden aja. deket kantorku jam 6. sudah ya tante, aku sibuk... "


aku langsung menutup panggilan itu. aku baru berfikir setelah ini. apa yang ia inginkan dariku?

__ADS_1


tak mungkin wanita yang gila harta itu menjadi baik tanpa sebab....


__ADS_2