
Jimmy membuka pintu apartemen. Lalu ia masuk ke dalam, suasanya masih terang.
Semua lampu menyala, padahal biasanya hanya lampu kamar mandi.
Jimmy berjalan lebih dalam, suara tv masih ada. Rupanya masih ada yang menonton tv.
Jimmy lalu duduk di samping Cathrine. Rupanya wanita tersebut tertidur. Posisinya bisa tertidur sambil memegang ponselnya.
Jimmy lalu mengambil ponsel tersebut. Ia kemudian melihat, rupanya Cathrine menulis pesan dan mengirimkan foto kepadanya.
"Sial, aku tidak membacanya.... Tapi, kamu cantik Cathrine... Menjadi dirimu saat ini sudah membuatku tertarik.... " Ucap Jimmy sendiri.
Ia lalu mengambil ponsel dari saku kemejanya. Ia membuka pesan Cathrine, lalu membalas.
Jimmy : kamu dan bunga itu sama cantiknya.
Lalu Jimmy menyimpan foto tersebut. Itu adalah foto kedua Cathrine yang Jimmy simpan.
Jimmy lalu mencoba mengangkat tubuh Cathrine. Rupanya cukup berat rasanya. Ia berusaha membawanya ke tempat tidur mereka.
Lalu perlahan Jimmy meletakkan Cathrine. Membaringkan di atas tempat tidur mereka.
Jimmy menutupi tubuh Cathrine dengan selimut. Ia membelai rambut dan wajah Cathrine, lalu mengecup keningnya.
"Selamat tidur istriku......"
Jimmy lalu meninggalkan Cathrine. Ia membersihkan tubuhnya dari debu dan lelah.
Jimmy pun menyusul Cathrine tidur di sampingnya.
Dalam hatinya ada ia merasa senang. Bahkan Jimmy memandang Cathrine sambil tersenyum sendiri.
Ia tak habis pikir, bisa menikahi wanita di hadapannya. Hanya saja, semoga orang tuanya tidak menyadarinya dulu.
*********
Aku merasa nyaman, tapi rasanya kakiku tidak mengantung di sofa. Wangi nya juga aroma parfume Jimmy.
Aku langsung membuka kedua mataku. Aku langsung menoleh ke samping.
Pria itu....
Jimmy sedang terpejam, aku rasanya ingin mendekatinya. Aku memberanikan diri mendekatkan diri ke arahnya.
Aku lalu membelai wajahnya, ada beberapa bekas seperti jerawat di wajahnya. Namun, rasanya nyaman saat bersamanya.
Jimmy pun membuka kedua bola matanya.
"Bangun pagi sekali... Apa tidur mu nyenyak?"
Aku hanya mengangguk, Jimmy pun memelukku. Kami sama - sama terpejam dalam pelukan malam itu.
.
.
Sinar matahari menembus ke celah jendela. Sesosok pria sedang sibuk di dapur.
Ia terlihat sibuk dengan tumpukan roti tawar dan teh di sampingnya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah tempat tidur.
Seorang wanita yang kini menjadi istri nya, masih terlelap. Senyum, ya hal yang jarang Jimmy lakukan. Tapi, senyum itu mulai muncul kembali di hidup Jimmy.
"Apa aku gila? Aku mulai melakukan hal yang biasa nya tak aku lakukan. Termasuk ini.." Jimmy mengumpat sambil memandang Roti yang sedang ia bakar.
Cathrine membuka kedua matanya, aroma butter yang harum menusuk hidungnya. Ia bangun dari tempat tidurnya, Jimmy pun menoleh kepadanya.
"Sudah bangun?" Jimmy menyapa.
"Iya, segar rasanya. Kamu pulang jam berapa? Aku subuh terbangun, sudah ada kamu disini... " Aku menjawab.
Jimmy membalik badannya, ia tersenyum kepadaku.
"Pukul 11 malam. Kamu tertidur disini, aku membawa kamu dan membaringkan di tempat semestinya... "
"Oh begitu, maafkan aku. Pasti aku sangat berat.. " Aku menjawab.
Sebenarnya aku berharap ia akan merayu atau berkata sesuatu yang indah kepadaku.
"Tentu saja, kamu berat dan pinggangku hampir patah... " Jimmy berkata dengan datar.
Aku mendengarnya seperti hinaan kepadaku. Aku merasa ada sesuatu yang sakit di dadaku.
Lalu aku berdiri dan membereskan tempat tidurku. Aku menekan hatiku agar jangan ada drama atau rasa sedih. Biar apa yang mau ia katakan.
Aku lanjut menuju kamar mandi, namun aku berdiri tepat di belakang Jimmy.
Aku berkata, "lain kali, kamu ngga perlu melakukan hal itu. Cukup bangunkan saja aku... Jika kamu sakit karena aku, aku tak punya cukup uang untuk membawa mu berobat....
Kejadian semalam, terima kasih... "
__ADS_1
Aku lalu meninggalkan Jimmy, aku masuk kamar mandi. Aku menguncinya dari dalam.
Aku langsung menyalakan Shower, rasanya sakit berkata seperti tadi.
Tapi, aku juga menahan air mataku. Tak boleh sedikit pun aku menangis. Jangan sampai!
Aku selesai membersihkan diriku. Aku mengeringkan ujung dekat pangkal rambut ku yang terkena ciptaran air.
Aku tidak bisa membasuh rambutku hingga 3 hari ke depan.
Cream pelurus ini sepertinyq bagus. Tidak ada efek kaku, malah seperti lurus alami. Bau nya pun, cukup bisa aku terima.
Biasanya aku harus menahan bau kimia yang menyengat.
Aku mengambil baju tidur dan pakaian dalam bersih yang ada di kamar mandi. Aku memang sering meninggal pakaian dalam yang bersih di lemari kecil kamar mandi.
Lalu aku keluar setelah selesai berpakaian dengan benar.
Aku melihat Jimmy sudah siap dengan pakaian kerja. Ia duduk di meja pantry, entah menunggu sarapannya dingin.
Aku berjalan melewatinya, lalu aku mencari ponselku. Sama sekali aku tidak mengubris keberadaannya.
"Bisa temani aku sarapan?" Ucap Jimmy.
Aku berhenti memegang ponselku, lalu aku berjalan ke arah pantry. Aku duduk di sebelahnya, seperti yang ia bilang.
"Aku membuatkan toast ala kadarnya untukmu sarapan. Ini ada uang untuk kamu membeli makan atau kamu mau belanja dan memasak..... " Jimmy memberi 2 lembar pecahan uang 50rb.
"Terima kasih... " Aku menerimanya.
Aku lalu meminum teh hangat yang ada di hadapanku. Jimmy sibuk dengan roti bakar dan tablet di sampingnya.
Toast atau roti bakar aku tak mengerti perbedaannya. Yang aku paham mereka sama - sama mengunakan roti rasa tawar dengan isian lalu di panggang dengan olesan butter atau mentega.
"Kamu engga makan?" Tanya Jimmy. Ia melihatku hanya menonton acara berita dari tv.
Lalu aku mengambil roti tersebut dari piringku. Aku mulai memakannya, rasanya lumayan. ada telur dan daging slice di dalam.
"Apa kamu marah karena ucapanku tadi?" Jimmy bertanya.
Aku tersentak dengan pertanyaan Jimmy. Tapi aku melanjutkan mengunyah roti dalam mulutku.
"Tidak.. Yang kamu bilang fakta. Aku memang gemuk dan berat. Jangan paksa aku untuk diet. Aku sudah sadar akan hal tersebu...aku akan mengurangi porsi makanku... "
Wajah Jimmy berubah, ia kaget mendengar jawabanku. Namun ia terus memandangi ku.
risih rasanya mengerti ia menatapku terus.
"Tidak... " Jawab nya singkat.
"Oh iya benar, aku lupa. Semalam pak Teddy datang. Ia memberiku bouquet bunga mawar ini. Ada acara apa? Atau ini milik mu yang ketinggalan?" Nada bicaraku berubah datar.
Namun aku masih tak mau memandang Jimmy saat berbicara.
"Aku ingin memberi saja kepadamu... "
"Kemarin bukan hari ulang tahunku. Bukan juga valentine, biasanya ini diberi saat ada acara tertentu kan.. Bentuknya lebih mirip bunga untuk pengantin..." Aku mengambil bunga tersebut.
"Cantik.... Aku hanya ingin memberi kepadamu saja.... " Jimmy menjawab singkat.
"Apa ini artinya kita pacaran? Karena aku tak pernah mendapat bunga dari pria manapun... Mungkin Pak Teddy salah memesan, biasanya bunga nya tidak berbetuk seperti ini.. Tapi, aku jadi bisa menaruh di sana... " Aku menunjuk meja di bawah tv yang sepi tanpa satupun benda.
"Ada yang salah, jika kamu menerima dariku? Mungkin toko bunga itu salah membuat. Biar saja kamu taruh dimana bunga itu." Jawab Jimmy yang kini dingin.
"Terima kasih atas bunganya... "
Aku belum selesai berbicara, jimmy menghampiri dan mencium bibirku.
Aku pun menyambut dan menghirup aroma tubuh Jimmy.
"Jangan marah soal tadi, aku hanya berusaha jujur.. Tidak punya maksud menyakiti kamu, soal bunga... Itu ucapan selamat datang kepadamu, kalau kamu mau kita pacaran atau mengartikan seperti itu... Baiklah, mulai saat ini kamu milikku... " Jimmy berkata kepadaku.
Tatapannya dalam memandang wajahku. Tangan hangatnya membelai wajahku. Aku menjadi kekasih Jimmy?
"Bunga itu cantik, sama dengan wanita dalam foto semalam. Aku lebih suka melihat wanita itu tersenyum daripada cemberut..." Ucap Jimmy.
Aku tak bisa menjawab apapun. Aku langsung memeluk Jimmy, aku terlalu kekanak - kanakan. Bagaimana pria dewasa dan baik ini bisa menerimaku. Tapi, kini status kami sebagai kekasih? Benar kah?
"Jimmy, benar? Sekarang kita pacaran?" Aku berkata sambil memeluk Jimmy.
Ia hanya mengangguk, ini artinya ya.
"Tapi, kamu ngga nembak aku. Biasanya kan ada pernyataan Cinta dan lainnya... " Aku mengeluarkan lagi sifat Childish ku.
"Sadarlah, kamu hidup bersama pria sepertiku. Aku sulit melakukannya, aku juga bukan pria romantis seperti cerita dongengmu..... Kita belajar saja, karena kita berpacaran tapi tidak saling mencintai...benar?"
".... Benar...... " Aku menjawab lirih.
"Kita hidup bersama, dan saling belajar Cathrine.... Aku pengen kamu fokus sama masa depan kamu.... " Ucap Jimmy saat ia melepaskan pelukan ku.
__ADS_1
"Iya Jimmy...."
"Aku sadar Cath, wanita berumur 19 tahun itu masih memiliki sifat kekanakan. Walau aku belum melihat ke dirimu seperti itu. Tapi, mari kita belajar saling memahami. agar hubungan kita ini, bukan cuman saat ini saja... Okei?"
Aku menganguk, benar juga yang di bilang Jimmy. Jika aku mau bertahan pada hubungan ini. Aku harus memahami dia juga.
Jimmy membelai pipiku, ia tersenyum menatapku. Saat kami tinggal bersama, setidaknya aku hanya bersama 1 pria saja.
Ia menjagaku seperti keluarga. Bukan hanya memintaku melayaninya seperti budak.
"Aku berangkat dulu Cathrine, sampai nanti malam... " Jimmy mengecup keningku.
Aku lalu mengantar sampai ke depan pintu. Aku pun melambaikan tangan saat Jimmy pergi.
Saat aku menutup pintu, aku tak bisa menahan rasa senang. Aku tersenyum sendiri saat menatap bunga tersebut.
Aku lalu membuka laptop yang ada di kolong meja tv. Aku membuka dan mulai berselancar di internet.
Aku mulai mencari informasi soal kursus dan perkuliahan. Karena aku bersama pria mapan. Aku harus memantaskan diriku juga.
Mumpung Jimmy masih memberi akses keuangan padaku. Aku ga boleh buang duit percuma. Setidaknya saat kami berpisah nanti, aku bisa mapan.
Tapi, buat apa aku belajar mencintai ? Aku sejenak berfikir apa yang Jimmy katakan tadi. Saling belajar..?
Aku merasa memang tidak mencintai Jimmy. Buat apa juga kami punya status pacaran....
Hanya karena kami akan hidup bersama?
**********
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Jimmy baru saja selesai online meeting dengan kerabat di luar.
Bisnis baru Jimmy membutuhkan relasi dari luar negeri. ia pun harus mempersiapkan berkas baru, bahkan paspor untuk Cathrine.
Ia menyandarkan kepalanya, lelah rasanya hari itu. Tapi saat memejamkan mata, wajah Cathrine selalu muncul.
"Sepertinya aku gila, dari nekat menikahinya. Hingga merubah status nya jadi pacarku.... " Jimmy mengumpat sendiri.
Tok... Tokk... (Jean mengetuk pintu).
.
"Masuk..." Jimmy menjawab ketukan pintu tersebut.
"Selamat sore Pak, ini Bapak Louise datang. Janjian dengan Bapak seperti di jadwal... "
"Baiklah, besok saya pergi selama 10 hari. Tolong jika tidak mendesak jangan hubungi saya..... " Jimmy berkata sambil membereskan berkas tanda tangan lalu mengembalikan ke Jean.
"Baik Pak... Terimakasih... Saya permisi dulu... " Jean pun pergi dari ruangan Jimmy.
Louise ganti masuk ke dalam, ia langsung duduk di sofa tamu ruangan Jimmy.
"Engga permisi langsung aja duduk... " Ucap Jimmy.
"Hei, kita dari taman kanak kanak sudah berteman... Jangan begitu lah... " Ucap louise.
Jimmy berdiri dan mengambil minuman dingin dari chiller di samping Louise. Ia meletakkan di atas meja.
"Thank You bro.. Kebeneran di luar panas banget.. " Louise mengambil lalu meminum teh dingin tersebut.
"Gimana Yana? Sudah ada kabar baik?" Tanya Jimmy.
"Belum, seperti nya kami memang belum di percaya mendapat keturunan dengan cepat.. Oh gw lupa! Bagaimana ijin tinggal lo? terus Apa lo jadi menikahi gadis baik itu..?" Louise mengernyitkan dahi.
"Bisa lo menebak?" Tanya balik Jimmy.
"Kalau gw jadi lo tidak akan pernah... Tidak akan gw menikahi wanita itu. Dia wanita polos dan hanya akan menambah masalah jika orang tuamu sampai mengetahui..." Jawab Louise.
"Bedanya wanita ini dengan Yana apa? Bukan kah sama lugu nya?"
"Ya gw cuman engga mau,lo mengalami kesulitan dari hubungan kalian.. Lo tau lah, gimana gw ngeyakinin bokap... " Jawab Louise.
"Sante aja lah Bro... Gw udah nikahin on paper sih .. Tapi, dia belom tahu. Jangan sampai dia tahu juga..." Jimmy mengelengkan kepala nya.
"Kenapa dia jangan tahu? Lo brati ngerebut kebebasan dia secara ga langsung. Menipu.. Ya lo ga jujur sm dia.. "
"Hmm.... Gw lelah soal hubungan dengan menggunakan perasaan dan percintaan.... Biar dia hidup sama gw, kuliah dan kerja dengan benar.... Lalu saat orang tua gw harus pensiun..
Gw akan kembali dan meninggalkan dia...ga ada yang akan tersakiti Lou... " Ucap Jimmy sambil memandang ke langit sore itu.
"percaya sama ucapan gw saat ini. kedua orang berbeda jenis yang tinggal bersama. Dalam kurun waktu tertentu. pasti akan saling mencintai nantinya. karena apa?
karena kalian itu udah terbiasa bersama.. kalian akan saling menggantungkan satu dengan lain..
lo tau kan? dalam persahabatan lawan jenis aja ga ada yang tulus... pasti salah satu melibatkan perasaan..." ucap Louise dengan nada suara yang berat.
"itu kan lo, gw yakin.. kami bisa mengontrol emosi dan perasaan. lagi pula, gw dari awal udah menekankan sama ni perempuan... "
"yakin lo? surat perjanjian bisa dan memiliki kuasa di mata hukum. kalo perasaan... gw jamin, kalian pasti akan menikah beneran..."
__ADS_1
Jimmy diam dan berfikir, harusnya jangan sampai ada perasaan antara dia dan Cathrine. tapi, sulit jujur dan mengakui hati nya mulai menikmati adanya Cathrine.
"entah Bro.... yang penting tujuan gw buat Cathrine tulus. pure buat nolong dia... selebihnya, we dont know.... " Jimmy masih menyangkal perasaan hatinya.