
"Kamu mau pulang?" Jimmy membuka.
ia melihatku yang termenung. dalam hati Jimmy ada keinginann ikut bersama Cathrine.
"Sebenarnya pengen, tapi entah lah. Aku harus memikirkan biaya pengobatan papa.... Begitu juga dengan resikonya nanti... " Aku menjawab sambil memandang keluar.
Rintik hujan turun lagi, padahal langit cerah pada mula. Mungkin semesta mengetahui, perasaanku sedang kurang baik.
Berbakti sebagai anak, namun bagaimana dengan Mama. ia selalu saja melakukan segala nya sesuai mau nya.
masih jelas bagaimana mama meminta uang kepadaku. padahal papa harus segera membeli obat.
ada rasa trauma dalam diriku. apa kehidupan pernikahan itu memang rumit.
atau aku tak perlu menikah saja. biar aku tak perlu merasakan kecewa dan bisa bebas terus.
"Memang resiko apa yang mungkin terjadi?" Tanya Jimmy.
"Kematian.... " Jawabku lugas.
Sesaat kami hening, hanya hembusan nafas dan suara klakson mobil yang meraung.
memang benar, kematian lah yang bisa terjadi. apalagi Ginjal papa sudah bermasalah sejak aku masih kecil.
komplikasi membawa papa pada penyakit sebanyak itu.
"Semua orang pasti akan meninggal Cathrine... Tetapi... Bagaimana kamu berjuang untuk tetap hidup.. Itu hal jarang aku temui.... yang jelas aku percaya Papa kamu orang yang amat sangat menyayangi keluarganya....apalagi dia punya anak gadis yang Manis...." Jimmy berkata sambil memegang tanganku yang dingin.
Sentuhannya membuatku sedikit tenang. Aku rasa sebaiknya aku sedikit mendengar Jimmy.
Bagaimana pun, dia pasti punya maksud baik untukku.
rayuan atau ucapan jujur? aku masih belum bisa membedakannya.
"Jimmy...boleh aku pulang?" Aku bertanya.
"Tentu.. Kenapa tidak? Perlu aku pesankan tiket?" Jimmy antusias.
Aku malas menjawab pertanyaan Jimmy. Aku memilih menyandarkan kepalaku di dekat jendela.
"Kamu ngga hamil kan? Atau mau mendekati masa periodmu? kamu seharian tu kaya suka sensitif gini..." Jimmy bertanya.
'Ia penasaran kenapa mood dari Cathrine seperti roller coaster. Apa ada yang salah dengan dirinya.' (Jimmy berkata dalam hati).
"Aku sudah meminum pil itu dengan teratur. Aku juga memberi tanggal kapan akan datang masa period bulananku.... Aku cuman... Ah engga tahu aku.... " Aku menghentakkan kakiku.
Rasanya kesal dan ingin marah. Ingin sendiri dan ingin berteriak sendiri.
"Mau minum sedikit? alkohol bisa menenangkan kalau kata Louise...." Jimmy memecah keheningan.
"..... " Aku hanya meliriknya tajam.
"Baik..... Kita pulang saja ya..... Berhenti melirik seperti itu.. Aku takut melihatnya..."
Lalu aku kembali menyandarkan kepalaku di jendela. Melihat jalanan yang masih ramai dengan lampu kerlip malam.
*******
"Jadi, aku turun disini?" Jessy melihat jarak cafe masih agak jauh. air hujan juga masih lumayan deras.
"Ya, aku suka menonton dari jauh. Turun dan gunakan payung itu.... " Budiawan berkata dengan santai.
"Tapi, ini hujan dan ada genangan air disana!" Jessy kesal.
"Sudah turun saja, jangan manja! Aku akan menunggu kamu disini dengan supir.... " Budiawan tak ingin orang melihat kehadirannya.
Jessy turun dengan wajah kesal. Ia membuka payung dan mulai berjalan dengan cepat.
air hujan menetes membasahi kaki nya.
Ia mendekati cafe yang dulu pernah ia datangi bersama Adam.
Melihat meja yang sama dengan pertama ia berkencan dengan Adam.
kenangan manis jauh sebelum Jessy mengenal Budiawan. kenangan yang Jessy rindukan.
Adam mengetahui ada Jessy, ia melambaikan tangan. Memberi isyarat untuk Jessy masuk.
Jessy membalas tersenyum dan ia masuk ke dalam.
Ada beberapa orang yang sudah antri disana. Ada beberapa artis yang terbiasa membawa talkshow dan ada juga artis baru.
"Mau Casting?" Tanya perempuan di meja counter depan.
Jessy belum sempat menjawab sudah ada yang menjawab nya.
"Bukannya dia artis dengan jadwal padat? Masih juga ikut disini... " Ucap pria dengan perawakan kurus.
"Iya nih, kaya ga bisa cari laki kaya lain aja. Ikutan casting acara murah gini..katanya uda dapet laki tajir.... " Ucap perempuan lain.
Wajah Jessy kesal, ia ingin rasanya merobek mulut orang tersebut. Tapi ia melihat Adam disana, duduk di kursi utama.
"Salah kalo gw pengen Casting? Engga kan? Nih berkas gw.... " Jessy memberi ke tempat wanita penjaga counter pendaftaran.
Jessy pun memilih duduk di pojok sudut ruangan. Ia mengambil majalah Cosmo yang ada di hadapannya. sebenarnya Casting sudah mulai juga.
Waktu terus berputar, nama demi nama di panggil sesuai antrian. Secangkir kopi menemani Jessy membunuh waktu.
Ia bersabar menunggu gilirannya. Entah kali itu ia tak ingin merajuk atau pergi. Ia pun masih berfikir bisa bertemu dengan Jimmy.
__ADS_1
"Jessica Yong..... " Nama nya di panggil.
Ia langsung berdiri, merapikan baju dan menuju ke arah panitia Casting.
"Oke duduk disana. Lo baca ni scrip, nanti gw bagian jawab." Ucap pria bertubuh subur di hadapan Jessy.
Ia pun duduk dan mengambil naskah di hadapannya. Ia membaca sepintas, 'ah ini mudah buatku'. Ucap Jessy dalam hati.
"Oke kita mulai... Camera... Roll.. Action!" Adam berkata.
"Hello, apa kabar? Lama banget ga jumpa ya.. rumpik ya, cucok banget sekarang... " Jessy melakukan improvisasi dialog.
"Cut!!! Ngapain lo improv!" Pria subur itu marah ke Jessy. Matanya melotot dan wajahnya makin menakutkan.
"Maaf.... Maaf... Saya... " Jessy menjawab terbata.
"Gw bilang! Lo baca scrip! Sudah bener sih ni orang. Heran gw ga bisa denger perintah dengan benar ... Sekali lagi lo salah... Pulang sana!"
Perkataannya terdengar kasar, dan baru kali itu Jessy mendengar. Ia selalu di sanjung oleh semua orang. Namun rupanya semesta mulai membalik keadaan.
Jessy melanjutkan Castingnya, pria subur itu membantu menjawab selama casting tanya - jawab.
Namun dari adam dan pria tersebut kurang suka dengan Jessy. Hasilnya tidak seperti yang mereka mau.
"Jadi? Apa saya bisa tahu hasilnya? Lolos tidaknya... " Jessy berkata dan memandang kedua penilai tersebut.
"Nanti kita kabarin kalo lolos. Kalo engga ada kabar ya gagal... " Pria subur itu berdiri dan meninggalkan Jessy.
Adam diam dan ikut berdiri dari kursinya. Ia mengambil ponsel dan tas ransel, ia pergi meninggalkan kursi.
Jessy mengejar Adam, ia menarik tangan Adam.
"Tunggu.... Bisa kita ngobrol?" Jessy berbisik.
Adam hanya diam dan menghela nafas. Ia lalu duduk di salah satu sudut ruangan.
"Mau ngomong apa? Udah malam, lo pasti uda di tunggu... " Ucap Adam dingin.
"Gw tahu kok, gw ga lolos.... Gw cuman mau ngobrol sama lo..."
"Gw paham, lo tetep dateng biar ketemu Jimmy kan. Gw udah tahu tujuan lo, ga jauh dari duit dan hedonis.. " Adam menjawab sinis.
"Pada awalnya benar... Tapi pas gw sampe.... Gw inget pertama kali lo ngajak gw pergi kencan. Ya di sini, pertama kita jalan.... " Jessy tersenyum sambil mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Kalo gw ga salah, lo ngga pernah ke. Lncan sama gw. Kan lo sendiri yang bilang.... Kita ga saling kenal...
Bukan begitu?" Jawab Adam.
"Gw salah... Gw terlalu takut dan harus bikin cerita bohong.. Maafin gw ya... " Jessy menyesal.
Ia harus berbohong demi dekat dengan Budiawan. Demi mendapat job sebagai artis baru.
"Tangan lo kenapa? Sampe biru gitu... Main film? Apa kalian emang kalo main kasar.... " Adam bertanya.
Sebenarnya dalam hati Adam pun sama. Ia masih mencintai Jessy, namun sakit karena masalalu masih membekas.
Membuatnya kesal melihat wanita di hadapannya.
"Oh ini... " Jessy menarik lengan bajunya. Ia berharap bisa menutupi memar di tangannya.
"Gw engga peduli kalian mau berkencan model gimana. Tapi kekerasan dalam hubungan itu ga baik Jess..."
"Iya, gw engga papa kok... " Jessy masih berusaha menutupi kenyataan.
Bagaimana Budiawan memperlakukan dirinya. Perlakua kasar yang keluar saat mereka bersama.
Jika Budiawan merasa tidak suka, ia akan langsung memperlakukan Jessy seperti boneka.
Itulah mengapa Jessy harus selalu tunduk dan berpura - pura manis. Jika tidak nyawanya bisa saja hilang.
"Bagaimana rasanya sekarang? Banyak orang yang mengenalmu, wajahmu selalu ada di tv. Mungkin kedua orang tuamu bangga ya dengan anak gadisnya ini.... " Adam mencoba menggalihkan pembicaraan.
"Iya, mereka bangga dan senang. Rasanya aku masih engga percaya, gw ada di posisi sekarang... Kadang, gw pengen gw pulang kembali ke masa lalu...."
"Jangan munafik Jess... Gw tahu dan inget kalo lo kabur dari rumah. Gw rasa lo udah bahagia dengan kehidupan lo sekarang...
Lo tinggal di apartement bagus dan mahal. Lo punya pacar juga mapan dan terkenal, bisnis dia banyak..
Lo ada di tv tiap hari, kurang apa?"
Jessy ingin berkata, dirinya tidak bahagia. Bahkan ia terkadang melihat kehidupan Cathrine jauh lebih menyenangkan.
"........ " Jessy hanya tersenyum.
"Lo harus sadar juga, semua engga akan abadi... Gw juga percaya, lo udah mulai jenuh dengan pacar lo sekarang....
Ah sudah pukul 8. Gw balik dulu ya, gw harus ngurus kerjaan lain..." Adam bangkit dari kursinya.
"Tunggu.... Sebenarnya, lo sebagai apa disini? Kenapa lo terlihat lebih berkuasa dari pada pria tadi.?" Jessy memandang tajam ke Adam.
"Gw direktor buat ni program. Oh iya, satu lagi, gw mau pesen.. Lo jangan terlalu berharap sama Jimmy....
Apalagi kalo lo dateng kesini karena dia.... Karena, lo sama sekali bukan tipe dia... Gw balik dulu... Bye... "
Adam pergi begitu saja meninggalkan Jessy.
Jessy masih diam memandang gelas di hadapannya. Ia memang mencari Jimmy pada awalnya.
Namun tempat ini lebih menarik perhatiannya.
__ADS_1
Ternyata, hal yang pernah ia lewati dengan Adam. Bisa membuatnya merasa amat di cintai.
Cafe kecil, warung tenda dan duduk di kursi taman. Sebagian kecil hal yang Jessy habiskan dengan Adam.
Ia merasa konyol dan bodoh. Meninggalkan pria sebaik dan setulus Adam..
Kini Jessy hidup dengan pria misterius. Pria yang awalnya memanjakan Jessy. Namun, ini justru bomerang untuk nya.
"Sudahlah Jess... Lo ga boleh lihat kebelakang. Lo harus maju! " Jessy berbicara sendiri.
Ia memotifasi dirinya agar maju dan berhenti melihat ke masalalu!
Ia berdiri dan keluar dari cafe. Cuaca sudah lebih cerah. Ia mengambil payung dari tempatnya.
Ada kertas kecil di dekat payung tersebut. Jessy mengambil dan membacanya.
Jes... Lo engga bisa kembali ke masa lampau. Tapi lo masih bisa memperbaiki masa depan lo.
Go a Head! -AA-
Jessy tersenyum, hatinya merasa sangat berbunga. Ia merasa masih ada orang yang sayang pada dirinya.
Jessy lalu melipat dan menyimpan kertas tersebut. Lalu ia lanjut berjalan ke mobil Budiawan.
Ia masuk ke dalam mobil sedan hitam. Budiawan sudah menunggunya sambil membaca koran.
"Aku kembali sayang... " Ucap Jessy sambil menaruh payung di bawah.
"Lama sekali, casting atau arisan?" Tanya Budiawan dengan datar.
"Aku antri banyak sayang. Kan kamu lihat tadi.... "
"........ " Budiawan hanya diam, ia melipat koran dan menaruh di sampingnya.
"Kamu marah sayang? Maaf yaa.... " Jessy mencoba merayu kekasih nya.
"Sudah, ayo kita makan dan pulang. Jalan Pak!"
Mobil pun menjauh dari cafe. Mereka pergi menjauh dan menghilang. Tanpa mereka sadari Adam memperhatikan.
Cinta? Rumit dan keadaan membuat Adam tak bisa melepas Jessy.
melepas Jessy agar mendapat pria mapan. yah, benar sekali, itu yang Adam pikir dari dulu.
pekerjaan Assistant sutradara yang tak menentu. motor butut yang ia gunakan untuk kerja. serta kost sepetak yang jauh dari layak untuk gadis secantik Jessy.
"dari dulu aku tak ingin mengikatmu. Karena aku sadar... Cinta tak harus memiliki dirimu....
Kamu harus bahagia Jess...... " Adam berbicara sendiri.
*********
Aku berganti baju tidur terusan berwarna hitam. Aku tak melihat Jimmy, lalu aku berjalan ke beranda.
Rupanya Jimmy mencuci pakaian tidur dan beberapa baju miliku. Baju yang kami baru beli.
Ia melihatku, lalu ia tertawa dan wajahnya merah. Melihatnya seperti itu membuatku tersenyum.
Jimmy lalu masuk ke dalam, aku menunggu di sofa sambil bersantai.
Jimmy mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin.
Ia lalu berjalan ke arahku, ia duduk di sampingku. Tangannya memberi salah satu minuman kepadaku.
"Ini sparkling Cath... Rasanya macam soda lah.. Bukan beer... " Jimmy menjelaskan.
"Thank You.... " Aku menerima dan membukanya.
Aroma buah anggur tercium saat kaleng tersebut terbuka. Aku menghirup aromanya dan langsung mencoba.
"Ini enak Jimmy.... " Aku mengecap minuman ini memang enak.
"Ya, aku lebih suka rasa buah leci tapi. Mau coba?" Jimmy memberi kalengnya.
Kami pun bertukar, agak asam rasa minuman Jimmy. Aku pikir rasanya akan manis seperti sirup yang ada di pasaran.
"Rasanya agak asam ya... " Aku berkata.
"Memang dan itu yang aku suka. Manis dan asam khas buah Leci... nih, aku kurang suka anggur... "
aku mengambil kaleng minumanku.
Jimmy mengambil remote tv. ia menekan tombol power agar tv menyala. acara tv memang cukup membosankan, sampai Jimmy berhenti pada satu tayangan.
ia meletakkan remote di atas meja. lalu Jimmy mendekatiku.
jantungku berdetak kencang, akan melakukan apa Jimmy kali ini. aku merasa tegang dan sesak nafas.
aku bergeser mundur, aku setengah menghindari Jimmy. aku berfikir, ia akan melakukan tindakan mes*m kepadaku.
tapi aku juga penasaran apa yang mau ia lakukan.
"kamu kenapa? kok tegang?" Jimmy menggoda.
"ih... apa sih..engga biasa aja kok.... "
"kamu tegang ya, berdua sama pria tampan... " Jimmy berkata dengan percaya diri.
"idihhh.... jangan kepedean deh.... " wajahku malah menjadi merah.
__ADS_1