CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
6


__ADS_3

"Kaget?" Jimmy menaikkan alisnya.


"Sedikit Pak...... " Jawab Cathrine.


Jimmy lalu duduk dengan santai di samping Cathrine.


"Kok bisa sampai sini Pak?" Tanya Cathrine.


"Bisa lah, punya kaki ada mobil." Jawab Jimmy.


"Owh.... " Cathrine memilih diam. Sepertinya Jimmy kurang suka dengan pertanyaannya.


"Ikut gw cepet... " Jimmy menarik tangan Cathrine.


Mereka pergi keluar area syuting. Jimmy membawa Cathrine ke area parkir.


"Masuk deh... " Ucap Jimmy.


Cathrine menurut dan masuk kedalam. Jimmy pun menyusul masuk ke dalam. Mereka pergi begitu saja meninggalkan area syuting.


Adam ternyata mengawasi mereka. Pria berdarah timur tengah tersebut tersenyum. Nampaknya ia senang dengan apa yang di lalukan Boss nya.


Adam melanjutkan pekerjaannya untuk mengajarkan dialog ke pemain lain. Namun tak berapa lama Jessy datang.


"Dam... Lo liat ga Cathrine dimana? Kok gw nyari dia engga ketemu ya... " Cathrine kebingunggan mencari temannya.


"Kenapa lo nyari dia? " Jawab Adam dingin.


"Ini barang gw jadi engga ada yg nungguin. Kan sialan banget tu orang." Jessy mengerutu sambil menendang ke tanah.


"Apa? Lo anggep temen lo Pembantu? Bukannya di depan orang lo bilang sahabat dia. Atau jangan bilang lo emang memperlakukan dia sebagai Pembantu bukan sahabat?"


"Eh kok lo nge'gas sih... Biasa aja kali daammm! Lo lebay! " Jessy malah kesal dan meninggalkan Adam.


"Dasar cewe aneh! " Adam balik menggerutu.


********


Jimmy membawa Cathrine ke suatu tempat. Ia menyusuri jalanan kota yang ramai lancar.


Cathrine berpegangan pada seatbelt. Ia ingin bertanya namun lebih ingin untuk diam dan menurut.


Jimmy membawanya ke arah keluar dari kota. Entah kemana tujuan Jimmy dan mengapa ia tak berkata apapun. Hanya sesekali ada senyum di wajahnya.


"Hm.... Maaf Pak.. Saya mau di bawa kemana ya?" Cathrine memberanikan diri untuk berucap.


"Panggil gw Jimmy jangan Bapak. Gw bukan bapak Lo.... " Ucap Jimmy santai.


"Jimmy... " Panggil Cathrine.


Sesaat Jimmy tersentak. Suaranya amat mirip dengan Mira.


"Jimmy...... " (Mengingat suara Mira).


Ya melangkah kedepan sesuai permintaan Mira tak mudah untuk Jimmy. Apalagi ia begitu dalam kehilangan Mira. Wanita di negara ini yang bisa mengalihkan pandangannya.


"Jimmy?? Pak Jimmy.....? " Cathrine menyadarkan lamunan jimmy.


Mereka berhenti di lampu merah. Padahal lampu telah berganti menjadi hijau. Banyak mobil yang mengantri dan membunyikan klakson. Namun Jimmy masih saja diam.


Tapi suara Cathrine bisa menyadarkan Jimmy. Ia tersadar, bahwa hidup nya harus terus berjalan.


"Maaf... Ayo kita jalan .... " Jimmy menjalankan kembali mobil yang berhenti.


Mereka melanjutkan perjalanan ke daerah yang agar tinggi di sana. Jimmy berhenti pada sebuah restaurant.


Yang tampak berbeda, restaurant ini sepi sekali. Tak banyak pengunjung yang datang. Mungkin karena ini bukan masa akhir pekan..?


Jimmy turun di susul dengan Cathrine. Mereka pun masuk bersama, pelayan menyambut mereka didalam.


Entah Jimmy memilih sudut yang dekat dengan area parkir. Mungkin udara atau pemandangan yang menjadi pilihannya.


"Sudah akan pesan Pak?" Tanya pelayan pria yang ramah itu.


"Ya.. Saya mau buntut dan iga bakar madu. Dengan mash potato. Kemudian hot ginger tea..."


"....... " aku memilih menu, disini mahal semua paling murah 40rb rupiah. Sedang uangku tinggal 100rb.


"Lo pilih aja lah mau makan apa!" Ucap Jimmy.


"Eeee.... Mas saya Grill Steak Chicken with rosemary. Mineral water ya mas... " Aku tak paham makanan macam apa yang aku pesan.


Aku hanya melihat tanda bintang yang berarti hidangan terbaik mereka.


Pelayan pun pergi meninggalkan kami. aku kini masih bersama Dia. Lelaki yang menolongku dari jurang.


Wajahnya tidak oriental tulen. Tapi juga bukan orang barat. Tahi lalat kecil di dekat matanya membuatnya manis. Pipi nya pun ada lesung pipi tipis.


Apa aku bermimpi bersama pria semanis dia..? Aku hanya menahan senyumku. Aku malu jika ia tahu.


"Kalau mau tersenyum jangan di tahan. "

__ADS_1


"Apa?" Aku kaget mendengar ucapan Jimmy.


"Kamu kalau mau tersenyum jangan ditahan. Biar dunia bisa melihat kamu."


Pipiku menjadi merah mendengar ucapannya. Aku seperti perempuan yang tak pernah mendengar pria berkata manis di depanku.


"Permisi Bu... Makanannya... " Pelayan datang dan meletakkan makanan di atas meja.


Wow.... Hidangan yang enak, dari bau nya saja sudah membuat liurku menetes.


"Ayo kita makan.... " Ucap Jimmy yang memulai lebih duluan.


Aku pun menikmati makan siangku. Semoga ia tak tahu kalau ini kali pertama ku makan steak yang berkelas. Rasanya aku ingin membawakan Jessy makanan ini. Sebagai permintaan maaf karena aku pergi tanpa pamitan.


"Jimmy... Aku boleh pinjam uang? Untuk beli makanan seperti ini lagi? Aku mau memberikan ke Jessy teman sekamarku. Dia pasti suka makanan seperti ini.. "


"Tidak usah. Teman mu tak akan suka jika sampai sana sudah dingin dan tidak enak lagi. Lebih baik kamu belikan makanan lain saja. Atau sudahlah nanti kita beri oleh - oleh saja... " Jimmy santai dan begitu hangat ucapannya.


Kami perjalanan balik ke kota. Suasana jalan ramai lancar. Tak ada kata macet tapi yang ada hanya hening... Sepi.. Kami saling diam...


"Terima kasih atas makan siang nya... Kapan kapan biarkan aku yang mengganti ya...." Aku memulai pembicaraan ini.


"Boleh... Oh iya kamu tinggal di daerah batas kota? Apa tidak jauh ke lokasi casting dan syuting."


"Sebenarnya jauh, tapi sewa kamar disana lebih murah dan makanan juga lebih murah harganya... " Aku menjawab.


"Kamu pengen jadi artis?" Jimmy bertanya.


"Sebenarnya ga usah jadi artis ga masalah kok. Yang penting aku kerja, dapet duit halal dan bisa bantu pengobatan papa. Aku makin kesini sadar, kalau wajah aku mungkin kurang menjual di layar.. Makanya, aku lagi cari kerjaan lain... "


"Kerjaan lain? Contonya?"


"Kasir minimarket, atau pegawai lepas apa aja.. Aku mulai mencari lowongan saat senggang. Karena aku mulai lelah casting tanpa hasil. Dan kejadian kemarin cukup menyadarkan aku, kalau aku bukan jalannya disini..... "


"Kamu dari daerah kan? Kenapa engga balik kampung ?"


Cathrine langsung menatap Jimmy dengan tajam.


"Tidak! Aku akan pulang kalau aku punya uang buat operasi jantung papa."


"Hmm... Aku bertemu banyak wanita dengan alasan klise seperti kamu. Dan ujung nya mereka pulang kampung atau bertahan disini dengan menjual apa yang mereka punya. Sedikit yang bisa berhasil dengan bekerja keras dari keringat mereka. Tapi faktanya.... "


"Meskipun aku harus menjual diriku, aku engga mau menjadi simpanan. Aku juga ga mau mempermalukan orang tuaku. Mungkin wanita yang kamu temui sama kisahnya sama aku. Tapi aku bukan mereka!"


Kata - kataku cukup membungkam Jimmy. Jika ia ingin aku pulang kampung sudahlah tak perlu berbicara seperti orang yang paling berkuasa.


Jimmy mengantarku sampai ke depan kostku. Kami berhenti tanpa sepatah katapun selama perjalanan.


"Terima kasih. Anggap saja hari ini aku berhutang makan siang denganmu." Aku menegaskan kalau aku bukan pengemis.


"...... " Aku berhenti dan membelakangi Jimmy.


"Hati - hati..... " Jimmy berkata.


Owh, rupanya ia hanya ingin mengatakan itu. Baiklah.


"Ya.... Selamat tinggal... "


Aku keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Aku tak mau menunggu hingga ia pergi.


Aku masuk ke kamarku. Lho kok kekunci... Aku mengambil kunci dari dalam saku jaketku.


Aku memasukkan ke lubang kunci dan ctek ... Ctek... Tanda pintu sudah aku buka..


Aku masuk ke dalam, Jessy belum pulang?


Aku kemudian mengambil ponsel dari dalam tas ku. Ada pemberitahuan panggilan dan pesan dari Jessy.


'Lo tu kemana? Kalo pergi tu bilang, barang gw kalo ilang gimana di lokasi?'


'Cath lo kabur apa kenapa si? Kok pergi ga pamit gw? Barang gw biar deh gw ga mikir. Tapi lo kemana?'


'Cathrine gw pergi mendadak. Ada panggilan, oh iya lo kalo mau makan pake uang gw aja. Ada di atas meja rias. Lo gausah mikir nominal. Tapi lo makan aja yang utama.'


Jessy mengirim pesan beruntun untukku. Aku jadi membuatnya cemas, aku merasa tidak enak pergi tanpa pamitan kepadanya.


'jess, gw udah balik kost. Maaf gw pergi ga pamit. Gw pergi makan tadi, makasihbuat duit nya. Nanti buat beli air isi ulang aja ya.. Take care.. '


Aku mengirim ke Jessy.


Aku merebahkan badanku, nyaman sekali kasur ini. Walaupun bukan kasur bagus tapi nyaman sekali untuk badan ku.


**********


"Jadi gini pak, ijin tinggal bapak akan habis 3 bulan lagi. Kalau bapak tidak menikah dengan orang dari negara ini bapak akan di deportasi." Ucap Pak Teddy ke Jimmy.


"Aku hampir 10 tahun di negara ini. Mana mungkin aku tidak bisa dapat 2 kewarganegaraan? Kamu tidak bisa mengurus?" Jimmy emosi.


"Pak... Negara ini punya aturan, dan bapak bisa dapat dengan mudah dengan menikah tersebut."


"Jangan lupa saya bayar pajak banyak untuk negara ini. Bahkan mungkin saya lebih tertib daripada warga negara mereka. Mengapa ini menyulitkan ku.... " Jimmy masih memaksa ke Pka Teddy.

__ADS_1


"Pak... Saya paham.. Saya permisi dulu saja.... Tapi perlu saya ingatkan, jika dalam 3 bulan anda tidak menikah, anda harus kembali ke negara anda... Dan mengurus ulang semuanya... Permisi.... " Pak Teddy meninggalkan Jimmy sendiri.


Jimmy memandang keluar jendela. Tampak gedung bertingkat dengan gemerlap malam. Tak terasa baginya sudah 10 tahun lamanya ia pergi dari negaranya.


Ayahnya seorang militer yang diktator. Ibunya yang cantik karena merupakan putri kebanggaan negara tetangga. Entah bagaimana mereka menikah dan memiliki Jimmy dan Yangyi.


Jimmy memilih pergi setelah lulus kuliah. Ia tak mampu untuk menjadi sekeras ayah nya. Biarkan adik perempuannya Yangyi yang meneruskan saja.


10 tahun, membangun bisnis dengan bantuan kolega semasa kuliah. Jimmy mendirikan perusahaan jasa, marketplace yang mampu menguasai beberapa negara hingga industri perfilm'an pun tak luput ia coba.


Menikmati kesendirian dan kesepian yang membuat Jimmy nyaman. Hingga ia lupa bahwa ia harus memilih. Menikah atau kembali ke negara asal nya.


'Panggilan dari Yangyi... '


"Hallo.... Adaapa?"


"Kak.. Kau tak pulang? Bentar lagi tiba masa musim untuk berkunjung keluarga. Kau pulang lah, biar ayah bantu usahakan ijin kau di negara sana. Atau kau sudah putuskan menikah dengan perempuan disana?"


"Hmmm.... Belum... Aku belum tau akan bagaimana. Cuman lusa aku akan kesana, penerbangan hari rabu jam 5 aku sampai. Jemput aku, aku tak mau orang lain. Ada hal penting yang akan aku ceritakan... "


"Terserah kau saja.. Aku hanya adikmu, baiklah, aku pastikan kedatanganmu aman.... "


*********


Dua minggu berlalu.....


Cathrine duduk di teras kost mereka. Ia diam dan memandang bunga yang indah. Beruntung ia memiliki ibu kost yang suka berkebun.


Terkadang Cathrine lebih suka memandang bunga dan melamun. Menghayal soal masa depan yang lebih baik. Bekerja di kantor dengan gaji yang cukup untuknya. Khayalan yang sangat sederhana untuk anak milenial seperti Cathrine.


"Cath... Lo kenapa? Kok diem mulu? Mana engga mau berangkat casting lagi... " Tanya Esyeh.


"Engga papa kak.. Cuman sedih aja, papa abis telpon.. Ga tau kak, aku bisa bertahan sampe kapan disini.... Apa beneran aku pulang aja, nikah sama Om - om yang mau dijodohkan sama aku.... " Aku menjawab ngelantur.


"Hush.... Itu om sama papa kamu aja tua dia. Engga Cathrine.. Kamu ga boleh nikah sama dia, engga jaminan juga kalo hutang keluarga kalian lunas..."


"..... " Aku hanya mengangguk.


"Cathrine, maaf aku tinggal ya... Mau pergi sama yayangku..."


Kembali aku hanya mengangguk. Malas rasanya membuka mulutku.


"Kamu masuk ya bentar lagi magrib.. Sama nanti aku bawain makan malem ya... Byee... "


Aku diam saja, entah aku kini seperti menjadi benalu. Benalu untuk teman kostku. Sudah sebulan aku belum membayar uang kost, makan pun dari belas kasian Jessy dan Esyeh.


Aku lebih banyak membebani mereka. Aku bahkan sudah menjual anting dan gelang yang aku bawa dulu.


Bahkan aku bekerja di warung makan pun hanya menghasilkan makan untukku. Aku sungguh mengutuk diriku, betapa tak bergunanya diriku.


'Kring..... Kring... ' Panggilan dari gerald.


"Hallo...." Aku menjawab panggilan


"Hallo.. cathrine... Apa kabar lo?"


"Gini aja bro... Gimana?"


"Mau kerjaan ga? Atau lo udah kerja sekarang?"


Aku langsung semangat dan bangkit dari kursiku.


"Belum.. Gw belom dapet kerjaan. Kerjaan apa ya? Gw mau dong... "


"Beneran ya lo mau? Gw sms ya nanti alamat sama kerjaan lo... "


"Tunggu dulu.. Apaan dulu kerjaannya?"


"Lo cuman di minta jadi temen semalem buat boss nya om gw. Temen kencan doang, kalo dari bahasanya sih engga sampe tidur bareng kok. Dia soalnya jarang keliatan sama perempuan.. Cuman buat acara gitu... "


"Boleh deh, asal engga aneh - aneh gw mau yaa... "


"Okai... Tunggu ya ntar gw sms alamat sama fee nya lo berapa... "


aku merasa energiku terisi. tak sabar aku mendengar berita baik ini.


sms dari gerald pun masuk.


Gerald : hotel Four Amour jam 7 malem. kamar 5012, dresscode glamour. dandan cantik, no menor club. fee 5 juta.


mataku langsung hijau melihat nominalnya. langsung terbayang bisa aku gunakan bayar kost dan mengirim ke papa.


aku bergegas memilih pakaian dari koper. ada sebuah dress berwarna peach. dress yang aku gunakan saat aku berulang tahun.


aku langsung mengganti pakaianku. aku kemudian duduk di meja rias. biasanya hanya Jessy yang duduk disini. kali ini aku juga harus tampil manis.


aku langsung memulas bedak yang ada dari kantung make up ku. merapikan alisku, memoles maskara. memberi aksen tajam dengan eyeliner dan kesan lucu dengan blush on di pipiku.


kini tinggal bibir yang butuh aku warnai. tapi semua lipstik ku berwarna nude atau pink. tak senada dengan kurang wow untuk dandananku.


aku mengambil lisptik Jessy, lalu aku mencoba sedikit di bibirku. warna merah glossy nya menggoda. aku memoles semua ke area bibirku.

__ADS_1


aku menyisir rambut dan sedikit membuat nya ikal di ujung. tak lupa aku menyemprotkan minyak Kenzo Amor ku. aku harus wangi dan Cantik.


aku kini telah siap, dengan heals warna putih yang simple. aku seperti akan ke pesta, tapi aku tak mengerti untuk apa menemani pria itu. mungkin ada Pesta kaum Borjuis?


__ADS_2