
Kami berhenti di area parkir basement. Aku masih diam karena marah dengan Jimmy.
Aku malu dengan apa yang ia lakukan. Ini tempat umum?! Bagaimana bisa ia melakukan ini.
aku lahir dan tumbuh dari keluarga dengan adat timur. sopan santun dan tindakan ku harus melihat tempat.
"Ayo turun.. " Ucap Jimmy sambil melepas sabuk pengaman.
Aku tak menjawabnya, mulutku terkunci.
"Ayolah... Kenapa kamu menjadi begini. Apa salah yang aku lakukan.... " Ucap Jimmy.
"Kita ini di negara mana? Aku tak bisa melakukan hal seperti tadi di tempat umum. Malu... Ini hal tabu dan tak wajar kita lakukan di luar.... " Aku menjawab ketus.
"Come on... Hmm.... Sulit sekali berbicara... Bagaimana jika aku mengaku salah... Tapi aku tidak perlu meminta maaf..aku cuman kangen dan pengen melakukannya. refleks saja terjadi.. "
"Apa??" Aku lalu menoleh ke arah Jimmy.
Aku memandang dalam pria yang minggu lalu, menjadikan aku wanita paling bahagia.
Tapi mengapa kali ini berbeda? enteng sekali ia menjawab.
"Ya karena aku tak perlu meminta maaf. Aku sudah mengaku salah, lagi pula, kamu kan wanitaku. Apa salah? Kan tidak..." Jimmy menjawab dengan mantab.
Aku membalik pandanganku, aku pun mengelengkan kepalaku. Aku tak menyangka ia berkata demikian.
"Sudahlah, aku benci drama kacangan dalam urusan hubungan lawan jenis.... Bisa kita turun? Aku lapar, aku mau makan sate dan steamboat... " Jimmy lalu mematikan mesin mobil.
Aku pun membuka pintu sendiri dan turun. Aku menyusul jalan di belakang Jimmy.
"Kemari..... " Tangan Jimmy menarikku.
"......." Aku tetap memajukan mulutku. Duckface! Ya itu yang aku lakukan.
"Aku tidak suka kamu duduk di belakangku. Aku lebih suka kamu berjalan di sampingku... " Ucap Jimmy sambil memeluk pinggangku.
Astaga, kenapa rasanya aku ingin menyandarkan kepalaku.?
Pelukannya hangat, tubuhnya itu lebih hangat dari tubuhku.
Apa memang setiap pria lebih hangat suhu tubuhnya dari kami para wanita?
sebenarnya aku juga kangen dengan pelukannya. hangat dan aroma tubuh Jimmy membuatku terbayang setiap hari.
Kami berhenti di kedai langganan. Kedai tempo hari kami datangi juga. Aku memilih duduk di area luar. Udara cukup cerah dan panas.
Semilir angin menemaniku, aku melihat dari jauh. Jimmy sedang membawa nampan berisi minuman.
Ia berjalan ke arahku, harusnya aku masih marah. Tapi mulutku terbuka dan tersenyum secsra otomatis.
Magnet apa yang dibawa Jimmy.
Dia berjalan dengan perlahan ke arahku. Tampan, gagah dan wajah yang manis. Wajah yang tak bosan untuk di pandang.
"Ini minum dulu, sebentar lagi makan nya di antar.. " Jimmy memberiku air jeruk dingin dan mineral water.
Sepertinya ia sudah tahu. Rasanya lelah menempuh jarak dengan jauh.
"Jadi... Kita akan tinggal agak lama?" Jimmy berkata sambil memandangku.
"Ahm.... Iya mungkin begitu.... Jadi... Tempat aku kerja tutup sementara... Mereka balik kampung.... Akan menikahkan anak nya, begitu... " Aku menjawab terbata - bata.
aku bahkan memainkan sumpit yang ada di dekatku. Tapi pandangan Jimmy tak berpaling dariku.
"....... " Jimmy tak menjawab apapun.
ia malah memandangku dengan tatapan nakal. tatapan yang membuatku salah tingkah.
"Bisa jangan memandangku seperti itu? Aku ma... Malu.... " Aku kemudian menundukkan wajahku.
"Hahahaa... Kamu itu lucu sekali, apalagi ketika sedang salah tingkah begini... Aku tak bosan memandang, malah aku ingin melihat lagi... Kamu itu seperti anak kecil yang merajuk...lucu sekali..." Jimmy menggodaku.
Aku lalu melirik tajam ke Jimmy. Seolah aku berkata, 'hei! Aku bukan anak kecil... '
"Ini makanannya, maaf lama menunggu." Pria muda seumur Jimmy menyajikan menu kami.
"Thank You Sam... Please Join..duduk sebentar, pegawaimu bisa sebentar jaga kan.. kita lama engga makan barengan.. " Jimmy menjawab.
"Boleh? Apa kamu keberatan?" Pria itu bertanya kepadaku.
"Oh boleh silakan... " Aku mempersilakan.
Aku mencari mana steamboat pesanan Jimmy. Biasanya ada panci dengan api kecil di bawahnya. Ini mengapa polos semua, hanya beberapa sate bakar dan dimsum di hadapanku.
"Apa yang kamu cari?" Tanya Jimmy.
"Katanya steamboat.. Adanya grill begini... " Aku menjawab polos.
__ADS_1
"Buahahha.... Kamu itu polos ya..ah aku lupa sampai sini aku mau ganti menu saja.. " Jimmy tertawa keras.
"Hei, Dimgrill and steamboat adalah nama kedai ini... Kamu salah mengira... " Sammy menjawab.
"Ahh.... Aku kena lagi...tapi jelas kok kamu bilang makan sate sama steamboat..."
"ini sate bukan? pake tusukan terus masaknya di Grill...ah sudahlah Perkenalkan dulu, Sammy... Pemilik dan teman seperjuangan Jimmy." Sammy memperkenalkan diri.
Aku pun membalas dengan bersalaman dengannya. Pria lokal dengan kulit cerah dan wajah agak Chuby.
"Cathrine... Salam kenal.... Tapi seperjuangan bagaimana ya? kalian saling mengenal? kenapa dunia jadi sempit gini ya..." aku binggung melihat mereka.
"iya, Jimmy banyak membantuku. ia membuatku bangkit dari jalanan..dia memang pria yang baik.. " sammy memuji Jimmy.
"...... " Aku menyimak bagaimana cerita Sammy.
"Berawal sudah lama sekali... Waktu itu aku masih kerja jual baso keliling..
Di kompleks orang kaya disana tu...
Terus pas itu Jimmy pelanggan setiaku. Dia kata baso ku enak dan murah...hampir setiap hari, ya dia selalu membeli tanpa absend.." Sammy bercerita.
Wajahnya menerawang jauh, mengingat keadaan waktu itu. sepertinya Jimmy punya memori yang tak terlupakan dengan Sammy.
"Cukup Sam.. Itu masa lalu... Lupakaann... " Jimmy memotong Sammy.
"Noo... Big No... Biar aku lanjutkan...
Jadi... Dia pelanggan ku setiap hari, sampai tiba satu hari... Dia kasi aku kunci ini ruko...
Katanya, bayarlah dengan pindah kesana dan mulai usaha yang lebih baik....
padahal hari itu, aku mau di usir dari kontrakan sepetak yang aku sewa. coba? gimana aku engga ngerasa dia kaya dewa penyelamat.."
"... Wow.... " Aku terpana.
"Aku membuka ruko ini malam hari..persis bawa barangku yang dari kontrakan, ternyata.. Dia sudah siapkan gerobak, kulkas dan meja.. Dia bilang apa lo tahu?
Dia bilang bikin warung makan yang enak dan engga bikin bosen... Gw suka kuah baso lo... Tapi gw bosen sama isiannya....
dia juga bilang kasian kalo jualan masuk kampung. Pasti ibu komplek menawar harga semangkok yang udah murah...coba segitu baiknya Jimmy..."
"Ah... rupanya begitu, kalian pantas saja dekat. Aku paham sekarang jadi dimsum, steamboat dan grill yang ada menunya disini itu dari kuah baso yang lo bikin kan...? "
Jimmy diam dan sesekali melirik ke arahku. Ia sepertinya tidak marah aku berbicara intents dengan Sammy.
"Ya... Benar... Itulah kenapa dia sering makan kesini.. Ah iya, kamu harus mencoba semua yang ada disini... Seriusss... Enak semua..
tanya aja Jimmy kalau lo engga percaya.."
"Baiklah, gw mau coba.. " Aku baru akan mengambil beberapa tusuk sate seafood.
"Sudah makan ini... " Jimmy malah memberikan semua ke hadapanku.
"Errr.... Gw tinggal ya.... Rame kasian yang disana.... " Sammy pun berdiri, dan meninggalkan kami.
Aku hanya menangguk serta melambaikan tangan.
"Jadi... Bagaimana ya? Kamu memang orang baik ya Jimmy.... " Aku berbicara sambil makan sebuah sate dengan baso ikan.
"Tidak... Aku hanya mengandalkan hati nurani saja.... " Jawab Jimmy santai.
"Lha buktinya itu..... Kemudian aku...kamu selalu menolongku... " Aku menjawab dengan memajukan mulutku.
"Kamu itu pamrih... Ada take and give.. Kamu dapet apa.. Aku dapet apa... "
Aku agak tersinggung mendengar perkataan Jimmy. Meski itu benar, kenapa ia harus jujur.
"Jadi, gw sama lo kan cuman hubungan timbal balik kan... " Aku berbicara dengan datar.
"Menurutku iya... Bagaimana denganmu..." Jimmy balik bertanya.
"Gw ngikut kok... Gw juga ngerasa no hard feeling buat hubungan kita... " Jawabku santai.
Jimmy diam...
Diam yang membuatku berfikir, kamu tau kan rasanya saat aku berkata?
Itu yang aku rasakan..
"Kalo gw ga pengen kita lebih dari itu?" Aku mencoba peruntungan bertanya.
"Gw ga yakin, banyak hal yang bakalan bikin kita susah.... Keluarga.... Lingkungan dan adat kita itu sulit."
"Bukan nya kalau niat pasti ada jalan?" aku berkata sambil melanjutkan makanku.
"Jalan ada, aku yakin... Tapi aku tidak mau mengambil resiko buat masa depanmu... "
__ADS_1
Aku terbelalak mendengar perkataan Jimmy.
"Itulah kenapa, aku meminta kamu minum pil pengatur kehamila. Simple. Aku bukan yang akan rugi dengan hubungan kita. Kalau kamu?
Pernah terfikir? Hamil dan hanya menikah.. Lalu masa depanmu?
Jika suatu saat aku pergi dari negara ini. Bagaimana dengamu? Bayimu?"
"Kamu berfikir sejauh itu?" Aku bertanya.
"Jelas.... Bagiku jika aku sampai membawa wanita masuk ke apartemen pribadi. Hubungan kami bukan sebagai teman biasa.. Aku juga ga mau di salahkan sebagai penyebab masa depanmu hancur.. . Apapun yang terjadi, aku sebagai pria tetap untung... "
Perkataan Jimmy ada benarnya. Aku lalu harus menurut dengan aturannya. Apalagi aku belum punya pekerjaan tetap.
Aku pun tak pernah berkhayal mendapat pasangan seperti Jimmy. Aku cukup dengan pria kalangan biasa saja sudah.
"Apa ada ucapanku yang salah?" Jimmy membuyarkan lamunanku.
"Tidak... Justru kamu berkata apa adanya. Itu adalah fakta... Biar bagaimana pun, kamu engga akan rugi."
"Aku senang jika kamu paham denganku. Aku hanya ingin membantu kamu, tanpa merebut masa depanmu. Yang aku maksud, aku juga ingin membantu kehidupan kamu biar lebih baik.. Tapi... "
"Sudah, aku sudah paham... Kita memiliki hubungan yang lebih dari teman, tapi bukan sepasang kekasih. Kita di tengah keduanya... Hubungan tanpa status, tanpa batas seorang teman. Tanpa memiliki tujuan untuk menikah...
Tinggal bersama, hidup bersama dan berpisah suatu saat nanti...
Dimana kita tak boleh saling mencintai..." Aku memperjelas.
Raut wajah Jimmy berubah. Ia kaget dengan yang aku katakan.
"Cath.... " Jimmy memanggilku dengan lirih.
"Aku sudah selesai.. Ayo kita balik, aku mau mandi... Badanku kotor terkena debu jalanan tadi... " Aku langsung berdiri dan mengambil tas ku.
Aku berjalan lebih dulu, Jimmy kemudian mengusulku. Kami pun menunggu lift sampai ke lantai dasar.
Saat terbuka kosong, kami pun masuk.
Aku menekan angka 10, lalu aku menghela nafas.
Perjalanan kami hanya berdua. Tapi kami sama diam nya. Seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar.
Lift terbuka, aku berjalan lebih dulu keluar. Jimmy memandangku, tatapannya sayu seperti penyesalan namun ia tak mau berkata apapun.
Klik.... Pintu terbuka setelah aku menempelkan kartu.
Aku masuk dan menaruh barangku di lemari yang berbentuk meja dibawah TV yang mengantung.
Aku membuka tas lalu mengambil beberapa alat mandi. Aku lalu masuk dan meletakkannya di kamar mandi.
memang peralatan mandi yang aku bawa pun. jimmy yang memberikan. aku melihat sikat gigi kami, nampaknya tidak ada orang lain selain kami.
Jimmy hanya berdiri sambil melihatku. Ia lalu menarik tanganku.
Ia melemparku ke dalam pelukannya.
Ia memeluk ku dari belakang. Jimmy mencium tengkuk badanku. Ia menciumi rambutku, lalu berbisik.
"Maafkan aku jika menyakitimu... Apa kamu tinggal lama disini?"
"Aku mungkin tinggal agak lama. Boss akan pulang mungkin hingga sebulan. Apa boleh aku disini?" Aku bertanya sambil menahan Jimmy.
"..... " Jimmy hanya diam dan terus mengodaku.
"Bisa... Bisa kamu tidak begini? Aku... Merinding dan rasanya tidak nyaman.... " Aku berkata.
"Uhmm... Begitu... Tapi aku ingin kamu terbiasa dengan ku yang suka melakukan ini.... Biasakan tubuhmu ya Cath.... " Jimmy berkata sambil membelai lenganku.
"Jimmy please... Don't make me high... " Aku mencoba menahan diriku.
Tapi sepertinya Jimmy memang pria yang gigih. Ia terus menggoda ku, aku pun menurutinya.
Kami melakukan lagi, dengan keadaan emosi dan ini berbeda. Aku merasakan sentuhan Jimmy kepadaku begitu lembut.
Boleh aku jujur..? Aku merasa tak ingin berpisah darinya.
Apa ini wajar? Atau hanya nafsu sesaat karena kami bersama dan terlibat dalam hubungan yang seharusnya tidak terjadi....
Aku tak ingin berpisah darinya. Jimmy membuatku gila..
"Berjanjilah, hanya denganku kamu lakuin ini... Aku pun akan melakukan hal yang sama... " Ucap Jimmy, lalu ia mencium bibirku.
Sorot matanya membuatku melayang. Aku rasanya terhipnotis namun, ini indah.
aku harus mulai membatasi diriku. aku tak bisa membiarkan hatiku jatuh cinta dengannya.
sudah jelas, tinggal bersama tanpa ikatan.
__ADS_1