
Aku membuka kedua mataku. Aku rupanya masih di sini. Di tempat tidur Jimmy.
rupanya aku tidak bermimpi bersama dirinya.
wangi tubuhnya di tempat ini nyata. aku bersama pria mapan yang misterius. tapi ingat Cath! bagaimana ia membawa hubungan kalian.
Aku menurunkan sedikit selimutku. Rupanya ia tidak menyentuhku semalam. padahal aku mendengar pria hanya berorientasi dalam urusan tempat tidur saja.
Seingatku ....
Semalam aku menggosok gigi lalu aku keluar dari kamar mandi. Jimmy sibuk dengan panggilan telpon di luar.
Aku lalu merebahkan tubuhku sambil menonton acara. Tapi, memang rasanya ngantuk sekali.
nyaman tempat tidur ini. pasti mahal harganya, setiap kali aku berbaring tak lama aku tertidur terus.
Aku menutup mataku dan...
Pagi ini aku terbangun masih disini.
Rupanya... Jimmy tidak menyentuhku semalam. yang benar? ia tak menyentuhku sama sekali.
Aku melihat ke meja kecil di dekatku. Ada sebuah kertas kecil disana. dari jauh terlihat ada kertas di atas tumpukan uang.
Aku mendekati dan mengambilnya.
'Belilah makan sebelum kamu pulang. Aku meninggalkan uang untuk taxi dan makan. Sampai bertemu jumat malam.
Jimmy. '
Jumat? Dia memintaku datang lagi?
Aku mengambil uang pecahan berwarna merah. Wah... Ada 10 lembar..
Ini bisa banget buat hidupku selama seminggu. Malahan aku bisa hidup layak.
Aku lebih baik menyimpannya, agar aku bisa mengirim ke Ghea. Apalagi setelah kejadian kemarin. Aku tak ingin mama menghabiskan uang ku untuk kesenangan dia!
Aku membersihkan diriku, aku sebenarnya malas kembali kesana. Apalagi jika aku bertemu Jessy. Rasanya aku tak ia pergi bersama pria tua itu.
bergegas aku bangun dan mandi. aku cepat membereskan barangku dan baju yang Jimmy beri.
aku lalu keluar dan pergi dari sana. cuaca cukup cerah pagi itu. aku menghentikan taxi berwarna biru, aku masuk kedalam.
aku belum hapal dengan area apartemen Jimmy. jadi rasa kurang nyaman menggelayuti diriku. aku lebih suka saat bersama Jimmy disana.
********
"Harusnya Cathrine kembali hari ini.. Ya... dia harus kembali.... " Yofie berbicara sendiri.
ia duduk di meja komputer. sebenarnya ia sedang bekerja membuat game yang akan ia jual. aplikasi game memang punya magnet besar. ini keutungan bagi Yofie.
"Sayang, kamu ngomong sama siapa?" Stacy tiba -tiba datang dan mengagetkan Yofie.
"Ngomong sendiri... " Jawab Yofie datar.
"Hei.... Kamu kok gitu sih.... Eh ada yang datang tu... " Stacy membuka tirai penutup jendela lantai 2 rumah yofie.
"Mana... Minggir!" Yofie melihat siapa yang datang. Besar harapannya itu adalah Cathrine.
Mobil sedan biru khas warna taxi masal di kota berhenti di depan. Seseorang wanita turun dengan tas kecil di tangannya.
Rambut ikal di bagian atas yang khas dari pelurusan rambut. Jelas itu Cathrine.
Wajah yofie langsung sumringah. Ia melepas kacamata dan membersihkan matanya. Ia memastikan ini bukan mimpi.
"Oh wanita itu.... " Stacy acuh melihat Cathrine di bawah.
"Diam disini! Aku mau kebawah... " Yofie berlari turun ke bawah.
Ia menyusul Cathrine berharap mereka bisa bertemu. Entah apa yang ingin dikatakan olehnya.
"Cathrine.... Tunggu ..." Yofie melihat Cathrine sudah setengah badan masuk ke kamar nya.
Cathrine pun berhenti dan melihat yofie. Ia tersenyum membalas yofie.
"Cathrine... Kamu kemana aja dari kemarin? Kakak nyari kamu dan berusaha menghubungi kamu. Tapi kok kamu sama sekali engga respon ya?" Yofie terlihat panik, keringat membasahi dahi nya.
Terlihat bagaimana Yofie begitu khawatir. Sebenarnya Cathrine ingin memberi kabar, tapi Jimmy mengawasinya tanpa henti.
"Oh benar kah? Maaf kak... Aku soalnya kemarin nginap di rumah tante... Hehe... " Aku mencoba menutupi kenyataannya.
"Benar? Soalnya kakak tu coba nyari ke dalam mall.. Tapi engga ketemu sama kamu... Kakak tu panik.. Oh iya, kamu sudah sarapan? Kakak mau belikan makan?"
"Tidak... Terimakasih kak... Aku sudah sarapan tadi... Aku istirahat ya kak, soalnya sore warung buka. Jadi aku harus bantu disana... " Aku mencoba menutup pintu.
"Tidak.. Maksudku sebentar. Malam nanti bagaimana kalo kita makan. Pulang dari kamu kerja. Kakak jemput gimana? Setuju?" Tanya Yofie.
"Tidak!! " Stacy muncul dari atas. Entah sejak kapan ia bisa mendadak muncul.
"Maaf kak, aku capek... Istirahat dulu ya, terima kasih kak... " Aku menutup pintu.
Tapi aku sebenarnya berdiri di belakanh pintu. Aku menempelkan kupingku di pintu.
Penasaran rasanya bagaimana pembicaraan mereka.
"Kamu tu suka sama ni cewe? Kok kayanya beda sama perempuan lain yang biasa kamu buat mainan... " Stacy membuka.
"Tidak. Ia memang berbeda, lagipula kalau aku berbuat baik dan perhatian.. Itu artinya aku punya perasaan?" Yofie membalas.
"Tidak.. Aku perempuan dan aku bisa merasakan bedanya. Ingat! Kita udah mau menikah." Stacy berbicara dengan nada tinggi.
__ADS_1
Tak terdengar lagi jawaban dari Yofie. Aku malah mendengar langkah kaki menjauh dari pintu.
artinya mereka sudah pergi dari depan kamarku.
Mendengar mereka akan menikah...bukan hal kaget bagiku, tapi...
Kenapa rasanya aku kecewa ya.?
Tak bisa aku pungkiri. Aku memang menyukai Yofie. Walaupun aku tak berani menghayal lebih. Apalagi melihat masa depanku.
"Hufh..... Kalo mereka nikah, baguslah... Jadi stacy ga perlu memperlakukanku seperti itu." Aku lalu membaringkan tubuhku.
bukan tandingannya diriku. aku hanya anak kost disini. aku menumpang dan cepat atau lambat aku akan pergi juga.
********
Jimmy berpakaian rapi di dalam ruangannya. Ia fokus pada saham NGK yang sedang turun.
Rupanya ada permainan dari Budiawan. Dalam berita hanya ada berita artis pendatang baru dari managemen Grup Ngk melakukan skandal.
Tok... Tok...
"Pak, pak Lutfi mau bertemu... " Ucap Jean.
Jean sekertaris Jimmy, umurnya jauh di atas Jimmy. Ia sengaja di pilih Jimmy berdasar pengalamannya.
"Masuk!" Ucap Jimmy.
Pak Lutfi pun masuk sendiri ke dalam. Ia melihat Jimmy sedang fokus pada layar komputernya.
Langkah Pak Lutfi melambat. Dari gesture tubuhnya, terlihat ia seperti orang yang telah melakukan kesalahan.
"Duduk lah Pak.... " Jimmy mempersilakan.
Pak Lutfi mengangguk dan ia pun duduk. Nafasnya terlihat berat, ia persis seperti akan menghadap pengadilan.
"Pak... Saya mau minta maaf.... " Pak Lutfi membuka.
"Hmmm... Lalu? Oh salah... Atas apa anda meminta maaf?" Tanya Jimmy.
"Saya salah memilih artis. Dia membawa kita pada kehancuran. Banyak stasiun yang sudah ga mau pakai dia.... Dan terakhir saya kontak, dia mau pindah ke managemen sebelah... " Jawab Pak Lutfi dengan hati - hati.
"Uhm.... Lalu...? " Jimmy balik membalas.
"Film terakhir pun gagal... Tidak balik modal kita, maksudnya saya... Jadi saya mau minta maaf.... " Pak Lutfi lalu menundukkan kepalanya.
"Uh..... Begitu.... Sudah?"
"Iiya pak... Sudah.... " Ucap Pak lutfi.
"Hmm... Gimana lagi? Saya sudah bilang dari awal. Artis ini ga bagus... Tapi kamu kekeh pake dia... Ya ini resiko.. Apalagi... Track record dia.... "
"Iya Pak .... Tapi waktu itu saya belum tahu, kalau dia ternyata menjadi simpanan.. Maksud saya pacar dari direksi sebelah.. " Pak Lutfi terlihat marah.
"Tidak pak! Saya tidak seperti itu. Tapi saya akan berusaha minta artis itu kembali... Bagaimana pun, rating kita harus naik... " Jawab pak Lutfi dengan ambisi.
"Tidak usah. Biarkan dia pergi. Kita tidak butuh artis dengan skandal tanpa prestasi. Fokus saja mencari talent baru. Sebelum saya berfikir melepas saham itu.... " Jawab Jimmy.
"Pak.. Mohon maaf, grup bapak kan besar. Pasti tidak berimbas besar dong dengan yang lain... Bapak tentu punya banyak cara mempertahankan. " Ucap Pak Lutfi.
"Jangan konyol, jika tidak ada hasil untuk apa saya bertahan? Apalagi industri ini, saya bikin tayangan bermutu pun... Jarang orang yang mau melihat.. Mereka lebih senang dengan hiburan yang menurut saya tidak ada nilai sosial, budaya dan tata krama....
Jika begini terus... Ya buat apa saya mempertahankan?" Ucap Jimmy.
Kata - katanya membuat Lutfi kaget. Ia merasa Jimmy adalah boss yang baik.
Tapi Lutfi lupa diri, dia malah memanfaatkan kebaikan Jimmy. Mencampur aduk perasaan dan pekerjaan, tidak profesional.
"Baik Pak... Tapi, saya akan membuktikan. Artis tersebut tidak seperti yang bapak kira... "
"Ya silakan.... Saya melihat hasil nya dan proses yang kamu lalui... " Jawab Jimmy.
"Baik pak... Saya permisi dulu.... " Pak Lutfi berdiri dan pergi meninggalkan Jimmy.
Jimmy tak peduli, ia tak menjawab pun melihat Lutfi pergi.
Ia hanya melihat foto Mira di samping komputernya.
"Andai kamu tahu, betapa bodohnya orang itu..."
"Mira, apa kamu tahu? Aku bertemu dengan wanita yang menarik. Sama seperti dirimu.. Apa aku bisa bersama dia?
Oh iya, anakmu semakin pintar di tempat Pak Haji. Ia begitu monjol dalam pelajaran dan agama. Kamu pasti bahagia kan melihat dari sana.... "
Jimmy begitu kehilangan Mira. Bagaimana ia jatuh cinta pada perempuan biasa. Sikap percaya diri Mira dan keyakinan nya Jimmy akan sukses membawanya pada posisi saat ini.
Sayang foto dan video skandal Mira bocor. Entah siapa yang pertama membeberkan.
Yang jelas foto dan video itu jauh sebelum Mira bersama Jimmy. Saat ia pertama terjun dalam dunia entertainment.
Mira memutuskan pergi selamanya saat merasa itu....
Kesedihan...
Sendirian...
Perasaan gagal.....
Malu....
Hancur... Ya .... Itulah yang terjadi...
__ADS_1
Tok.... Tok...
"Pak, ada Bapak Louise. Bisa bertemu.. " Suara Jean.
"Ya!." Ucap Jimmy.
Louise datang langsung ia menuju sofa kecil di ruangan Jimmy. Ia duduk dan menyilangkan kakinya.
"Tumben datang kesini.... Mau lunch?" Jimmy bertanya.
"Noo... Gw cuman ngerasa, kayanya kita kemarin salah ke Cathrine.... " Ucao louise
"Salah? Bagian mana? Ah.. Lagipula ia tidak marah.. " Ucap Jimmy santai.
Ia berdiri dan membuka kulkas di dekatnya. Jimmy mengambil minuman kaleng dari dalam. Dan kemudian ia menyusul duduk di samping Louise.
Jimmy meletakkan minuman tersebut dihadapan Louise.
"Karena gw sempet liat dia berdiri di deket kita. Pas kita ngobrol soal jadi pengganti Mira di hidup lo.
Gw liat dia keliatan sedih.. Terus menjauh gitu.... " Ucap Louise.
"Sudahlah mungkin hanya perasaan lo. Dia baik - baik aja kok.... " Ucap Jimmy santai.
Meskipun Jimmy dalam hati kaget. Ia tak menyangka Cathrine akan mendengar pembicaraan mereka.
"Oh iya, terus lo ga mau mencoba dengan dia? Gw sama fukuda lihat, dia perempuan baik - baik... Jarang perempuan begitu jaman sekarang... "
"Maksudnya?" Jimmy berkata sambil membuka minuman soda nya.
"Ya... Berbeda... Bukan model yang dalam satu hubungan berorientasi pada uang. Walau kita paham... Orang tua kita pasti menerapkan status sosial dalam perjodohan.. "
"Ya.. Itulah kenapa gw ga mau membawa Cathrine jauh dalam hubungan kami. Realistislah...dia siapa... Dan bagaimana orang tua gw disana... " Ucap Jimmy.
"Lo sendiri gimana sama Cathrine?" Louise bertanya.
"Gimana apanya?" Jimmy wajahnya menjadi merah.
"Bukan nya lo udah pernah tidur sama dia...?"
"Ya memang,... " Jimmy menjawab singkat.
"Iya... Lalu... Gimana?"
"Entah... Eh makan aja yuk... " Jimmy berdiri dan mengambil ponselnya di meja.
"Lo itu emang ga pernah mau jujur ya.... "
Dan mereka pun pergi...
**********
Cathrine bangun dari tidur siangnya. Ia merasa lapar, perutnya pun berbunyi.
"Cathrine... Kamu tidur? Aku membeli sesuatu buat kamu... Aku taruh di handle pintu ya.. Jangan lupa makan... " Yofie berkata di depan pintu kamar Cathrine.
"......" Cathrine bangun dan tak menjawab.
Ia menempelkan telingannya di pintu. Ia menanti yofie pergi dari sana.
Ia merasa tidak enak atas kejadian tadi pagi. Walau dalam hati kecilnya, ia merasa tak perlu tidak enak.
Stacy anak satu ras dengan Yofie. Mereka sudah dari kecil di jodohkan. Tak ada harapan Yofie bersama wanita lain.
Makanya ia berusaha dengan bersenang - senang dengan wanita lain. Stacy pun paham yofie tak akan membawa perasaan dengan perempuan lain.
Dengan cathrine? Rasanya berbeda..
...
Aku membuka pintu dan mengambil bungkusan tersebut.
Bau wangi ayam goreng krispi tercium.
"Wah.. Makasih kak Yofie... " Aku berkata di dalam kamar.
Aku menikmati ayam tersebut. Enak sekali dan soda pendampingnya.
Setelah selesai, aku mengambil obat dari tasku. Ini obat dari Jimmy, biasa di sebut pil penunda.
Aku tanpa berfikir langsung minum. Baguslah, aku tak ingin memiliki anak tanpa pernikahan.
Apalagi aku sudah tahu, jimmy tak akan menikah denganku. Kami hanya simbiosis mutualisme saja.
Perkataan nya menyakitiku dan menyadarkanku. Bagaimana posisi aku sebenarnya, seharusnya aku sadar dari sekarang!
aku membuka ponselku. ada pesan masuk, ini Jimmy.
Jimmy : sudah makan? apa keadaanmu baik.?
me : sudah, Yofie memberiku ayam goreng yang enak. aku pun sudah minum obat yang kamu beri.
Jimmy : kenapa kamu makan pemberian Yofie? bagaimana jika ada racun didalamnya?
me : aku tak boleh menolak rejeki. lagi pula ia baik denganku.
Jimmy : aku juga bisa membeli kan kamu makanan itu. jangan makan apapun dari Yofie!
Jimmy : ingat! jangan makan apapun!
mengapa ia begitu marah?
__ADS_1
aku di ajarkan untuk tidak membuang makanan. apalagi ini pemberian orang.
rasanya pun enak.....