CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
20


__ADS_3

Aku bersiap menunggu nya. Aku mengenakan kaos oblong berwarna pink dengan celana jeans semata kaki. Aku tak menggunakan make up apapun.


bukan karena aku malas. tapi, semuanya habis aku bahkan menggunakan pengharum pakaian sebagai ganti parfum.


lumayan uang yang harus aku hemat.


Aku harap yofie tidak menjadi jenuh memandangku. aku cuman cewe biasa dengan keadaan pas. pas pas'an yang harus ada di hidupnya sebagai teman.


aku memang ingin menjadi teman baginya. jika aku terlalu menyukai pasti akan ada luka.


Aku berjalan menuju teras depan. Aku menunggu yofie dengan harap - harap cemas. aku memilih duduk di kursi kayu di teras. memandang hijau daun di taman, gemericik air di hadapanku.


sebenarnya suasana sore di tempat ini memberiku rasa nyaman. untuk sekedar duduk dan "metime" buatku.


rasanya dalam hatiku campur aduk....


Ada rasa bahagia..


Ada rasa senang..


Ada rasa rindu..


Ya...


Rasa Rindu yang entah aku tak pernah mengalami dengan orang lain. Berbeda dengan rinduku pada adikku. Pun dengan orang tuaku. juga rinduku untuk dia yang menyakiti terlalu dalam. semuanya berbeda....


Rindu yang membuat jantungku berdebar keras. Ah, aku sudah gila rupanya.


Aku duduk di teras sendirian. Beberapa kali aku membuang nafas dari mulutku. Menarik.... Menghembuskan..


Beberapa kali aku lakukan. Biasanya ampuh untukku menetralkan rasa nervous ku.


Aku melihat langit malam itu. tak biasanya ada banyak bintang. Indahnya malam ini, seperti malam yang tak biasa.


"Liat apaan Cath?"


Aku tersadar, rupanya Yofie sudah ada disampingku.


"Kak... Sejak kapan disini?? " Aku bertanya dengan mata tak berkedip.


Bagaimana tidak, di hadapanku ada pria yang gagah dan manis. Pria wangi dan selalu rapi dengan baju casual.


Malam itu Yofie menggunakan sepatu, jeans berwarna putih tulang dan kaos navy bertuliskan Hn'm.


"Barusan Cath, cuman kamu liat atas terus. Ya udah aku ikut nyari.." Jawab Yofie.


"Iya kak.... Langitnya bagus.." Aku merasa tersipu mendengar ucapan nya.


"Iya memang bagus ya, jarang aku liat bintang sebanyak ini....bagaimana kalau kita pergi sekarang... Mumpung masih belum terlalu malam... "


Aku hanya mengangguk.


Aku pun berdiri dan yofie persis di hadapanku. Aku merasa jantungku berdetak kencang lagi. Ada yang salah pasti.


Tangan Yofie meraih bagian belakang pundakku. Apa yang ia lalukan? Mungkin kah seperti bagian film yang biasa aku tonton?


Aku sedikit memejamkan mataku. Aku begitu berharap seperti yang ada di film biasa aku lihat. Dimana saat saling berpelukan atau si pria mencium kening perempuan.


"Nih pake helm ya Cath, aku baru beli. Nah... Kan cukup di kepala kamu...." Yofie malah memakaikan helm berwarna hitam di kepalaku.


Aku langsung membuka kedua mataku. Aku mengedip kan kedua mataku beberapa kali. Ya... Aku kaget.


"Kak... Kamu? Ini helm? Tadi makein aku helm?" Aku bertanya.


"Iya dong, emang apalagi? Aku ga mau ambil resiko di jalanan... Lagipula ini cocok buat kamu .. "


Aku melihat dari pantulan kaca. Lumayan bagus juga sih..


"Kak.. Terus helm putih yang dulu kemana? Kan udah ada yang dulu aku pake... "


"Oh itu... Ehm... Aku kehilangan entah dimana... Uhm... Udah yuk jalan aja... "


Yofie segera membuka pagar dan mengeluarkan motor sportnya. Aku menyusul nya keluar dan menutup pintu.


Aku naik ke atas kendaraan Yofie. Refleks aku mengenggam jaket Yofie. dan ia pun memandangku dari kaca spion.


"Kamu mau meluk aku juga gapapa kok.... "


Pipi ku menjadi merah, tapi aku memilih diam dan bersembunyi dari kaca.


Perjalanan pun kami mulai. Rasanya waktu melambat saat bersamanya. Aku menikmati pohon dan semua pemandangan sekitarku.


Aroma parfum yofie juga begitu terasa. Aku ingin bersandar walau hanya sebentar. Namun, aku sadar. Aku tak boleh seperti ini.

__ADS_1


Kami pun berhenti di parkiran. Aku turun dan melepaskan helm. Yofie menaruh helm kami di atas motor.


Kami pun berjalan masuk ke arah resto tersebut. Pasta dan Pizza. Ini salah satu makanan yang aku suka.


Kami pun duduk di sisi kanan. Ada tempat yang terdiri dari beberapa sofa dan kursi kayu.


Pelayan pun menghampiri kami dan memberi menu. Aku membaca dan mulai memilih.


"Carbonara dan mineral water ya mas... " Aku berkata kepada pelayan tersebut.


"Sama ya mas... " Yofie menjawab sama.


Menu pun di ambil kembali dan pelayan meninggalkan kami. Aku merasa canggung dengan keadaan berdua kami.


Aku memandang ke pintu keluar. Pintu kaca transparan menjadi pemandanganku.


"Kak hujan tu... Untung tadi kakak milih yang ada atap nya.. " Aku mencoba mencairkan suasana.


"Ah iya Cath... Untung buat kita ya..." Yofie tersenyum kepadaku. Astaga jantungku berdebar melihat senyum nya.


"..... " Aku tak bisa berkata apapun. Telapak tanganku juga menjadi dingin.


**********


"Haruskah? Perempuan ini yang menjadi bintang kita?" Jimmy memegang portofolio di tangannya.


"Iya pak, dia artis baru. Masih fresh dan sedang banyak gosip soal dia. Ini bisa jadi point penting lho.... Laku pasti film kita... " Lutfi meyakinkan Jimmy dengan artis tersebut.


"....... " Jimmy memandang file tersebut dan mengingat siapa sebenarnya perempuan ini.


"Ah ...... Scene tabrakan mobil.... " Jimmy berkata.


"Iya pak, tapi dia kan aset mahal. Jadi kita pake pemeran pengganti.... "


"Stup*d! Mahal darimana? Kamu hampir membuat orang lain cacat. Demi dia? Konyol." Jimmy melempar file di tangannya.


"Pak... Sudahlah, lagipula perempuan itu masih hidup kok. Dan engga cacat juga, santai lah pak.... Atau bapak mau ngopi atau minum teh dengan dia... Biar lebih dekat... " Lutfi mencoba memberi penawaran lain.


"Maksudnya?"


"Bapak pasti penasaran dengan perempuan ini. Mendingan kita duduk sambil ngeteh santai pak... Gimana?" Lutfi menaikan alisnya.


"...... " Jimmy mengepalkan tangan dan menutupi mulutnya.


"Atau bapak juga mau ketemu perempuan yang ketabrak itu juga? Saya bisa bawa buat bapak juga... "


"Besok jam 6 di TeaGarden... " Jimmy berkata.


"Yes.... Siyapp! Pasti saya bisa bawa pak... " Lutfi langsung sumringah.


"Kalo begitu, bisa tinggalkan saya sendiri? Saya harus melakukan panggilan intercall... " Jimmy berkata.


Lutfi langsung berdiri dan meninggalkan ruangan. Mimik wajah senang dan senyum lebar menghiasi wajahnya.


Setelah keluar dari ruangan Jimmy. Lutfi mengeluarkan ponsel. Ia menekan nomer seseorang.


"Hallo... Lo besok ke teagarden di Greenbaymall jam 6 ya. Bawa assistant kamu yang pernah ikut dulu itu ya... "


"Kenapa? Ya mau nya boss saya gitu. Kamu tinggal nurut aja susah sih! Pokok nya ya.. Tanpa itu cewe, lo itu ga bisa ketemu BigBoss gw.!"


Nada suara lutfi berubah meninggi. Sepertinya lawan bicaranya tidak suka dengan keinginan Jimmy.


*******


"Makasih ya kak, udah di bayarin makan malam. Kenyang banget rasanya... Besok pas gajian, gantian aku ya.... " Aku berkata kepada yofie.


"Cath santai lah.... Kakak seneng ada temen makan. Oh iya, besok temenin kakak ke kota mau? Kakak ada undangan pameran, nemenin nonton aja..."


"Besok aku kerja kak... Maaf ya kak, pengen sih, tapi maaf kak..... " Aku meremas tali tas slempangku.


Rasanya kesal tidak jadi pergi dengan Yofie. Aku pun berpamitan kepadanya.


"Kak... Aku masuk dulu ya... Bye... "


"Tunggu Cath... " Yofie menahanku, aku pun membalikkan badanku.


"Selamat istirahat Cath... Terima kasih buat malem ini.... "


Wajahku menjadi merah mendengar kata - katanya. Aku menahan senyumku, malu rasanya mendengar Yofie berkata demikian.


"Iya kak... Aku istirahat dulu ya... " Aku pun meninggalkan Yofie smdi teras rumah.


Aku masuk ke dalam dan berdiri di depan pintu kamarku. Aku baru saja menggenggam gagang pintu. Namun seseorang dari dalam membuka nya lebih dulu.

__ADS_1


"Cathrineee!!! Kamu kok ga bilang kalo dateng.... " Jessy menggagetkanku. Ia langsung memelukku amat erat.


"Iya Jess... Maaf pulsaku habis, jadi aku ga bisa sms kamu... Heehee... " Aku menepuk pundaknya saat kami berpelukkan.


"Ah... Kamu nih, udah masuk ayok.. Kamu harus cerita apa aja yang terjadi di rumah... " Jessy menarik ku masuk ke dalam kamar.


aku pun duduk di tempat tidurku. jessy menyusulku duduk di sampingku. sepertinya lebih baik aku berbicara seperlunya dengan Jessy.


"gimana mama - papa Cath? sehat? terus gimana disana... apa keadaannya lebih baik? ah lo harus cerita Cath... "


"..... " dalam pikiranku, ngapain gitu cerita ke dia. engga ada faedah dan engga ada untungnya deh.


aku tersenyum lalu berkata, "semua sehat jes... engga kekurangan suatu apapun kok. dan juga semuanya baik baik aja..lo sendiri kemana aja jes? kok daripagi gw dateng lo engga ada... "


"ah.. emm... gw tu pergi sama temen. soalnya gimana ya, gw sendirian ga betah disini. lo sih pergi sm kerja mulu... " jawab Jessy sambil terbata - bata.


"oh gitu, uhm... gw sih kalo ga kerja gimana dapet duit Jess? oh iya, kemarin pas di rumah. gw liat berita, ada artis baru yang kegrebek sama artis senior di kamar apartement.. yang bikin gw aneh, baju nya itu artis persis sama punya lo.. itu bukan lo kan?" aku langsung menembak pertanyaan.


"itu benernya gw Cath.... dia tu lawan main gw, cuman pas kejadian.... gw lagi latian sama dia. istilahnya tu Pendalaman peran. tapi orang kan mikir nya udah beda. padahal gw ga serendah pikiran mereka... " wajah Jessy berubah jadi sedih.


"harusnya lo seneng Jes, kalo ada kasus gini kan nama lo bisa naik. malah menurut gw lo yang nanti nya bakalan untung juga."


"menurut lo gitu? emang sih abis itu ada tawaran beberapa job buat gw... "


aku menepuk pundak jessy.


"udah lah Jes... apapun yang mereka omongin soal kamu, anggap mereka itu bukan yang menjalani. jadi go a head! maju ajalah, lo juga engga nyuri... "


"thanks ya Cathrine.... thanks selalu mikir dan ngasih input positif ke gw.." jessy memelukku dan meneteskan air mata.


"sure jes... that's friend are for... " aku menjawab.


"besok sore ikut gw jalan - jalan ya... gw pengen neraktir lo makan. soalnya kemarin gw dapet banyak Job. bayaran gw juga udah cair... pleaseee... bisa ya..."


aku langsung melepaskan pelukan Jessy. "besok gw kerja jes... bisa pun gw berangkat abis balik jam 5 sore... gimana?"


"engga papa Cath... kita nanti naik taksi aja... tempat nya tu jauh soalnya..."


"lah, kalo cuman mau bayarin gw makan. ngapain mesti jauh Jes... banyak makanan enak disekitar sini. kenapa jauh kesana segala?" aku menggenyitkan dahi.


"udah gw pengen bayarin ke tempat makan yang mahal. dan... belum tentu lho si anak tante kost bisa bawa kamu makan kesana...


udah aku jemput besok di warung.... " jessy berdiri dan pindah ke tempat tidurnya.


"jes.... apa engga aneh? mau ngajakin makan tapi, kan baju kerja gw pasti baju yang kurang bagus... bau lemak dan kotor... "


Jessy malah diam dan sedikit tersenyum. "ya gimana? gw pokoknya mau ngajak kamu kesana. dan kamu harus ikut. ga peduli usaha kamu gimana.... "


aku merasa tidak enak.


"udah gausah jes. next time aja lah, lo pergi sama temen - temen hang out lo aja. gw biar kerja dan istirahat. soalnya kepala gw pusing, masih mabok darat gw... " aku kemudian masuk ke kamar mandi.


aku menyalakan kran air panas. tapi aku tidak mandi, aku hanya membasuh tangan, kaki dan wajahku. aku kemudian diam dan berfikir.


'pasti ia merencanakan sesuatu. ia begitu memaksaku untuj ikut. pasti Jessy punya tujuan khusus.. lagipula, ia sudah lama tidak pulang kesini. bahkan pakaian nya pun sudah tak pernah ia sentuh... '


aku kemudian mematikan air dan mengambil handuk. aku menyeka wajahku dan keluar dari kamar mandi.


betapa kagetnya aku saat Jessy akan pergi. ia bersiap untuk pergi. tapi hampir membawa semua barang nya.


"lo mau kemana? udah malem jes... dan juga... lo mau pindah?" aku bertanya.


"gw mau ke apartemen laki gw. oh iya gw ninggal beberapa baju disini. kalo lo mau bisa pinjem. soal uang kost, laki gw udah bayar sampe 5 bulan kedepan. jadi lo tempatin aja ya, gratiss... " nada bicara Jessy seperti merendahkanku.


"oh gitu, makasih Jess.... lo bakalan balik ga? dalam waktu beberapa hari atau minggu."


jessy sibuk dengan semua barangnya.


"mungkin... tapi gw ga tau juga sih. kalo laki gw ngajak travelling ya.... bakalan lama... hahhaa... ya ampun bahagianya gw... dapet pacar sebaik dia.. liat ni kalung gw, hadiah lho dari dia.. yaampun... "


jessy memperlihatkan kalung dengan inisial J. kalung yang melingkar di lehernya. memang bagus, tapi membuatku silau.


"selamat Jes... semoga lo bahagia selalu ya..."


"pasti Cath... gw ga bakalan salah pilih. cowo seloyal ini, ga bakalan gw lepass.... " jessy melanjutkan packing.


semua barangnya hampir masuk ke dalam kardus dan tas.


"butuh gw bantu?" aku berdiri di dekat barang Jessy.


"eh gausah, nanti lo capek lagi. besok pokoknya lo harus ikut. gw ga mau lo engga ikutan. soalnya gw kangen dan pengen makan sm lo... pemandangannya bagus lagi.... "


aku hanya mengangguk, jessy meninggalkanku. pintu kamar aku tutup dan kunci.

__ADS_1


lalu aku membaringkan badanku, lelah sekali badanku.


lebih baik aku tidur, besok aku mulai kerja lagi. dimana aku harus bisa dapet duit tambahan lagi. utang udah nunggu depan mata.


__ADS_2