
"Terus! Aku engga boleh kebawa perasaan sedih? Harus seneng doang saat sama kamu?!" Aku berbicara keras.
"Ya! Karena itu ada di perjanjian kita! Untuk tidak membawa masalah pribadi dalam hubungan kita." Jimmy membalas keras.
"Oh.. Lalu? Selama ini apa? Kamu lupa kalau kita terlalu jauh mencampuri urusan pribadi kita masing - masing!"
"Kamu....." Lalu Jimmy diam.
"kamu ngga paham Jimmy! aku itu sial! selalu sial! entah soal cinta, soal terlahir dari wanita seperti apa! paham!" aku membalas Jimmy.
Ia mengalah lagi atas sifatku. Aku hanya ingin dia bersimpati sedikit saja kepadaku. Bukan menyalahkan ku atau malah marah.
Kami pun berhenti di area parkiran apartement. Jimmy masih menyalakan mesin dan mengunci pintu.
"Sudahlah. Aku ngga mau ribut. Sekarang bilang apa yang kamu pengen." Jimmy membuka.
"....... "
Aku diam, aku jujur takut dan malu mengakui kalau aku cemburu.
"Cathrine... " Jimmy memanggil dengan halus.
"..... " Aku masih diam termenung.
"Chatrine!" Suara Jimmy meninggi.
"Aku cemburu!! Kamu ngga tau kan? Apa yang udah aku alami di masa lalu. Bagaimana orang memperlakukanku. Lawan jenis memperlakukan aku seperti apa?!" Aku menjawab dengan suara tinggi.
"..... " Mata Jimmy melotot. Giginya mengertak, terlihat dari rahang nya yang tegas.
"Bagaimana jamanku SMA dulu, aku di tinggalkan oleh pria keren. Demi perempuan cantik anak Cheers! Bagaimana fisikku si buruk rupa. Hari ini aku harus menerima kenyataan, wanita seperti itu yang melahirkanku. pergi ke pelukan cinta pertamanya! bahkan sedetik pun aku ngga ada di hati atau pikiran kamu...Aku cuman menemani hari - hari mu aja! Ngga lebih...... " Aku berkata sambil bergetar menahan emosi.
"Hmm... Cathrine... Aku rasa kamu ngga bisa.... "
"Ngga bisa gantiin Mira, ngga bisa ada di hati kamu, ngga bisa jadi istri kamu. Udah kita hidup bareng aja. Titik. Iya kan. thats the point!" Aku memotong Jimmy.
Aku merasa tak kuat, aku membuka pintu mobil. Aku lalu pergi keluar meninggalkan Jimmy.
Yah, aku berjalan jauh. Meninggalkan pria itu sendiri. Aku cuman butuh 'me time' sendiri.
Pengen menenangkan diriku, aku cuman butuh waktu menerima keadaanku. menangis sesaat untuk kembali bangkit.
Aku memilih duduk di bangku bagian belakang taman. Ada area parkir motor dan dekat dengan rumah ibadah.
entah mengapa, setiap aku suntuk. tempat ini selalu memberiku rasa tenang. m
Aku menundukkan kepalaku, aku memikirkan kalimat yang keluar dari Jimmy sejak pagi.
Sore hari di tutup dengan pria yang menjadi pacar mama. Hari apa sebenarnya?!
"satu sisi gw seneng, Mira itu bukan saingan gw nyata. dia bahkan uda ngga ada, tapi..cara Jimmy memperlakukannya? gw juga lega, perempuan itu bener mama. tapi kenapa mama bertingkah serendah itu! meninggalkan kami! ya Tuhan... " aku bicara sendiri.
"Apa salah aku mencari tahu dia mama atau bukan? Lalu, kenapa sesakit ini Tuhan! rasanya sakit, mengapa ia tidak mengakui aku.." Aku mulai sambil menangis.
"Apa mama malu memiliki anak sepertiku? Fisikku tidak secantik mama ? Ya! malu,semua orang malu memilikiku. ngga ada yang bangga dengan adanya aku...bahkan...jimmy??" Aku masih berbicara sendiri.
"Mira....mira....mira... Ya... Cuman dia di hati Jimmy. Apa bedanya Jimmy dengan Michael! Sama - sama mempermainkanku. Memberi angin surga, membawaku melayang. Lalu menjatuhkanku sampe ke tanah! Bodoh kamu Cathrine! Bodoh!!!!" Aku memukul kepalaku sendiri.
Dalam kesedihan ku, aku merasakan esosok menarikku masuk ke dalam pelukannya.
aku masih menangis dalam pelukan orang asing itu. Aku hanya mencium aromanya, ini parfume Jimmy.
Aku tak tahu bagaimana ia bisa menyusulku. Padahal aku sudah berlari memutar agar dia tak menemukan ku.
"Maaf....... " Bisik Jimmy di telingaku.
"Jahat kamu! bukan!? aku...ya Aku salah Jimmy, aku terlalu kebawa perasaan sama kebaikan kamu!" Aku membalas.
"Ssst.... Tenangkan dirimu dulu.... " Jimmy memeluk diriku makin erat. Ia juga mengecup keningku.
"Aku... Aku mulai mencintai kamu Jimmy! Aku bodoh... Aku salah..... " Aku menangis.
"Ssst.. Cathrine.... Sudah..... " Lalu jimmy melepaskan pelukannya.
Ia menghapus air mataku, membelai pipiku. Aku tak berani menatap wajahnya, ia malah mengecup keningku.
"Liat aku Cath... Please... " Jimmy membujuk.
Aku menatapnya dengan mata sembam. Ia tersenyum kepadaku, wajahnya terlihat dewasa. Aku malah makin bergetar dan jantungku berdebar kencang.
"I love you, aku juga mencintai mu Cathrine...." Ucap Jimmy.
"Apa? ngga usah sok menghibur dan please jangan ngerjain aku. Atau mengatakan hanya karena kamu kasian kepadaku.... " Aku menepis Jimmy.
__ADS_1
"No... No.... Honey.... Please.... Aku hanya belum siap membawa kamu ke kedua orang tuaku. Banyak hal yang kamu belum tahu soal aku. Apalagi trauma ku, aku merasa hal yang berbeda saat pertama kita jumpa. Apa kamu masih ingat?" Ucap Jimmy lembut.
"Adegan Tabrakan... " Jawabku sambil mengelengkan kepala. Aku bahkan lupa kapan pertama melihatnya. Seingatku, saat aku syuting dengan adegan tabrakan.
"Bukan... Saat itu kamu duduk di depan sebuah ruangan kaca. Dan hanya kamu yang berani duduk disana. Saat itu aku merasa terganggu, tapi.... Berbeda saat pertama kali aku menatapmu..perempuan yang cuek melihatku di tempat syuting. Kamu inget?" Tanya Jimmy.
aku mencoba mengingat. aku bahkan tak menyadari kehadirannya di lokasi Syuting. bagaimana kami bertemu, yang aku ingat hanya pak Teddy yang memberiku obat saat aku jatuh di salah satu Sceen.
"Aku lupa... Aku malah ingetnya pak Teddy yang pertama ku temui." Jawabku polos.
"Aku masih ingat jelas, aku melihatmu beberapa kali. Tapi, kamu sama sekali tak pernah menyadari ada orang yang melihat dari jauh..... "Jimmy membelai rambutku.
"Jangan ngegombalin aku deh, males. udahlah..." Aku menjawab.
"Aku hanya jujur Cathrine. Soal mama kamu, biar kamu dengan bertambah hari dan umur. Pasti akan mengetahui kenapa mereka berlaku demikian. Apa yang terjadi juga di luar kuasa kamu.. Apapun itu, Bagaimana pun dia mama kamu.... Soal Mira, kalau kamu tahu....
huft.... kedua orang tuaku tidak merestui kami. karena dia perempuan biasa aja. engga punya keahlian lain.
juga statusnya saat itu, membuat keluargaku membencinya.... " Jimmy berkisah.
" itulah kenapa,Aku pengen kamu belajar dengan giat. Biar kamu kerja di perusahaan baik. Agar aku bisa membawa mu pulang. Memperkenalkan kamu dengan bangga, bahwa istriku orang berpendidikan. Wanita baik - baik, bukan artis atau model majalah dewasa.... " Jimmy menepuk tanganku.
"...... " Aku memperhatikan Jimmy.
"Itulah kenapa, aku ngga akan membawa kamu pulang atau menjadikan kamu istri secara resmi. Sebelum kamu kerja dan menjadi sarjana. Biar waktu yang membuat kita makin kenal dalam.. Dan.... Saat aku membaca kalimat love dari kamu...
jujur aku takut buat bilang hal itu. kalimat Cinta di negaraku itu dalam sekali maknanya. bukan hal yang mudah di katakan lalu di lupakan.... " jelas Jimmy.
"aku tidak menghubungimu, Aku berfikir mencari tahu, apa benar rasa yang ada di hatiku sama. Aku juga bukan pria yang bisa gampang bilang cinta.. sorry.... "
"Maaf......" ucapku.
"by the way...puncak hubungan terbaik adalah memaafkan dan mengalah. terima kasih Cathrine." ucap Jimmy dengan senyuman.
Aku baru mengerti yang terjadi dengan Jimmy. ia begitu mencintai dengan dalam, hingga ia terluka dalam juga.
"Intinya, ya aku cinta kamu. Tapi aku ngga suka bilang cinta cinta cinta setiap hari. Kamu lulus kuliah, punya pekerjaan, aku ajak kamu ke keluargaku. Dan kita hidup bersama seperti suami - istri saat ini... Mengerti?"
"Iya..... " Aku menahan senyum dan mengangguk kan kepala.
"Kenapa wajahmu?" tanya Jimmy.
"Sst... Aku malu..udah ah... " Aku menjauh.
"Ayo pulang.... " Jimmy menarikku dan mengajakku pulang.
Kami pun berjalan bersama, ia merangkul pundak ku. Memberi ku kenyamanan, aku hanya berharap ini tidak berakhir buruk.
Tiba - tiba ada pesan masuk ke ponselku.
Inez : cath. Besok kita ketemu ya, sama Nicky juga. Dimall KG, jangan di mall yang tempat gw kerja.
Me : ok, tapi lo yang ngabarin Nicky ya. Gw lama ga kontak. Diapartement juga ga pernah ketemu.
Inez : udah, malah dia yang pertama kontak gw. Seeyou..
Aku lalu meletakan ponselku di atas meja. Aku daritadi sibuk membalas pesan Inez. Bahkan tidak menyadari sudah sampai di unit kami.
"Siapa?" Tanya Jimmy.
"Inez, besok ngajak aku ketemuan di Mall KG. Deket sih, ngangkot sekali udah sampe. " Jawabku santai.
"Ngga mau di anter Pak Teddy?"
"Uhm... Aku ngga tau kamu besok sesibuk apa. Kalo di anter, aku takut merepotkan... " Jawab ku.
Jimmy pun kembali sibuk dengan pekerjaannya. Besok hari senin, hari yang di benci semua pekerja.
Begitupun Jimmy, entah hingga pukul berapa ia bekerja. Aku sudah lelah dan meninggal nya tidur dulu.
Saat pagi tiba, Jimmy pun sudah siap berangkat. Ia bahkan hanya makan roti lapis buatanku tanpa banyak berbicara.
Ia terlalu sibuk mengejar macet senin pagi. Sibuk dengan dunia yang belum aku pahami.
*******
Seperti biasa, aku datang paling pertama saat janjian. Aku menunggu di depan toko yang menjual gelato.
Aku memperhatikan orang lalu lalang di hadapanku. Tak lama aku melihat Jessy dari jauh.
Aku lalu mengikutinya di belakang. Aku penasaran kemana ia pergi, lalu Inez menepuk pundakku.
"Eh.. Ngangetin ah!" Aku kesal berbicara ke inez.
__ADS_1
"Ih, sensi amat Buk!" Inez membalas.
"Sst.. Gw lagi ngikutin temen gw. Dia dulu artis, bukan juga si.. Cuman lo pasti kenal dia deh... " Jawabku.
Aku lalu melihat lagi ke arah Jessy berjalan. Sial, ia menghilang dengan cepat.
"Yah ilang kan.... Lo sih!" Aku kesal.
"Tunggu deh, segitu pentingnya ? Sampe lo kudu nemuin dia.?" Inez bertanya.
"Engga si, cuman tu cewe tu. Gimana ya, antara gw harus ya marah sama berterima kasih... Berkat dia juga, gw ketemu sama pacar gw.. "
"Halah... Palingan juga dia udah lupa apalagi dia uda jadi artis.. " Inez membalas.
Baiklah, kami akhir nya pergi bersama. Kami menuju cafe yang cukup enak untuk berbicara.
"Eh, Nicky kemana? Kok belum dateng?" Aku melihat ke arloji di tangan.
"Harusnya sih udah, cuman dia bilang nelat... " Jawab Inez.
"Eh, lo gimana? Betah sama yang punya toko?" Aku kepo dengan pekerjaan Inez.
"Lumayan, nah.. Gw mau cerita. Boss gw tu abis lo balik kapan hari tu dateng. Terus temen gw yang laki tu lho.. Ngobrol sama boss, yang gw denger temen gw kenal lo... "
"Kenal dimana? Gw aja baru liat dia kemaren... " Jawabku.
"Bukan.. Dia lihat foto lo, dari boss gw." Inez menjelaskan.
"Bentar.. Foto gw? Emang siapa sih boss yang punya.. ? " Aku penasaran.
"Boss gw namanya Yofie, istrinya yang modalin dia toko itu. Kalo boss gw yang cowo beruntung banget punya bini cantik, kaya, cinta mati lagi sama dia.. " Inez bercerita semangat.
Aku kaget dan terdiam, mendengar Inez bercerita.
Dalam hatiku, ada rasa sesak dan aneh. Kenapa bisa bertemu lagi dengan mereka.
"Terus tahu ngga? Masak gw suruh bawa lo ke toko. Atau ngaturin boss gw ketemu sama lo. Gila kan?"
"Terus... Terus lo bilang apa? " Aku panik dan jantungku berdetak tak beraturan.
"Ya gw bilang aja.. Ngga bisa lah, kan boss gw udah punya istri. Lo juga gw ceritain udah punya suami.. " Jawab Inez.
"Iya bener lo jawab gitu aja... " Aku lega mendengar nya.
"Jangan tenang dulu.. Gw tu sampe nanya ke Nicky lho.. Ada apa antara lo sama boss gw?"
"Girls sorry telat..... " Nicky datang langsung duduk di antara kami.
"Ngga apa - apa, janjian sama Eksekutif muda emang susah apalagi fans nya banyak.. " Jawab Inez.
"Cemburu?" Nicky membalas.
"Ish.. Ke-pe-de-an... " Inez menjawab.
"Sorry, uda pada pesen duluan ya.. Bentar, lo cerita abis gw pesen.. " Nicky meninggalkan kami.
Ia pergi ke kasir dan memesan beberapa menu. Tak lama ia kembali lagi dengan membawa pesanannya.
"Nah... Sekarang lanjut.. Gw juga penasaran... " Nicky berkata.
"Udah.? Dia itu gimana ya.. Anak tante kost dulu. Ya.. Ehm... Kita pernah deket gitu.. Cuman engga pacaran, dia ngomong suka sama gw. Cuman gw takut.... " Aku mencoba menutupi apa yang terjadi.
"Yang bener?" Tanya Inez.
"Iya.. Soalnya gw tahu, pacar Yofie tu freaky banget.. Gw takut sumpah, cemburunya keterlaluan. Malah gw pernah sekali liat mereka berantem ngeri. Sampe bawa pisau dapur... Hii, takut gw... " Aku bercerita.
"Tapi dia tahu? Lo uda nikah?" Tanya Nicky.
"Eh, gw belom merit kali sama Jimmy. Ya gw emang hidup sama Jimmy. Tapi, gw belom nikah sama dia... " Aku menjelaskan.
"Hmmmm... Seterah deh... " Nicky menjawabku.
"Terus, nikahan Yofie gw dateng kok sama Jimmy. Tapi ni.. Tapi, Jimmy tu cemburu kalo sama tu orang. Entah kenapa, mereka kalo ketemu pasti suasananya ga enak.. "
"cemburu kali Jimmy sama si Yofie itu.. " inez menjawab.
"entah.. gw ngga berani sok pede mikir gitu." aku menjawab.
"eh tapi, lo di bayar layak kan disana?" Nicky balik menanyai Inez.
"tu yang gw mau cerita. jadi, bisa di bilang boss gw ga peduli barang ada laku apa engga.. gw tetep utuh aja di gaji. padahal udah seminggu gw ga jual apa - apa.. " Inez menjawab.
"lah.. lo harus nya seneng lah.. tetep dapet duit utuh..itu baru boss.. . " Nicky berkata sambil memakan cake di hadapannya.
__ADS_1
aku pun hanya mengangguk. aku sebenarnya menghindari pertemuan atau hal yang menyangkut Stacy. apalagi, dia hilang akal soal percintaannya dengan Yofie.