CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
27


__ADS_3

Aku menyalakan shower, air dingin langsung menyentuh tubuhku. Tak berapa lama air menjadi hangat. Rasanya nyaman sekali, rilex dan sakit di kaki serta perut pun agak berkurang.


Tok.... Tok... Tokk.... (Suara pintu di ketuk).


"Apa?? " Aku berteriak.


"Jangan mandi dengan air dingin. Pakailah air hangat... " Ucap Jimmy yang aku dengar samar - samar.


"Yaaa...! " Jawabku.


20 menit berlalu......


Aku membuka pintu, aku melilit handuk untuk menutup tubuhku.


Jimmy menungguku sambil menonton tv. Ia sudah menganti pakaiannya dengan kaos polo dan celana 7/8.


Sepertinya aku pertama kali melihatnya seperti ini. jujur ia tampan dan gagah. seperti tipe fisik pria yang aku sukai.


"Sudah? Pakailah baju mu, ayo kita sarapan..." Jimmy berbicara tapi tidak memandangku.


aku mengangguk dan mencari tas yang tadi ia beri. rupanya ada di dekat kaki Jimmy.


Aku mengambil salah satu tas. Lalu aku memilih baju yang ada. Kaos berwarna putih dan celana pendek. Itulah pilihanku.


Aku masuk kembali ke dalam kamar mandi. Aku menutup dan mengunci pintu, lalu aku mulai melepas handuk dan berganti pakaian.


rasanya malu buatku membuka pakaian di hadapan pria. walau ia sudah melihat semuanya, buatku ini aneh mengganti pakaian di hadapan pria.


Tak lama aku keluar dari kamar mandi. Aku lihat Jimmy sibuk dengan tablet di tangannya.


Aku pun tidak mau menganggunya, aku memilih keluar ke arah balkon. aku pikir bisa mendapat sedikit udara segar.


aku membuka dan berjaln ke arah balkon. cukup luas namun banyak tanaman hijau kecil. ada dua buah kursi dan meja disana. adapula tempat menjemur pakaian.


Apartemen ini luas dan memiliki balkon yang cukup besar. Aku baru kali ini masuk ke salah satu apartemen. biasanya aku hanya melihat dari drama televisi.


Aku melihat ke bawah, tinggi dan suasananya tidak ramai. ada kolam renang di daerah pojok kanan tower Jimmy.


tapi di bawah ini lebih banyak taman dan terlihat beberapa mobil yang parkir.


"Hati - hati. Kamu bisa jatuh!" Suara Jimmy mengangetkanku.


Aku langsung membalik badanku. Kini Aku bisa melihatnya dengan jelas, wajah nya cukup manis dan rahang yang kokoh juga.


Ia mendekatiku perlahan, aku justru mundur hingga menabrak tembok pembatas. lalu telapak tanganku mencari pegangan.


Aku takut ia akan melakukan apa lagi kepadaku. jantungku berdegup kencang aku harap ia tidak mendengarnya.


Jimmy mengulurkan tangannya di hadapanku. "Ayo kita pergi makan. Aku bawa obat penahan rasa sakit jika kamu butuh... "


Aku hanya diam dan melihat telapak tangan Jimmy. Tangan itu yang pertama menyentuh tubuhku saat ia menciumku.


"Kamu tahu dari mana kalau perutku sakit.... " Aku berkata lirih sambil memandang tangan Jimmy.


"Dari temanku yang seorang dokter. aku bertanya kepadanya, tentang reaksi perempuan saat hal itu terjadi. lalu, Ia memberiku obat yang menurutnya aku pasti memerlukan... " Jawab Jimmy.


"jadi, kamu eh Bapak sudah menyiapkan hal ini? persiapan bapak detail sekali. mulai dari Baju sampai obat... " aku masih malu memandang Jimmy.


ia diam sesaat, lalu Jimmy berkata. "bukan cuman kamu yang merasa aneh. aku pun begitu, aku tak pernah tidur dengan wanita yang tidak aku kenal. aku hanya mencoba menyiapkan apa yang memang kamu butuh."


Aku memberanikan diri menaikkan kepalaku. Aku memandang pria Asing dihadapanku .


Aku lalu meraih tangan Jimmy. Ia mengenggam tanganku, dan kami pergi keluar dari kamarnya.


Lalu kami turun menggunakan lift. Ia kembali berhenti di lantai 7.


Pintu lift pun terbuka, pasangan yang kemarin kami temui lagi. sungguh Jodoh bisa bertemu kembali dengan mereka.


Mereka masuk ke dalam lift bersama kami. Jimmy mengetahui jika aku merasa kurang nyaman.


Ia memeluk pundakku dan menepuknya. Lalu aku memandangnya, ia malah mencium keningku.


"Relax.... Anggap kamu bersama pasanganmu... " Bisik Jimmy di telingaku.


Aku pun membalas dengan tersenyum.


Kali pertama dalam hidupku, ada pria yang memperlakukanku dengan baik.


Pria Asing misterius yang membuatku tersenyum dan hatiku merasa hangat.


************


Kami makan di salah satu stand makanan pagi yang ada di sekitar apartemen Jimmy. Tempat yang tidak terlalu besar tapi cukup ramai.


"Bubur Ajalaa.. " Aku membaca papan nama di atas kedai tersebut.


"Ayo, ini enak... " Jimmy masuk ke dalam dan duduk di salah satu meja.


Aku menyusul nya dan duduk di sebelah Jimmy. Kursi disana berbentuk persegi. Namun jika kami berhadapan ada pengunjung lain yang kesulitan masuk.


"Duduklah disini, aku akan memesan." Jimmy lalu meninggalkanku.


Ia mendekati pria muda yang berada di belakang meja saji.


"Mang, 2 ya komplit... "

__ADS_1


"Hei Bro... Iya 2 komplit ya..." Jawab penjual tersebut.


"Eh, siapa tu mas? Kenalin dong, bening nih pagi - pagi liat cewe.. " Ucap salah satu pegawai di kedai.


"Iya gimana ya, aku kenalkan kapan kapan saja.. Saya bawa ya ini nampan." Jimmy membawa baki berisi dua porsi bubur.


Ia berjalan menuju meja kami. Aku melihatnya refleks berdiri dan membantunya.


"Sudah terima kasih... " Ucap Jimmy meletakan di atas meja.


Aku menunggu Jimmy selesai memindahkan dan mengembalikan baki ke meja kasir. Aku merasa sungkan, dia adalah bos malah melayaniku.


Saat Jimmy kembali dan duduk di hadapanku, aku berkata.


"Kamu kan bos saya, masak saya malah di layani begini... "


"Santai, makan saja bubur itu. Ini ada kandungan gingseng yang baik buat recovery kamu."


Kami pun makan pagi itu. Bubur yang enak, namun terasa aneh di lidahku. Menurut Jimmy jangan menggunakan kecap manis. Karena bisa merusak rasa.


Ada rasa gurih dari sesuatu, tapi bukan ikan atau ayam. Ada hangat di perut dan tenggorokan. Rumput laut? Tofu.?


"Kenapa? Aneh? " Tanya Jimmy.


"Engga kok, cuman agak aneh aja gitu.. Tapi enak kok ini... " Jawabku.


"Jadi, kamu acaranya kemana?" Tanya Jimmy.


"Pulang mungkin ke kost. Karena warung kerjaanku masih tutup sampai belum tau kapan.... "


Kringg.... Kring.. (Ponselku berbunyi)


"Hallo ma...?"


"Kakak! Kamu engga papa? Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu? Kamu dapet kontrak film?"


"Ehm.... Engga ma, kakak kerja di..... Di PH nya mah, jadi assistant Boss nya... " Aku bicara perlahan agar Jimmy tidak mendengar.


"Wah, syukurlah kak. Kalo gini, mama bawa ke dokter papa. Siapatau nanti bisa operasi.. Sama uang sekolah adek kamu udah mama bayar kak... "


Aku menghapus air mata, aku senang keluargaku bisa membayar kebutuhan mereka. Walau pun aku harus berbohong demi keadaanku.


"Iya ma, sudah dulu ya. Aku mau berangkat... Bye ma... "


Aku menutup panggilan mama.


Kemudian Jimmy memandangku, aku masih diam melihat ke ponselku. Betapa aku berdosa harus berbohong. Setelah ini, pekerjaan apa juga aku belum tau, mendapat upah berapa aku juga ga tau.


"Jadi? Berangkat kemana?" Tanya Jimmy.


"Sudah ayo kembali ke unitku. Kita bicara lagi... " Jimmy lalu berdiri dan menarik tanganku.


*********


Jessy keluar dari kamar. Ia telah siap pergi dengan Budiawan. Artis senior yang kini menjadi pacarnya.


"Jes... Cathrine uda balik?" Yofie muncul dari tangga.


"Eh kak, ngangetin ah kamu... Belum balik. Engga balik kali sampe kapan tauk.. " Jawab Jessy dengan cepat.


"Eh kemana kamu? Bisa cariin Cathrine. Kakak sms dia dari semalem engga di balas... "


Jessy menghentikan langkahnya, wajah nya terlihat kesal.


"Kak... Cathrine itu udah gede ya. Jadi udahlah, dia bisa cari jalan pulang sendiri. Kenapa kakak mesti repot?"


"Bukan Gitu Jess... Ya udalah kakak tunggu dia aja... Thanks.. Hati hati.... "


Yofie duduk di ruang tamu. Ia lalu berfikir kemana lagi ia mencari Cathrine.


"Sayaanggg...... " Suara stacy dari luar.


"Ah wanita ini lagi.... " Umpat Yofie.


"Pagi sayangku, ni aku bawa bubur manado kesukaan kamu. Mari makan sayang, aku bawa banyak untuk calon mertuaku juga... " Ucap Stacy.


Ia langsung menuju ke ruang makan.


Yofie dengan wajah kesal menyusulnya. Sebenarnya Yofie sudah lelah dengan stacy, ia ingin menyudahi hubungan ini. Namun keluarga mereka ingin Yofie menikah dengan sesama orang daerah asalnya. Manado.


*********


aku duduk di sofa samping tempat tidur Jimmy. ada petugas yang sedang membersihkan kamar Jimmy.


Jimmy meninggalkan ku, ia berbicara di balkon dengan seseorang lewat ponselnya. aku tak paham yang ia katakan. bukan bahasa inggris, bukan juga mandarin.


"salam kenal Bu, saya Bu Sumi... petugas yang bersih disini. ibu adalah istri Bapak Jimmy?" ucap perempuan yang menggunakan seragam dari petugas kebersihan.


"hah!?" aku kaget mendengar ucapan Bu Sumi.


"ia dia istri saya, tapi baru datang sekarang." Jimmy menjawab.


"baik Pak, sudah selesai bisa saya tinggal ya?"


"baiklah Bu, pergilah.... terima kasih... " ucap Jimmy.

__ADS_1


Bu Sumi mengambil tas dan membawa kembali beberapa peralatannya. ia lalu pergi ke arah luar.


"saya permisi dulu. mari Bu... " ucap Bu sumi di ujung pintu.


"baik Bu... hati- hati. " jawab Jimmy.


lalu suara pintu tertutup, Jimmy langsung duduk di sampingku.


aku masih shock dan wajahku merah saat Jimmy ada di sampingku. aku mencoba menggeser posisi duduk ku, menjauh sedikit dari Jimmy.


"kenapa?" tanya Jimmy.


"apanya?" aku balik bertanya.


"apa aku bahaya? kenapa kamu menjauh begitu... ada bau badanku? atau?"


bagaimana cara aku berbicara ya. aku rasanya sungkan bersama dia.


"terserahlah. jangan lupa obatmu." Jimmy kesal.


"Sudah saya minum Pak.... Terimakasih... " aku menjawan Jimmy.


Tapi Jimmy malah membaca majalah. Ia seperti tak peduli dengan perkataanku.


"Pak... Maaf aku orang daerah dan aku mungkin polos. Aku jarang duduk bersama pria... Jadi aku refleks menghindar.... "


Jimmy masih diam tak peduli. Aku mengigit bibirku dan mengepal tanganku. Aku mencoba menenangkan pikiran dan hatiku.


"Kita sudah melakukan semalam. Masih terasa aneh buat kamu?" Ucap Jimmy.


"Iya pak..... " Jawabku.


Lalu Jimmy meletakkan majalahnya. Ia lalu melihat ke arahku. Pandangannya tajam seperti serigala.


Ia lalu menarik tanganku, lalu tangannya meraih pipiku. Ia mencium ku dengan cepat.


Jimmy langsung melepaskan ciumannya.


"Wajahmu merah, biasakanlah dengan apa yang aku lakukan." Ucap Jimmy dengan mengelus pipi ku.


Aku hanya mengangguk, Jimmy langsung duduk di sampingku. Ia membelai rambutku, pandangan matanya langsung berubah menjadi bersahabat.


"Kamu masih mau kerja di kantoran? Atau kerja betulan?"


"Iya Pak.. Saya masih pengen kerja dengan benar. Engga seperti semalam.... " Aku berkata.


"Mulai saat ini panggil Jimmy. Kamu harus ingat, aku tidak suka mendengar Pak atau Bapak dari mulutmu. Panggilah Jimmy.... "


"..... " Aku membalas dengan tersenyum dan mengangguk.


"Kalau kamu mau kerja seperti itu. Kamu harus sekolah lagi, atau kuliah lagi. Bukan cuman setingkat saat ini... "


"Iya aku tahu, tapi keluargaku masih butuh duit. Ayahku saja mau operasi jantung. Ibuku hanya berjualan di pasar, adik perempuan ku ia masih SMA kelas 1. Apa pantas aku hanya memikirkan diriku?"


"Hmm... Kalau kamu memilih, mau kuliah apa?" Jimmy membelai rambutku.


Aku membiarkan ia melakukannya, naluriku sebenarnya senang dengan apa yang ia lakukan.


"Ekonomi, atau psikologi... Sebenarnya aku ingin menjadi arsitek, tapi mahal dan tidak semua orang bisa sukses. Jika ekonomi, lapangan kerja buatku banyak... "


"Tapi hobi kamu masak kan? Dan bakat kamu juga aku lihat ada... "


"Hanya Hobi kok, belum tentu bisa memberi penghidupan buatku... " Jawabku dengan sinis.


"Jika aku bisa membantu, tapi aku minta kamu tinggal disini apa kamu mau?" Ucap Jimmy.


"Maksudnya??" Aku mengernyitkan dahiku.


"Ya, pertama operasi ayahmu. Kemudian modal usaha mereka dan terakhir kuliahmu. Jika aku penuhi semua, apa kamu mau tinggal disini?" Jimmy melipat kedua tangannya.


"Tinggal disini sebagai apa? Simpenan kamu? Atau jadi wanita penghiburmu?aku tak sudi..." Aku langsung menjawab dengan nada tinggi.


"Wanita yang tinggal bersamaku. Jangan emosi dulu, maksudku kamu membayar dengan tinggal bersamaku. Jika saat kamu sudah tiba kita bisa selesai.."


"Saat aku tiba?"


"Ya, kamu sudah lulus kuliah dan keluarga kamu sudah settle semua. Kamu merasa tidak butuh aku lagi. Kita selesai kan ini... " Ucap Jimmy.


"Tinggal bersama tanpa ikatan?" Aku mencoba menerka.


"Mungkin buat orang negeri ini seperti itu garis besarnya. Buat ku, cuman kamu penuhi kebutuhan di rumah. Kamu sekolah lagi, mau belajar apapun saya bayarin. Tapi 1 hal saya minta. Kamu komitmen, engga nilai sempurna tapi kamu selesaikan semuanya.... Hingga nanti kamu bisa cari kerja seperti kamu mau.... "


"Bagaimana cara membayar itu semua? Cuman tinggal disini dan melayani kamu?" Tanya Cathrine.


"ya... melayani seperti semalam, menjadi teman aku makan malam, pergi dan jalan - jalan...tapi kita tidak memiliki ikatan apapun... "


aku diam dan berfikir. ini kesempatan sebenarnya, aku bisa belajar banyak hal dari Jimmy. tapi, aku apa pantas?


"jimmy, apa pantas jika saya yang mendampingi? sedang saya tidaklah cantik... dan bagaimana orang tua saya kalo tanya pekerjaan saya... "


"pantas saja, yang menjalani kita. sejak awal aku cuman menuruti nuraniku, aku harus menolong kamu. bersembunyi dulu saja dari mereka. yang penting tujuan kamu baik.... "


"...... " aku binggung menjawab apa... apa boleh aku mengambil. tapi, ini kan sama aja aku menjual diriku.


"sudah, tak usah menjawab sekarang. aku paham, ini bukan hal yang cepat bisa kamu putuskan. tapi, aku selalu ada dan siap kita mulai kapapun kamu mau.....yang jelas, aku nyaman waktu kita bersama..." ucap Jimmy dengan wajah tenang.

__ADS_1


__ADS_2