
Aku terbangun pagi ini. Rasanya pinggangku masih pegal, lelah perjalanan ke kota. Tapi, ini hari dimana aku harus berangkat kerja.
Aku langsung bangun dan mengumpulkan tenagaku. Aku memejamkan mata sebentar. Aku mensyukuri istirahatku semalam. Semoga segalanya akan berjalan baik hari ini.
Lalu aku membuka kedua mataku. Aku berdiri dan masuk ke kamar mandi. Aku awali segala ritual pagi ku.
Tak lama aku selesai membasuh tubuhku. Segar dan rasanya jadi makin semangat menghadapi hari ini.
Aku mengambil kaos berwarna hitam dari dalam tasku. Kemudian aku mengganti baju tidurku.
Aku pun menyisir rambut dan menguncirnya. Aku mengambil tas slempang coklatku. Sepatu ku...
Aku keluar dari kamar, sepi sekali pagi ini. Aku melihat jam dari ponselku. "Udah jam 9 kok masih sepi gini ya?"
Aku berbicara sendiri.
Lalu aku berjalan keluar dan menutup pintu depan. Rupanya Yofie ada di teras.
Ia sedang mencuci motor kebanggannya. Aku pun berniat menyapa dia, bagaimana pun aku berhutang makan malam dengannya.
"Pagi kak.... Udah rajin aja.... "
"Cathrine... Udah mau berangkat?" Yofie membalas ku.
"Iya kak.... Lumayan buat tambahan... " Aku berjalan mendekati pintu pagar.
Tumben Yofie tidak memanggilku? (Aku berkata dalam hati).
Lalu aku membalikkan badanku dan menarik pintu pagar. Aku menutupnya dan membiarkan yofie sibuk dengan motornya.
Aku kemudian berjalan, menyusuri jalan setapak. Menuju pusat keramaian di depan.
Udara yang cukup cerah di pagi itu. Aku melihat dari kejauhan, Uda. Ia terlihat sendiri dengan motor bebeknya.
Aku percepat langkahku, aku menghampiri Uda. Aku tak banyak melihat isi dari tempat makanan yang dibawa olehnya.
"Uda.. Apa kabar?" Aku menyapa dan mengambil sisa lauk yang ada di atas kendaraannya.
"Ah... Datang juga kau. Aku sendiri hari ni, Uni sakit dari kemarin. cepatlah kau bantu aku. Ini banyak kali yang harus aku siapkan... " Ucap uda dengan wajah berpeluh keringat.
Aku cekatan membantu Uda. Semua aku bersihkan sisi piring yang kami gunakan menaruh lauk.
Aku menyapu dan lanjut mengepel semua sisi. Atas meja aku bersihkan dengan cairan khusus, agar sisa minyak yang ada segera hilang.
Uda sibuk menata semua lauk dan nasi putih pada tempatnya. Kami harus cepat karena beberapa pembeli sudah datang.
Aku langsung meletakan peralatan bersih - bersih. Aku membasuh tanganku dan cepat menghampiri Uda.
Wajah Uda amat panik beberapa kali ia membetulkan kacamatanya.
Ya, aku mengamati jika Uda panik ia pasti melakukannya.
"Bisa di bantu Bu?" Aku menyapa Ibu muda dengan hijap kuningnya.
"Bungkus lauk, rendang banyakin bumbu, lele pisah sambal dan kuah gulai banyakin." Ucap Ibu tersebut.
"Baik Bu.." Aku segera menyiapkan pesanan dan menaruh di sisi kasir.
Aku mengambil pulpen dan kertas. Aku mulai menulis total dari pesanan tersebut.
"Bu semuanya 25ribu saja. Ini totalnya..." Aku memberi nota ke Ibu tersebut
"Ya nih, pas uang saya. Makasih." Ibu muda tersebut pun mengambil bungkusan dan meninggalkan kami.
"Mba! Saya nih, rendang 5 sama ayam pop 3. Pake nasi porsi laki... " Bapak paruh baya mengagetkanku.
"Oh iya, baik pak... Saya bungkusin dulu.." Aku langsung mengambil kertas pembungkus.
Aku sibuk membuat 8 bungkus pesanan bapak tersebut. Rasanya hari ini Uda tak membawa lauk sebanyak biasanya.
Ini baru pukul 1.30 siang. Tapi lauk sudah habis semua. Biasanya aku masih duduk menunggu tamu.
Kini aku sudah menyuci semua tempat. Uda pun sudah sibuk menghitung uang. Apa kami akan tutup lebih cepat?
Aku pun menata seluruh piring di atas rak dapur. Aku mengeringkan tanganku, lalu aku mendekati Uda.
"Uda... Kenapa bawa lauk nya sedikit? Biasanya kita kan sampai sore... " Aku berkata dan duduk di salah satu kursi dekat kasir.
"Bagaimana lagi, Uni sakit. Saya ndak semangat mau jualan. Ini sajo di bantu si bungsu. Kalo indak sudah di rumah saja."
"Uni sakit apa memang? Dan sejak kapan Uda?"
"Entah lah, uni punya sakit diabet. Cuman indak tau tangan nya jadi kaku semua. Saya mau bawa cek laborat ato ke dokter Uni yang Indak mau... Kan repot jadinya." Jawab Uda sambil berulang kali menghitung uang.
__ADS_1
Lalu ia memberiku uang pecahan 50ribu. Kalau aku tak salah ingat, ia memberiku 2 lembar.
"Kau pulanglah saja. Sisanya Uda bisa urus kok. Besok datang seperti tadi ya... Semoga Uni cepat sehat. Kita banyak menolak pesanan, sayang sekali... "
Aku pun menerima pemberian Uda. Aku langsung memasukkan ke dalam saku celanaku.
"Baiklah Uda.... Saya pulang dulu ya... Permisi Uda... " Aku pun meninggalkan warung.
Aku berjalan menuju kost, hari yang masih siang. Aku melihat ponselku, baru pukul 02.30 siang. Akan kemana aku ?
Jika aku di kost, aku hanya berbaring dan malas malasan dalam kamar. Jika keluar sayang uang yang aku punya.
Jessy... Benar, aku punya janji dengan nya. Tapi aku sejujurnya malas untuk datang.
Sepertinya ia merencanakan sesuatu. Tapi, aku ga boleh berfikir negatif. Bagaimana pun ia temanku merantau dari desa.
Aku sampai di depan kost, namun aku bersembunyi di samping pagar. Aku melihat Jessy sedang berbicara.
"Tenang aja mas, aku pasti bisa bawa dia kok.. Asal pastiin aku dapet peran itu... Tolong aku mas...."
Hah?? Kedua mataku melotot. Apa maksudnya ini?!
"Tolong mas, aku butuh uang. Jika aku engga dapet uang, papa ku bakal masuk penjara mas.... Tolong lah...Aku masih punya adik yang harus aku nafkahi..." Jessy pun menangis.
Aku diam menatapnya dari jauh. Apa yang telah terjadi kepadanya? Kenapa ia berbicara dengan begitu menyedihkan?
Ia tapi tak pernah bercerita apapun kepadaku. Begitu kah keadaannya?
aku memberanikan diri mendekati Jessy. aku berjalan perlahan, aku lihat Jessy telah selesai berbicara.
"jess?? " aku memanggilnya.
"Cathrine.... lo udah pulang?" jessy membalikkan badannya dan menghapus air matanya.
"lo nangis?? " aku lebih mendekat ke Jessy.
"ngga.. jangan..! aku.... gw engga papa Cathrine. gw cuman kelilipan aja... mata gw jadi gatel.... "
aku pun diam, menghentikan langkahku. 'mengapa ia harua berbohong? jelas aku lihat ia menangis. kedua matanya basah dan merah.'
"Cath... nanti jam 4.30 kita berangkat ya. gw udah pesen taxi. ni gw mau ke atm dulu ya... bye... "
jessy langsung pergi melewatiku. ia berjalan dengan cepat, amat terlihat ia menghindariku. apa ada yang salah kepadaku?
aku berjalan masuk ke kamarku. aku menutup kemudian menguncinya. aku sedikit lelah, tapi aku lebih penasaran. apa yang Jessy rencanakan?
aku kemudian memilih baju dari dalam tas baju. aku mencari mini dress yang baru saja aku beli. baju yang tak pernah aku gunakan kemanapun.
akhirnya aku menemukannya. warna biru dengan dominasi warna putih terang. seperti corak awan di langit. agak aneh menurut Jessy, tapi aku suka dari pertama aku melihatnya.
aku mencium aroma tubuhku. ugh.. baunyaa... bau minyak dan lemak yang menumpuk. aku langsung berdiri dan mengambil handuk.
aku membasuh Tubuhku, membaluri dengan sabun aroma lavender. rasanya segar sekali, aku sebenarnya jarang mandi se siang ini.
biasanya aku mandi di malam hari. atau hanya sekali dalam satu hari. rasanya seperti saat aku masih sekolah. aku selalu mandi tepat waktu.
aku lalu mengeringkan tubuhku dan melilitkan handuk di dadaku. aku keluar dari kamar mandi. aku duduk di depan meja rias.
aku menyapukan bedak yang Jessy tinggal. bedak dengan merk Et***, berwarna pink. lalu aku mencari make up apa lagi yang ia tinggal. supaya bisa aku gunakan malam ini.
ada yang bentuknya cair dengan kuas di ujung. apa namanya ini? aku hanya pernah melihat Jessy menggunakan di kelopak dan bawah area mata.
aku memutar - mutar kuas tersebut. aku binggung bagaimana cara memakainya?
"duh, salah pake nanti rusak lagi, gw malah suruh ganti lagi... " aku langsung meletakan balik di tempatnya.
aku lalu menemukan lipstik yang tak pernah di gunakan nya. lalu aku membukanya, dan memakai di bibirku.
warnanya nude atau pink ya? yang jelas saat aku gunakan bibir ku menjadi lebih fresh. aku lalu tersenyum dan melihat ke kaca.
apa aku cantik? belum pernah aku dengar ada pria yang bilang aku cantik.
aku berganti pakaian dengan dress tadi. aku mengambil sisir dan mulai merapikan rambutku.
rambut ikal dan tidak terlalu panjang. aku harap dengan begini, aku tidak di anggap sebagai pembantu Jessy.
ya... seperti biasa, aku selalu saja di anggap pembantu atau assistant saat berjalan bersama Jessy.
din din... (suara klakson mobil).
"yaaa... " jawabku.
aku mengambil tas coklat favoritku. ya karena aku tak memiliki tas lain. jadi anggaplah ini tas yang paling aku suka.
__ADS_1
Aku melihat lagi ke cermin. Ya aku sudah siap, keadaanku tidak seperti pembantu.
Aku langsung keluar dengan setengah berlari. Aku mencari sandal yang biasa aku gunakan. Ah... Tidak pas sebenarnya, tapi gimana lagi, ini yang aku punya.
Sudahlah aku langsung memakai dan menuju pagar depan. Aku membuka dan keluar dari rumah.
Wow!!
Mobil sedan hitam panjang. Ini pasti jenis taxi mahal. Bagaimana bisa jessy memesan ini?
Kaca belakang pun terbuka, aku melihat Jessy menurunkan kacamata hitam nya. Kerennya dia.
"cepetan masuk, lo mau berdiri melonggo doang??"
"Ah iya sebentar... Kaget aja.." Aku langsung masuk ke dalam taxi.
Aku melirik ke arah Jessy. Ia sepertinya menyadari aku melihatnya penuh tanya.
"Kenapa? Liat gw kok gitu amat?"
"Duit dari mana jess? Gw tau ni taxi tu mahal tarif sama manggilnya. Kok lo engga sayang sama duit? " Aku berbicara perlahan, agar supir tidak dapat mendengar.
"Haduh... Lo itu ya, udik (kampungan) nya ga berubah. Gw tu uda naik kelas Cath.. Ga bisa... Engga bisa gw naik taxi biasa. Bisa muntah kali... "
"...... " Aku hanya diam dan menghela nafas.
"Lo itu tinggal naik, duduk terus diem... Engga gw suruh bayar... Jadi better lo diem dan nikmati aja lah... " Jessy masih menyombongkan keadaannya.
"Iya gw paham Jess... Gw cuman tanya sama lo. Kan gw orang yang perhitungan sama apapun." Jawabku.
Jessy hanya diam dan memandang keluar jendela.
"Jes... Sebenernya kita tu mau kemana?"
"Teagarden." Jawabnya singkat.
"Dimana tu?" Aku langsung membuka ponselku. Aku mencari di browser, tempat apa itu.
"tempat makan, kongko sama arisan. dimall.. mall nya di pinggir laut. pokoknya lo ga pernah kesana. dan tempatnya tu jauh Cath. jadi ngikut aja ya, dari pada lo cuman sama Yofie naik motor.. "
"maksudnya?" aku mencerna perkataan Jessy. tapi, aku juga tak mau berspekulasi.
"iya, IT dan Programer itu. anak tante kost. apa sih yang lo mau? sehari - hari di rumah. kerjaan ga jelas apaan. gw juga tau kok, dia suka sama lo. tapi dia itu binggung... " jessy hanya memberi clue yang membuatku penasaran.
"lo masih ga paham?" tanya Jessy.
aku hanya menggelengkan kepala.
"dia itu pernah bawa cewe ke rumah. pas lo masih kerja, gw sama Esyeh yang liat.... terus gw langsung tanya, dia siapa? bukannya lo deket sama Cathrine... "
"terus?? " aku menggeser posisi dudukku. aku tertarik dengan cerita Jessy.
" ha.. haa... dia jawab, lo kan bukan suatu yang pasti..kalo cewe dia itu pasti. pasti kerjaannya di bank. pasti seagama sama dia. dan yang pasti... mereka itu udah tinggal bareng. ... "
bagai tersambar petir rasanya.
aku diam tak bergeming. apa benar yang aku dengar?
"kaget lo? tuh cowo ga sebaik muka dia Cath.. lo jangan ketipu... makanya udahlah jangan pake hati kalo sama cowo.."
"jes... gw engga bisa komen apa - apa. gw cuman kaget aja. karena kan dia bilang mau ngajak gw serius... serius apa juga lo pasti udah paham.." aku memandang ke jalan. menutupi rasa sedih di hatiku.
"lo bilang ga pengen punya perasaan. jangan bilang lo udah suka sama Yofie? atau lo jatuh cinta sama dia?" jessy langsung menembak dengan pertanyaan yang sulit.
"........ "
kami diam sebentar, membiarkan suasana hening. aku menata hati dan kata - kata yang akan aku ucapkan.
membiarkan hujan rintik - rintik menemani kami.
"gw engga kepikiran buat lebih Jes.. gw masih trauma dengan masalalu gw. masih sakit apa yang michael lakuin. percuma kalo gw belom mengobati yang dulu, dan gw udah nutupin dengan perasaan yang baru dengan orang berbeda.... "
Jessy mengela nafas dan menoleh ke arahku. "kalau saranku, carilah pria yang bisa membawamu lebih baik. kalau keadaan keuanganmu buruk. cari yang bisa memperbaiki, lo butuh makan bukan cinta.
sekarang ya, lo mau cinta seperti apapun. pria engga akan bisa setia dengan satu wanita Cath... ini fakta... "
"lo paham banget Jess soal cinta. gw emang engga ada apa - apa dari pada lo... pengalaman lo dan kenalan lo emang banyak.. makasih nasehat lo... gw engga bakal kebawa perasaan Jess....."
"baguslah Cath... gw yang tadinya Respect lo sama Yofie.. tapi waktu gw liat sendiri, gw ga ikhlas lo sama dia.. udah lo mendingan nanti kenalan sama temen gw... dia pria baik kok... "
aku hanya tersenyum dan kembali memandang keluar jendela. ada rasa tak percaya dengan apa yang aku dengar.
lebih baik biarkan waktu yang menjawab. apa benar semua yang di katakan Jessy?
__ADS_1