
Aku menjual diri bukan? jika menerima permintaan Jimmy?
Aku memandang Jimmy, ia hanya memandangku dengan wajah tenang. Pikiranku berat dan bagiku ini pilihan yang sulit.
hubungan tanpa status namun, kami tinggal satu atap dan satu tempat tidur. bagaimana jika kedua orang tau ku sampai mengetahui.
"Aku engga minta kamu jawab sekarang kok. Cuman kalo kamu engga keberatan, setiap akhir minggu... Temani aku disini.... " Ucap Jimmy dengan halus.
"Untuk? Melakukan hal seperti kemarin?" Aku menjawab.
aku masih mencoba bersikap galak di hadapan Jimmy. aku tak ingin di matanya aku seperti wanita yang gila uang
"Hmm.. Tidak harus.... Walaupun kamu harus paham juga, bagi pria yang sudah dewasa, ini salah satu kebutuhan mereka.... sejujurnya aku engga pernah memaksa, tapi jika kamu mau kenapa engga??"
Jimmy mendekat ke arahku, ia mendekat seakan tak ada jarak di antara kami. bahkan aku bisa mencium aroma tubuhnya. rasanya kenapa seperti oksigenku berkurang setelahnya. Atau aku yang menjadi sesak nafas? aku?
normalkah yang aku alami? aku yakin kedua pipiku menjadi merah.
"Tapi, perlu aku pertegas ya...buat aku...aku tidak suka berbagi, juga tidak suka berganti wanita...aku juga benci dengan hal munafik.. "
"Te.. Terus hubungannya denganku? " Jawabku dengan terbata..
"Ya, kenapa tidak jika kamu bisa? Kita tinggal bersama tanpa ikatan. Kamu butuh kehidupan materi yang baik dan butuh dukungan untuk masa depan kamu... Setelah ini semua, kita selesai..."
"Kalo aku sampai hamil?" aku bertanya dengan polos.
Ini hal yang aku takutkan. Kehamilan dan memiliki anak yang masa depan nya harus aku sendiri yang menanggung. Apalagi hubungan kami tanpa ikatan.
"Ha haha... Anak? Kamu bisa kan pakai pengatur kehamilan? Kalau poluler sebut itu sebagai KB... " Jimmy tertawa mendengar perkataanku.
"Tapi... Aku masih muda.. Umurku saja baru 18 tahun. Apa aman ? mama pernah bilang bahaya kehamilan dan penggunaan KB sembarangan." Aku mengernyitkan dahi.
"Percayalah... Eh, kamu perlu tahu, aku selalu berhati - hati... jadi semua keputusan ada di tangan kamu, hanya aku mencoba memberi jalan pintas... " Ucap Jimmy.
Kring ..... Kring.... (Ponsel Jimmy berbunyi)
Aku mengintip, entah huruf apa itu. Aku tak paham dan tak mengerti artinya.
"Sebentar ya... " Ucap Jimmy.Ia lalu keluar ke arah Balkon, sepertinya sebuah panggilan yang penting.
Aku mengintipnya, namun pintu di tutup rapat. Mungkin ini hal yang aku tak boleh mengetahui.
aku kembali duduk ke sofa, lalu Kepalaku terasa berat dan rasanya amat mengantuk. Aku merebahkan badanku di sofa kecil itu.
Aku memejamkan mataku sebentar... Lalu aku membuka lagi, ini bukan mimpi..
Aku memejamkan lagi, namun berat membukanya. Rasanya nyaman dan makin gelap, aku merasa makin sulit membuka kedua mataku.....
(beberapa jam kemudian).
rasanya empuk dan nyaman, sejuk seperti di tempat yang aku pernah rasa. aroma ini, aku seperti pernah mencium.
aku membuka kedua mataku, aku sudah berada di tempat tidur. lalu aku menoleh ke samping, ada Jimmy. rupanya kejadian semalam dan tadi pagi bukan mimpi. aku benar disini bersama Jimmy.
aku bangun dari tempat tidur, lalu aku mengambil ponselku. ada 1 pesan masuk, Yofie?
Yofie : Cath, kamu dimana? balik kapan? kok lo ga ada kabar? kakak binggung cari kamu.
me : kak, aku balik besok. aku baik2 kok, jangan khawatir ya.
Yofie : sure kamu gapapa? kakak tu ga bisa tenang Cath. Please angkat tlp kakak ya..
"kakak siapa itu?" Jimmy berkata di belakangku.
aku kaget dan hampir saja ponselku jatuh. Jimmy menangkap dan membaca isi pesan yang masuk.
"sudahlah, kembalikan Ponselku Jimmy...." aku memohon.
tapi wajah Jimmy malah berubah serius. ia seperti sedang menghafal apa yang aku katakan di tiap pesanku.
"nih.... " ia mengembalikan.
lalu aku mengambil dan menaruh nya kembali di meja samping ku. Jimmy menggeser duduk nya ke hadapanku, lagi - lagi ia mengagetkanku.
"yofie itu? pria yang satu rumah dengan kamu kan? yang aku pernah temui dulu.. "
"iya, satu - satu nya pria yang muda di kost aku. dan benar kamu pernah ketemu dia kok.... " aku menjawab sambil merasa berat di tenggorokanku.
__ADS_1
"apa ia suka? eh, punya perasaan sama kamu?" dahi Jimmy langsung mengernyit. tatapannya berubah menjadi tajam.
"mana aku tau Pak... dia aku anggap sebagai kakak. menghargai dia karena lebih tua dan dia anak pemilik kost."
"kamu paham? antara pria dan wanita tidak ada hubungan kakak - adek yang murni. pasti salah satu nya memiliki perasaan kepada yang lain. aku curiga, dia punya perasaan lebih ke kamu.... " suara Jimmy berubah menjadi serius.
"buahahahaa ... Pak, bapak tu ga kenal dia, dia aja nih ya.. udah punya Stacy.... "
"panggil aku Jimmy." ucap Jimmy memotong kalimatku.
"Jimmy, maaf... soal suka aku engga pernah peduli. dia anak pemilik kost dan buat aku.... aku cuman pegawai warung dari perantauan. beda kelas dengan dia.... bahkan dengan kamu pun.. aku berbeda kelas nya..." jawabku.
Jimmy memandangku, kedua matanya indah. bulu mata nya tebal membuatnya tidak membosankan untuk di lihat.
Jimmy meraih wajahku, lalu ia mendekatiku. ya... ia menciumku bibirku, namun kali ini ia melakukannya dengan lembut. kedua tangannya meraih tubuhku, ia menarikku ke dalam pelukannya.
rasanya hangat dan nyaman. inikah rasanya berpelukan dengan lawan jenis? mengapa rasanya begitu nyaman dan hangat...
aku membalas dengan memeluk nya. ia mengelus rambutku dan mulai berbisik.
"aku mau kamu disini, pindah dari tempat tinggalmu. kita tinggal bersama, aku tak ingin kehilangan apa yang aku rasa nyaman. kamu cuman milikku Cathrine...... " bisik Jimmy di telingaku.
mendengarnya wajahku jadi merah, malu dan senang. tapi aku masih diam dan mencoba menyembunyikannya.
"kenapa kamu diam?" tanya Jimmy.
"aku... aku binggung menjawab apa. aku tak pernah tinggal bersama orang lain. selama ini aku hanya bersama orangtuaku saja.... " jawab ku..
"tak apa, kita coba perlahan saja. aku tidak memaksamu segera menjawabku... " ucap Jimmy.
aku hanya memberin isyarat dengan gerak kepalaku. namun pelukannya makin dalam kepadaku.
rasanya nyaman diperlakukan seperti ini.
kruyuuukkk... kruyuukk... (suara perut)
"kamu lapar?" tanya Jimmy. lalu ia melepaskan pelukannya.
"iya, aku lapar. maaf suaranya keras sekali.... padahal tak biasanya perutku bunyi... " jawabku dengan wajah menunduk.
"apa masih sakit perutmu? kamu mau makan apa?"
aku hanya dia memandang Jimmy. apa ini sihir? aku tak bisa berkata apapun. pasti ini sihir yang Jimmy lakukan.
"... .... " ya aku hanya diam memandang wajahnya. matanya yang indah, bibir nya yang tipis, rahang nya yang kokoh.
"hei? jangan lihat aku seperti itu. aku merasa kurang nyaman. atau.... kamu menginginkan aku melakukan sentuhan ku lagi??" jimmy menjawabku dengan wajah mesum.
"tidak! tidak Pak...Jimmy...." aku langsung membuang pandanganku dan sedikit menjauh.
"sudahlah Cath.. apa perutmu sering berbunyi seperti ini? apa kamu makan teratur selama di kost?" tanya Jimmy.
"........ " aku tak berani menjawab nya. entah rasanya aku seperti buah simalakama.
jika aku menjawab ia akan menyuruhku pindah dan tinggal dengan dia. kalo aku jawab tidak, buktinya saja perutku bunyi.
"jawab aku! atau aku akan mencari jawaban sendiri." Jimmy menaikkan nada bicara nya.
"ya! aku jarang makan. aku makan siang hari di tempat kerja. itupun jika ada lauk sisa atau bos ku memberi aku makan... " aku menjawab dengan cepat.
"unbelieveble.... makanlah teratur, walau kamu tidak lapar. sekarang kamu engga merapa apapun, tapi nantinya kita engga tahu Cath.... "
"sudahlah Jim, lagipula aku bisa diet juga. buktinya badanku bisa sekecil ini. berat badanku yang tadinya 60kg saja bisa jadi 47kg. bukan kah ini prestasi? menjadi daya tarik bukan?"
jimmy meraih tanganku, ia melihat diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"tidak. aku rasa menarik dirimu di range angka 55 menuju 60kg...dengan tubuh berisi dan wajah yang lebih segar...."
aku diam memandang Jimmy. kali ini ia tidak salah bicara kan? hampir semua pria yang bertemu denganku. memintaku menurunkan berat badanku. tapi dia?
"kamu ga salah ngomong? yofie saya memintaku menurunkan 5kg lagi. sutradara yang dulu mengajakku syuting pun berkata demikian."
"kamu bukan menjadi artis lagi Cathrine. kalau aku berbicara seringnya tidak meleset. just the way you are babe...." Jimmy lalu menarikku untuk berdiri.
"..... " aku diam menuruti apa yang ia lakukan.
"ganti pakaian mu, lalu kita pergi makan sekarang. kalau kamu tidak segera berganti, aku bisa membantu melepas tanpa memasang kembali..."
__ADS_1
"hah? engga usah Jimmy... gw bisa sendiri.... "
aku langsung bergegas mengambil tas belanja yang ada di sudut ruangan.
aku memilih celana hotpants hitam dan kemeja kotak berwarna merah. aku lalu berjalan masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian tersebut.
"kamu bisa ganti di hadapanku saja Cath... tak perlu maluu.... " jimmy menggodaku.
tapi aku masih tidak nyaman dengan hal itu. aku tetap menutup pintu dan berganti di dalam kamar mandi.
aku memakai pakaian dan celana tersebut. pas di badanku, rasanya aku sedikit seksi. rupanya aku bisa berpakaian seperti ini. pantas juga aku gunakan.
aku pun keluar dari kamar mandi. aku lihat Jimmy sudah siap dengan kemeja kotak merah juga. sendada dengan pakaianku.
ia memandangku dan tersenyum, "cukup baik juga, ayo kita pergi... "
Jimmy memberi tas kecil coklatku, aku pun menerimanya. lalu kami pergi keluar.
*****
"kenapa Cathrine tak membalas pesanku? apa dia sedang sibuk... apa dia sedang bersama adik mama nya... tapi... " yofie memegang ponselnya sambil bergumam.
"ngapain sih Bee? kok liatin hp terus. gw engga pernah di liatin sampe gitu... " Stacy datanh membawa makanan di atas nampan.
ia meletakkan di atas meja, lalu memberikan milik Yofie. ia pun duduk di hadapan Yofie, tanpa permisi Stacy merampas ponsel Yofie.
"eh! hp gw! balikin sini, ga sopan lo... " Yofie naik pitam melihat Stacy.
"santai kali, lo kenapa sih gini? emang gw salah? gw boleh kali tau, lo lagi ngehubungin siapa.... " Stacy membuka ponsel Yofie.
ia penasaran siapa yang berkirim pesan dengan Yofie.
"udah? sini balikin!" yofie merampas balik ponselnya. lalu ia langsung memasukkan ke dalam saku celana jeans nya.
"lo deket amat sama yang namanya Cathrine... dia itu yang gw liat di kost kapan hari kan?"
yofie hanya menganggukkan kepala. ia memilih membuang pandangannya sambil memakan kentang goreng.
"lo kok deket sama dia? lo suka ya sama dia? jangan lupa Yofie, gw calon istri lo... calon istri!" ucap Stacy dengan kesal.
"so? kan calon doang. lagipula, dari kita kecil gw engga pernah mikir bakalan sama lo... lo aja kali yang maksa... " yofie membalas Stacy.
"eh jangan lupa! orang tua kita udah kenal dan seneng kita bakalan jadi satu. lo itu bersyukur punya calon istri kaya gw. banyak cowo ngantri gw tauk!"
yofie menaikkan alisnya, ia sepertinya tidak setuju dengan apa yang dikatakan.
"kalo lo engga amnesia ya. inget pas gw pacaran sama Lita? lo kaya orang gila. segala mau bunuh diri. lo jangan kepedean Stac."
"ya pokoknya gw ga peduli. lo harus sama gw, titik. kalo gw ga sama lo, orang lain juga engga bisa." Stacy melotot.
"hmm.. gw dari dulu engga pernah percaya cerita soal psiko. ternyata sekarang gw udah ngalamin sendiri. Stac.... lo bisa nikah sama gw. bahkan kita punya anak gw jamin bisa. tapi.... lo jangan pernah mikir gw bakalan ngurusin hidup lo. karena dari awal.... gw engga punya rasa sedikit pun.... " Yofie balik menegaskan Stacy.
Stacy tak ingin hanya diam. ia mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya. ia meneteskan air mata, ia selalu berhasil dengan trik ini.
"lo sekarang nangis? terus lo mau teriak biar orang yang ada di mall denger dan lo jadi pusat perhatian kan? terus abis itu, gw bakalan mohon dan minta maaf sama lo..... udah basi."
yofie menyandarkan badannya ke kursi. ia menungggu apalagi yang ingin di lakukan oleh Stacy.
namun Stacy malah menghapus air matanya. ia lalu mengambil nafas dalam dan menata kembali rambutnya agar rapi.
"okei, gw emang engga bakalan ngelakuin hal yang lo bilang barusan. tapi yang pasti tetep gw yang bakalan jadi istri lo yang sah.... " Stacy lalu meminum soda dingin di hadapannya.
"cih.... hanya itu saja? baik jadi gw bebas ya, mencari wanita manapun.... "
"jangan siburuk rupa itu yang jadi wanitamu!" ucap Stacy dengan kasar.
"siapa? maksudmu?" Yofie langsung melotot mendengarnya.
"Cathrine lah, siapa lagi. rambut ikal, mata bulat, badan pendek dan gemuk.. ish... engga level sama gw.... inget.... silakan lo mainan semau lo... asal engga sama cewe itu.... " ucap Stacy.
"dia tu cantik Stac.... sangat cantik... lucu ya... lo bilang kalo diri lo cantik... banyak pria yang berebut buat jadi pacar lo... tapi lo malah cemburu sama Cathrine.... hahahaa... " Yofie malah tertawa.
"hei! gw engga cemburu. gw ga level ya sama tu cewek. pokoknya, lo boleh mainan sama cewe manapun. asal engga sama si buruk itu. inget!"
Sebenarnya Stacy tahu, tunangannya ini menaruh hati kepada Cathrine. makanya ia merasa ini saingan terberatnya.
bagi Stacy sudah biasa Yofie dekat dan menghabiskan malam dengan perempuan lain. tapi kali ini... bukan main - main yang Yofie lakukan.
__ADS_1