CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
12


__ADS_3

Aku termenung di meja rias. Memandang teh yang Yofie beri. Kenapa hari ini ia amat baik kepadaku?


Aku mengingat bahwa diriku bukan apa - apa. Bahkan aku memiliki pekerjaan pasti pun belum.


Aku mencoba menghilangkan perasaan hatiku.


'Lo itu cuman kebawa suasana. Bisa aja dia baik sama semua orang. Jangan baper Cathrine!'


Aku kembali membuka ponselku. Aku melihat ada satu pesan masuk.


Ghea : kak.. Papa udah engga sakit dada nya. Tapi, dari kemarin mama malah sibuk pergi sama Om Yuan. Katanya ada bisnis tapi masak sampe malem gini kak? Aku mau tidur aja sampe ga tenang.


Ya Tuhan, betapa jahatnya aku. Aku bersenang - senang sedang adikku mau tidur saja tidak bisa dengan tenang.


Aku pun menekan panggilan ke adikku.


"Hallo... Adek.... "


"Kak.... Aku ngomong pelan ya... Mama baru pulang... Dan mereka abis berantem.. Tapi aku udah ga denger lagi kak..."


"Dek.. Maafin kakak ya.... Kakak... "


"Engga papa kak... Kakak telpon aku gini aja udah seneng kak... "


"Dek, kamu tau engga mama pergi sama om Yuan itu mau ngapain?"


"Aku ga paham kak... Yang aku denger mama nyambi jadi makelar tanah sama Om Yuan.. Tapi kakak kan tau, dia aja hampir berbuat begitu ke kakak..."


"Dek udahlah... Kakak engga mau inget lagi... Udah malem dek, kamu tidur ya... Jangan lupa doakan kakak ya Dek.. Kakak pengen pulang sebentar Dek .... "


Aku menahan air mataku. Aku tak ingin


Ghea sampai mengetahuinya.


"Iya kak... Kakak semangat terus ya... Adek sayang kakak.... "


"Iya dek, makasih ya Dek.... "


Panggilan Pun berakhir.


Aku menteskan air mata sesaat.


Haruskan aku yang menanggung?


Mengapa anak pertama harus menjadi yang berbakti seperti ini?


Harus kah??


Aku menghela nafas panjang. Kemudian aku membawa gelas Yofie. Aku keluar dari kamarku.


Aku sempat tersentak, ada adik Tante kost yang sudah duduk dan menonton TV.


Aku berjalan melewati belakangnya agar sampai ke ruang makan.


"Malem om... Kok baru keliatan?" Aku mencoba ramah kepada pria paruh baya itu.


"Iya Cathrine... Om habis ngurusin kilang minyak di ujung jawa. Barusan datang terus tidur om... " Ternyata bisa berkata juga pria ini.


"Oh gitu, lha brati om baru bangun? Bisa tidur pagi dong... Hehee"


"Iya.. Tapi om dah biasaa. Hitung - hitung menjaga rumah juga kan. Penghuni kost semua perempuan. Lu pada pulang juga jam 3 pagi sampe jam 7 pagi... Kalo cuman nunggu satpam komplek ga akan bisa... "


"Owh gitu... Ternyata om juga mikir sampe segitunya ya sama kita. Makasih ya om... " Aku berkata sambil kembali ke depan kamarku.


"Iya benar.. Om lebih mikir masa depan kalian. Kalau sepi job, terus kalian gimana makan? Beli kebutuhan perempuan tu banyak kali... "


"Hehe.... Iya juga om.... " Aku ingin kembali masuk. Tapi si Om ini malah mengajakku ngobrol.


"Kamu bagaimana? Masih tetap mau jadi artis?"


"Engga om.. Aku engga kepikiran harus jadi artis.. Sekarang aku juga kerja di warung padang. Ya ngerjain apa aja... Yang penting kumpul duit buat kuliah... "


"Bagus itu... Bagus... Kamu bisa mikir buat kuliah. Kalian kerja jadi figuran pagi ketemu pagi ga seberapa di dapat. Lebih baik seperti kamu ini, pendidikan itu berharga lho... Inga ya... Harus belajar terus.. "


"Iya Om.. Pasti.... Doakan saya ya. . Biar saya sukses kaya om... "


"Amin! Pasti bisa.... Kamu percaya pada ini.... (Ia menunjuk dada nya) hati kamu.... Percaya saja kuncinya... "


"Iya Om..... " Aku tak bisa menjawab kata lain selain iya.. Dan iya...


"Sudah malam, kamu tidurlah.. Simpan energi muda mu untuk hal lain... "


"Uhm.... Okai om.. Saya tinggal dulu ya.... Selamat malam om.... " Aku pun masuk ke dalam kamarku.


Aku membersihkan kakiku, lalu aku naik ke atas tempat tidur. Aku berbaring dan menarik selimut.


Mataku terpejam dan aku mencoba untuk terlelap. Malam itu hujan masih terus turun. Udara dingin ini membawaku untuk tidur dengan lelap.


*********


Jimmy duduk di bar yang ada di salah satu sudut kota. Barista meracik minuman dan menghidangkan ke Jimmy.


Dari belakang seseorang menepuk pundak Jimmy. Ia pun menoleh, "gw pikir siapa... "


"Gimana Jim, lama ga ketemu kita.. " Ucap Pria muda dengan rambut junkie berkemeja putih.

__ADS_1


"Seinget gw, lo udah nikah dan engga bisa keluar malem... "


"Siapa bilang, sesekali gw butuh metime Jim... Bukan cuman ngurusin bini gw terus... " Pria tersebut memberi kode kepada bartender.


Tak lama segelas minuman mirip Jimmy dihidangkan. Pria tersebut mencoba nya, "aah .. Nikmatnya, sudah lama aku tak menegak nikmatnya minuman.. . "


"Harus ya Thom? Lo sebegitu lebay dan over soal minum... " Jimmy bernada sinis.


"Lo ga tau sih rasanya berumah tangga... . "


"Tau! Ribet dan mengerikan." Jimmy menjawab singkat.


"Tapi tanpa pernikahan, lo bisa aja lho kehilangan cewe lagi.."


Jimmy langsung menoleh dan melotot ke Thomson.


"Maaf bro.. Bukan maksud gw gitu.. . Jadi gini deh, gw denger lo telpon kemarin kan.. . .. . " Tommy berusaha meredakan amarah Jimmy.


"... . .. " Jimmy Hanya diam dan melihat Tommy.


"Jadi gw punya solusi... Lo harus nikah at least ya surat doang lah... Kaya gw sama Nina lah.... "


"What??" Jimmy menggelengkan kepalanya.


"Hei! Lo denger dulu sobh... Gw sama Kinan emang tinggal bareng. Kami menikah karena gw mau di deportasi. Ya kalo terus gw enjoy dengan pernikahan kan engga salah? Apa yang kami lakukin juga jadi halal... See..... "


Jimmy hanya memicingkan matanya. Baginya pantang untung menikah. Apalagi dengan gadis yang ia tak cintai.


Ia lebih baik kehilangan uang daripada statusnya berubah. Sekali ia menikah, sulit untuk berpisah. Apalagi jika kedua orang tuanya mengetahui.


"Oh iya Tom, pernah engga sih? Ngerasa pertama kali ketemu sama perempuan, tapi lo tu seperti ketarik sama dia. Kaya jadi pengen nolong pas kebeneran dia susah... Atau jadi kaya pengen tahu gitu, kepo kalo kata orang. . "


Tommy tertawa dan menepuk pundak Jimmy.


"Bro.... Itu namanya lo tertarik sama tu cewe.... "


"Singkirin tangan lo! Sial gw tanya sama lo!"


Jimmy kesal dan berdiri dari kursinya. Ia mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan meletakkan di meja..


"Bro buat lo!" Jimmy berkata kepada bartender.


"Thanks Boss.... " Jawab bartender tersebut.


"Hei... Mau kemana? Gw di tinggal nih?" Tommy berbicara ke arah Jimmy.


Jimmy hanya melambai dan pergi dari sana. Ia memilih untuk mencari udara di luar.


Ia duduk berdandar di atas Kap mobil nya. Ia memandang langit yang mulai mendung.


Jimmy hanya melirik dan menghela nafas. Ia pun berdiri dan segera menuju pintu mobilnya.


"Tunggu dulu..... " Perempuan tersebut mengejar Jimmy.


Lalu wanita tersebut menarik tangan Jimmy.


Namun Jimmy melepaskan tangan nya.


"Apaan sih ini!? " Jimmy marah.


"Maaf, aku cuman mau kenalan.... Kita pernah ketemu.. Kamu inget ga?" Perempuan berpakaian minim dengan wajah cantik.


"Artis baru kan?" Jimmy menjawab dengan nada ketus.


"Nah bener... Kita pernah ketemu beberapa kali.. Tapi lo malah pergi gitu aja. Kenalin namaku Jessy... Ternyata kamu sering kesini ya... Sama dong... Tapi kok engga pernah ketemu.... " Jessy mencoba terus menahan Jimmy.


"Cerewet!" Jimmy malah masuk ke dalam mobil..


Ia menyalakan mesin dan meninggalkan Jessy sendiri.


"Tungguuu... Heii.... " Jessy menepuk pintu mobil Jimmy dan berusaha terus menahannya.


Tapi percuma Jimmy memilih pergi. Ia merasa jijik melihat tingkah Jessy.


Jessy yang sendiri lalu melipat kedua tangannya. Dari balik pohon, seseorang datang. Lalu mendekati Jessy dan memberi kamera kepadanya.


"Dapet gambarnya?" Tanya Jessy.


"Nih, liat aja... Bisa jadi bahan sih kalo di Up."


"Bagus... Dengan adanya gosip ini, gw bisa naik lagi dan dapet tawaran. Dan gw engga perlu nemeni tu sutradara tua bangka.. " Ucap Jessy kepada orang tersebut.


Jimmy terus berkendara dengan kecepatan sedang. Ia berhenti sesaat di antrian lampu merah.


Ia melihat ke arah speedometer, sesaat ia teringat senyum Cathrine. Saat acara makan, meski gadis tersebut tak memahami apa yang dikatakan.


Senyumnya saja membuat Jimmy kehilangan fokusnya.


Jimmy pun melanjutkan perjalanannya. Ia memilih kembali ke apartement nya.


Ia memilih tinggal di 'Flat' model studio. Dengan tingkat privacy dan udara yang bagus.


Jimmy membuka kedua sepatunya dan meletakkan di beranda luar. Ia kemudian masuk kembali, dan mengambil sekaleng minuman dari dalam lemari pendingin.


Ia membuka dan langsung meneguk minuman tersebut. Rasa dari minuman berkarbonasi tersebut sedikit menghilangkan dahaga untuk Jimmy.

__ADS_1


Ia pun memilih merebahkan diri di sofa samping tempat tidurnya. Kamar yang rapi tanpa ada sentuhan wanita.


Ya belum pernah ada seorang wanita pun, yang sekedar singgah disana. Baginya ini adalah dirinya. Tak sembarang orang dapat masuk dan menyentuhnya.


*********


Cathrine terbangun dari tidurnya. Ia langsung menengok ranjang Jessy.


Hasilnya nihil temannya belum juga kembali. Kemana ia semalaman?


Cathrine mencari ponselnya, ia meletakkan di lantai semalam. Karena rasa kantuk yang berat. Ia lupa memutar musik dari ponselnya.


Ia menekan panggilan ke Jessy. Kemudian nada sambung terdengar.


"Cathrinee.. ... Pagi... Gimana?"


"Hei... Lo dimana Jes? Engga ada apa - apa kan? Gw khawatir sama lo.. Semalem lo engga ada kabar... "


"Oh gw engga papa Cath... Gw nginep di rumah temen gw. Besok apa nanti malem gw ceritain yaa.... "


"Oh gitu... Yaudah deh Jess... Take your time.. Byee.. "


Aku pun menyudahi panggilanku. Rasa penasaran sebenarnya muncul. Dengan siapa Jessy menginap? Dan sepertinya sekarang di antara kami sudah tida sedekat dulu.


Aku tak mau ambil pusing. Aku memilih bangun dan mandi. Hari ini aku harus bekerja lagi di warung.


Target diriku, bulan depan aku bisa pulang. Aku kangen dengan keluargaku, meski aku harus kerja tanpa istirahat demi uang itu.


Aku pun membasuh seluruh tubuhku. Aku merasa aneh, sejak kapan ada air hangat disini. Sepanjang aku tinggal, air panas tidak pernah berfungsi.


Aku tak acuh dan kembali mandi saja. Rasanya segar, sebenarnya kemarin aku belum mandi sejak pagi.


Aku takut mandi malam, banyak mitos soal mandi malam. Kalau untuk diriku lebih aku takut tubuhku segar dan tidak mengantuk.


Aku melilitkan handuk di badanku dan keluar dari kamar mandi. Aku kemudian memilih pakaian yang akan aku gunakan.


Aku memilih kaos dengan corak kelinci berwarna krem. Kemudian aku mengambil legging hitam dari tumpukan laundryku.


Aku berganti pakaian dengan cepat. Kemudian aku mengeringkan rambutku. Entah lah, aku ingin meluruskan rambutku hari itu.


Lalu aku mengambil catok rambut milik Jessy. Aku menyalakannya dan menunggu nya hingga panas.


Kemudian aku membelah rambutku dan mengikat yang paling atas. Aku membalutkan vitamin ke rambutku.


Kemudian aku mengambil alat pelurus rambut dan mulai meluruskan. Tak butuh waktu lama.


Rambutku kini sudah rapi dan tidak mengembang. Aku membereskan pelurus rambut dan sisirku. Aku tak ingin membuat Jessy kesal, dengan barang nya yang aku pinjam.


Lalu aku mengambil kotak make up ku. Aku memilih bedak tabur dengan wadah berwarna kuning tersebut. Aku membuka dan mulai memoles wajahku.


Tak lupa aku menyisir alis dan memoles bibirku. Aku melihat ke kaca, sebenarnya aku cukup menarik juga.


Aku tersenyum malu melihat diriku. "Apa benar aku cantik?" Aku berbicara sendiri dan melihat ke cermin.


Aku langsung membuyarkan lamunanku. Aku melihat jam dindin pukul 10 pagi.


Sudah saatnya buatku berangkat kerja. Aku mengambil tas slempang coklatku. Kemudian aku memakai sepatu flat ku.


Aku membuka pintu kamar dan menguncinya kembali. Aku melihat sekitar sangat sepi.


Hanya samar - samar terdengar suara Esyeh dan pacar nya dalam kamar. Entah apa yang mereka lalukan.


Aku tak peduli dan langsung menuju pintu keluar. Aku membuka pintu dan keluar.


Terlihat Yofie yang juga baru masuk ke teras rumah. Kami saling berpandangan, senyum pun terpancar dari kami.


"Mau berangkat?" Tanya Yofie.


"Iya kak, sudah siang.. Lebih baik dari pada kesiangan dan makin panas... " Aku menjawab sambil berjalan menjauh.


"Cath, mau aku antar?"


Aku langsung berhenti, kemudian membalik badanku.


"Engga usah kak, deket kok.. Biar aku jalan sekalian olah raga aja... "


Yofie malah mendekatiku, jantungku kini malah rasanya berhenti berdetak.


"Engga papa, sekalian aku mau beli bensin... " Ucap Yofie.


Ia berdiri persis di hadapanku. Aku bisa mencium aroma parfume nya. HugoBoss!


"Hah? Engga papa kak... Next aja yaa.." Aku tetap bersikeras untuk pergi sendiri.


"Ya usah Cath... Kamu balik jam berapa? Biar kakak jemput... " Yofie mendekatiku terus.


Kini posisiku terpojok dan bersandar pada pagar.


"Belum tau kak, aku sms aja ya nanti.... Bye kak..." Aku kabur dengan bergeser ke kanan.


Kemudian aku melebarkan celah pagar yang terbuka. Aku jalan setengah berlari.


Bukan aku tak suka, tapi rasanya tak nyaman sedekat itu. Aku merasa seperti dunia menyempit.


aku juga masih enggan memiliki rasa pada laki - laki. bukan aku kelainan atau kenapa. tapi, pekerjaan saja aku belum jelas.

__ADS_1


aku tak ingin mengandalkan semua pada pria yang bersamaku kelak. aku bisa mandiri dengan diriku sendiri lah yang jadi tujuanku.


__ADS_2