
Aku masih diam di dalam mobil. Mengingat apa yang Jessy katakan di toilet tadi.
*****
"Kamu mungkin bisa bahagia sekarang. Tapi jangan lupa, Jimmy itu punya standart tinggi. Dia orang kaya dan kamu biasa aja. Mau di permak sana sini ga akan nutupi aura miskin mu!" Jessy berbicara denganku lewat pantulan kaca di wastafel.
Aku tersenyum melihatnya.
"Kamu kenapa kok cuman senyum? Bener ya kata - kataku? Bagus deh kalo sadar diri." Jessy masih berkata sinis ke aku.
"Ngga masalah, kamu mau ngomong bagaimana soal aku. Silakan. Aku engga apa - apa... " Lalu aku pergi meninggalkannya.
*********
"Sayang, kenapa? Kok kamu diem?" Jimmy memecah lamunanku.
"Engga.. Cuman tadi kan aku ketemu Jessy di toilet. Ya inti nya seperti biasa. Mojokin aku dengan kalimat yang lebih menghina sih... Ngerti maksudku kan?"
Jimmy mengangguk, ia paham apa yang di maksud istrinya.
"Tapi ya gimana ya. Aku tu ngga mau sok pede atau sok iya gitu. Tapi, sampe detik ini aja kamu masih sama aku." Aku berbicara sendiri.
"Hmm... Iya.... " Jimmy menjawab.
"Tapi kadang ya, kenapa sih? Jessy selalu memperlakukan ku seperti itu? Kami sama sama mencari pekerjaan disini. Bahkan, keluarga dia lebih kaya dari keluargaku. Apa yang membuatnya seperti itu.?"
"Karena kamu lebih bahagia." Jawab Jimmy.
Aku langsung menoleh ke arahnya.
"Apa?" Aku refleks menjawab.
"Iya. Kamu bahagia ngga sekarang?" Jimmy balik tanya.
"Iya... " Jawabku polos.
"Itu yang membuat dia emosi ke kamu. Udahlah fokus sama diri kamu aja. Soal Jessy.. Anggap saja dia sebagai hetters mu yang ngga suka kamu sukses. "
Aku diam mencerna apa yang Jimmy katakan. Sebenarnya aku tak pernah menganggap nya sebagai musuh atau saingan.
Secara apapun Jessy unggul daripada aku. Namun perlakuan dia ke padaku, sungguh ngga bisa aku toleransi.
Sudahlah, aku lebih baik fokus. Besok aku harus menghadiri pembekalan untuk orientasiku di kampus.
"Besok sabtu, aku ke kampus dulu ya. Ada kaya pembagian kelompok atau semacam pra Masa Orientasi. "
"Lalu aku bagaimana?" Jimmy bertanya.
"Bukan nya kamu biasanya kerja kalo weekend?"
Dia pun diam, aku rasa ia sedang berfikir.
"Oh iya, kalau aku ngga salah inget. Pacar Jessy itu bukannya musuh kamu? Orang yang bersaing dengan kamu? Eh... Apa ya... " Aku membuka percakapan lagi.
"Kadang, kita perlu berbuat baik sebelum mengatur strategi. Atau... Berbuat baik untuk menyembuhkan sebuah luka... " Jimmy menjawab diplomatis.
"Ngga tau ah.... Hari ni aku lemot banget... Tadi di telfon sama Ghea. Papa semalem dada nya sesak. Tapi mereka uda ke IGD... "
"Terus gimana papa?" Jimmy panik.
"Kata dokter, papa punya penyakit lambung. Semacam maag atau gerd mungkin ya, yang ngebuat asam lambungnya naik.. Jadi nekan ke atas jadi dada nya sempat sesak. "
"Apa perlu tindakan dokter?"
"Semalem udah, udah di suntik sama ada obat buat nurunin gas di perut nya papa. Cuman, kalo kumat lagi atau lebih parah. Papa harus endos apa gitu kata Ghea... " Jelasku.
"Ya papa ngga boleh stress. Setiap orang pasti punya rasa takut, khawatir sama stress masing - masing.. Apapun itu, syukurlah kalau sudah ngga kenapa - napa. "
"Cuman kasian sama Ghea. Dia jadi harus nungguin papa sama sekolah. Belum lagi warung yang masih harus buka. Kalo kaya gini aku pengen cepet selesai kuliah, terus kerja. Biar punya duit banyak, terus ngajak mereka tinggal bareng aku... " Aku bercerita soal cita - citaku.
"Lalu aku? Kamu meninggalkanku?" Jimmy bertanya.
"Lah, kan kita ada kontrak. Ngga mungkin kan selamanya aku sama kamu? Kamu juga bakalan nikah sama perempuan yang se level sama kamu... Kamu sendiri pernah bilang, jangan bergantung kepadamu terus. Suatu saat hubungan kita akan berakhir."
Jawabanku membuat Jimmy diam. Seperti nya, aku salah bicara. Tapi ini fakta yang selalu ia katakan kepadaku.
Malam itu Jimmy menjadi lebih diam. Tak seperti biasanya, ia begitu diam.
Ia seperti tidak dalam kondisi baik atau ada yang salah dengan diriku?
Pagi pun datang, rupanya Jimmy sudah lebih dahulu pergi. Ia bahkan tidak berpamitan denganku.
__ADS_1
Entah akhir - akhir ini hubungan kami seperti selalu meributkan hal yang tidak penting. Apa ini titik jenuh hubungan?
Aku menyiapkan beberapa benda ke tas slempangku. Hari ini aku ada pembekalan ke kampus.
Aku berniat untuk naik kendaraan umum saja. Apalagi dengan apa yang akhir - akhir ini terjadi. Aku jujur memilih mengalah dalam hubungan kami.
Aku takut kalau suatu saat malah Jimmy pergi meninggalkanku. Bagaimana dengan keadaan keuanganku. Masih ada adik yang harus aku biayai.
Aku memulai perjalananku, dengan kendaraan umum yang menurutku tidak begitu ramai. Jelas, ini pukul 9 pagi.
Aku tiba di kampus dengan menempuh waktu 30 menit saja. Aku memperkirakan rekayasa perjalanan jika Pak Teddy tak bisa mengantarku.
"Eh... Udah dateng. Lo rajin ya ternyata.. "
Pria itu lagi menyapaku.
"Oh.. Hai... Siang.... " Jawabku malas.
"Lo pasti lupa, gw Jose... Lo Cathrine, kita udah ketemu beberapa kali... Eh, ini pembagian kelompok sama tugas ya? Sini ikut gw aja... " Pria itu mengajak ku ikut.
"Baik.... " Jawabku lalu aku berjalan di belakang nya.
Aku menjaga jarak kami, aku tidak mau ada kabar kurang enak nantinya.
"Uhm.... Lo ngga suka jalan sejajar sama gw?" Pria itu menyadari aku menghindar.
"Engga si, cuman biasanya kan suka ada gosip atau gimana. Takut aja sih... " Jawabku dengan hati - hati.
"Ha ha.... Lo pasti dari desa, sorry. Bukan gitu, maksud gw.. Lo harus tahu, kalo di kota ini, hampir semua orang itu 'bodo amat'. Pun gw juga nolong lo, karena gw senior kok.. " Pria itu tersenyum.
Aku sedikit malu dan menundukkan kepalaku.
"Maaf , gw belom terbiasa aja sama habit disini... " Jawabku.
"Santai Cathrine, gw bisa lihat kalo lo engga maksud juga. jadi yuk lanjut jalan. agak lumayan jauh soalnya. "
kami pun berjalan ke arah tengah lapangan. melewati beberapa gedung dengan nama - nama dan fakultas yang ada. ada juga gedung administasi disana.
kami masuk ke sebuah hall yang menurutku mirip dengan lapangan Badminton. disana sudah ada beberapa anak - anak mahasiswa baru seperti ku.
"lo bisa gabung disana. nanti kalo uda mulai kalian juga kita panggil kok. " Pria itu menunjuk kerumunan di hadapan nya.
"oh.. ok kak... thanks ya... "
aku pun berkenalan dengan Berta. Dia berasal dari arah barat, ia kost dan sepertinya dia paling ramah denganku.
penampilan kami pun sama. simple tanpa barang bermerk di tangan. sedang anak lain, aku yakin mereka tidak sepenuhnya mau berteman dengan kami.
samar - samar aku mendengar, arahan panitia untuk kami berkumpul. kami pun masuk dalam barisan.
dan acara pun segera di mulai. lusa adalah hari pertama ospek.
aku jujur merasa takut, apalagi ada acara jerit malam dan berpetualan di kampus ini. Pembagian kelompok dan kakak senior pun sudah di laksanakan.
untung aku dan berta menjadi satu kelompok. masih ada 5 orang lain dalam kelompok kami. kakak panitia kami pun ternyata Jose. cukup melegakan bagiku.
kami langsung membagi tugas - tugas dan keperluan yang harus kami bawa hari senin. Jose cukup paham dengan tugas. jelas dia panitia, pasti dia ada andil dalam pemilihan kegiatan.
jam menunjukan pukul 12.15 kami pun di ijinkan meninggalkan gedung tersebut. aku dan Berta berjalan menuju pintu keluar gedung.
"Cathrine, aku duluan ya.. udah di jemput sama pacarku.. itu yang di motor." Berta berpamitan.
"oh iya, bye.. sampai ketemu senin ya. kalo ada apa - apa hubungin aja ya.. " jawabku.
"oke.. bye.. " berta berlari menghampiri kekasihnya.
aku lanjut berjalan sendiri dengan santai ke gerbang keluar. matahari tidak terlalu panas, tapi perutku agak lapar.
"pulang sendiri? mau makan bareng?" suara dari arah belakangku.
aku membalik badan ke arahnya, rupanya Jose dengan motor nya.
"iya gw mau makan, cuman jangan naik motor deh. sekitar sini ada apaan ya?" aku menjawab.
"kalo mall, banyak pilihan sih. mau kesana?"Jose memberiku tawaran.
" hmm.. kalo tempat lain ada? yang gw bisa jalan aja gitu. soalnya gw ga bawa helm sama jaket. nanti malah di tangkep lagi. "
"ada sih, di belakang sana. bisa naik motor dan ngga perlu pake helm juga. buruan naik... " Jose memaksa.
"gimana ya.. gw engga bisa soalnya gw takut.. "
__ADS_1
din.... din....(suara klakson mobil)
sedan hitam berhenti di dekat kami. kaca mobil di turunkan, aku melihat Jimmy rupanya.
ia mengenakan setelan jas berwarna biru dongker dan kacamata hitam.
"honey, sorry i'm late." ucap Jimmy dengan cool.
"hah?" aku kaget melihatnya berkata seperti itu.
"jadi? gimana Cathrine.. lo mau ikut gw?" Jose seperti tak peduli.
"kayanya gw ikut cowok gw deh, kenalin ini Jimmy. dia pacar gw dan..... sayang ini Jose, kakak pembimbing kelompokku. . " aku mencoba mencairkan suasana.
Jimmy hanya menganggukan kepala dan mengangkat salah satu dahi nya. ia enggan melepas kacamata hitam nya.
"ok.. hello, nice to meet you... and... Cathrine gw duluan aja deh... " Jose akhirnya memutuskan pergi.
"ok kak, take care ya. Senin tolong bantu kita - kita ya... " aku masih berbicara dengan nya.
tujuanku, setidaknya ia bisa membantu teamku. apalagi kalau ada tugas yang aneh - aneh.
Jose pun pergi meninggalkan kami. aku pun menyusul masuk ke dalam mobil. Jimmy hanya diam dan melihat gelagatku saja.
"udah, kok diem?" aku membuka.
"lagi menikmati kemenangan ku." jawab Jimmy.
"kemenangan atas apa?" aku binggung
"kamu dari Lelaki itu. kamu paham kan? berawal makan siang bersama. lama - lama dekat, dan bum... dia menyatakan perasaan ke kamu.. "
"mikirmu kejauhan Jimmy. dia itu cuman ngajakin aku makan ke belakang sana. naik motor, lagi pula engga semua hal yang ada di pikiran kamu itu beneran. " aku kesal.
Jimmy mulai menjalankan mobil, ia masih engga melepas kacamatanya.
"kamu cemburu ya.... " aku menggoda.
"sedikit, aku pikir yang seleranya perempuan seperti kamu cuman aku. tapi aku salah, ternyata yang tertarik dengan mu ada banyak mata."
"lalu? aku berarti cantik dong... " aku tersipu malu.
"cantik itu pake modal ga? dan sepertinya aku mulai memikirkan soal home schooling untuk kuliahmu.. " Jimmy posesif.
"Hei ! kamu apa - apaan? udah bayar kampus, ngga usah lebay lah,. gara - gara makan siang malah kemana - mana jadinya. "
"haha... sayang...huft...gini kalo kamu sanggup meninggalkan ku, demi pria kaya tadi. gimana?" Jimmy memancing.
"yang jelas, aku belum punya niat. belum kepikiran. belum mau. dan... apa ngga seharusnya aku yang nanya balik? gimana kalo kamu ketemu kolega kamu yang cantik. menarik. seksi. dan... " aku sedang berfikir.
"nyatanya... sampai saat ini aku ada dan masih sama kamu. pokok nya, jaga diri selama aku pergi. aku ngga mau berbagi atau pun ternodai olah hal konyol." Jimmy berkata.
"aku ngga ngerti! ternodai apaan? kamu tu salah makan apa gimana sih... aku ngga aneh - aneh lah, kalo kamu ngga percaya udah, ikutin aja aku terus. kamu tu jadi aneh kadang. posesif dan ketakukan sendiri." aku kesal.
mobil pun berhenti di lampu merah. Jimmy melepas kacamata nya. aku melihat ada tanda merah di dekat pelipis kanan nya.
"astaga! ini kenapa?" aku panik hampir menyentuh tanda merah itu.
Jimmy meraih tanganku dan mencium punggung tanganku.
"maaf soal semalam. aku takut kehilangan kamu, jangan pikir kan soal ini. ini cuman bukti anak yang sudah dewasa dan bertanggung jawab pada pilihannya." Jimmy berbicara dengan kalimat klise.
"please, aku tu lagi laper. jangan minta aku mikir Sayang. aku ngga paham maksud kamu. siapa yang nonjok kamu?" aku menjawab.
Jimmy hanya tersenyum simpul dan melanjutkan lagi perjalanan.
"apa kamu di pukul ayah kamu? karena kamu memilih tinggal sama aku? dan keluarga kamu tahu. aku dari keluarga kaya apa. jadi kalian berantem?" aku mencoba mencari tahu.
"mereka berdua itu pinter. ngga perlu aku cerita, mereka sudah tahu sendiri siapa kamu. keluarga kamu kaya apa, tinggal dimana. bagaimana kamu tumbuh. hebat nya, bisa tahu masa depan ku dan kamu kaya apa... " Jimmy menjawab sinis.
"emang kedepan nya gimana?" aku penasaran.
"ya menurut mereka, suram. karena masih ngga jelas kedepan kamu akan jadi apa. bagaimana, dan buang - buang waktu kalo aku bersama kamu. padahal... ngga akan ada yang sia - sia kalo kita habisin dengan orang yang membuat kita berarti."
"....... " aku diam mencoba mendengar apa yang di katakan Jimmy. meresapi tiap kata - kata yang keluar.
"aku cuman mencoba mempertahankan pilihanku. termasuk tetap ada di negara ini, bersama dengan kamu. menjadi bagian dari hidup dan keluarga kamu. konsekuesi? terserah.. "
"kamu ngga takut? biasanya kan di coret dari daftar keluarga, atau warisan. biasanya hubungan pada bubar karena kaya begitu... " tanyaku polos.
"uang yang aku punya dan kamu nikmati. berasal dari keringetku, bukan dari mereka. jadi sebenarnya mereka yang rugi, karena kedua anak nya udah ngga bisa jadi bonekanya lagi. tenang lah sayang... together we can!"
__ADS_1
Jimmy mencoba menenangkanku, meski ini hal yang selalu aku takutkan. secara orang kaya dan orang miskin itu punya batas yang jauh banget.
ngga mungkin orang biasa aja seperti aku. bisa dapet pria semapan Jimmy. pasti ada hal lain yang akan terjadi. mungkin ini? restu dari keluarganya?