
Aku berbaring sambil menganti channel TV. Jimmy sibuk dengan pekerjaan di meja sampingku.
Sesekali ia menatapku, aku bisa merasakannya. Tapi, aku menjadi malas melihat ke Jimmy.
Tak lama ia mendekatiku, lalu ia mengecup keningku. Aku tersentak dengan apa yang ia lakukan.
"Kaget?"
"Iya.... " Jawabku dengan melongo.
Lalu Jimmy menyusulku berbaring, ia memelukku dengan hangat. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafas Jimmy.
aku mulai kecanduan dengan hembusan nafas Jimmy. Aku harap ini hal wajar sebagai wanita.
"Aku bahagia saat ini, semoga seperti ini selalu ya.... Aku janji saat semua baik dan berjalan sesuai rencanaku... Kamu akan aku bawa pulang... " Jimmy berbisik lembut.
Aku pun hanya mengangguk, perjalanan kami masih panjang. Kuliah dan pekerjaan yang harus bisa aku selesaikan.
menyetarakan posisi dan jarak antara kami. menhapus perlahan rasa sakit masalalu antara kami.
*********
Tak terasa, ternyata aku tertidur dalam pelukan Jimmy. saat aku membuka kedua mataku, Ia sudah duduk lagi di meja kerja.
Aku melihat jam dari ponsel, ini masih pukul 6.30 pagi. Lalu aku berdiri dan melangkah mendekati Jimmy.
Ia terlihat fokus ke layar laptop nya. Lalu aku membalas mencium keningnya. hal yang ia lakukan padaku tadi.
"Sudah bangun? Apa suara keyboard mengganggu? maaf ya.." Tanya Jimmy lembut.
"Tidak.... Sungguh, cuman pengen bangun pagi aja.... Kamu ngerjain apa sih?"
Layar laptop berisi bahasa english. sepintas aku lihat seperti kontrak kerja.
"Ini, tawaran kerjasama logistik. Aku sedang membaca dan mempelajari semuanya... "
"owh... aku ngga paham.. tapi ajari aku ya, agar nantinya aku tidak akan tertipu lawan bisnisku... "
"jelas... apapun itu, kita harus berhati - hati. tapi, kegagalan membuatmu bangkit sayang.. percayalah... " Jimmy membelai pipi ku.
Aku belum mengalami makanya, aku tak mengerti apa yang di maksud Jimmy . lebih baik aku menjauhi Jimmy, memberi waktu padanya menyelesaikan pekerjaan.
"aku mandi dulu ya Jimmy... "
"ini kalimat ajakan? atau pemberitahuan?" jimmy menggoda.
"pengumuman..... " suaraku dari dalam kamar mandi
*********
"Jadi kemana acaramu? Apa bisa kita jalan?" Jimmy bertanya dalam perjalanan.
"Entahlah, aku kasihan sama Ghea... Di pasti belum makan... Aku juga tidak tahu, apa papa bisa pulang hari ini.... " Jawabku dengan wajah pasrah.
Udara pagi yang segar, pemandangan keramaian jalan tanpa kata macet. itulah kenapa Aku suka kota ini.
"Cathrine, besok aku akan pergi.. Tiket pulang untukmu sudah aku beli. Jumat kamu kembali malam. Nanti Pak Teddy yang akan menjemputmu di bandara.. "
"Tunggu...tunggu dulu..... Apa jumat?" Aku mengoreksi kembali apa yang aku dengar.
"Iya jumat... Kita ketemu jumat malam.. " Jimmy menyakinkan apa yang ia katakan.
"Goss... Aku baru disini Jimmy... Bagaimana bisa aku kembali begitu cepat? Bisa aku minta minggu depan saja?"
"Tidak.... " Jimmy menjawab datar.
"Please Jimmy, aku engga nakal disini.. Aku masih kangen papa dan Ghea... " Wajahku memelas.
Tapi, bagi Jimmy cukup baginya. Ia memberi kelonggaran dan menemani Cathrine pulang bahkan membiayai segala operasional keluarga Cathrine.
Yang dia mau cuman Cathrine ada disisinya saja.
Jimmy lalu menepikan mobil. Ia menghembuskan nafas dengan berat. Lalu ia memandang Cathrine...
Tatapan kedua mata wanita itu membuatnya luluh...
"Baiklah, next weeks kamu bisa pulang lagi... Tapi besok jangan lupa kembali... Sabtu kita ada janji ketemu dokter kandungan... " Jimmy berkata sambil membelai rambut Cathrine.
"Dokter kandungan? Mau buat apa? Aku kan ga hamil, malah aku kaya mau datang bulan... " Jawabku polos.
"Kamu harus menyelesaikan pendidikan kamu. Paling engga 3 - 4 tahun, aku mau kamu memakai suntik atau pil pengatur kehamilan.... Dan buatku, aku lebih nyaman yang memutuskan dokter mana yang terbaik buat kamu..... "
Emosiku langsung berubah, semula aku merasa senang mendengar kata dokter kandungan. Bagi wanita kehamilan itu suatu kebahagiaan setelah pernikahan.. Keduanya saling berhubungan dalam emosi seorang gadis remaja yang masih mencari jati diri.
"Jadi kamu ga pengen aku hamil?" Aku bertanya.
"Tidak untuk sekarang, coba pikirkan masa depan kamu... Kalau aku hanya menuruti nafsu, aku engga akan mikir kedepan buat kamu... Bahkan bertanggung jawab akan kehidupan kamu aja engga Cathrine.... "
"Brati kamu sayang sama aku?" Aku bertanya lagi.
Pertanyaan konyol dan polos yang langsung terucap. Bodohnya aku ..
__ADS_1
"Hmm..... Anggap lah begitu... Ayo kita jalan lagi... "
Mobil pun melaju kembali, aku merasa binggung dengan perasaanku. Aku sebenarnya menahan senyum di wajahku. Aku malu menunjukan di hadapan Jimmy.
Lagi pula kami juga baru belajar berpacaran dan hidup bersama.
Ganjalan dalam hatiku adalah soal asusila dan agama. Kami bukan suami istri tapi sudah sejauh ini.
Aku juga harus sadar, dengan siapa aku. Pria Blesteran asia dan timur tengah yang mapan.
Bagaimana kehidupannya, keluarganya saja membuatku bertanya.
Ini dongeng? Tapi, amat nyata saat ia menyentuhku. Saat ia mengecup keningku.
"Tenang lah cathrine... Kamu akan dewasa dan mengerti pada saatnya.... " Ucap Jimmy.
Aku lalu memandangnya dan tersenyum. Cekungan di pipi ku keluar dan itu menarik Jimmy untuk membelainya.
"Kamu emang manis Cathrine.... Gadisku... " Ucap Jimmy.
sebenarnya ini rayuan atau bukan? aku sendiri tidak bisa membedakannya. yang jelas ia berkata dengan tulus.
*********
"Kakak..... Kak Jimmy, kalian belum pulang?" Ghea menyapa kami.
"Dek, kok kamu disini.. Papa kenapa ? Ada apa sama Papa?" Aku panik melihat Ghea.
Ia menunggu di depan pintu ruang operasi seorang diri. Ghea pun tak memberi kabar kepadaku apa yang terjadi.
"Papa operasi kak, berkat kak Jimmy. Kita bisa operasi jantung papa... Semoga aja lancar kak....oh iya, kak Jimmy terima kasih sekali.. " Ghea menundukkan kepalanya beberapa kali.
ia amat berterima kasih kepada Jimmy.
"Sudah Ghea.. Jangan begitu, oh iya saya kesana dulu ya.. Ada panggilan mendesak... " Jimmy pun pergi meninggalkan kami.
Ghea menarikku duduk di sampingnya. Lalu ia langsung memelukku. aku bisa merasakan beban yang tak seharusnya ia tanggung di usianya.
"Kak... Apapun yang terjadi kakak bakalan tetep ada buat Ghea ya... Jangan tinggalin Ghea... Ghea takut sendirian kak...apalagi mama pergi kak, Ghea cuman punya papa sama kakak... " Ghea berbisik kepadaku.
Aku menepuk pundaknya, hal ini bisa sedikit menenangkan dia. Anak manja yang selalu bersikap seolah lebih kuat dari padaku.
"Iya dek... Ghea akan selalu jadi adik kakak.... Papa juga akan ada buat kita dek, kita harus kuat demi papa... Jangan sampe habis ini papa sedih, biar papa cepet pulih...perempuan itu harus kuat Ghea...inget ya..."
Ghea melepaskan pelukannya, aku pun menghapus air mata di pipinya.
"Papa bilang, aku harus memperlakukan kak Jimmy seperti kakak ku sendiri. anggaplah latihan Sebagai kakak ipar kata papa... Apa kakak akanmenikah? atau kakak pacaran sama Kak Jimmy? " Ghea bersuara getir.
"Aku cuman punya kakak... Kalo kakak sudah jadi istri orang. Aku dan Papa siapa yang akan menemani kak?"
"Dek..engga akan ada yang berubah.. Kamu sama papa pasti akan bersama kakak suatu hari nanti.. Sekarang kamu belajar di SMA yang bener ya.. Kakak juga kuliah yang bener.. Nanti kalo kakak sudah kerja dan dapet rumah, kita tinggal lagi bareng ya... "
Ghea lalu memelukku, ia menyandarkan kepalanya di dadaku. Hal tersebut ternyata di lihat oleh Jimmy. Ia tersenyum melihatku memperlakukan Ghea dengan baik.
Tak berselang lama ruang operasi di buka. Papa lalu di dorong keluar dari ruang operasi.
Mereka membawa papa ke ruangan lain. Dimana kami masih belum boleh bertemu. Kami hanya melihatnya dari kaca ruang tersebut.
Alat di samping papa membacakan keadaan papa. Semuanya terlihat baik - baik saja.
Perawat pun keluar dari ruang tersebut. Jimmy menghampiri perawat yang sudah agak berumur tersebut.
"Sus.. Bagaimana? Apa ada masalah?" Jimmy bertanya.
"Keluarga Bapak Thomson? Di tunggu dulu ya. Kalau keadaannya baik baru di pindah ke ruang perawatan.. " Perawat berlalu begitu saja.
Rupanya kami masih harus menunggu sampai keadaan papa membaik. Dokter yang menangani pun aku tak melihatnya. Apa memang sedang ramai di dalam ruang operasi?
Aku masih setia duduk dengan Ghea di depan ruang tersebut. Dokter yang aku tunggu juga tak ada yang nampak.
Jam di ponselku menunjukan pukul 12 siang. Aku rasa Ghea belum makan apapun, aku mencari Jimmy juga tak terlihat dia. Kemana dia pergi?
Aku mengambil ponsel dan menelpon Jimmy. Tersambung..... Nada berdering .. Tak ada jawaban...
"dek, kak Jimmy ga tau dimana.. Kita makan dulu yuk. Udah jam 12 siang, papa kita tinggal sebentar aja. Kan kita masih di area sini..."
"Ya udah kak, Ghea laper mau makan di kantin kemarin aja ya.. "
Kami pun turun ke arah kantin. Aku mencari - cari dimana Jimmy. Aku merasa cemas dimana dia sebenarnya.
Kami pun makan siang di kantin. Ghea juga membeli beberapa kue dan makanan untuk dalam kamar.
Melihatnya makan dengan lahap sudah membuatku senang. Sejenak aku melupakan mama.
Bagaimana ia pergi meninggalkan kami tanpa pesan...
Kring.... Kring.... (Ponselku berbunyi).
"Hallo... Jimmy... Kamu dimana?"
"Kangen ya?"
__ADS_1
"Ish... Udah deh, kamu dimana? Aku lagi makan sama Ghea. Mau nitip atau nyusul?"
"Engga perlu, kalian makan lah dulu. Aku ganti menunggu papa...Bye... "
Panggilan di putus Jimmy...
Tapi, rasanya senang sekali. Aku mendengar suaranya saja sudah mengembalikan moodku.
Tak lama kami kembali ke ruangan tersebut. Aku melihat Jimmy menunggu sambil memegan tablet di tangannya.
"Kak Jimmy, sudah makan?" Ghea menyapa.
"Belum Ghea.. Nanti saja, kakak tadi makan banyak waktu sarapan... " Jawab Jimmy.
Ghea duduk di antara kami. Jimmy sesekali mencuri pandang ke arahku..
Wajahku malah menjadi merah. Aku berusaha menahan tawa di wajahku. aku malu melihat Jimmy mencuri pandang kepadaku.
"Wajah kakak mu kok merah? " Tanya Jimmy.
Ghea melirik ke arahku. "Bener, kakak malu?"
"Ih apaan.. Engga biasa ajahh!" Aku memalingkan pandanganku ke arah lain.
"Ghea.. Kakak mu itu pemalu?" tanya Jimmy.
"Engga juga kayanya kak.. Cuman dia ga pernah salah tingkah begini.. Yang aku inget dulu kakak tu gini tiap dapet Sms dari Michael... " Ghea keceplosan mengatakan Michael.
"Siapa? Micael? Michael?" Jimmy bertanya.
"Iya, itu mantan kakak. Tapi aneh tau, pacaran kok cuman sms aja.. Ketemu diem aja, ga pernah juga main ke rumah... "
"Dek... Apa sih!?" Aku kesal Ghea harus membahas soal itu.
"Terus? Sama kakak ganteng siapa?" Jimmy malah intens berbicara dengan Ghea.
"Kalo kalian tu beda.. Dia tu anak orang tajir. Naik aja motor sport, kalo kakak kan dewasa udah kerja...
Wajah.... Uhm... Dia tu oriental... Kakak agak kaya bule..... Beda kan?"
Jimmy berubah, lirikannya tajam memandangku.
"Lalu? Apa lagi?" Jimmy bertanya lagi.
"Kakak di putusin gitu aja. Udah status backstreet.. Eh malah jadian sama model di sekolah... Kasian deh, model itu cuman menang kurus sama bisa dandan aja sih dari pada kakak... " Ghea menjawab.
"Kamu tu tau banget dek? Cathrine seperti ini aja uda menarik buat kakak. Kok bisa di putusi ga di akuin segala statusnya..serumit itu ya masa SMA?" Jimmy berkata sambil sedikit tertawa.
"Ya! Jelas dia tau. Kami sekolah di yayasan yang sama dari Taman kanak - kanak sampe Kejuruan. Masa SMA rumit dan indah buat aku. Tapi, jangan bahas orang itu lagi... " aku menjawab dengan ketus.
"Kamu marah?" tanya Jimmy.
"...... " Aku diam membuang pandangan ke arah lain.
"Kak... Aku ke toilet dulu ya.. " Lalu Ghea pergi meninggalkan kami.
Jimmy langsung mengeser duduk ke sebelahku. Lalu ia mencoba mendekati wajahku.
"Jangan marah.. Aku cuman penasaran saja.... "
Aku diam tak menjawab Jimmy.
"Apa kamu benci sedalam itu ke Michael? Berarti kamu bener jatuh cinta sama dia ya?" Jimmy penasaran.
Sebagai pria menurutku aneh, dia penasaran dengan si mantan. Biasanya Pria akan tak peduli dengan bagian masa lalu.
"Kenapa kamu peduli? Bukannya, buat cowok mantan ya udah bagian yang wajib di buang. "
"Tergantung, kamu mau membuang atau tidak... Aku cuman penasaran, gimana buat kamu jadi cinta ke aku... "
Aku langsung menoleh ke Jimmy. Aku menandangnya dengan tegas. Apa maksudnya?
"Apa? Kamu salah minum obat?" Aku bertanya.
"Tidak... Jika kamu pernah sebegitu dalam ke orang itu. Aku pastikan, kamu akan lebih jatuh dan tak akan lepas dariku..." Jawab Jimmy.
"Kamu tu posesif ya?"
"Sangat. Aku ga suka kalo kamu memikirkan pria lain. Apalagi sampai pria itu muncul. Aku engga akan suka... " Jawab Jimmy tegas.
"Terus? Aku bisa dan boleh dong cemburu juga. Salimah. Jessy. Dan wanita lain... "
"Buat apa? Kamu yang ada di sampingku. Hanya kamu yang tinggal di apartemenku, naik mobil berdua denganku, tidur dan berc*nta hanya denganku..." Jimmy membalasku.
Ucapannya langsung membungkam mulutku.
Semuanya benar..
Aku yang bersama dia, tapi bagian dari masa lalu itu..membuatku merasa tidak aman dengan posisiku...
Bahkan saat ini, aku masih merasa takut. Suatu saat aku akan kehilangan Jimmy.
__ADS_1