
"Habis cake ini habis kita pulang ya... " Aku berbisik ke Jimmy.
Iya hanya mengangguk yang artinya setuju.
dessert ini sebenarnya enak. ada cake moist dengan cream yang mirip dengan ice cream tapi, ada aroma kacang pistachio didalam.
Samar - samar aku dengar nama Jessy di panggil. Namanya selalu aku ingat, seorang artis yang tadinya menjadi sahabatku di kota ini.
Aku melirik ke atas panggung. Wanita itu memang selalu bersinar, bahkan segala nya seperti terlihat mahal jika ia kenakan.
Benar juga...rupanya Dia dengan pria tua yang dulu ku lihat. Mereka lebih terlihat seperti ayah dan anak.
"Dia temanmu kan?" Jimmy menyindir.
"Memang wanita itu masih menganggap aku teman?" Aku membalas.
"Bukan kah kalian pernah bertemu lagi.. Aku fikir sudah berbaikan satu sama lain.. " Jimmy tersenyum sinis.
"baik pun belum tentu memaafkan kan? memang sih dia cantik, semua pria aja memandang nya. apalagi kamu.. " aku membalas Jimmy ketus.
Aku bisa melihat Jessy tak berkedip memandang Jimmy. Sungguh, rakus sekali ia.
"Ayo kita pulang, aku jijik melihat nya mengejarmu dan bermanja atau menebar pesona.. " Aku berdiri dan menarik Jimmy.
"baik sayang.... sayangku yang sedang cemburu... " Jimmy menggoda.
Kami pun pergi keluar dan meninggalkan acara. Jimmy menggandeng tanganku, beberapa mata wanita melihat Jimmy.
Kami berhenti dan menunggu lift untuk kembali ke Lobby.
Aku melirik dari pantulan kaca Jessy meninggalkan kekasihnya. Ia seperti sedang mengejar sesuatu.
Sepertinya ia mengejar kami. Atau mengejar Jimmy.?
Untung pintu lift tertutup langsung, sesaat setelah kami masuk. Lift pun hanya di isi oleh ku dan Jimmy.
Entah rejeki atau sudah suratannya.
Mobil kami juga lebih cepat datang dari valet service hotel tersebut.
"jadi, bagaimana perasaanmu.?" tanya Jimmy sambil menyetir.
"entah, rasanya campur adu.. biar gimana pria itu pernah memberiku sarapan dan makan malam.... keluarga mereka juga baik. cuman, semoga mereka bahagia... suatu saat kita juga akan menikah kan?" jawabku.
"ya... mungkin. " jawab Jimmy singkat.
*********
"Gw harap lo bahagia Stac... Tapi lo harus inget. Gw ga sudi nyentuh lo. Gw akui lo hebat akting. Dan kepolosan keluarga gw, percaya lo hamil anak gw." Yofie mengertak Stacy.
Stacy menarik ke arah bawah dari dalam baju gaun malam nya. Plup... Sebuah bantal keluar dari perutnya. Ukurannya kecil namun bisa menambah beberapa inch perutnya.
Tubuh stacy yang sempurna terpampang jelas di hadapan Yofie. Stacy mengurai rambut hitam panjang.
"Terserah lo mau nyentuh gw sekarang apa engga. Yang gw yakin, lo pasti akan menyentuh tubuh gw... Jelas.. Gw akan mengandung anak lo. Apapun caranya.. " Stacy balik menantang Yofie.
"Hmm... Lo udah punya semua... Apa masih butuh pria pengangguran? Lo itu gila. Malam ini gw milih pergi, terserah lo mau ngapain!" Yofie berjalan melewat nya.
"Ehem.. Lo jangan lupa... Mama lo tercinta punya sakit jantung..... Bisa aja sih.. Sewaktu - waktu berhenti gitu aja... Kesian kan.... Lalu... Hmm. Lo juga harus inget, keadaan itu berubah. Keluarga lo aja udah setaun ini hidup dari duit keluarga gw... Tahu diri ya suamiku sayang... " Stacy berbicara dengan sombongnya.
Yofie hanya meliriknya, pandangan matanya penuh amarah. Ia teringat bagaimana ayahnya menghabiskan semua uang untuk investasi bodong rekannya.
Hal itu memukul istri nya dan membuatnya sakit jantung. Beberapa kali Tante Noni masuk RS, yofie pun harus bekerja kesana sini membayar semua hutang ayahnya.
Bahkan ia sampai menurut menikahi Stacy, namun hati memang tak bisa di miliki oleh wanita itu.
Stacy pun maju mendekati Yofie. Ia memeluk pria yang kini menjadi suaminya. Senyum puas dan bahagia selalu stacy tunjukan. Padahal bagi Yofie ini awal sebuah rencana besar untuknya.
"Lepas sebelum gw berbuat kasar." Suara Yofie lirih.
__ADS_1
"Gw akan menunggu saat kamu berbuat kasar sayang.. Dan gw bakalan hepi kok.. Hehe... " Stacy masih memeluk erat Yofie.
Akhirnya Yofie menyingkarkan tangan Stacy. Ia memilih tetap pergi keluar.
********
"Pengantin baru kok disini... " Suara Jessy.
Rupanya Jessy di tinggalkan disana oleh Budiawan. Ia mendadak menemui klien di ruangan lain hotel tersebut.
"Lo sendiri kenapa? Mangkal?" Yofie sinis ke Jessy.
"Hmmm.. Sesekali kejenuhan dalam suatu hubungan memang nyata ya... Gw seneng lo akhirnya dapet perempuan yang sepantasnya..bukan sama perempuan kampung, ga level lah.. "
"Pantas? Ya karna lo matre kalik. lo aja dari kampung sok ngomong kampungan.." Yofie lalu meminum gelas yang ada di hadapannya.
"Jangan munafik... Kita semua butuh duit kan. Istri lo juga cantik, body nya juga bagus.... Ga mungkin sebagai pria normal lo engga mengakuinya.... Nikmatin lah...gw emang dari kampung,tapi gw pinter...cantik...sempurna." Jessy menuang minuman lagi ke gelas Yofie.
"Lo jangan sotoy (sok tahu) soal Stacy. Lo engga ngerti dia, pun gw juga ga cinta sama dia. Oke lo sempurna... buat beberapa pria...Lebih menarik wanita polos itu... Cathrine... Chatrine..." Yofie meminum kembali air tersebut.
"Kenapa ya, pria itu lebih suka wanita sok suci sama sok baik kaya dia. Jelas dia aja ngerebut Jimmy dari gw... Gw yang pertama kenal Jimmy. Bisa gw di kalahin sama dia... " Jessy mendadak kesal.
"Karena apa? Lo itu ngebosenin... " Jawab Yofie.
"apa lo bilang?!" Jessy emosi dan mengepalkan tangannya.
"iya, bosen. ngerayu pria ini itu seenak hati. lo emang bisa dipermak jadi cakep.. tapi coba kalo lo engga di modalin itu laki tua.. udah jadi gembel kali...Temen lo itu apa adanya, makanya dia bisa dapet Jimmy...dan gw benci hal itu." Yofie berbicara dengan jujur.
"ha haha..konyol lo itu cuman pria lemah! lo aja engga bisa kan? berjuang buat orang yang katanya lo sayang.. lo cinta.... lemah! jangan - jangan lo emang engga jantan sebagai pria..ups.. " jessy berkata dengan kasar.
Jessy melotot ke Yofie, Wajahnya juga menjadi merah. Ia kembali teringat pertama kali melihat Jimmy, saat itu adalah adegan Cathrine tertabrak mobil.
Jimmy pun hanya melirik ke Jessy. Lirikan itu lah yang di artikan lain. Jessy menganggap Jimmy tertarik kepadanya.
'seharusnya gw yang pantes sama Jimmy. bukan si gembel satu itu.' jessy berbicara dalam hati
"Sayang.. Mari kita pulang.. " Budiawan mengecup pundak jessy.
Ia menghilang perlahan dari pandangan Yofie. Tak berubah tabiatnya, manja dan suka merayu kepada pria lain.
"Menjijikan... " Umpat Yofie.
malam itu ia memilih tidur di kamar lain. baginya tak sudi menyentuh Stacy, entah sudah amat keras ia berusaha menolak. namun, Stacy makin gila.
********
"Jadi kamu cemburu?" Jimmy menggoda.
"Engga.. Ngapain.. Bosen aja, acara pernikahan kok kaya pertunjukan drama... " Jawabku sambil membersihkan make up di wajahku.
"Cemburu juga ga masalah kok.. Tandanya, kamu sudah ngerasa kalo aku milik kamu... " Jimmy kembali menggoda.
"Sudahlah..... Jimmy... Aku mau tanya.. " Lalu aku berbalik badan dan memandang nya.
"Apa? Biar aku jawab... " Jimmy menatapku dalam.
"Apa hubungan kita akan selamanya seperti ini? Tanpa ada ikatan jelas.... " Aku bertanya lirih.
"Kenapa kamu tanya gitu... ?" Jimmy mengeryitkan dahi.
"Ya karena kamu kemarin bilang. Kalo aku dapet yang lebih baik silakan... Itu artinya.. Kamu... Kamu pengen hubungan kita berakhir?" Aku mencoba menahan air mata.
"Tidak.. Bukan itu.." Jimmy menjawab halus..
"Lalu? Aku pernah mendengar, kalimat itu pasti di ucapkan jika salah satu sudah bosan dengan hubungan mereka dan menginginkan perpisahan.... Tinggal menunggu waktu untuk berpisah atau melalui pertengkaran ga penting.... Aku.... Aku.. Apa harus melewati itu?" Air mataku menetes.
Jimmy berdiri dari sofa, ia meraih tanganku dan membawaku dalam pelukan hangatnya.
"Aku... Belum siap Jimmy jika itu tiba. Aku bahkan terlalu bergantung ke kamu... Tapi aku juga ga mau menyembah atau memohon kepadamu untuk tinggal denganku... " Aku masih menangis dalam pelukan nya.
__ADS_1
"Maafkan.. Maaf jika perkataanku melukai kamu... " Jimmy mengelus kepalaku dan menciumku.
"Apa mungkin kita bisa bersama sampai ke jenjang pernikahan?" Tanyaku.
"Tunggu.... " Jimmy mencoba mengatur nafasnya. Ia melepaskan pelukan nya kepadaku.
"Jadi selama hubungan kita apa?" Chatrine memandang Jimmy dengan tajam.
"Ya kita hidup bersama, aku.. Aku tak bisa dan tak siap dengan pernikahan... " Jimmy menjawab dengan suara parau.
"Great..... Ok... " Aku menganguk dan mundur selangkah.
"no.... no... please Cathrine... "
Jimmy mencoba meraihku, namun ponsel nya berdering. Kami melirik terlihat itu panggilan dari mama nya.
Jimmy meraih ponsel lalu pergi keluar apartement. Ia tak berpamitan kepadaku. Aku terpaku dengan jawaban Jimmy. Apalagi dengan kelakuannya baru saja.
Kedua tanganku menopang wajahku.
Aku terduduk di sofa...
Aku menangis... Ya kali ini aku menangis.
"Lo itu tolol... Dia engga punya keinginan jauh sama hubungan lo... Udah lah, lakuin aja mau dia Cathrine!! Manfaatin aja dia!!! Tolong.. Jangan menangis.. "
Aku berbicara sendiri agar diriku bangkit. Aku selalu terbawa hati atas keseharian kami. Ini salah dan telah membuatku kehilangan harga diri.
Aku menghabiskan malam dengan menangis. Entah sudah seperti apa bantal yang aku pakai.
Aku merasa sendiri, berada di situasi yang salah.
Atau, sebenarnya aku sedih melihat Yofie yang akhirnya benar - benar menikah dengan Stacy?
Dadaku sempat merasa sesak saat Yofie mencium Stacy di panggung. Namun aku mencoba menahan diriku, ada Jimmy di sampingku.
"Gw jahat, gw berharap Jimmy bisa jadi pelarian gw. Tapi sekarang gw malah kejebak.... Gw malah sedih sama keadaan ini. Gw ikhlas Yof...gw ikhlas beneran....lo udah bahagia... "
Aku memejamkan mata, mengingat segala kenangan ku dengan Yofie. Mulai perkenalan pertama kami, sarapan pertama kami, hingga pertama kali Yofie mengajakku nonton.
Aku tenggelam dalam tangis dan sedihku. Kepalaku hingga terasa amat berat. Rasanya segalanya gelap tapi rasa lelap yang aku rasa jelas.
Aku membuka kedua mataku, rupanya sudah pagi. Aku menoleh ke samping, ada Jimmy yang menemani.
"Sudah bangun?" Jimmy rupanya sudah bangun juga.
".... " Aku hanya mengangguk.
"Soal semalam, tolong lupakan ya. Maaf jika aku menyakiti dan terlalu sibuk dengan duniaku. Aku janji, akan ada liburan untuk kita... " Jimmy membelai wajahku.
"...... " Aku hanya melihatnya dengan tatapan sayu.
"Kamu menangis semalam? Kedua mata kamu masih agak bengkak... " Jimmy membelai pipiku.
"Sedikit... Kadang aku cuman butuh menangis untuk bangkit... " Jawabku ketus.
"Apa karena aku? Atau yofie?" Jimmy berubah serius.
"Engga.. Cuman merasa masih jauh aja perjalanan ku...sudah lah, kita kemana hari ini?"
Jimmy lalu mendekati ku dan memelukku. Tubuhnya hangat menyentuhku, kenyamanan yang seharusnya tidak boleh aku rasakan dengan pria yang bukan suamiku.
"Bagaimana kalau kita mencari cincin?" Jimmy berbisik.
"..... " Wajahku memerah, namun aku menahan senyumku.
"Wajahmu merah... Kamu seneng ya...hayo... " Jimmy menggoda.
"Apa sih... Udah ah... " Aku malu mengakui, tapi aku senang mendapat cincin itu.
__ADS_1
"Ayo kita bersiap.. Sepertinya langit mendung, tak seperti biasanya... " Jimmy lalu bangun dan mulai bersiap mandi.