
Aku menaruh semua belanjaanku di atas meja makan kami. Aku mulai mengupas bawang, merajang nya dan menyiapkan jamur serta daging.
Malam ini aku ingin membuat Spagheti spesial untuk Jimmy. Aku habis mempelajarinya di kelas memasakku tempo hari.
Ini juga hari jumat, seharusnya Jimmy tidak pulang malam. Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubunginya dulu.
Me : kamu pulang biasa kan? Aku bikin pasta spagheti, coba ya.
Jimmy : sure! Tunggu di sana ya.
Aku tersenyum, lalu aku melihat jam dinding. Rupanya baru pukul 5 sore. Sekitar 1 sampai 1.5 jam lagi Jimmy baru sampai.
Aku melanjukan memasak dan membersihkan rumah. Setidaknya walau ada Bu Sumi, aku juga harus belajar beberes.
********
"Terkadang dia manis juga... " Jimmy berkata sendiri.
"Kenapa lo?" Tanya Louise.
"Engga papa... Cathrine... Dia manis juga walau kadang seperti anak kecil." Jawab Jimmy.
"Ya aku rasa temanku sudah terkena panah asmara dari cupid... " Louise menggoda.
"Hei..... Ngga salah kan? Apalagi, kalau semua nya bisa berjalan sesuai planningku.... Lo tahu kan? Gw itu orang yang menghitung segala nya dengan detail.... " Jimmy bersua bangga.
"Ya.. Iya.... Percaya... Oh iya, lo udah tahu dimana Gibran? Terus anak itu... Udah cerita ke Cathrine?" Louise bertanya.
Jimmy diam, wajahnya berfikir. Ia bahkan melupakan keberadaan anak Alm. Mira.
"seingatku aku sudah pernah membawa nya.... Gw udah lama engga ke Pondok sana.. Mungkin besok gw akan ajak Cathrine kesana lagi... "
"Terus soal baby? Lo uda bener - bener mikir mateng? Cathrine masih muda dan lo maksa dia buat ngelakuin KB.. Impact ga ke badan dia?" Louise khawatir.
"Lo kok mikir sampe situ?" Jimmy tanya balik.
"Ya karena jaman sekarang itu orang akan lebih gampang sakit. Hormonal juga makin kesini kaya makin gampang aja berkembang.... Sebenernya bukan urusan gw. Cuman Yana kemarin bilang.. Kalo ketemu istri lo di Obgyn... " Jelas Louise.
"Oh iya? Kapan?" Jimmy lalu melihat ke kalender meja nya.
"Uhm.... Sekitar 2 minggu lalu kalo tidak salah. Yana tak sempat bertanya karena Cathrine barusan keluar dan ia pergi dengan cepat... "
Jimmy terdiam lagi, kedua bola matanya bergerak kesana sini. Ia seperti memikirkan sesuatu.
"Ya itu jadwal Cathrine ke dokter untuk suntik. Dan juga.... Udah di pilih jenis KB yang aman lewat suntikan buat dia.... " Jawab Jimmy.
Louise yang kini balik diam. Ia hanya menghela nafas dan melihat ke jam tangannya.
"Baik lah, udah waktu nya pulang. Gw cabut dulu ya.. Bye... Ohiya.... Sesekali lo lihat ya efek suntikannya... Kebadan istri lo... Soalnya Yana jadi mudah berjerawat dan flek di wajah... " Louise pun pergi meninggalkan Jimmy.
Jimmy tertawa mendengar ucapan louise. Ia berfikir, apa yang bahaya? Dokter ahli sudah menjamin ini semua aman. Tak perlu ada rasa takut.
Tiba - tiba intercome masuk di telpon ruangan Jimmy.
"Kenapa Jean?"
"Maaf, Ibu Jessica bilang ada janji dengan anda."
"Jessica siapa ya? Saya engga ada janji."
"Minggir, jimmy, ini teman Cathrine. Gw mau bicara sebentar." Suara Jessy terdengar.
Suara perempuan yang Jimmy enggan mendengar. Apalagi suara perempuan yang selalu menindas istrinya.
Ia berdiri dari tempat duduk, lalu berjalan menuju pintu keluar. Ia membuka pintu dan melihat wajah wanita itu disana.
"Silakan bicara disini... " Ucap Jimmy.
Jessy yang sedang bertengkar dengan Sekertaris Jimmy itu diam. Ia tersenyum centil ke Jimmy.
"Ini gw mau memberi kue. Gw kan sekarang punya toko roti. Jadi mau bagi - bagi sample gitu... "
Di tangan wanita itu ada kardus kue berwarna merah dengan logo burung Merak.
"Jean, ambil itu. Dan letakan di pantry" Perintah Jimmy.
Jean mengambil dan mengantarkan ke pantry kantor. Kini tinggal mereka berdua saling berhadapan.
"Jadi... Gw... Gw engga di ijinin masuk ke dalem?" Jessy mencoba menggoda.
"Buat apa? Bukan nya urusan udah selesai." Ucap Jimmy simple.
"Engga kan bisa chit chat dulu sambil nunggu waktu pulang.. Terus balik bareg.. " Jessy masih mencoba.
"Permisi saya masih banyak kerjaan.. " Jimmy meninggalkan Jessy begitu saja.
Wajah Jessy merah, ia merasa malu. Kenapa selalu saja mendapatkan penolakan dari pria ini.
*****
Aku keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk yang melilit tubuhku.
Rupanya Jimmy juga baru saja masuk ke apartement kami. Kami bertemu di depan pintu masuk dan pintu kamar mandi.
"Kamu udah balik? Aku pikir masih nanti, belum platting aku..." Aku menyapa.
__ADS_1
"Sudah dong, ada hidangan utama jadi aku balik cepat.. Uhm... Apa kamu sengaja menggoda dengan pakaian ini? Butuh tenaga untuk membantu mengeringkan" Jimmy menggoda.
"Hiiih... Mesum.. sana mandi... Aku siapin makan malam dulu.. " Aku kesal.
Aku meletakan piring di atas meja makan. Menata makan malam kami, aku hampir tak memperhatikan dimana Jimmy.
"Sst... Aku suka aroma sabun di pundakmu... " Jimmy berkata dan memeluku dari belakang.
"Geli Sayang... Pleasee... Kita makan dulu, aku pengen kamu coba dan kasi komentar ke aku... "
Aku mencoba melepas pelukannya, namun tangannya malah makin menjadi.
Jimmy rupanya lebih memilih kita menyatu sesaat baru mulai makan malam bersama.
Aku jujur kangen dengan sentuhannya. Tatapan matanya yang tajam dan pelukan hangat tangan nya.
Membawa ku melayang menjadi wanita yang bahagia dalam sesaat.
Memberi nikmat yang membuatku candu.
Sesaat yang membawaku melayang dan menatap Jimmy dengan sendu. Bibirnya merah membuatku melayang.
Sesaat yang lalu, kini kami tersadar dan menggunakan kimono handuk. Ia sudah siap menunggu masakanku.
"Bau nya enak.. " Ucap Jimmy saat aku meletakan piring di hadapannya.
"Cobalah... Aku belajar ini di kelas memasak... "
Ia mencoba beberapa kali, tak ada komentar yang keluar. Ia hanya menghabiskan pasta dan garlic toast bread di hadapannya.
"Apa ada lagi? Aku sangat lapar... " Tanya Jimmy.
"Ada... Wait yah... "
Aku mengambil piring Jimmy. Lalu mengambil sisa pasta di dekat kompor yang aku sisakan.
Lalu aku kembali kepadanya, menyajikan lagi. Jimmy mengambil keju permesan tabur dan mencampurnya.
"Apa enak?" Aku bertanya.
"Habiskan dulu... " Jawab Jimmy.
Aku menghabiskan makanku dan Jimmy pun sama. Hingga ia membereskan piring kotor kami.
Ia mencuci piringnya, aku membersihkan meja makan dengan lap. Lalu aku inisiatif meminta maaf kepadanya.
Aku memeluk Jimmy dari belakang. Pundaknya sangat lebar dan hangat. Aku menyandarkan kepalaku disana.
"Apa kamu mau lagi?" Jimmy menggoda.
"Kamu takut aku meninggalkan mu?"
"Iya...." Aku mengangguk.
Jimmy tersenyum, ia merasa menang.
"Aku takut di hianati dan di tinggalkan seperti dulu.. Aku bahkan ngga pernah merasa berarti atau berharga setelah hal itu terjadi. Aku merasa dunia jahat kepadaku...... " Cathrine berbicara sendiri dalam pelukan Jimmy
"Mama pergi gitu aja, bahkan aku pernah bercerita kan? Aku bertemu dengan nya bersama pria lain. Padahal, dulu ia memaksaku pergi ke kota untuk mencari uang.. Uang.. Uang... Apa harus seberat ini menjadi anak pertama? " Aku meracau lagi.
Jimmy membalik badannya, ia mengangkat wajah cathrine dan tersenyum.
"Bukan soal berat beban yang ada. Tapi kamu harus kuat. Kalau kamu tahu ini berat, itu lah ada nya aku.. Kamu harus semangat Sayang... Aku yakin kamu bisa... " Lalu Jimmy memelukku.
Ia melepaskan pelukannya, kini ia meraih bibirku. Ia menciumku dengan mesra, kami mengulangi lagi hal itu.
Ada rasa tak peduli soal status kami, tapi kadang saat semua selesai. Aku merasa sampai kapan hubungan dosa ini terjadi. Paling tidak.. Aku ingin memiliki ikatan pasti dengannya.
Aku tapi takut jika harus mengatakan hal demikian. Aku dengar orang dari negara lain tidak suka dengan komitmen.
Aku hanya bisa berdoa dan berharap kalau semuanya akan baik - baik saja.
Pagi pun datang......
Kami sudah mandi bersama sambil bercanda dan menikmati waktu bersama.
Aku menyiapkan sarapan di meja makan kami. Roti tawar panggang dan selai di sampingnya.
Jimmy menyusulku dan duduk di sampingku. Ia mengambil beberapa lembar roti dan mengoles selai strawberry.
"Ini.... " Ia memberi kepadaku.
"Thank you Love..... " Jawabku manja.
"Oh iya, apa kamu inget aku pernah mengajak ke sebuah panti?" Jimmy bertanya.
"Oh iya, pak Haji ya? Yg di daerah barat sana kan?" Aku menjawab sumringah.
"Ya... Ada hal dari masa lalu ku yang nampak nya aku harus jujur.... " Jimmy berubah serius.
"..... " Aku menatap nya serius sambil makan roti selai itu.
"Jadi, di masa lampau.. Aku pernah memulai hubungan dengan Mira. Sama seperti kamu. Dia artis juga, cuman di managemen oleh Budiawan.. Pesaingku... Pertemuan kami secara tidak sengaja.
Dalam acara penghargaan kami bertemu. Dan saat itu aku juga tertarik kepadanya...
__ADS_1
Namun, saat itu aku ga paham tiba - tiba ia pindah ke managemenku. Dimana saat itu aku masih merintis semuanya..... " Jimmy menghela nafas.
Seperti nya ia mengingat jauh ke kenangan lalu. Kenangan yang ingin ia lupakan.
"Singkat cerita kami dekat. Dan berpacaran. Walau pun aku tahu. Saat itu Mira sudah memiliki anak. Ia menikah dengan tengkulak di desa nya. Pernikahan bawah tangan yang aku tahu. Maka nya Gibran sama sekali tidak di urus oleh ayah biologisnya....
Mira sesekali membawa nya saat kami bersama. Aku pun tak masalah dengan itu... "
Aku shock mendengarnya. Ia termasuk pria yang tulus dalam suatu hubungan? Apa memang ada pria seperti ini di dunia nyata.
"Semua nya baik - baik aja. Sampai, saat kami mau ke jenjang serius.. Aku membawanya ke keluargaku. Dan kamu sudah bisa menebak. Keluarga ku tidak menyukainya.
Bahkan mengusir Mira pergi...
Setelah itu kami agak merenggang. Hingga ada kasus foto semi telanj*ng Mira tersebar.." Jimmy bercerita lagi.
"Tunggu.. Aku kaya pernah denger deh.. Kasusnya ilang gitu aja?" Aku memotong.
Ya, aku ingat pernah ada kasus artis baru yang meninggal sesaat setelah foto semi nya tersebar.
"Ya... Karena aku membayar semua media agar menghapus berita itu.. Aku lanjut ya. Sampai kejadian itu baru berusaha aku tutup.. Aku mendapati Mira meninggal over dosis obat t**** di rumahnya....
Sejak saat itu duniaku hancur.
Karir dan bisnis dunia intertainment ku berkat Mira bisa berkembang. Ide nya dan semangat nya yang membuatku maju...
Sulit buat aku melupakan ia... " Jimmy bercerita dengan sumringah.
Hatiku agak sakit mendengar cerita Jimmy. Tapi, aku juga penasaran bagaimana penilaiannya soal diriku.
"Aku kadang merindukan senyum dan tawa nya. Mirip sekali dengan Gibran.
Aku tenggelam dalam rasa bersalahku. Aku jadi merasa bertanggung jawab dengan masa depan Gibran..
Sesekali aku pergi ke pondok menengok nya. Walau aku mendengar ayah biologisnya berencana menjemput nya pergi... "
Aku tersenyum ke Jimmy, aku tak mungkin menunjukan rasa di hatiku.
"Sedih dan rasanya hancur hidupku. Sampai akhir nya aku mikir. Ngapain sih membuka hati lagi. Aku berfikir ingin sendiri sampai. Entah kapan... "
"Lalu? Hubungannya denganku?" Aku bertanya.
"Segala berubah saat bertemu kamu. Tapi, maaf karena kejadian itu. Aku belum berani memberi kamu status dan harapan ke masa depan kita. Itu lah kenapa....
Aku pengen kamu kuliah yang bener. Mau kursus apapun, aku bayar Cathrine. Tapi, please...
Serius lah, agar suatu saat jika aku membawamu pulang. Keluargaku ngga akan lagi memandang rendah perempuan pilihanku..
Smart, beauty and behavior.. Thats the point... " Jelas Jimmy.
"Tapi apa aku sanggup?" Aku langsung lemas mendengar nya.
"Sure! Aku yakin kamu sanggup. Kamu wanita cerdas.. " Jimmy lalu membelai rambutku.
"Jadi, dari cerita kamu tadi... Kesimpulan nya, kamu membalas perasaanku di pesan kemarin? Kamu cinta juga ke aku?" Aku mencari jawaban kegundahan hatiku.
"Hmm.. Apa penjelasan aku kurang tadi? " Jimmy malu mengakui.
"Ayo lah, aku bodoh. Aku tidak bisa membaca pikiran dan mengartikan bahasa pria. Apalagi kalau dia seorang buaya... " Aku menjawab ngotot.
Jimmy menarik tanganku ke dalam pangkuan nya. Ia lalu mencium bibirku dengan halus.
"Ya. Aku rasa aku mulai menemukan Cinta... " Bisiknya.
Deg deg deg.... Rasa jantungku berdegup kencang.
aku ingat Michael juga pernah mengatakan Cinta. Tapi? Ia pergi dengan fira.
Memilih wanita populer daripada aku sicupu. Meninggalkanku dalam kehancuran, si cupu yang belum pernah punya pacar.
Memiliki pacar cowok sekeren Michael. Dan sicupu yang dulu. Kini berada dalam pelukan pria dewasa penuh luka.
aku menyentuh dada Jimmy. aku dapat merasakan denyut jantungnya meningkat.
"kamu nervouse?" aku bertanya.
"sangat.... aku tak pernah membiarkan perempuan meraba tubuhku sendiri.... " Jimmy menatap ku seperti serigala yang lapar.
"promise? jangan tinggalin aku? sicupu yang dulu nya di hianati oleh seorang pria keren di SMA?" aku masih meragukan Jimmy.
"kamu mau meninggalkan ku? jika pria itu datang lagi?" Jimmy bertanya sambil memeluk pinggangku.
"uhm... bagaimana menurutmu?" aku memancing Jimmy.
"rupanya kamu mau membangunkan serigala? aku tunjukan kepadamu... bahwa aku tidak suka di jadikan mainan... " Jimmy mengendongku dan melemparkan ku ke atas tempat tidur.
ia memang sering berbicara, bahwa ia tak suka berbagi apapun. apalagi perempuan dan hati.
pagi itu ia memberiku pelajaran, membuat kami melakukan lagi.
jujur badanku lelah sekali, sakit dan capek. tapi pria ini tak melepasku begitu saja. salahku sendiri juga memancing nya dengan pertanyaan konyol.
tapi, aku lega...
bahwa aku tidak bertepuk sebelah tangan...
__ADS_1