CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
52


__ADS_3

Ghea membuka pintu, ia kembali ke ruang ayahnya di rawat.


Terlihat pak Thomson tersenyum melihat putri bungsu nya datang. Ia bersyukur masih memiliki seorang putri yang menemaninya kini.


"Pa.. Sudah mendingan?" Tanya Ghea yang kini duduk di sampingnya.


"Sudah Nak... Ohiya, kamu sudah ketemu dia?"


"Dia?" Ghea bertanya balik.


"Ia, pria yang tadi kesini... " jawab Thomson.


"Oh, yang di maksud papa itu.. Bos kakak?" Ghea masih penasaran apa benar.


pandangan kedua mata Ghea pun tidak suka. Ia merasa cemburu dengan orang baru tersebut.


"Iya... " Jawab ayahnya sambil mengangguk.


"Oh.... Tadi ketemu pas makan bareng. ngaku nya boss nya kakak...Tapi menurut ku, dia lebih dari sekedar boss.." Ghea menjawab.


"Mungkin kamu harus terbiasa nantinya, memanggil dia kakak ipar... "


Mata Ghea melotot, ia seperti tersambar petir mendengar ucapan ayahnya.


"Papa ga salah?!" Ghea masih tidak menerima perkataan ayahnya.


"Iya, pria itu kemari baru saja. Kami pun berbicara kepada cukup serius..Eh, tapi kamu diam jangan sampai kakak mu tahu soal ini...apalagi soal pertemuan papa dengan Jimmy. " Jawab Thomson.


"Pa... Papa jangan aneh deh, kakak itu masih kecil. Ga mungkin pa, lagi pun ya.. Kakak itu janji kalo dia menikah aku akan menjadi pendampingnya... " Ghea kesal mendengar ucapan ayahnya.


"Nak.. Jangan begitu, pria itu memberi pendidikan buat kalian. Yang dia butuhkan cuman status secara negara dengan kakak mu... Tapi, jangan sampai kakak mu mengerti soal ini... Karena papa ga mau dia berfikir mendapat orang kaya dan berhenti berusaha mencari masa depannya.. .. "


"..... " Ghea terdiam memandang ayahnya.


"Papa juga Bukan menjual kalian. Papa pengen kalian itu bisa sukses dan berdiri di atas kaki kalian sendiri. Menjadi wanita kuat. Bukan hanya mengandalkan suami kalian nantinya.. Ambil yang baik dari papa - mama. Buang yang buruk dari kami...!" Suara Thomsom bergetar.


Pria itu tak bisa menahan rasa malu dan sedih. Bagaimana istrinya meninggalkan dan memperlakukan mereka selama ini.


"Besok.. Papa akan operasi, pria itu juga yang mengcover semua biaya papa. Baik nya kamu bersikap dengan sopan terhadap dia....


Papa tahu, kamu dekat dengan kakak. tapi, papa berani janji. tak akan ada yang berubah.."


Ghea tak memahami apa yang telah terjadi. Ia hanya bisa menonton dan mengikuti tanpa dapat berkata.


Yang ia pikir kini, kakak nya sudah menjadi milik orang lain. Dimana dan kepada siapa lagi ia?


*********


"Jim.... " Aku menahan Jimmy sambil memegang tangan kanannya.


Aku melihat apa Ghea sudah masuk ke dalam ruangan.


Keadaan pun aman menurutku.


Jimmy melihatku penuh tanya. Aku lalu memandang Jimmy.


"Kamu disini aja, aku mau ngeliat ke dalem. Kalo kamu ikutan, papa pasti akan banyak tanya. Itu hal yang aku ga mau... "


Wajah Jimmy malah seperti orang bodoh. Dia hanya memainkan kedua matanya.


"Ngerti kan? Kita ga mungkin bilang. Tinggal bersama tanpa ikatan.. " Aku berkata lagi.


"Kenapa tidak? Aku yakin ayahmu orang modern pasti... " Jimmy berkata dengan simple.


Aku kesal dan melepaskan tangan Jimmy.


"Bukan gitu Jim! Ayahku pasti akan khawatir kalau aku bawa pulang cowo. Secara seumur aku nih, baru sekarang ada cowo ke rumahku... Paham ya..?"


"Yaelah Cathrineee..! Denger ya, bisa kan perkenalkan sebagai bos? Kamu juga bisa bilang saya cover semua obat papa kamu... Sebagai bayarannya, kamu kerja ke saya... "


Aku diam sesaat dan berfikir. Ada benarnya berkata demikian, justru kalau aku panik.. Pasti papa malah curiga..


"Hei? Jadi ke dalam?" Tanya Jimmy.


"Sebentar... Biar aku mikir... " Jawabku.


"Yaelah... Udah ayo masuk!" Jimmy menarik tanganku.


Kami pun masuk ke dalam. Papa menyambutku dengan wajah senang.

__ADS_1


"Kamu datang kesini? Apa bisa libur?" Tanya papa.


"Iya Pa, aku pas ada tugas di semarang. Jadi aku sekalian kesini.. Pa... Ini atasanku.. Namanya Pak Jimmy... " Aku memperkenalkan Jimmy.


Mereka bersalaman, seperti orang yang baru pertama bertemu. Aku pun tak menaruh curiga apa - apa saat itu.


"Saya titip anak saya, jika dia melakukan kesalahan. Mohon koreksi dia, kemudian.. Dia itu hanya gadis kecil yang pura - pura kuat... Sebenarnya dia amat sensitif dan mudah menangis... Maklumi lah ya, karena usianya dan saya rasa belum ada kedewasaan dalam dirinya... " Thomson membuka suara.


"Papa... Apa sih?? " Aku menyela.


"Papa hanya berbicara fakta... Bukan begitu Pak?" Papa melirik Jimmy.


"Benar Pak... Saya akan berusaha sekuat saya. Agar kami bisa bekerja dengan baik dan saling memahami.. Anda tidak perlu khawatir... " Jawab Jimmy.


Wajah Ghea sinis memandangku, apa yang terjadi? Sepertinya aku kehilangan suatu moment.


"oh iya, maaf tidak ada kursi disini. anda jadi tidak bisa duduk... " Papa berkata dan mencari kursi disekitar.


"tidak perlu repot pak.. saya dan Cathrine masih ada meeting. kami sebentar lagi mohon permisi dulu... " jawab Jimmy.


aku kaget dan menoleh ke arah Jimmy. ini tidak ada dalam jadwal kami. yang ada aku disini, dia terserah mau kemana.


"bapak bisa berangkat sendiri... " aku berbisik ke Jimmy.


"ooo... tidak bisa... kamu asistant saya, that's why kamu harus ikut sama saya.... " jawab Jimmy.


"Pak, maaf saya lagi ada acara sama keluarga saya.... " aku menunjuk ayah dan Ghea.


"nak, ikutlah dengan pria ini. tidak profesional jika kamu menolaknya hanya karena kami.... " Papa menengahi kami.


"Terima Kasih Pak... " Jimmy tersenyum ke papa.


"Pa.... Aku udah ijin kok tadi buat ketemu papa.... " Aku menjawab.


"Tidak baik, karena kamu juga baru di terima bekerja. Kamu harus menjaga sikap dan profesional kerjamu. Sana tidak papa.... Pun besok papa akan operasi By pass.. "


"Apa?! Biaya dari siapa pa?" Aku kaget mendengarnya.


Uang darimana? Sedang warung di rumah saja sepi. Toko dipasar sudah tutup. Tak mungkin, pasti ini... Mungkin kah? Jimmy ikut campur.?


"Tadi dokter memberi tahu, ada orang dermawan yang menolong kita.. Dia adalah pria ini... " Papa menunjuk Jimmy.


Jimmy tersenyum lebar, ia menunjukan gigi putihnya. Aku mulai eneg dan merasa di permainkan. Kenapa Jimmy engga bilang apa - apa ke diriku?


Aku pun meninggalkan mereka, ikut keluat bersama Boss. Boss Jimmy.


Aku berjalan menyusuri koridor dan beberapa anak tangga. Tak sepatah kata terucap antara kami berdua.


Sampai di dalam mobil pun, kami masih diam. Jimmy menyalakan GPS dan mesin mobil. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bangku mobil.


"Lelahnyaa....... Oh iya, bagaimana tadi? Aku rasa papa kamu suka sama kehadiranku kan?" Jimmy membuka suara.


Aku diam dan hanya melihat keluar jendela.


"Cathrine Sayang... Kamu kenapa marah? Kalo kamu diem, sama aja aku ngomong sama tembok... " Jimmy berbicara.


"Berhenti bilang sayang, kita ini ga punya status hubungan Jelas. Dan aku merasa risih di panggil sayang... " Aku menjawab ketus.


"Wokey, fiancè? Boleh? Panggilan bagus kok..." Jimmy berfikir Cathrine tidak akan tahu apa artinya.


"Yang lain aja, jangan itu... Aku curiga dengan artinya... "


"Artinya Gadis baik.... " Jawab Jimmy.


"Bukan... Aku tahu kok... "


Jimmy kesal, lalu separuh tubuhnya bergeser menoleh ke arahku.


"Apa ada yang salah? Aku masih ingat dengan baik. Kamu membolehkan status kita pacaran. Yasudah aku melakukannya, apa salah??"


aku cemberut memandang Jimmy.


"apa lagi yang kamu takutin??" Jimmy mengernyitkan dahi.


"aku... aku cuman takut hubungan kita dengan dosa. apalagi aku biasa drkat dengan adikku. aku takut dia akan merasa kamu mengambil aku dari hidupnya.... "


"engga akan ada yang berubah Cathrine! umur kamu 19 tahun. sudah saatnya kamu memiliki hubungan dengan lawan jenis.. anggap lah kita pacaran. tinggal bersama, sebagai latihanmu. jika suatu saat kamu menikah. kamu akan bisa menangani suamimu. melayani dia dengan baik.... "


aku hanya mendengar Jimmy. suaranya saja sudah bisa menyihirku untuk diam. aku terbungkam mendengar perkataannya.

__ADS_1


"Tolong lah, aku ingin kita kesini sambil sedikit liburan. Aku pengen kita bisa quality time juga Cathrine.... Saling mengenal dan membangun emosi agar kita bisa mulai terbiasa satu sama lain... " Jimmy kemudian memegang tanganku.


"Aku engga ngerti sama maksud kamu membangun emosi. Tapi yang aku pahami, aku harus mulai terbiasa dengamu. Harus bisa mengimbangi dirimu, kedewasaanmu dan cara berfikirmu.... Apa aku sanggup?" Aku menahan air mata.


Benar kata papa, aku gadis kecil yang mudah menangis. Berkata seperti ini saja aku sudah menangis.


"Kamu harus sanggup! Kita sudah saling memilih dan kita hidup bersama sekarang. Mari, kita saling belajar Cathrine... "


Kemudian Jimmy menarikku, ia memelukku. Aku jatuh dalam dekapan hangatnya...


Ia menepuk pundakku, ia mencium rambutku.... Rasanya nyaman dan aku seperti mendapat kekuatan dan jawaban atas emosiku.


"Anggaplah kita pacaran mulai sekarang. Atau hidup seperti sepasang suami - istri... Kita saling belajar Cathrine.... " Bisik Jimmy.


Ya Tuhan apa ini salah satu bentuk rayuan? Aku melayang dengan kata - katanya tadi.


Apa aku yang memang cupu soal cinta? Aku mendengar perkataan nya saja sudah senang dan tersenyum terus.


Jimmy pun melepaskan pelukannya. Sesaat kami saling memandang, tatapan matanya menyejukan hatiku..


Bibir Jimmy mendekatiku, ya dia menciumku.


Aku mulai terbiasa dengan bentuk bibirnya. Aku lebih terbiasa berada bersamanya..


aku harus bisa bertahan dengan Jimmy. walau aku sadar segalanya sedang dimulai.


**********


"Ghea.... papa harap kamu bisa maklum soal kakak. dia sudah banyak menderita karena papa.... papa juga ga mau kamu tidak bisa sekolah Ghea... maafkan papa... " Papa memandang Ghea.


gadis kecil nya dari tadi hanya diam dan melamun. ia masih shock dengan kabar kakak nya yang menikah dengan pria itu.


"Ghea cuman takut, dari kecil kakak selalu menemani kemana Ghea pergi. kalo kakak menikah, Ghea sama siapa?" Ghea berkata dengan meneteskan air mata.


"Dek, jangan begitu, kamu masih punya papa... papa bisa menemani Ghea kemana Ghea pergi... kakak biar bagaimana tetap akan jadi kakak mu... kamu pun bisa ke kota berlibur. malah kamu harusnya senang, kamu bisa kesana dan tinggal bersama kakak... " Papa mencoba menenangkan Ghea.


"pa... papa kok yakin sama Pria itu? bukannya papa orang yang pemilih. apa lagi soal Jodoh buat Ghea sama kakak... " Ghea menghapus air matanya.


"entah Dek, papa cuman merasa mata nya mengatakan jujur. cara dia memandang Kakak mu juga berbeda. papa bisa merasakan, sebenarnya pria itu jatuh cinta pada kakak mu... hanya saja.... " Thomson menghentikan perkatannya.


ia pun menghela nafas sebentar. Berat dan sulit di pikirkan oleh Thomson. bagaimana nanti kelanjutan hubungan mereka.


"Papa takut, jika kakak kamu tidak bisa menyesuaikan standart pria itu. karena dia bukan dari kalangan biasa, dia dari bangsawan kalau di negara kita.. makanya papa juga sadar, kakak mu paling tidak harus sepadan dengannya..... " ucap Thomson.


"terus nasib kita gimana pa..? apa kita akan terpengaruh dengan itu?"


"papa rasa tidak, yang penting kita harus bisa menahan kakakmu. menahan agar dia bisa kuat menghadapi pria itu..... " Thomson lalu menganggukkan kepalanya.


"pa.... kakak engga boleh tahu soal pernikahannya sampai kapan?" Ghea mengernyitkan dahi


"papa tidak tahu, semoga saja mereka tak perlu berakhir... hmm... semuanya di tangan kakakmu sendiri Ghea... kita hanya bisa mendoakan saja... " papa lalu memandang keluar jendela.


tak terfikir dalam hidupnya. dia akan menikahkan anak nya dengan pria misterius. bahkan asal usul nya pun, ia tak tahu.


mencari informasi kemana juga tidak bisa. sudahlah, dia hanya bisa berpasrah pada sang pencipta. semoga memang ini yang terbaik untuk mereka semua.


fokusnya kini adalah Ghea, jangan sampai Ghea juga pergi meninggalkan nya. seperti Nina yang mudah pergi begitu saja.


**********


aku masuk ke dalam kamar hotel. kami mendapat kamar eksekutif di hotel bintang 4.


aku baru pertama menginap di hotel. aku terpana melihat kaca yang besar di samping jendela. dengan sofa yang besar dan kamar mandi sebesar kamar tidurnya.


"kenapa Cath? " jimmy berkata sambil memelukku dari belakang.


"aku baru pertama masuk hotel. aku. tempat ini bagus.... " aku kagum melihat interior hotel yang rapi.


dengan semua barang yang aku tidak temui di rumah. pemanas air otomatis, kulkas kecil, bath tub dan wastafel yang bersih.


"biasa kan lah dirimu Cathrine.. jika kuliahmu selesai, aku akan membawamu ke negaraku. disana kita akan menginap di hotel yang paling bagus... aku janji kepadamu... " Jimmy berkata sambil memeluk pinggangku.


aku lalu membalik badanku, kini kami berhadapan. aku bisa melihat dengan jelas wajah Pria ini. Pria dewasa dengan wajah yang tak pernah bosan aku pandang.


"iya sayang, aku janji, akan aku selesaikan dengan cepat masa perkuliahanku...." aku menjawab dengan nada sendu.


Jimmy mengelus pipiku, ia menciumku lagi. Rasanya kenapa berbeda, seperti di antara kami sudah tidak ada batasan lagi.


aku tak lagi merasa sungkan melakukan ini dengannya. aku yakin, aku terbiasa dengannya jadi rasa sungkan dan malu hilang.

__ADS_1


"Cathrine.. maaf jika aku tidak bisa membawamu pulang dulu... aku berjanji waktu itu akan tiba... " Jimmy berkata dengan tatapan sendu.


tatapan yang selalu meluluhkan hatiku. aku sendiri tidak tahu, apa aku sudah mulai jatuh cinta ke Jimmy.


__ADS_2