
tubuhku berkeringat, napasku berat...rasanya sulit sekali bangun dan sadar dari mimpiku...
"biar bagaimana pun, dia suami kamu! sepantasnya kamu pergi bersama dia!" Thomson berkata dengan keras kepada Cathrine.
"engga! tak sudi aku pergi bersama pembohong itu.. "percaya Papa... jika kamu tidak berubah. tinggalkan Papa! "
"papa... papa!!"
"haaaahhh!!!! " aku terbangun..
aku langsung bangun dan duduk.
Jimmy pun ikut terbangun, ia lalu duduk di sebelahku. wajahnya binggung dengan apa yang terjadi.
"ada apa? kamu kenapa?" Jimmy menepuk pundakku.
"engga..... " nafasku masih sesak.
mimpi buruk.... iya, mimpi yang terjadi bila aku terlalu lelah.
Jimmy melihatku penuh tanya, tapi diriku lebih mempertanyakan arti dari mimpiku.
"jimmy, aku bermimpi. aku bertengkar dengan papa. hanya karena aku pergi dari sisimu..... Papa menyebut kamu sebagai suamiku...mimpi itu membuatku sesak.. " aku bercerita dengan nafas yang berat.
aku termasuk orang yang jarang mimpi buruk. namun kali ini rasanya seperti nyata. ya, aku bisa merasakan ini bukan bunga tidur saja.
"uhm.... itu hanya Bunga mimpi. jangan kamu pikir terlalu keras. mungkin kamu lelah lalu bertemu dengan Papa tadi. makanya terbawa sampai mimpi.... sudah, ayo bersihkan diri.. kita jalan aja.." Jimmy berkata sambil membelai kedua lenganku.
Jimmy pun bangun dari tempat tidur. namun, aku ingin menahan dan bertanya. soal kegundahan hatiku..
"Jimmy..... " aku menahannya.
"ya? ada apa sayang?" suaranya lembut membalasku.
aku ingin berkata, tapi bibir ini berhenti begitu saja. terkunci tanpa dapat berkata dan bersuara.
"tidak..... gantian kamar mandinya.... " aku menjawab.
"ah, kita mandi bersama saja? bagaimana?" wajah nya berubah mesum kepadaku.
aku langsung mengernyitkan dahi, apa pula mau nya. baru selesai kami bersatu, sudah berfikir aneh - aneh.
"kamu saja dulu, aku menyusul nanti.... " aku berbaring kembali.
kenapa perempuan suka mencari jawaban atas pertanyaan hatinya? walau mereka juga tahu, hal itu hanya membuat mereka sakit hati.
Tal berapa lama Jimmy keluar dari kamar mandi. Aku juga langsung terbangun.
"Sudah, cepat bersihkan dirimu... " Ucap Jimmy.
"Jimmy.... Aku mau tanya.... " Aku bersuara dengan berat.
Jimmy lalu duduk di hadapanku, ia membelai rambutku.
"Apa kita memang tak akan mungkin menikah? Walau kita sudah hidup bersama selama beberapa tahun ke depan?" Wajahku memelas memandang Jimmy.
Sumpah, aku mengutuk diriku atas ekspresiku saat itu.
Bagai orang yang tidak memiliki harga diri.
"Uhm.... " Jimmy kemudian duduk mendekatiku.
"Kita buat ini singkat dan mudah kamu mengerti Cathrine..... Aku, di negara asalku sana. Keluargaku sangat berpengaruh. Apalagi dalam ekonomi dan stabilitas negara.... Dimana, sejujurnya aku kabur kemari... Aku ingin mendapatkan jalanku sendiri untuk masa depanku.....
Pernikahan, kita bahas lain kali ya..."
"Lalu hubungannya denganku?" Aku mengernyitkan dahi.
Rumit untukku mengerti, jimmy pun menggaruk kepalanya. Ia seperti mencari solusi dan jawaban yang mudah aku pahami.
"Aku tidak mungkin menikahi perempuan dengan status sosial biasa aja. Kalau dengan status sosial biasa, paling tidak dia pintar dan bernilai tinggi.... Agar sepadan dan pantas aku bawa ke negaraku sana... "
Apa? Bernilai tinggi? Aku melongo dan menganggukkan kepala. Jimmy kemudian membelai kepalaku.
"Aku harap kamu paham.... Aku senang bisa bersama kamu.. Aku... " Jimmy berkata dengan memandangku.
"Aku mandi dulu.... " Aku memotong Jimmy.
Aku berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Pintu aku tutup dan kunci dari dalam.
Kemudian aku memandang diriku dari cermin. Rambut lurus palsu, wajah dengan pipi besar.
Berapa nilaiku? Mungkin memang jalanku hanya menjadi simpanan Jimmy.
Tapi, kenapa ada yang sakit di dadaku? Rasanya sesak dan air mata.. Kenapa harus keluar!
Aku menghapusnya, lalu aku membersihkan diriku. Membiarkan air membasuh kepalaku.
Segar dan rasanya lega walau aku hanya diam di bawah Shower. Membiarkan air mengucur dengan bebas di tubuhku.
__ADS_1
Sedih? Entah, mungkin aku kecewa dengan diriku.
Beberapa saat kemudian.....
Aku membuka pintu kamar mandi. Aku merapikan rambutku yang baru saja aku keringkan.
Jimmy menghampiriku, lalu ia menatapku dari cermin di hadapanku.
Ia memelukku dari belakang, ia pun mencium rambutku sambil menutup kedua matanya.
Cathrine! Kamu tidak boleh membawa perasaanmu jauh kepada pria ini.
Sentuhan lembutnya akan menjadi luka buatmu nanti! (Aku berbicara pada diriku sendiri).
"Mari kita jalan, aku kangen makan di salah satu resto di daerah atas.... Kamu punya banyak uang kan? Traktir aku ya... " Aku berkata.
"Tentu sayang, aku tunggu di lobby ya.. Jangan lama berdandan, aku benci melihat make up tebal... " Jimmy berkata.
Lalu ia mengecup keningku dan pergi meninggalkanku.
Aku memilih menggunakan dress simple berwarna salem. Koleksi pakaianku kini lebih banyak dress terusan sebatas lututku.
Semua rata - rata pilihan Jimmy. Memang aku juga merasa nyaman, walau aku tahu harga nya tak murah.
Aku bersiap dan merapikan diriku. Aku membereskan sedikit tempat tidur kami.
Lalu aku menyusul Jimmy turun ke Lobby.
Saat lift terbuka, aku mencari dimana Jimmy berada.
Rupanya dia di sofa yang ada di dekat pintu. Namun, siapa perempuan di sampingnya?
Wanita itu cantik, dengan hidung mancung dan kulit putih. Aku rasa ia keturunan timur tengah.
Mereka berbicara dengan akrab. Sesekali aku liat Jimmy tertawa bersama. Jika di pandang mereka serasi, lebih pantas bersama.
Aku memberanikan diri mendekati mereka. Jimmy pun menyadari kehadiranku, tapi tidak dengan wanita itu.
"Alma, perkenalkan namanya Cathrine. Dia kini bersamaku... " Jimmy memperkenalkan diriku.
Aku memberikan tanganku agar kami berjabat tangan. Namun, Alma hanya melihatku sinis.
"Uhm.... Alma.. Dia bersamaku dalam waktu yang akan sangat lama... Jadi aku harap kalian bisa saling kenal... Cathrine, duduk lah..." Jimmy menarikku duduk di sampingnya.
"Salam kenal Kak Alma.... " Aku berkata ramah.
Kedua matanya melotot mendengar aku memanggil Alma.
"Uhm... Alma..." Jimmy berkata sambil memberi kode ke Alma.
"Maafkan dia, mungkin aneh buat Alma. Kami ini bersahabat dari kecil, kebetulan dia juga jadi perwakilan negara di sini.. Sungguh kebetulan kan kita berjumpa disini... " Ucap Jimmy.
Sepertinya Jimmy memahami situasi yang terjadi. Lalu bellboy datang, ia memberi kunci kepada Jimmy.
Jimmy pun berdiri dan menjauhi kami. Kini tinggal kami berdua, aku merasa ini seperti pengadilan.
"Cathrine.... Nama yang terlalu bagus untuk wanita sepertimu. Aku ingatkan, Jimmy hanya akan bersama wanita yang pantas dan selevel dengannya. Jadi, selama kamu masih di anggap dia ada... Nikmatilah..." Ucap Alma kepadaku.
"Maksud anda? Uhm... Saya sama Jimmy tidak akan selamanya bersama kok... " Jawabku polos.
"Jelas.. Aku sudah hafal dengan Jimmy. Nikmati saja, karena nantinya dia akan bersama denganku. Kami sudah di jodohkan dari kelahiran kami... Jadi, aku harap kamu tahu diri... Permisi... " Alma meninggalkanku.
Aku lihat dia menghampiri Jimmy. Bahasa tubuh nya berbisik dengan Jimmy, berusaha terlihat mesra dengan Jimmy.
Jimmy mundur menjauhinya dan membalas dengan senyum.
Mereka berdiri bersama memang serasi. Memiliki postur tinggi yang sama, wajah yang mulus dan serasi.
"Ayo kita pergi... " Jimmy menyadarkan lamunanku.
Aku mengangguk dan menyusul Jimmy. Mobil sewaan kami sudah siap di lobby depan.
Jimmy duduk dan memegang kemudi. Aku menyusul duduk di sampingnya.
Aku berusaha tersenyum dan memasang wajah baik - baik saja. Perjalanan kami di mulai, lagu Jazz simple menemani kami.
Rasanya ringan dengan suasana kota yang tidak ramai. Jimmy menikmati ritme musik itu. Tidak denganku, pikiranku berjalan keluar. Memikirkan hal yang aku sendiri tidak memahami apa.
*********
Kami duduk di salah satu resto asia. Letaknya di daerah atas, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota dan bintang di langit.
aku menyukai tempat ini sejak acara perpisahan SMA. Tempat yang tenang dan indah menurutku.
Steak dan beberapa dimsum menemani kami. Jimmy pun terlihat menyukai tempat ini.
Aku sengaja memilih tempat di dekat jendela. Aku lebih banyak memandangi lampu jalan dan rumah di bawah kami.
"Kamu suka tempat ini?" Jimmy membuka.
__ADS_1
"Sangat.... Aku merasa tenang walau hanya melihat lampu di bawah itu..." Jawabku.
Jimmy sepertinya mengetahui kegundahan hatiku. Ia lalu memegang tangan kananku.
Aku refleks melihat ke tangan Jimmy.
"Cathrine, aku akan menceritakan perlahan.. Mungkin apa yang Alma katakan menganggu pikiranmu... " Jimmy berkata dengan lembut.
"Jelas, wanita mana yang tidak merasa terhina dengan apa yang dia lakukan....aku memang miskin, tapi aku tidak serendah itu."
"Maafkan, sebenarnya kami memang di jodohkan dari kami lahir... Biasa terjadi dengan pernikahan politik, sampai pada akhirnya.. Alma kabur keluar negeri, ia pergi dan menikah dengan pria di negara lain... hal itu membuat secara Otomatis pernikahan kami batal...."
"Lalu? Kenapa ia harus kasar kepadaku?" Aku bertanya balik.
"Aku tak mengerti, yang aku dengar...Pernikahan mereka berakhir, dan Alma ingin kembali bertunangan denganku... Tapi, aku bilang saja aku sudah menikah...aku pun ga tau, kenapa bisa ketemu di hotel tadi..." Ucap Jimmy santai.
"Engga usah bohong gitu kali... Kalian cocok kok, lebih pantas dari pada aku.... Yang jelas wanita itu bisa di terima keluarga kamu... " Jawabku sinis.
"Tidak... Aku tidak mau, aku bukan mainan dan keluargaku juga sudah tidak mau kami bersama..Penghinaan besar untuk keluargaku Cathrine..." Jawab Jimmy santai.
"Sudah Jim, aku malas membahas wanita itu... Intinya kalau kalian mau bersama lagi, beritahu aku. Biar aku bersiap akan segala hal...aku tak mau menjadi yang paling sakit nantinya. " Jawabku sambil melepaskan tangan Jimmy.
"Kamu cemburu kan? karena kamu bilang sakit jika aku kembali ke Salimah..." Tanya Jimmy.
"Tidak... Buat apa? Kita hanya bersama dengan tujuan yang sudah jelas.... Dimana kita ga perlu pake hati... " Jawabku tegas.
"Tidak... Kamu pasti cemburu... Sayang,jujurlah pada hatimu... " Jimmy menggodaku.
"Sudah, ayo makan kita jalan lagi. Aku kangen sudut kota kecil ini... " wajahku sedikit berubah menjadi merah.
Lalu kami menghabiskan makanan kami. Rasanya seharusnya enak, tapi suasana ini membuatku kehilangan selera makan.
Dalam perjalanan pun, kami diam. Hanya musik dari radio yang menemani kami.
"Cathrine, kamu mau kemana lagi?" Jimmy memandangku dari ekor matanya.
"...... " Aku memilih diam dan kesal.
"Kamu masih marah soal itu? Kenapa dan apa salahku? Memang faktanya seperti itu keluargaku... Bagaimana pun nanti aku tetap memilih kamu... Sudahlah! Jangan diam seperti itu..." Jimmy berbicara dengan yakin.
"Maaf, mungkin aku yang terlalu sensitif saja.... Mendekati periode bulananku... Kamu engga salah Jimmy, memang faktanya begitu.. Aku sendiri yang belum bisa menerima keberadaanku sebagaimana mestinya.... "
Lalu kami sama - sama diam. Jimmy mungkin bisa saja lelah menghadapi sifat burukku.
Namun, aku percaya suatu saat.. Dia pasti akan jenuh juga.
Dalam hubungan ini, nampaknya aku harus banyak mengalah. Dia jauh di atasku, aku masih kekanak - kanakan.
Belajar.. Memahami... Mengerti...
********
kami pun tiba di Basement hotel. Jimmy belum mematikan mesin mobil. ia diam dan menyandarkan kepalanya di kursi.
"Cathrine.... aku harap kamu bisa memahani aku. perbedaan umur kita bukan penghalang. namun, cobalah mengerti aku... bagaimana aku menekanmu juga untuk hubungan kita nantinya... "
aku langsung menoleh ke arah Jimmy.
"aku cuman pengen kamu bisa sukses. agar bisa aku bawa pulang ke negaraku.... aku mengerti prosesnya pasti tidak mudah dan mulus.. tapi aku yakin kita bisa melalui ini.... "
lalu Jimmy meraih tanganku. ia mengecup tanganku dengan lembut.
"aku takut dan apa aku sanggup.... aku tidak begitu pintar saat sekolah dulu....menjadi sukses dengan cepat, apa itu mungkin? " aku menundukkan kepala.
"sayang... aku yakin kamu bisa... kita pasti bisa melewatinya.... perlahan kita akan saling mengenal dan biarkan prosesnya berjalan apa ada nya... "
suaranya membuatku tenang, sesaat aku merasa memang aku harus sukses. aku anak pertama semua tumpuan pasti ada di pundakku.
"Jimmy, panggilan sayang itu apa tulus dari hati kamu? aku cuman perempuan desa... aku engga bisa membedakan mana yang palsu dan asli.... "
"ahm.... kamu kan bilang kita tinggal bersama tanpa ikatan... yasudah mari kita berpacaran... apa salah dengan panggilan sayang?" jimmy bertanya balik.
"bagaimana dengan pendapat orang? apa mungkin kamu memperkenalkan aku sebagai kekasih.??"
Jimmy diam sesaat, ia memainkan kemudi setir di hadapannya. Aku tak mengerti mengapa ia diam.
namun, aku ingat seseorang pernah berkata kepadaku.
Jika dalam suatu hubungan, kamu meminta kejelasan dan dia diam. kamu sudah tahu jawabannya.
"ngga perlu di jawab Jimmy. aku sudah tahu jawabanmu... yang jelas hanya kita yang tahu... diluar itu atasan dan bawahan saja.... " ucapku dengan nada bergetar.
aku mengucap dengan menahan air mata. aku tak ingin Jimmy merasa besar kepala. ia akan mengira aku suka dan memiliki perasaan kepadanya.
"bukan begitu Cathrine.... kamu engga paham denga keadaanku, aku sedang berusaha membuatmu mengerti dengan bahasa yang mudah..."
"sudah, ayo mita turun... "
aku pun membuka pintu dan turun dari mobil.
__ADS_1
aku berjalan menuju lift yang ada di Basement. aku melihat Jimmy menyusulku dengan tatapan penuh emosi.
lift pun terbuka... aku masuk ke dalam bersama Jimmy.