CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
57


__ADS_3

"Yang jelas, kamu menikahi dia.. Restu dari ayahnya cukup lah untuk saat ini. Lagipun, mana ada ibu mertua yang menolakmu... " Louise membesarkan hati Jimmy.


"Sebenarnya, aku cukup penasaran. Bagaimana dia di besarkan dalam keluarga macam apa... " Jimmy melipat kedua tangammya.


Louise tersenyum penuh arti...


"Jangan bilang kamu anggap serius pernikahan ini.. Karena sampe mikir soal wanita ini... Lucu dan aku rasa kamu mulai memiliki rasa dengannya... "


"....... " Jimmy hanya menghela nafas.


"Apa mungkin kalian sudah tidur bersama?" Louise memandang dengan penuh tanya.


Jimmy hanya menghela nafas dan ia mencoba membaca tulisan di layar komputernya saja.


"Okey aku tahu jawabannya.... Akhir nya kamu bisa juga memulai dengan benar... Menyukai perempuan juga.." Louise menggoda Jimmy lagi


"Sudahlah, aku mau meeting dulu.. Sampai jumpa... " Jimmy kesal.


Louise bukan pergi malah dia menanti apa yang akan di katakan Jimmy.


Jimmy tak menyadari kalau mulai tertarik dengan pribadi Cathrine. Bahkan mulai berfikir soal bibit dan genetik dari keluarga Cathrine.


"Buat ini mudah Jimmy, kalau kamu mulai jauh tahu soal dia... Berarti kamu mulai punya perasaan dan artinya apa? Siap mengulang yang dulu?" Louise berkata lagi.


"No...bukan begitu...Setidaknya, aku mengenal wanita yang tinggal bersamaku. Bagaimana jika dia pencuri? Penguntit?" Jimmy membalas.


"Bullsh**! Itu harusnya dari awal bukan sekarang. Sudahlah,... " Louise lalu berdiri dari sofa.


Ia mendekati pintu keluar ruangan Jimmy. Namun ia berhenti dan berbalik,


"Yang jelas, melihat perempuan muda itu..aku setuju dan berada di garis depan dalam hubungan kalian... Happy wedding Bro... Congratulation... "


Lalu louise meninggalkan Jimmy.


Jimmy tersenyum dan wajah nya memerah. Ia merasa senang mendapat dukungan dari sahabatnya sendiri. Meskipun ia belum menyadari perasaannya sendiri.


terkadang trauma akan penolakan dari keluarga seolah membuat Jimmy takut untuk menerima pernikahan. apalagi membawa nya ke kedua orang tuanya.


tapi, yakin lah kekuatan alam dan takdir tak dapat di tebak.


*********


"Kampus? Ngapain coba masi sepi, perkuliahan belom mulai lagi... Ngemall.? Duh... Duit gw cuman dikit. Gw ga boleh boros, mending duit kirim ke adek buat bayar sekolah... " Aku merasa bosan di apartemen.


aku memandang keluar jendela, samar terlihat gedung samping.


Aku mulai berfikir soal kursus memasak di gedung sebelah kami. Ada deretan ruko (pusat niaga) dan juga sekolah memasak.


"ah iya, Jimmy pernah bilang. kenapa aku tidak mengambil sekolah pendek atau kursus untuk mengisi waktuku.... " aku menggumam.


Aku kalo tidak salah ingat kemarin melihat tulisan "summer Class cooking". Mungkin bisa aku gunakan sebagai alternatif waktu kosongku ini.


Pagi ini, Bibi pun sudah selesai mengurus dan membersihkan apartemen, aku bahkan belum melakukan kegiatan apapun dari pagi. Hanya membuat roti lapis untuk Jimmy.


Aku pun mengganti pakaianku, lalu aku bersiap pergi keluar. Aku memilih pakaian santai, cuaca di luar sedang panas.


sebenarnya, aku agak malu untuk keluar. Sebenarnya aku tipe wanita pemalu dan susah mengatakan yang ada di hatiku.


Aku berjalan santai sambil melihat apa saja yang ada di lantai dasar apartemen. Tak banyak tenant yang ramai, apa mungkin karena ini siang hari.


Aku pun sampai di ruko yang aku maksud. Resepsionis menyambutku dengan senyum ramah.


"Selamat siang.. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa nya dengan ramah.


"Selamat siang Bu.. Maaf mau tanya soal kelas cooking itu... " Aku menunjuk iklan summer Class.


"Oh baik Bu, ini kelasnya. Program cepat selama 3 bulan Bu. Bisa magang juga setelahnya, atau mau langsung selesai. Semua materi diberi secara tertulis dan praktek. Jadi ibu ga perlu khawatir.. " Ia menjelaskan dengan memberiku pamflet.


Aku memperhatikan penjelasan wanita tersebut. Cukup menarik kelas yang mereka punya.


(Ponselku berdering)


"Maaf saya angkat ini dulu bu... "


Aku pun keluar meninggalkan wanita tersebut.


"Hallo... " Aku menyapa.


"10 menit aku sampai. Tunggu di depan, kita makan siang bareng. Meetingku semua aku batalkan... "


"Ah.. E... Jimmy, kamu lihat pusat niaga sebelah apartemen ? Aku disana di ruko dengan logo E besar.. Aku lagi nyari info soal kursus... " Jawabku cepat.


"Ah.. Baik... Aku kesana, tetap disana Cath... " Jawab pria itu.


******


Mereka makan di warung langganan di apartemen. Wajah jimmy terlihat kurang suka.


Ia sebenarnya lebih berharap makan di tempat lain.

__ADS_1


"Kamu ga laper? Atau mau pindah?" Aku bertanya.


"Engga, makan aja disini udah.. " Jawab Jimmy ketus.


Aku melambaikan tangan ke arah Sammy. Ia mengantarkan sendiri pesanan kami.


"Thank You ya Bro... " Jawabku.


Jimmy mengambil sumpit dan langsung memasukan dalam mulut mie di hadapannya.


"Bukan aku ga mau makan keluar, cuman badanku kurang enak... Aku rasa udah mau kedatangan tamu bulanan... " Aku berbicara dengan nada berbisik.


"...... " Jimmy diam dan memikirkan sesuatu.


"Bukan nya seharusnya kamu ga mens kita kan sudah mengatur? " Jimmy berkata.


"Dunno.... Yang jelas badanku ga enak.. Mungkin hormonal ya, kan usia aku masih aktif secara pertumbuhan dan umur... " Jawabku santai.


Kami menghabiskan makanan tersebut. Lalu kami kembali ke kamar kami.


Jimmy memelukku sesaat setelah kami masuk ke dalam. Hembusan nafas nya bisa aku rasakan.


Ya...


Dia hanya ingin memelukku saja...


"Rasanya aku ingin menghentikan waktu.. Tolong, belajar dengan benar dan miliki masa depan yang baik... Agar aku tidak perlu mengulang kisah lalu... " Jimmy berbicara di belakangku. Pelukannya makin erat ke tubuhku.


kisah masa lalu?


aku sedikit tersendil dengan hal tersebut. apa ada wanita lain dari masalalunya? hatiku merasa resah mendengarnya berkata demikian.


aku membalas dengan menepuk tangan Jimmy. pelukannya memang memberi rasa aman dan nyaman.


**********


"kamu seharusnya memberi waktu agar anak kita mau pulang..." ayah Jimmy membuka suara.


"sudahlah, aku sudah mengatur. Louise memberi info bahwa dia sudah menemukan pengganti Mira. dengan begitu kita bisa menyetel perempuan ini... " jawab nya dengan mudah.


"mama.. apa yang kamu maksud??" ayah Jimmy menghisap cerutu.


"dia dari kalangan biasa, wanita polos dan masih muda. tak sulit mengatur perempuan seperti itu. apalagi sudah bicara soal uang... buat dia bungkam.. tak usah berbicara apapun di media. lahirkan garis keturunanan...."


"lalu kamu pikir mereka binatang?!" ayah Jimmy memotong.


"kamu memang tidak bisa memahami darah dagingmu sendiri? sudahlah, jaman sudah maju. biar mereka memilih jalan dan hidup mereka. keluarga kita sudah berkuasa sejak 4 generasi. beri lah kesempatan orang lain... " jawab Ayah Jimmy.


"Kamu sudah gila! Aku tak mau menyerahkan ke adikku. Dia hanya akan membawa kehancuran untuk negara ini...."


Mereka diam, saling berfikir dan memandang. Ayah Jimmy melihat ke arah foto keluarga di dinding.


Ia merindukan kedua anak nya, mereka pergi hanya karna ego dari orang berkuasa di negara itu. Ibunya.


"Jangan bilang kejadian masa lalu membuat hati mu menjadi lembek. Kita harus bangkit. Negara ini harus bisa maju. Dan kita butuh penerus untuk garis keturunan.... " Ibu Jimmy kembali berbicara.


"Sudah cukup! Aku merindukan kedua anakku! Aku bersalah karena wanita itu bunuh *iri. Semua anak kita bahkan tak pernah menanyakan kabar. Sampai kita harus berakting dengan dokter..."


"..... " Hanya menahan emosi dengan diam dan mengembuskan nafas dalam.


"Pakailah sedikit naluri mu sebagai Ibu. Biarkan Jimmy mencintai pilihan dan hidup nya. Terimalah Vincent dengan suaminya. Mari kita hidup dengan bahagia di masa tua.... " Ayah Jimmy berkata dengan berat.


suasana hening, ia mencoba mencerna perkataan suaminya. Naluri seorang ibu, menahan air mata agar tidak sampai keluar.


"Kamu tidak tahu rasanya hidup sebagai anak veteran. Bagaimana orang asing membunuh ayahku atas tuduhan yang salah. Bagaimana ayah, kakek dan buyut membangun negara ini. Negara yang berdiri di tanah yang subur... Banyak hasil alam dari sini... Harus..... Harus mengalah dengan kemajuan jaman... Penjajah datang... Bagaimana keluargaku berperang, mempertahankan agar dunia mengakui negara kecil ini!!! Pernah kamu pikir!"


Lalu wanita itu berdiri dan meninggalkan suaminya sendiri. Ia memilih ke taman belakang rumah.


Disana ada seperti taman kecil dengan meja untuk minum teh di sudut kanan. Wanita itu memilih duduk disana sendiri.


Hati nya sakit ketika harus kembali ke masalalu. Ayah yang di hukum mati di hadapan orang banyak. Ia yang harus naik tahta di usia muda. Bagaimana hancur nya negara karena kebodohan adik kandungnya.


Ia tak rela memberi kekuasaan ke adiknya. Bagaimana akan maju, alam saja di jual ke pihak lain.


Bukan berfikir bagaimana meningkatkan kualitas hasil produk negeri. Malah sibuk dengan pesta dan memperkaya diri.


"Sudah ma... Maafkan Papa... Mungkin sudah saat nya kita yang pergi, biarkan semua terjadi... " Pria itu menepuk pundak istrinya.


"Suatu saat, tapi bukan sekarang... " Jawab wanita itu tegas.


Wanita keras seperti batu karang. Hanya pria disampingnya yang kuat menemani nya. Kuat menghadapinya, bertahan disisinya.


"apa kamu sudah tahu? anak kita menikah dengan wanita disana... " ucap lelaki tersebut.


Ibu Jimmy hanya mengangguk, ia seperti menahan amarah di hatinya. ia merasa Jimmy tidak tahu apa itu rasa Hormat kepada orang tua.


"kamu tahu kenapa kita tidak disana?"


"yang jelas anak kamu itu tidak tahu diri!" Ibu Jimmy meninggikan suaranya.

__ADS_1


pria itu memilih berdiri dan menuju pintu keluar. ia sempat berhenti dan berkata.


"yang Jelas, aku tidak mau menjadi pembunuh. aku juga ingin putraku menikmati pernikahan dengan penuh cinta dan rasa bahagia."


lalu ia meninggalkan ruangan tersebut.


wanita itu masih diam dan memandang ke foto keluarga mereka. pikirannya kembali ke masa lalu, saat kedua anak mereka masih kecil.


tak pernah terbesit niat dan keinginan hidup seperti ini. menjauh dari anak nya di hari tua. tapi, kekuasaan ini juga tak sanggup di tinggalkannya.


wanita itu pun meneteskan air mata.


*******


bau harum tercium dari bungkusan yang Jimmy bawa. ia kembali sesaat setelah bel kamar kami berbunyi.


"cobalah steak ini enak... " Jimmy berkata dari dekat meja makan.


aku bangun dan menghampirinya.


aku kaget melihat 'steak' yang di maksud nya.


"kenapa? ada yang aneh?" tanya Jimmy.


"engga... " aku menjawab dan mengelengkan kepala.


Jimmy menyiapkan alat makan untuk kami. aku pun duduk di samping Jimmy.


"aku cuman ga tau steak kok polos gini... " aku menunjuk daging di hadapanku.


"ya Steak tu begini... emang apa lagi? ah.. aku ingat, jangan bilang steak itu bertepung?" jawab Jimmy.


aku mengangguk...


jimmy malah tertawa.


"itu Tempura atau gorengan buatku. ini enak, mari aku potong dan beri bagian terenaknya... "


aku mulai menikmati makanan itu. kami makan dengan santai. hatiku merasa nyaman di dekat Jimmy.


tapi, sebenarnya bagaimana hubungan kami? apa aku akan aman jika berada bersamanya. soal percintaan ku bagaimana?


"kapan mulai kursus dan masuk kuliah lagi?"


"besok aku sudah mulai kursus memasak kok... kuliah sekitar 2.5 bulan lagi mulai.... aku harus mengulang ospek lagi disana... " jawabku entang.


"oh, baik.. akan aku antar, dan pak Teddy menjemput nanti.. " Jimmy menatapku.


"harus ? "


"jelas.... " tatapannya tajam.


"uhm... kamu posesif juga ya.... " aku berkata sambil malu - malu.


"........ " jimmy malah mengernyitkan dahi.


"hmm.... " aku tersenyum - senyum.


"sudahlah aku mau cuci piring... " jimmy meninggalkan ku.


Jimmy tak mau menjawab, pertanyaanku salah kah? atau aku yang terlalu percaya diri..?


aku menyusul Jimmy ke wastafel. aku refleks memeluknya dari belakang. aku bisa mendengar jantung nya berpacu.


"Tunggu!! " jimmy malah menepuk kedua tanganku.


aku mengigit bibir bawahku, dahiku mengernyit. apa yang terjadi?


"aku tidak suka di perlakukan seperti itu." jimmy ketus bersuara.


ia tidak menoleh atau melihatku.


ya benar dia marah.....


"maaf....aku tidak tahu kalau kamu engga suka di peluk.. aku cuman refleks aja tadi... "


Jimmy melepaskan celemek mencuci, ia lalu keluar dari apartemen kami. ia tak mengeluarkan 1 kata pun...


melihatku pun tidak....


"kenapa sih dia pergi? marah? apa salahku coba?" aku berbicara sendiri.


"apa karena pertanyaanku soal posesif? atau soal pelukanku... ? tapi Jimmy aja sering meluk aku dari belakang... salah?"


aku masih mencari apa yang salah, dan bagian apa yang harus aku perbaiki. aku tak paham dengan pikiran pria. apalagi perbedaan umur dan budaya kami.


satu hal yang pasti. aku ga bisa meninggalkan Jimmy, aku masih butuh uang jimmy. apalagi untuk Ghea....


andaikan saja segala nya tidak pernah terjadi.... antara aku dan Jimmy, kegagalan Papa, kepergian mama.... bahkan keputusanku pergi kesini....

__ADS_1


__ADS_2