
Aku dan mama keluar dari dalam kamar. Aku melihat papa makan dengan lahap. lauk seadanya yang aku beli di warung.
aku sempat berfikir, apa semiskin apa keadaan keluargaku? hingga penjaga warung saja berlaku seperti itu.
namun aku lega, setidaknya satu hutang mereka telah aku bayar. sisanya tinggal waktu yang menjawab.
Mama kemudian mengambilkan obat dan menaruh di hadapan papa. ini pemandangan yang tak pernah aku jumpa.
mama hampir tak pernah melayani papa. mengambil perannya sebagai istri yang melayani suami, meski hanya mengambilkan makan dan minum. siang itu Mama juga ikut makan disamping papa.
Aku tersenyum memandang mereka. Pemandangan yang jarang bisa aku lihat. tapi aku senang karena keadaan sudah berubah. mengapa tidak? asal mereka bisa rukun aku sudah merasa tenang.
Aku pun duduk dan menonton tv. Acara pagi itu adalah gosip soal artis. sebenarnya aku kurang suka dengan acara gosip.
jika tidak membahas soal uang, prestasi atau hanya sensasi. biasa, agar dapat di panggil oleh stasiun tv. kadang para artis harus rela membuat gosip murahan agar mereka terkenal.
tapi, mengapa aku tidak? apa aku yang terlalu naif.?
sebentar....tunggu dulu...seperti aku mengenal si wanita yang ada dalam tv.
"Ya... Gadis berinisial J tersebut nampak dalam beberapa foto yang beredar. Adapula yang menyaksikannya keluar masuk rumah si artis senior Budiawan... Apakah ada hubungan antara mereka berdua?"
Sang wanita terlihat menundukan wajahnya. Dari beberapa foto, aku seperti pernah melihat wanita tersebut. Tetapi siapa ya?
pakaian yang ia pakai beberapa kali aku seperti tidak asing. bentuk rambut dan tas nya.... aku seperti melihat...
"Sang artis senior tersebut tampak santai saat awak media melakukan konfirmasi. Hmm... Apakah memang ada hubungan antara mereka? Dengan perbedaan usia yang amat jauh.. Mari kita lihat pemirsa.. " Ucap presenter tv saat itu.
"Jesssy?? " Aku berkata perlahan. ya aku yakin dia!
hanya Jessy yang menata rambut panjangnya seperti itu. tas nya pun, sudah aku yakin itu Jessy!
tetapi, bukannya ia tak mengenal artis tersebut. ah, pasti aku sudah ketinggalan berita. sahabat ku ini, sejak kapan ia menyukai pria berumur.
umurnya bahkan sama dengan orangtuaku. hal yang ga wajar menurutku.
"Tu kak, kamu jangan mau sama tua bangka begitu. pasti itu cuman jadi mainan nya. apa cuman buat gosip biar yang perempuan naik tu pamornya...Mama ikhlas kamu ga jadi artis daripada harus pacaran sm pria yang lebih tua dari papa mu... Benar ga pa?" Ucap mama sambil makan pagi itu.
"...... " Papa hanya diam dan memandang tv. namun tatapan papa dingin saat melihat artis senior tersebut
"Itu ya, pasti udah sampe di ajak tidur biar bisa main film sama si Budiawan. Dia kan dari jaman mama muda terkenal skandal dan suka main perempuan.." Mama terlihat bersemangat membicarakan artis senior tersebut.
aku menyandarkan pipiku ke telapak tanganku. aku memperhatikan mama yang begitu berapi - api membicarakannya.
eh, aku lihat wajah papa kurang suka dengan yang mama katakan..
Ia sedikit mengebrak meja makan. "Sudahlah kenapa membahas hal tersebut! Seakan akan kamu paham pria itu!" Papa berbicara dengan nada tinggi.
"kalau kamu masih nyari pria itu, pergilah!!" ucap papa dengan nada tinggi.
Lalu papa meninggalkan kami. Aku lalu menatap mama. Mama mengernyitkan dahi dan menggelengkan kepalanya.
"Mama sih, pake acara ngomong semangat banget...menghakimi orang seenaknya kalo ngomong, Kaya kenal aja... " Aku melengos ke arah tv.
aku kesal sampai papa marah. yang aku takutkan, jika terjadi sesuatu pada jantung papa. baru kali ini papa marah dengan keras selama ia sakit.
Mama lalu mendekatiku, dan duduk di sebelahku. Mama mengintip apakah masih ada papa. seperti mama ingin menyampaikan sesuatu yang rahasia.
"Mama tu kenal sama artis itu. Dulu temen satu Kerjaan mama waktu di kota. Cuman dia dulu miskin. ganteng tapi ga punya duit, mana mama mau...terus mama kenal sama papa kamu...Makanya mama milih papa kamu yang mapan kerjaannya.... Denger nih, papa kamu itu dulunya kepala surat kabar terbesar di negeri ini.... Terus nih... Nenek sama kakek kamu itu.... "
"Jurangan dan masih berdarah keturunan raja?? Ma, mama tu udah berkali - kali ngomongin kaya gitu sama aku. Gunanya buat apa? Nyatanya? Sekarang kita susah juga kan? Roda kehidupan itu muter ma... Mama juga kenapa sih mulai terus.. Mama nyesel nikah sama papa?!" Aku memotong pembicaraan mama.
sumpah dalam nama Tuhan, aku marah mendengar ucapan mama. papa sedang sakit dalam kondisi jatuh...malah mama berfikir seperti ini. terus makna pernikahan itu apa??
"Dikit.... Tapi, kan ga boleh gitu kata orang.. Ya udah, gimana lagi.... Cuman mama itu... " Mama masih saja merasa tidak terima dengan keadaan.
"Mama nyesal? Mama sama aja juga nyesel punya anak aku sama Ghea. Ma.... Denger ya, yang buat kita makin susah bukan sakit nya papa! Tapi mama yang engga bisa menerima keadaan! Makin mama gini ya, makin kita tu susah!
__ADS_1
coba kalo mama sedikit aja mau peduli sama Papa, aku yakin ma, keadaan kita engga akan gini.. asal mama tau, aku juga ga mau balik ke kota. aku capek ma, kerja pagi sampe pagi.... demi apa? demi bisa pulang..........
Kalo mama bisa bilang nyesel. Aku juga bisa bilang, nyesel pulang kalo cuman liat rumah makin panas!"
Aku kesal dan meninggalkan mama. aku masuk ke dalam kamarku. aku menangis memandang kaca.
Entah apa yang ada di pikiran mama. Dia engga seneng gitu punya anak sepintar Ghea? Seperti aku?
Aku membiarkan air mataku keluar...kini aku paham...Apa yang membuat papa keadaannya makin sakit...
Apa memang selama ini benar, mama engga pernah memberi kenyamanan dalam rumah tangga mereka?
mama engga pernah memegang fungsinya sebagai istri dan Ibu. mama hanya sibuk dengan kantor dan bisnis.
bisnis apa juga aku tak pernah melihat. hanya aku lihat ia pergi dengan teman kantor sepulang kerja.
aku dan Ghea dari kecil hanya di asuh oleh papa. saat mama pulang larut, ia bahkan tak bertanya apa aku sudah makan?
apa aku kangen kepadanya?
apa aku merasa sedih dan patah hati saat di permainkan?
bagaimana harimu nak? mau mama peluk?
tak ada... dan memang tak pernah ada pertanyaan tersebut. mama langsung pergi masuk ke kamar dan tidur.
jika kami merajuk ingin bermanja... maka kami harus siap dimarahi dengan kasar..
aku sering memeluk Ghea saat itu. mungkin itulah mengapa ia begitu bergantung kepadaku hingga saat ini.
apa salah nya jika kami butuh figur ibu?
figur dengan kasih sayang dan kecup sayang....
Tapi, harus aku akui...papa begitu kuat menahan diri dan perasaannya. sekarang sedikit aku sadar, papa sakit atas pikirannya yang kalang kabut karena keadaan.
bertahun lama nya mereka bersama. Aku yakin papa tahu, kalo mama hanya menginginkan harta papa.
ia rela sakit dan bertahan, bertahun - tahun. menikah tanpa dicintai...
pernah aku berfikir, aku minta untuk di lahirkan. namun mereka membuatku dan Ghea lahir ke dunia.
lantas... apa keadaan berubah??
*******
Malam pun tiba, aku menunggu travel menjemput di teras. cuaca cukup cerah dan bulan nampak bulat dan bercahaya berkat sinar dari matahari.
Ghea duduk di sebelahku sambil membawa buku pelajarannya. fisika.. salah satu pelajaran yang aku benci selama 3 tahun aku sekolah.
"Kak.... Kakak yang rajin pulang ya. Biar Ghea ga kesepian... Ghea sedih kalo haru denger mama sama papa berantem terus....Ghea cuman meluk guling sambil nangis...kadang Ghea capek nangis sampe ketiduran kak...." Ucap Ghea dengan manja kepadaku.
Adikku memang tak dapat berbohong kepadaku. Ia selalu berkata apa yang ia lihat dan dengar. Syukurlah ia bisa jadi pengawas untuk mama dan papa.
Aku menghela nafasku, dalam hatiku sebenarnya aku juga begitu. Aku ingin dekat dengan keluargaku saja. lebih tepatnya dengan papa dan Ghea saja.
Papa tak pernah mengajariku untuk membenci mama. papa selalu bilang kalo mama sayang sama kami. papa selalu berbicara kalo mama itu wanita yang baik dan pekerja keras.
mama juga wanita kuat, ia merantau seperti diriku. dan hal tersebut yang membuat mereka bertemu.
buatku....Merantau tak seindah cerita papa soal pertemuan mereka. Pria mapan yang kesepian dengan gadis desa yang lugu namun mencintai uang di atas segalanya...
yang aku alami saat ini justru...Hidup bebas dalam ketidakpastian akan hari esok. makan apa, akan ada pekerjaan apa.
Mungkin buat orang lain, masa depan begitu menyilaukan mata. Terang dan terencana segalanya.
Buatku, aku bisa makan hari ini dan memberi uang kepada keluargaku saja sudah suatu hal yang indah...
__ADS_1
Tak banyak cita - citaku, aku hanya ingin kerja di perkantoran dengan gaji yang besar. pulang malam dengan kesendirian, namun bisa melihat Ghea mencapai cita - citanya.
Bukan malah berfikir menjadi simpanan seperti beberapa orang yang aku kenal. menempuh jalan pintas dalam hal yang konyol buatku.
bukan aku munafik, aku tak pernah berfikir hal macam itu. aku juga tidak percaya diri dengan fisikku. aku tidaklah cantik dan tinggi.
Mereka yang mau mejadi simpanan, bahagia dan hidup enak pada saat ini. Lantas? Bagaimana dengan masa depan?
Berlindung dalam kata pernikahan, menjadi istri kedua. Aku tak berfikir akan melakukan hal itu. apa yang bisa menjaminku, jika aku hanya mendapatkan uang pada saat ini saja.
Aku memandang adikku yang masih belajar dengan serius.
"Dek kamu doa ya... Biar kakak cepat pulang... Kakak akhirnya denger sendiri mama sama papa memang sering berantem... Kakak sebenarnya pengen bawa kamu pergi dek.. Biar kamu bisa fokus belajar... Tunggu kakak ya dek... Kakak akan bawa kamu sekolah ke kota. Biar kamu jadi dokter yang hebat.... " Aku berkata kepada Ghea. Mataku ikut berkaca - kaca, menahan haru.
Aku berkata tulus dari dalam hatiku. Aku tak lagi memikirkan soal cinta. Bagiku, Ghea harus hidup lebih baik dari aku.
kecewa dan sakit yang Michael tinggalkan bisa begitu dalam. pertama kali aku merasakan yang orang bilang Cinta...namun juga aku langsung rasakan sakit karena Cinta ...
"Janji ya kak.... " Ghea menaikan jari kelingkingnya di hadapanku.
Kami pun mengikat janji jari kelingking. "Janji Dek.... "
Ding... Ding... (Suara klakson mobil).
"Travel kakak datang... mama!! Paa!! Kakak mau berangkat!!" Ghea berteriak ke arah dalam.
sebuah mobil travel berwarna biru berhenti di hadapanku. supir turun dan mengambil tasku, ia meletakkan di bagasi belakang.
nampaknya aku yang terakhir di jemput oleh nya. semua bangku telah terisi, kecuali bangku paling depan.
Mama dan papa keluar menyambutku. Aku pun memandang mereka, aku langsung memeluk mereka berdua.
Aku berbisik, "tolong jangan bertengkar terus, kasian Ghea... Aku mohon ya demi Ghea.. Kakak akan cepat pulang dan bantu mama papa.... Doakan kakak.... "
Lalu aku melepaskan pelukanku. Aku tersenyum kepada mereka berdua. aku menyanyangi mereka, bagaiman pun mama. aku tetap cinta kepada mereka.
Mereka terlihat malu dengan kata - kataku. Papa menepuk pundakku dan berkata. "Papa selalu melindungimu kak, papa janji apapun yang terjadi papa akan selalu ada di hatimu... "
Aku terpana sesaat dengan kalimat papa. 'apa maksud papa?'
Namun aku tak ingin terlalu menggubris dan hanya mengangguk.
Mama terlihat diam dan menahan air mata. Tapi aku tak paham apa yang ia membuatnya ingin menangis. pikiran jelek dalam diriku malah berkata. 'bukannya mama senang aku ke kota? berarti aku bisa ngasih uang lagi buat mama...'
karena ada hal yang aku paham. Sejak aku datang yang ia katakan hanya soal uang dan uang.
memang aku anak pertama dan tertua. tapi apa adil melimpahkan semua kepadaku..
aku tak ingin lama menunggu, aku pun naik ke travel. kali ini aku duduk di kursi depan samping supir. perjalanku selalu di malam hari. biasanya agar kami tiba pagi hari dan tidak ada macet dalam perjalanan.
supir memasukkan perseneling, tanda kami akan memulai perjalanan malam itu. aku melambai ke arah rumah...
mobil pun perlahan mulai menjauh. Ghea.. ia tampak begitu sedih.
hal tersebut yang membuatku ingin membawa nya bersamaku.
semoga saja tiba waktunya Ghea bisa pergi bersama ku. mendapat kehidupan yang lebih baik, juga mengajarkan mama.
mengajarkan bahwa ada pria yang begitu mencintai keluarga dan mama. pria yang rela menghabiskan semua uang dan hidup nya demi wanita tersebut.
cinta... apakah sebuta ini?
perjalanan malam ini begitu syahdu. music yang di putar oleh supir lebih mengantarkan ku untuk tidur.
kepala ku berat...
antara aku yang mabuk darat atau kepalaku yang memang lelah....
__ADS_1
aku harus siap...
siap bekerja dan berusaha lagi, mencari pekerjaan halal dan menjadi tulang punggung keluarga..