
"Mall ini yang dulu kamu ngajak beli tas kan?" aku bertanya sambil melihat toko yang buka.
"Ingatan mu bagus juga... Ohiya mari kesana... " Jimmy menarik tangan ku masuk ke sebuah toko berlian.
Kilau nya cukup menarik perhatian orang yang melintas. Buatku, aku terkagum sesaat. Semua serba putih dan mengkilap.
"Pilih yang kamu mau, kita pakai cincin yang sama seperti mau mu... " Jimmy merayu.
Aku melihat display cincin couple di hadapanku. Semua nya menggunakan mata dari berlian, aku kurang suka karena warnanya putih.
Jujur, aku tidak memahami bagaimana menilai sebuah berlian. Aku hanya tertuju pada 1 cincin yang cukup simple.
Ia bermata putih kecil si tengah. Kanan kiri nya polos tanpa hiasan atau ukiran apa pun. Benar - benar simple sebagai cincin, mungkin lebih sering di gunakan sebagai cincin pernikahan.
"Yang mana Cathrine.. "
"Ini, mas bisa lihat?" aku menunjuk cincin yang ada di hadapanku.
Pramuniaga mengambil dan memberikan kepadaku. Wajahku tersenyum melihatnya.
"Bisa saya coba dulu?" Tanyaku.
"Bisa Bu, silakan.. Ini yang punya bapak... " Pramuniaga memberi ke Jimmy.
Kami pun mencoba, mungkin rejeki bagiku. Cincin itu pas dan terlihat bagus di jariku.
"Seleramu boleh juga... Baik.. Kami beli ini.. Apa bisa di grafirkan nama di dalam?" Tanya Jimmy.
"Buat apaan? Udah polosan aja.." Jawabku refleks.
Bagiku sayang jika harus memberi ukiran. Apalagi cincin mahal, aku takut nilai nya akan turun dan jadi murah ketika aku menjual lagi.
"Engga ada salahnya kan memberi nama kita?" Suara Jimmy meninggi.
Pramuniaga memandang kami lalu menundukan kepala. Kami saling tajam memandang.
"Baik... " Jawabku.
"..... " Jimmy mengernyitkan dahi.
"Baik...... Ya.... Aku menuruti mau kamu.... " Lalu aku pergi berlalu melihat ke sisi lain toko tersebut.
Sebenarnya mau ku memang egois. Aku jangan sampai rugi, suatu saat pasti Jimmy akan meninggalkan ku. Apalagi dengan pembicaraan semalam.
Pandangan ku tertuju ke arah luar toko. Disebrang adalah toko tas branded. Aku melihat wanita seperti mama....
Ya.. Aku yakin itu mama, namun siapa pria di samping mama?
Mereka sepertinya akrab, pria seumuran dengan mama. Namun, penampilannya terlihat lebih terawat dan lebih kaya mungkin ya.
Mama mengandeng mesra pria itu, mereka pun keluar dari toko. Saat itu wajah nya terlihat jelas. Tahi lalat di atas bibir mama!
Jelas hanya mama yang memilikinya. Aku penasaran dan mengikuti mereka dari belakang.
Aku menjaga jarak dengan langkah kaki mereka. Jujur, aku penasaran dan merasa sedih.
Aku pun meremas pegangan tas yang aku bawa.
Mereka berhenti di toko roti, mama membeli roti abon. Benar itu adalah favorite mama.
Sebentar.... Ada perempuan menghampiri mama. Tante... Tante Rose!
"Sayang!.. "Suara pria mengagetkan ku.
Aku refleks melihat ke sisi kanan.
"Jimmy!" Aku kaget.
"Kamu kemana sih, ga bilang. Aku mencari kamu kaya orang gila!" Jimmy marah.
"Udah deh sebentar!" Jawabku balik.
Aku kembali menoleh ke arah mama. Mereka telah pergi....
"Kamu lihat apa sih?" Jimmy ikut melihat ke arah toko roti.
"Mama.... " Ucapku lirih.
Penuh tanya dalam pikiranku, apa benar yang aku lihat. Tante Rose sebenarnya menutupi dimana mama.
Kenapa mama bersama pria lain? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sayang... Kamu mau makan apa?" Tanya Jimmy sambil membuyarkan lamunanku.
"Eh, sorry.. Kita duduk dulu yuk... Aku pengen cerita... " Jawabku manja.
Jimmy mengajakku duduk di sebuah kafe. Aku memilih tempat agak ujung agak bisa berbicara bebas.
Jimmy mengantri di kasir dan memilih beberapa menu. Aku masih melamun, mengingat penampilan mama sekarang.
Aku akui mama terlihat lebih terawat dan cantik. Baju dan perhiasan yang mama pakai. Gaya rambut mama juga terlihat berbeda saat bersama papa.
"Cathrine.... " Jimmy memanggil.
__ADS_1
Aku menoleh padanya, tatapanku kosong. Aku binggung bercerita dari mana. Aku lebih tepatnya malu.
"Ada apa? Ini air putih dan coklat dingin. Minum dulu dan bicara lah... " Ucap nya lembut.
"Thank You... " Aku mengambil air putih dan meminum nya.
Sedikit memberi rasa lega di tenggorokanku. Juga memberi rasa tenang dalam dadaku.
"Maaf soal tadi... Aku cuman melihat wanita seperti mama... "
"Oh iya? Bagus dong, Kenapa kamu engga menegur langsung.. " Jimmy terlihat gembira.
"Masalahnya di samping nya ada seorang pria, pria itu terlihat akrab dengan mama..... Huft.... Aku tadi ngikutin mama, sampe di toko roti tadi.... Mau aku deketin, tapi tante yang aku tampar tempo hari datang... Dan kamu datang.... "
Aku menghela nafas.... Aku bercerita dengan cepat.
"Owh... Jadi kamu mau menegur takut begitu?" Tanya Jimmy.
"Iya, benar tidak itu mama.. Tapi aku makin yakin itu mama. Karena ada tante Roseliana. Juga tahi lalat di atas bibir sama persis dengan mama... " Jawabku.
"Lalu?" Tanya Jimmy sambil meminum kopi nya.
"Aku mau menyapa pun, aku takut. Aku tidak mau ada pertengkaran dengan wanita gila itu... Apalagi kalau mereka tahu aku sekarang tinggal di kota ini... " Jawabku.
"Emang apa yang salah? Kamu kan engga menganggu dan kamu bersama aku... " Jimmy membela diri.
"Iya, masalahnya aku sama kamu... Mereka mikir aku jual diri. Belum lagi kalo berantem kaya kemarin, malu lah. Tiap kesini kok berantem terus.... " Jawabku sambil minum air di hadapanku.
Pramusaji meletakan pesanan Jimmy di atas meja. Dua buah steak dan sepiring kentang goreng.
"Selama, aku bersama kamu.. Semua aman Cathrine.... " Jimmy sesumbar sambil mengambil kentang goreng dan memakan.
"Yee.. Emang kamu keamanan? Emang dunia tu sempit ya. Di mall gini kok ketemu terus sama perempuan itu..... " Aku cemberut.
"Sebenernya dunia itu luas.. Tapi ya kebeneran aja kamu berjodoh ketemu terus. Anggep aja rejeki ketemu dia... "
"Rejeki gimana? Dia itu ya udah bikin papa bangkrut, sekarang mama malah kaya gitu. Astaga, ga pernah ya dia bikin aku ga kesel!"
"Sudah.... Kalo kamu engga marah.. Sikap kamu dewasa dan kamu di atas mereka. Engga usah lah, kamu ngotorin mulut sama hati kamu buat mereka... Fokus kamu kuliah.."
"Terus kerja cari duit kan?!" Jawabku kesal.
"....... " Jimmy diam dan mengambil pisau dan garpu di hadapannya. Ia mulai memakan steak tersebut.
"Aku kesel sama kamu... " Jawabku.
"...... " Jimmy lalu menghentikan makannya.
".... " Jimmy diam dan memperhatikanku.
"Sedang tuntutan mama ke aku selama ini, aku harus cari duit buat bayarin utang. Harus berhenti kuliah dan kesini buat bayarin utang.. Padahal mereka ngga tau aku sampe ga makan buat ngirit....." Aku mulai menahan air mata.
"Sudah... " Ucap Jimmy sambil menepuk lenganku.
Aku menundukan kepala, aku harus kuat menghadapi nya.
"Tapi, kalo mama engga gitu.. Kamu engga akan ketemu sama aku... Adek dan papa kamu engga akan punya kehidupan yang lebih baik.... " Ucap Jimmy.
"Oke... Aku harus kuat Jimmy... Jika suatu saat wanita itu adalah mama. Aku harus membalas nya..biar dia tahu sakit nya perlakuannya kepadaku. " Jawabku menahan amarah.
"Sudah... Kamu membalas engga akan ada selesai. Mungkin jika wanita itu mama ya... Belum tentu yang kamu lihat dia bahagia itu beneran bahagia.. Hati manusia kamu engga tahu Cathrine... " Ucap Jimmy.
Aku diam mencoba mencerna ucapan Jimmy. Secara emosional aku marah. Mengapa mama meninggalkan kami dan hidup baik sementara anak dan suami nya harus pontang - panting sendiri.
Anak mana yang minta di lahirkan ke dunia. Anak mana yang mau di peras sampai harus mengorbankan diri nya.
Lihat aku, aku terjebak dengan Jimmy. Dalam hubungan rumit ini, sampai kapan? Sampai Jimmy bosan?
*******
"Maaf jika keluargaku memalukan. Aku pun maklum jika ucapan mu semalam itu benar.... " Ucapku saat kami berjalan di lorong menuju apartemen kami.
Jimmy membuka pintu dan masuk ke dalam, ia tak merespond sama sekali ucapanku.
Ia meletakan belanjaan dan mengganti baju. Ia sama sekali engga mau menjawabku.
Aku pun menyerah, berhenti memandang Jimmy. Lalu aku memilih membersihkan diriku.
Jimmy sibuk dengan pekerjaan dan notebook di hadapannya. Aku pun diam jujur aku takut jika ia marah. Apalagi sampai meninggalkan aku.
"Cathrine, buat apa sih lo takut kehilangan Jimmy. Emang lo siapa nya dia?" Aku bicara sendiri sambil memandang nya di beranda.
Tak lama ia terlihat membereskan pekerjaannya. Lalu ia masuk ke dalam dan membereskan apa yang akan ia bawa besok.
Lalu Jimmy duduk di sampingku. Ia meraih tanganku dan mencium punggung tanganku.
"Pokok nya kamu pantaskan dirimu. Baru kita bicarakan kedepan nya. Sejujurnya aku menahan diri karena masa lalu.... " Ucap Jimmy dengan nafas berat.
"Masa lalu?" Aku gantian mengernyitkan dahi.
"Iya, suatu saat kamu akan tahu semua nya.. Yang aku mau cuman membuat kamu pantas dengan usaha semampuku... " Jimmy mengelus punggung telapak tanganku.
"....... " Aku diam memandang Jimmy.
__ADS_1
"Mengenai keluarga kamu, seburuk apapun itu. Aku sudah menerima kamu, sudah bersiap dan tak banyak mau ku cathrine... Sudah hidup lah bersama ku, menata masa depan kamu.... Soal mama kamu.... Biar kan waktu menjawab semua nya.
Aku cuman percaya, dia tak mau seperti keadaannya saat ini... "
Lalu Jimmy merangkul ku dan ngecup keningku. Aku menyandarkan kepalaku di dada nya. Terdengar dengup jantung nya yang samar tak beraturan.
"semoga ucapan kamu bukan rayuan belaka Jimmy.. aku takut terlalu nyaman dalam pelukan
dan cara kamu memperlakukanku.... " ucapku lirih.
"Oh iya, bulan depan yang artinya 2 minggu lagi.. Aku akan pulang sebentar ke negaraku... Aku meninggalkan kamu sesaat, lalu Pak Teddy akan menjaga kamu. Ia akan standby mengantar kamu... " Ucap Jimmy.
"Lama ngga pergi nya?" Tanyaku manja.
"Engga... Cuman mungkin 2 minggu aja Cathrine... " Berucap sambil membelai lembut lenganku.
"Minggu itu aku sedang orientasi kampus Jimmy, semacam acara pengenalan. Kadang ada ngerjain gitu kakak kelas...pasti ribet ampe malem, Mungkin sudah di gariskan ya.. Kita sibuk masing - masing minggu itu... " Ucapku.
"Memang disini kalau mahasiswa baru harus ada acara seperti itu?" Jimmy kaget.
"Biasanya.... " Ucapku santai.
*******
"Gw duluan ya guys... " Ucapku ke Nicky dan Inez.
"Lo mau kemana? Ga ikutan kita?" Tanya Inez.
"Gw mau ke kampus bentar, ambil jaket sama acara apa aja besok pas orientasi.... " Ucapku.
Pak Teddy sudah menunggu di dalam mobil sedan hitam di luar.
"Kita kabarin ya lunch dimana. Kalo lo bisa join aja Cath... By the way.. Take care... " Ucap Nicky.
Aku mengangguk dan meninggalkan kedua temanku. Aku masuk ke dalam mobil, Pak Teddy pun bergegas mengantarku.
Jujur aku melihat jam sudah mepet. Administrasi tutup pukul 12, sedang sekarang sudah jam 11.40.
"Tenang aja non, udah deket... " Jawab Pak Teddy.
"Bapak kok tahu saya panik.?" Ucapku dengan senyum kecil.
"Saya kan tahu non.. Hehe.. Nah kita sampai... "
Pak Teddy berhenti di area parkir. Aku melihat beberapa orang sedang duduk di area hijau dekat parkir.
"Pak.. Saya nanti kesini lagi ya.. Bapak kalo mau keluar kabarin ya... " Aku berkata
"Baik non. Ada apa - apa telpon saya saja ya.. " Jawab Pak Teddy.
Ada pula yang berjalan ke gedung administrasi. Aku lalu turun dan ikut berjalan ke gedung tersebut.
Aku berjalan ke gedung yang beberapa bulan lalu aku datangi. Suasana nya memang berbeda, ada beberapa mahasiswa aku rasa yang ada disana juga.
Aku pun masuk ke dalam ruang administrasi. Aku mengurus beberapa berkas dan mengambil jaket almamater.
Karena keadaan cukup ramai, aku memutuskan membereskan barangku di luar. Disana ada bangku kayu untuk duduk.
"Ketemu lagi kita...hai Nona manis" seseorang di belakangku menyapa.
"Eh... Iya halo kak... " Aku balik menyapa. Jujur, aku lupa siapa nama nya.
"Ternyata memang ketemu lagi, berarti kita jodoh ya... " Ucap Jose.
"Hah? Ya gimana kan gw kuliah kak disini. Jadi peluang ketemu lebih besar... " Jawabku.
Aku sudah selesai membereskan barangku. Lebih baik aku pulang dan menyusul temanku makan siang.
"Kak.. Maaf saya duluan ya... " Aku berdiri dan berjalan meninggalkan dia.
"Tunggu.. Gw anterin ya... Gw belum minta atau Pin BB lo... " Jose menahanku.
"Aduh kak.... Ehm.kontak gw ya... tunggu emang inget nama gw? Kalo kakak bisa nyebutin nama..gw kasih kontak gw... "
Jose diam sebentar, aku melihat jam tanganku. Menunggu nya yang masih berfikir.
jujur aku malas memberi kontak ke sembarangan orang. apalagi aku sudah bersama Jimmy.
"Kak maaf... Gw ngga bisa nunggu lama.. Duluan... " Aku meninggalkannnya.
"Cathrine!" Panggil Jose.
"****!!!" Aku mengumpat, lalu aku membalik badanku.
Jose sudah mengeluarkan ponselnya. Aku meraih dan menyimpan kan kontaku di ponselnya.
"Nih kak, gw duluan ya... Bye... " Aku mengembalikan ponselnya lalu pergi menjauh.
aku mempercepat jalanku, aku tak menyadari Jose membututiku. ia lalu ingin meraih tanganku, untung aku cepat menyadari dan membalikan tubuhku.
"ada apa lagi kak? gw udah di jemput.. dan gw juga udah ada acara jadi maaf banget... " jawabku dengan nada kesal.
"engga... cuman... selamat datang di kampus Ungu ya... semoga lancar acara penerimaan Maba (mahasiswa baru).. dan inget ya.. nama gw Jose... " lalu ia pergi meninggalkanku.
__ADS_1