CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
45


__ADS_3

Aku duduk santai di sofa Jimmy. Aku melihatnya sibuk dengan alat mirip scanner dan laptop.


"Hon, can i borrow your id..?" Jimmy berkata pelan.


Aku tidak mendengar dengan jelas. Aku mengambil remote control dan mengecilkan volume tv.


"Kamu bilang apa Jim? Aku aku ga denger..." Aku menjawab dengan suara agak keras.


"Tidak, id atau kartu penduduk kamu. Bisa aku pinjam?" Jimmy membenarkan panggilan nya kepada Cathrine


Aku bangun dari sofa, berjalan ke arah tas tanganku. Aku mengambil dompetku dan mengambil Id card.


Lalu aku berjalan ke arah Jimmy. Aku meletakkan di samping Jimmy.


"Thank You... " Ucap jimmy.


Aku hanya mengangguk dan duduk kembali di sofa. Aku mengambil ponselku yang baru.


Aku membuka browser dan mencari informasi soal perkuliahan. Rupanya agustus besok sudah ada penerimaan mahasiswa baru.


Aku lalu memandang Jimmy, ia terlihat sibuk sendiri. Tapi, aku mencoba mendekatinya.


Tangan kananku memegang pundak Jimmy. Ia langsung menoleh ke arah ku.


"Ada apa...? Kamu bosan ya.. Tunggu sebentar setelah email ini terkirim kita berjalan - jalan... " Jimmy berkata dengan halus.


Aku malah menelan ludahku, aku.... Aku merasa Jimmy sangat manis. Gila.. Aku sudah gila...


apa aku terlalu nafsu kepada Jimmy? atau aku mulai jatuh cinta kepada Jimmy?


rasanya aku terpana untuk pertama kali melihat wajahnya dengan tenang.


aku harus sadar! Cathrine jangan bodoh!


aku langsung membuyarkan lamunanku.


"Gini.. Aku lihat bulan penerimaan mahasiswa... Masih 5 bulan dari sekarang... Aku masuk jurusan apa ya? aku tak ingin melanjutkan kuliah arsitek lagi. terlalu lama dan mahal bagiku...." Aku menjawab.


Jimmy menganggukan kepalanya, lalu ia meraih pinggangku.


Ia menarikku untuk duduk di pangkuannya.


"Menurutku, apa yang kamu mau? Bisnis. Ekonomi, psikologi atau kedokteran?" Jimmy berkata mesra.


Ya Tuhan, aku tidak bisa fokus menjawab. Aku malah tak berkedip memandang Jimmy.


bahkan aku tak bisa mendengar detak jantung ku sendiri....


aku yakin wajahku pasti menjadi merah.


"Cath... Kalau kamu engga menjawab, aku engga akan tahu...." Jimmy malah memandang dengan tatapan Sendu.


"Jim... Kamu kok manis sih wajahnya.... " Aku berkata refleks dengan wajah bodoh.


"Hei...kamu kenapa?" Jimmy mengibaskan telapak tangan ke depan wajahku.


"Eh maaf.... Maksudku, jangan kedokteran juga.. Yang mudah mencari pekerjaan dan tidak sulit mencari kuliahnya... Aku kan tidak pintar dalam pelajaran Jimmy.... " Aku menjawab dengan lembut.


"menurutku, Kamu bisa masuk ke Ekonomi saja. Nanti penjabaran nya, kamu mau apa yang kita pikir lagi... Yang jelas ekonomi itu, bisa mudah mendapat pekerjaan...


soal biaya sudahlah, lupakan. itu menjadi tanggung jawabku..." Jimmy berkata dengan membelai punggungku.


dia membelaiku dengan lembut. aku jadi ingat bagaimana papa memperlakukanku. dengan kasih sayang dan usapan nya saat aku kecil.


hangat sentuhan Jimmy membawaku ke kenangan masa kecil. Papa lebih banyak merawat kami, saat aku sakit ia hanya menemaniku tidur saja. rasanya aku langsung sembuh.


"kamu kenapa giniin aku?" aku menunjuk ke tangan Jimmy.


"entah, ini otomasi aku lakukan... maaf jika kamu tidak suka.. " ia langsung menghentikan tangannya.


"itu mengingatkan aku pada papa. ia selalu membelai pundakku jika aku merasa sedih...Terima kasih Jimmy... " aku pun tersenyum.


jimmy malah memelukku, ia memeluk erat. Kehangatan seperti bersama keluarga. apakah bersentuhan dengan lawan jenis seperti ini rasanya?


umurku belum 20 tahun, mana aku tahu. apa ia melakukan ini pada semua gadis atau hanya aku.


"aku berjanji, bukan bahagia selalu. tapi aku berusaha yang terbaik untuk kita...walau aku akan pergi nanti, aku akan menjemput kamu..." ucap Jimmy.


"ehm.... Jimmy.... kenapa kamu berkata seperti itu?" aku bertanya - tanya.


"tidak apa - apa Cathrine.... aku hanya ingin berkata demikian.... aku bahagia kita bersama.." Jimmy makin erat memeluku.


**********


Stacy berjalan ke kamar Yofie. Ia membawakan roti untuk Yofie. Sebuah roti tart dengan tulisan Selamat Ulang Tahun, my Future..


Stacy tersenyum dengan manis, ia berdiri di belakang Yofie. Ia berharap pria di hadapannya akan senang dan memberi kecupan di keningnya. seperti apa yang di mimpikan.


Yofie malah sibuk membaca pesan antara dirinya dan Cathrine. pesan terakhir hari ini yang Cathrine balas.


Stacy melihat dan sempat membacanya. hal itu sempat membuat nya sedih, tapi ia lebih menahan di hadapan Yofie.


"Selamat Ulang Tahun Bapak Yofiee.... " Stacy berbicara.


Yofie hanya meliriknya, lalu menghela nafas. Ia meletakkan ponsel dan membalik badan, menghadap Stacy.

__ADS_1


"Terima Kasih Stac, kamu ingat hari ulang tahunku..kue nya sepertinya Lezat... " Jawab Yofie.


"Sure.. Kita akan menikah, aku akan berusaha agar kamu bisa menerima aku...." Ucap Stacy menahan emosinya.


"Kita mungkin menikah, tapi aku tak akan pernah mengisi nama kamu di hati aku. Bahkan kita sebenarnya tak bisa bersama, kalau bukan karena kamu ingin bunuh diri...." Yofie bersuara dengan berat.


"........ " Stacy diam dan menahan emosinya.


"Kita sama tahu, kita masih sepupu. Bagaimana resiko kita menikah.. Kita juga selalu bersama dari kecil.... Sulit bagiku Stac, merubah perasaan... " Yofie memandang Stacy.


"Tapi kenapa kamu mengejar Cathrine?" Tanya Stacy.


"Karena dia apa adanya.. Tidak cantik, jauh cantik kamu.... Keluarga terpandan dirimu, walau kita masih sepupu jauh juga... Tapi, perjodohan dari kecil ini engga seharusnya terjadi Stac....."


Stacy sudah tak sanggup menahan emosinya. Ia meletakkan roti di atas meja.


"Gw pergi dulu.... " Stacy pergi meninggalkan Yofie sendiri.


Yofie hanya melihatnya pergi, lalu Yofie melihat kue yang di bawa Stacy.


"Maaf Stacy, aku belum bisa merubah perasaan kepada adik menjadi cinta... " Ucap Yofie sendiri.


Stacy mengendarai sendiri mobil sedan merah nya. Ia berputar mengelilingi area perumahan.


Sendiri di temani dengan lagu sendu dari radio. Hatinya hancur karena penolakan yang selalu di lakukan Yofie.


"Apa gw salah kalau gw pengen punya kehidupan sama lo? Gw tu cinta sama lo... Bahkan apa lo minta gw kasih..... " Stacy berbicara sendiri.


Air matanya mulai menetes membasahi wajah cantiknya. Benar, wajahnya memang sangat cantik.


"Lo janji waktu kita kecil. Main pernikahan dan boneka sama gw. Lo bilang lo bakal jadi suami gw... Yofiee... Kenapa lo jahat! Terserah lo mau tidur sama semua wanita.... Asal lo kembali ke Gw..... Yofffiiee.... "


Stacy menangis sesengukan, dia merasa pernikahan hanya selangkah lagi. Tapi calon mempelai sama sekali tidak peduli kepadanya.


Salah nya adalah perjodohan dari kecil. Yofie hanya menganggap Stacy seperti adik sendiri..


Bagi Stacy yang biasa dan terbiasa bersama. Ia merasa amat bergantung pada Yofie.


Cinta memang sulit, kadang kita merasa bisa membahagiakan mereka. Namun makin kita mengikat, makin mereka membenci kita.


********


Aku melihat pemandangan dari jendela mobil. Aku bosan jika masuk ke mall lagi.


"Mau kemana Cath?" Tanya Jimmy.


"Kemana pun asal jangan ke Mall lagi. Aku bosan kita selalu ke mall... " Aku menjawab dengan malas.


"Mau ke museum? Pantai? Atau ke taman hiburan?" Jimmy juga binggung.


"Hmmm..... Ke daerah wisata mana ya.... Bagaimana jika kita ke museum? Ke tempat yang biasa orang foto tu... Icon kota.. " Aku memberi ide.


"Baiklah.... Ayo kita jalan... " Jimmy memacu mobil.


Ia berbelok ke arah pusat kota. Ia memilih memarkir mobil di stasiun yang kuno.


Aku turun dari mobil, aku terpana melihat pemandangan di hadapanku. Aku mengambil ponsel dan mengabadikan.


Jimmy melihatku, ia lalu mengambil kamera digitalnya. Lalu ia mendekat kepadaku.


Jimmy mengandeng tanganku, "ayo kita jalan Cathrine.... "


Aku mengangguk, kami memulai perjalanan kami. Menyusuri jalanan kota masa lampau.


Indah dan cantik bangunan di hadapanku. Jimmy diam - diam mengambil fotoku.


Sampai pada satu spot, ia terdiam dengan kameranya. Ia merasa Cathrine menyerupai Mira saat mendekati bunga di taman.


Wanita yang pertama membuat Jimmy jatuh cinta. Tapi, ia langsung tersadar bahwa wanita di hadapannya bukan Mira.


"Mau kami bantu foto?" Seseorang mendekati Jimmy.


"Boleh, aku sudah membuatnya otomatis. Kamu tinggal menekan tombol ini." Jimmy memberi kameranya.


Jimmy mendekatiku, ia lalu berdiri di sebelahku. Orang tersebut pun mengambil foto kami.


"Santai aja fotonya, cewenya di peluk dong Mas.. Yang mesra... " Ucap orang tersebut.


"Apa seperti ini?" Jimmy memeluk pinggangku dari belakang.


Aku pun mencoba untuk santai dan lebih luwes berfoto. Aku lalu menggenggam tangan Jimmy.


"Tahan... Sebentar... Yaa.... " Ucap orang tersebut.


"Sudah kan? Aku lelah menahan senyum... " Aku berkata.


"Sudah ini... " Orang itu mengembalikan kamera Jimmy.


Aku pun mendekati dan melihat bersama Jimmy. Aku entah mengapa rasanya bahagia.


"Kalian cocok, semoga berjodoh ya... Saya permisi dulu, sampai jumpa.. " Orang tersebut meninggalkan kami.


"Terima kasih.... " Ucap Jimmy.


Aku diam memperhatikan orang tersebut. Apa yang ia katakan, mengapa membuatku sedikit merasa bahagia.

__ADS_1


"Mau duduk di cafe? Minum dan makan sedikit cake... " Jimmy berkata sambil menarik tanganku.


"Baik... " Aku menurut dengan Jimmy.


Kami berjalan ke arah balik. Didekat parkir kami ada cafe yang cukup tua.


Kami pun masuk ke dalam cafe tersebut. Banyak warga negara lain yang berada di sana.


Jimmy memilih duduk di samping jendela. Aku mengikuti duduk di hadapannya.


"Mau pesan apa?" Tanya pelayan pria muda dengan rambut ikal.


"Capucinno hangat dan chocolate dingin... Cake of the day, saya lihat tadi red venti. Saya mau 1 dan apple pie ya... " Jimmy menjawab.


"Baik, tunggu sebentar ya... " Pelayan pergi meninggalkan kami.


"Kamu sering kemari? Sepertinya kamu sudah hapal menunya..... " Aku berkata.


"Ya, aku sering kemari... Dulu.... Tempat yang sama dengan orang yang berbeda.... " Ucap Jimmy.


Aku mendengarnya, sudah bisa aku tebak. Yang ia maksud pasti wanita dari masa lalunya.


Haruskah aku marah? Tapi aku juga bukan pacarnya. Buat apa juga aku marah.


Aku menghela nafas dan memandang pemandangan di luar.


"Kamu marah?" Tanya Jimmy.


"Tadinya aku merasa kurang nyaman. Kamu menyebut bagian masa lalu itu, tapi aku berfikir.... Buat apa marah? Bukan urusan dan hak aku.... " Aku menjawab ketus.


"Kamu tahu, sehancur apa aku saat kehilangan dia?" Jimmy berkata.


Aku langsung memalingkan pandanganku kepadanya. Pelayan datang dan meletakan pesanan kami.


Aku menganggukan kepala sebagai kode kepada pelayan. Dimana aku berterima kasih.


"Dia wanita yang aku kenal saat aku masih menjadi pendatang baru disini. Wanita mandiri dan punya prinsip yang kuat.... Wanita yang juga memilih untuk mengakhiri hidupnya..... " Pandangan Jimmy melayang jauh.


Aku tak dapat berucap kata apa - apa. Aku penasaran bagaimana dan seperti apa hubungan mereka.


Dasar naluri perempuan, aku selalu ingin tahu. Padahal hal itu juga menyakiti diriku pada akhirnya.


"Dia wanita dari kampung, anak seorang petani... Ia datang kemari setelah melahirkan. Menjadi artis film dewasa seperti sahabatmu.... "


Aku kaget mendengar, berarti selama ini Jessy?


Ia berkata mendapat film dengan bayaran mahal.. Dari film seperti itu?


"Tapi, makin kita dekat.... Aku makin mengenal sisi lain dirinya. Wanita baik dan polos...... Aku mencintai dia.. Amat sangat dalam.... Bahkan aku berani membawanya bertemu keluargaku... "


"Lalu??" Aku mendekatkan diri ke arah Jimmy. Ya aku penasaran!


"Sudah jelas kedua orang tuaku tak akan setuju... Mereka memiliki standart tinggi soal jodoh anak nya.... Cafe ini, salah satu spot yang kami sering datangi.


Maaf, saat tadi aku mengarahkan kamera ke kamu... Aku seperti melihat wanita itu. Senyum dan gaya kalian hampir sama... Hal itu membawaku teringat akan Mira.... " Jimmy bercerita.


Gaya ia bercerita amat dalam. Seperti sesuatu yang ia pendam lama, ia bisa keluarkan juga akhirnya.


Aku pun jadi tahu nama wanita tersebut. Aku sedikit kesal, saat ia menyamakan diriku dengan Mira.


"Jadi, kamu bersama aku karena wanita itu? Karena kemiripan atau karena kepolosan kami gadis dari desa?" Nada bicaraku berubah.


"Kenapa kamu ngomong gitu? Aku memang ingin bersama kamu... " Jimmy menjawab.


"Engga perlu sungkan, kalau memang kamu berfikir.. Aku bisa disamakan dengan Mira mu itu..... "


Aku binggung melanjutkan kalimatku.


"Kalian berbeda Cathrine... Apa apa dengan mu? Apa yang salah?" Jimmy mengernyitkan dahi.


"Hmmm... " Aku merapatkan mulutku dan memilih melihat keluar jendela.


"Kalian tidak sama Cath... Aku sadar dan aku hanya bercerita. Aku fikir kamu akan mengerti rasa kehilanganku seperti apa... Dan alasan aku tak akan bisa memberikan pernikahan dalam hubungan kita.... "


Aku langsung memandang Jimmy. Bisa dia bicara soal pernikahan? Hubungan ini saja tidak jelas apa..


"Pernikahan? Bukan nya memang kita tidak akan sampai pada level itu. Hubungan kita ya akan begini.... " Aku memperjelas.


Hatiku sakit, sakit sekali dengan aturan yang Jimmy buat. Rasanya aku ingin membalasnya, tapi mulutku sama sekali diam.


"Iya, kita tidak akan sampai pada level itu.... " Jimmy menjawab dengan Kesal.


Kami saling berpandangan, mencoba mengatur emosi kami.


"Lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan... Aku yang terlalu membawa perasaan... Memang resiko wanita dari kampung sepertiku, apalagi aku tidak pernah dekat dengan pria sampai sejauh ini..... "


"Apa? Jadi Kamu suka sama aku? aku...." Jimmy mendekatkan wajahnya kepadaku.


"Aku engga tahu, cuman aku merasa nyaman saat bersama kamu... Aku akan mencegah Jim, aku akan membatasi diriku.... Aku akan mengantur perasaanku.. Karena kita harus memiliki perasaan yang sama....


Untuk tidak saling menyukai lebih dari saat ini....."


aku rasanya ingin berlari. aku ingin meninggalkan tempat ini, aku ingin sendiri dan menangis. rasanya aku mengucapkan hal bodoh.


apa aku sanggup mengatur hati dan perasaanku. agar aku tidak jauh menyukai Jimmy. aku harus sadar, sifat dasar pria adalah dominasi dan egois.

__ADS_1


dia merasa memiliki aku sepenuhnya. tapi sebaliknya untuk diriku, adil? entahlah....


__ADS_2