CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
70


__ADS_3

Kami makan di restaurant chinnese di dekat area mall tadi. Sebenarnya aku bisa meminta papa makan di area luar agar dekat bandara.


Tapi, aku takut papa terlalu lelah dan kesehatannya menurun.


Masakan nya cukup enak, namun aku seperti khawatir dan tidak tenang dalam memakannya. Berkali - kali aku melihat jam di ponsel.


Ghea memberi kode ke papa. Sepertinya mereka menyadari ke janggalanku.


"Kak...kakak sudah engga sabar ketemu kak Jimmy?" Ghea membuka percakapan.


"Ehm... engga juga, cuman kakak takut telat aja.. Kan airport nya di luar perbatasan kota... " Jawabku ketus.


"Yaudah deh kak.. Ini aja masih jam 1, eh malah belum jam 1 siang lho... Landing jam berapa si?" Ghea melihat ke jam tangan nya.


"Jam 6... Tapi ini tu kota ga kaya di kampung kita. Deket kemana - mana. Bisa cepet naik motor. Kesana tu harus pake Toll dek. Jauh tauk... " Aku membalas dengan nada agak keras.


Seperti nya itu membuat Papa dan Ghea kaget. Tak biasanya aku berbicara keras.


"Biasa aja bisa kan kak ngomong nya? Galak amat" Jawab Ghea kesal.


Papa meletakan sendok dan garpu. Lalu papa berkata, "kalau kamu mau pergi dulu silakan kak. Jangan bentak adek kamu kaya gitu. Dia cuman tanya dan dia kan engga tahu keadaan kota ini gimana... "


"Kalo papa sama Ghea, aku tinggalin gitu aja. Aku yang salah nanti, aku ninggalin papa gitu aja.. " Jawabku kesal.


"Kami bisa naik taksi kan? Lagi pula kami ngga akan nyasar kak. Papa sudah hafal sudut kota ini. Papa dulu bekerja dikota ini sampai bertemu mama kamu......"


"Ya udah, papa naik taksi ya.. Ini uang nya.. Aku duluan." Aku meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


Aku melenggang pergi meninggalkan mereka begitu saja. Sama sekali aku lupa dengan mereka. Yang ada dalam pikiranku cuman masalahku.


Tentang perkataan cinta yang tidak di balas Jimmy. Simple.


Ketakutan kehilangan Jimmy.


Dan....


Hal yang tak penting lain nya.


**********


Aku mulai gusar melihat jam di ponselku. Masih menunjukan pukul 4.30 sore.


Sedang pesawat baru landing sekitar 06.15.


Aku menunggu di cafe dekat pintu kedatangan. Harapanku, aku tak akan telat menyambutnya.


Di hadapanku ada Mocha ice dan donat dengan topping meses pink di atasnya. Aku mulai memakan donat itu.


Aku terus memandang ke jam yang ada di ponselku. "Kenapa lama sekali!" Aku menggerutu.


Aku berfikir, apa aku terlalu kasar ya ke pada papa dan Ghea. Kenapa papa juga belain ghea aja.


Aku melihat ponselku, ada 1 pesan masuk dari Ghea.


Ghea : kak. Kamu tu kebangetan. Kalo punya masalah jangan orang lain yang kena.


Jujur, aku malah marah membaca pesannya. Apa salahku? Aku ngga merasa marah ke mereka.


Susah berbicara dengan Ghea. Mereka ngga tau, kalo disini itu waktu adalah uang. Dan betapa jauh nya jarak ke airport. Belum jika ada macet kecelakaan atau hal lain.


Lama aku menunggu, sampai tiba pada pukul 06.15.


Pengumuman bahwa pesawat sudah landing pun mulai terdengar.


Aku bersiap - siap merapikan rambutku dan pakaianku. Rombongan pesawat mulai terlihat satu per satu keluar.


Aku mencari - cari dimana pria itu. Aku akhirnya melihatnya, menggunakan Topi hitam dan kacamata hitam. Gagah dan terlihat keren, itu yang ada di pikiranku.


Jimmy pun melihatku dan menghampiriku. Aku berdiri saat ia tepat berada beberapa meter dariku.


Aku tersenyum melihatnya, ia melepas kacamatanya. Lalu ia memelukku, rasa yang aku rindukan darinya.


"Lama menunggu?"


"Engga juga kok.. Orang aku baru sampai juga... " Jawabku canggung.


"Uhm.. Minuman kamu habis sampai es batu pun engga ada, coklat di piring mu sudah kering. Engga mungkin kalau..... Kamu nunggu dari jam berapa?" Jimmy mengernyitkan dahi.


"Jam 5.30 kok... Beneran.."


"Really? Engga jam 4 kan?" Jimmy masih penasaran.


"Kenapa sih penting ya? Iya iya aku nunggu dari jam 4 sore... " Jawabku kesal.


Jimmy duduk di sampingku, aku pun ikut duduk. Ia menghela nafas nya sebentar.

__ADS_1


"Hmm... Maksudku... Kamu ngga usah kesini, kalau kesini ya jangan jam segitu.. Ini kan malam terakhir sebelum keluarga kamu pulang... Aku cuman mau kamu punya banyak waktu sama mereka... " Jimmy menjelaskan.


Aku hanya memasang wajah kesal mendengernya.


"Kamu harusnya seneng, ada orang tua dan keluarga yang mau ketemu aja gampang. Yang masih perhatian sama kamu..."


"Udah deh, kenapa hari ni semua orang tu nyebelin ya? Kamu, ghea, papa. Semua komen soal aku.. " Aku membela diri.


"Bukan komen, aku ngasih tahu kamu sesuatu yang seharusnya. Karena aku peduli sama kamu. Karena aku mau menunjukan apa itu rasa nyaman, perhatian dan yang seharusnya.... Bukan soal perkataan i love you semata.... Paham?" Jimm imenjelaskan.


"Engga.... " Aku kesal menjawab dengan emosi.


***********


Malam ini Jimmy mengajak papa dan Ghea makan malam bersama. Ia memilih restaurant di dekat pantai.


Kami bertemu disana, papa seperti biasa menggunakan kemeja rapi dan Ghea dengan kaus santainya.


Kami duduk bersama, jimmy membiarkan aku memilih menu makan.


Tak lama makanan kami datang, kami pun mulai makan malam. Tak banyak perbincangan malam ini.


Hanya mendengar cerita papa dan Jimmy soal pekerjaan mereka masing - masing.


"Jadi... Ghea mau sekolah IT?" Jimmy bertanya.


"Iya kak.. Oh iya, makasih laptop nya ya.. Ghea bisa belajar sama bikin tugas di rumah.. Tinggal print ke tetangga aja... " Ghea menjawab.


"Sama - sama sekolah yang pintar ya. Biar bisa sampai ke luar negeri... "


Ghea mengangguk, papa pun mengamini hal itu.


"Buat apa sih mimpi ketinggian...realistis aja sama keadaan. " Jawabku ketus.


"Emang salah? Aku bertemu kamu juga dengan mimpi yang terlalu tinggi. Tapi aku ngga pernah menjatuhkan mimpi kamu. .. " Jawab Jimmy.


"Sudah Jimmy, besok papa dan Ghea kan pulang. Mungkin Cathrine capek dan harus bersiap kuliah nya. Jadi mood nya mungkin lagi ngga bagus... " Jawab papa dengan tenang.


"Iya pa, maaf aku cuman bisa menemani makan malam papa.. Kalau ada apa - apa di rumah, jangan segan menghubungiku.. "


Kami pun melanjutkan makan malam kami. Aku lapar dan makan dengan lahap hidangan di hadapan ku.


"Sampai di apartemen aku akan memberi kamu pelajaran. Bagaimana kamu seharusnya." Jimmy berbisik.


Dalam hatiku berdegup kencang. Apa yang mau ia lakukan. Apa ia akan memberi ku kejutan? Atau sebaliknya?


Sepanjang jalan kami tak banyak bicara. Hanya lantunan lagi melow jazz yang menemani kami. Jimmy benar - benar menutup mulutnya.


Hanya sekitar 20 menit kami sudah sampai lagi ke apartement. Aku menunggu nya parkir di lobby.


"Cath! Dari mana?" Suara pria yang aku sepertinya pernah mendengar.


"Eh, sammy... Apa kabar? Aku abis makan sih sama papa ku.. " Jawabku.


"Oh, hei Jimmy... " Sammy menyapa Jimmy yang baru datang.


"Bro... Apa kabar? Lama ga ketemu yah.... Bisnis lancar?"


"Thank God lancar aja, trading gw juga masih belajar.. Thank lho banyak ngajarin gw... " Sammy menjawab.


Mereka berbicara sebentar, sebenarnya aku cukup bete dan ingin cepat kembali ke kamar. Aku ingin melepas kangenku ke Jimmy.


"Ya udah duluan aja bro, kasian Cathrine nunggu lama... Gw pergi ya.. Byee.... " Sammy meninggalkan kami.


Kami lalu meninggalkan lobby lalu menuju kamar kami.


Aku mengganti pakaianku di hadapan Jimmy. Aku memilih daster tidur satin dengan warna ungu. Aku sengaja melakukannya untuk menggoda Jimmy.


Jimmy memeluku dari belakang. Lalu ia mengecup pundakku. Ia berbisik, " Jangan begitu ke keluargamu. Aku menyukaimu saat tahu kamu dekat dan peduli ke keluarga.... "


"Aku masih peduli sama mereka... Hanya saja aku merasa entah seperti rasa kesal, bosan atau apa ya melihat mereka... " Jawabku.


"Huss... Aku ngga pernah suka mendengarnya. Kamu masih punya orang tua yang peduli. Adik yang sayang ke kamu, harusnya kamu memanfaatkan saat bersama.... " Jimmy berkata.


Aku melepaskan pelukan jimmy. Aku mengajaknya duduk di sofa terlebih dahulu.


"Apa aku salah jika aku kesal ke mereka? Terkadang beberapa hal yang aku ga bisa ceritain ke mereka... " Jawabku membela diri.


"Begini.. Kamu kesal ke aku kan? Karena aku ngga membalas pesanmu? Lalu kamu kesal marah ke keluargamu... Jangan begitu.. Kamu harus tau, aku sibuk disana.. Tentang perasaan kamu, kalau aku tak punya rasa yang sama.. Buat apa aku disini?"


"Aku ngga marah ke mereka! Kenapa sih semua orang sekitarku tu aneh. Aku salah terus? Iya?!" Aku marah ke Jimmy.


Ia seperti menatapku tajam, ia menggetakkan gigi nya. Terlihat wajah kesal di matanya.


"Aku tidak suka dengan wanita kasar. Apalagi yang kekanakan sepertimu. Belajarlah Dewasa kalau kamu masih mau disisiku... Atau aku akan melepas kan kamu. Tolong introspeksi dirimu dulu sebelum kamu membela diri..." Jawab Jimmy dengan lirih.

__ADS_1


Jujur aku takut dengan tatapannya yang tegas. Ia lalu meninggalkan ku ke tempat tidur kami. Ia memilih tidur dan tidak melanjutkan lagi pembicaraan kami.


Aku berdiam diri setengah malam. Menatap keluar jendela, bertanya apa aku salah dengan kelakuanku.


Ya, aku kekanakan dalam hubungan ini.. Tak seharusnya aku merasa papa dan Ghea menganggu.


Tapi, apa keluargaku tahu? situasi ku, bagiamana selama ini aku berkorban juga untuk mereka. Sampai aku rela masa depan ku bersama Jimmy.


Pria yang aku saja tidak mengenal asal usulnya. Bagaimana bisa aku kini merasa terbebani kedatangan mereka... Jahatnya diriku.


Aku terpaksa mencari uang di usiaku seperti ini. Aku yang menjadi bahan bully karena kuliah di kampus bergengsi, namun aku naik turun angkutan umum.


Apa adil? Segala beban dan hutang di taruh di pundakku?


Apa adil? Mama pergi gitu aja, ngga kepikiran gimana kami...


Gimana makan kami, apa kami bisa hidup?


Semua cuman menyalahkanku, apa memang aku yang naif atau kurang bersyukur dalam hidupku?


********


"Pa... Maaf soal kemarin.. Aku emosi aja kok, mungkin tamu bulanan ku mau datang... " Aku membuka suara.


Papa duduk di sampingku, di kursi stasiun sambil menunggu kereta datang. Ghea sibuk berjalan - jalan dan berfoto.


"Nak.. Maaf kalau kamu menjadi seperti ini.. Papa engga ingin keadaan begini. Tapi, terima kasih.. Sudah pulang lah... " Papa menepuk pundak ku.


Tak lama kereta yang kami tunggu datang. Ghea bergegas membantu papa membawa barang.


Seorang porter paruh baya membantu kami membawa barang ini.


Sampai di pintu batas kami, aku menahan Ghea. "Dek.. Maafin kakak... Titip Papa ya... "


Ghea hanya memberi jawaban angukan kepala. Ia sibuk dengan barang bawaan yang banyak.


Aku menunggu di peron luar. Melihat dari cela pagar pembatas kami. Rasanya yang tadi nya kesal kok jadi sedih ya.


Tak lama kereta berangkat meninggalkan ku. Aku menatap mereka dari jauh yang perlahan menghilang mengikuti kecepatan kereta.


Aku berjalan lunglai kembali ke parkiran. Pak Teddy sudah menungguku di dalam mobil.


"Balik non?"


"Iya pak.. " Jawabku halus.


Aku masuk ke mobil, kali ini aku memilih duduk depan. Aku memilih diam selama perjalanan ku.


Pak Teddy terlihat santai dengan jalanan yang ramai.


"Pak... Apa saya childish ya?"


"Punten.. Maaf... Child apa ya?" Pak Teddy binggung.


"Kekanakan.. Kaya bocah dalam hubungan ini... Kemarin saya berantem... Saya di bilang kekanakan... " Aku berkata.


"Oooo... Hmm... Sebenarnya bertengkar dalam hubungan itu wajar banget, bapak aja masih suka berantem sama istri.. Tapi, ya kita saling mikir.. Saya salah kah? Istri salah kah?"jawab Pak Teddy.


"..... " Aku diam mendengarkan.


"Yang hebat kalo apa coba? Kalo mau memaafkan.. Menurunkan Ego sama gengsi kita... Udah lewat itu pikiran aneh - aneh. Manusia kan engga sempurna, berantem itu bikin kita belajar.. Biar berdua jadi sempurna semua ciptaan Allah.... " Jawab pak teddy lagi.


"Jadi bertahan? Walau sakit pak?" Tanyaku.


"Sakit gimana? Kadang sakit itu ada dari pikiran kita yang macem - macem.. Kalo kita nya menikmati, menjalani dan berterima kasih atas hidup ini. Semua nya ga sakit. Kalo sakit, anggep obat... "


"Obat?" Aku berfikir.


"Obat.. Obat buat hati sama pikiran kita yang jelek.. Ga harus kalo sakit terus pergi dan menghilang.. Sesaat mungkin gapapa, namanya apa menyendiri...? Tapi, inget masih banyak hal yang harus di lakuin daripada tenggelam dalam sakit itu... "


"Apa artinya saya belum mengenal Jimmy ya? Dan saya harus belajar lagi bagaimana bisa bersama dia... "


"Kurang nya gitu non... " Pak Teddy menjawab.


Ya.. Aku sedikit terbuka, pikiran dan hatiku terlalu jelek. Makanya aku begini, tak harus nya aku marah dengan mereka.


Jimmy sudah sejauh ini mempertahanku, memberi segala yang aku butuhkan. apalagi ia tulus menyanyangi keluargaku.


harusnya aku berterima kasih dan meminta maaf ke Jimmy. tapi apa yah yang engga biasa? (aku berfikir).


"pak... saya belanja dulu ya. anterin ke pasar modern yah... " Aku berkata.


"baik non, di depan saya masuk toll biar bisa muter balik ya... "


Pak Teddy memacu lebih cepat mobil. ia segera masuk ke kanan jalan dan masuk ke jalan bebas hambatan.

__ADS_1


"saya mau bikin makanan pak. permintaan maaf ke Jimmy. saya mau memperbaiki semuanya... " ucapku dengan senyum.


Pak Teddy membalas senyum dengan kumis tipisnya.


__ADS_2