CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
29


__ADS_3

kami masuk ke sebuah pusat perbelanjaan. aku berjalan di sebelah kiri Jimmy.


cukup mewah dan modern menurutku. banyak Tenant yang aku hanya melihat di majalah yang ada di perpustakaan sekolah.


aku melihat pengunjung yang datang, mereka terlihat bukan orang sembarangan. walau pakaian mereka tidak semuanya glamour, tapi aku yakin mereka bukan orang sembarangan.


sesekali ada warga asing yang meliriku. atau pria lain yang memperhatikanku. aku berjalan di samping kiri Jimmy. kadang aku berfikir apa ada yang salah denganku?


ada jarak antara kami, aku merasa ingin berjalan sendiri. atau memang aku yang merasa tidak nyaman berjalan dengan pria lain?


aku terus melihat ke semua Tenant toko yang ada. tak sanggup aku membeli untuk saat ini.


Hingga aku berhenti, aku melihat sosok yang aku kenal. Ia adalah adik mama, ia sedang berbelanja di salah satu butik.


Jimmy menghentikan langkahnya juga, ia berbalik ke tempatku berhenti.


"Kenapa berhenti?" Tanya Jimmy.


"H..... " Aku hanya menggumam. Aku tak mungkin memperkenalkan Jimmy ke Tante Rose.


"Kamu mau beli tas disana?" Jimmy menunjuk butik tersebut.


"Tidakk... Jangan.. Ayo kita pergi... " Aku menarik tangan Jimmy.


Kami menjauhi tempat tersebut. Bukan aku tak ingin menyapa dia. Tapi apa yang ia katakan jika mengetahui aku bersama pria disini.


"Apa ada sesuatu? Kamu seperti menghindari atau menutupi ssuatu..." Jimmy mengikuti langkahku.


"Bukan hal penting, tapi suatu saat kamu bakalan ngerti sendiri kok Jim..." aku mencoba menghindarinya.


"Ah... Oke, ayo kita masuk kesana... " Ia menunjuk toko tas yang sepi.


Aku masuk ke dalam bersama Jimmy. Semua yang ada disana memang bagus dan model terbatas. Tapi, kenapa sepi?


Aku mencoba mengambil salah satu tas. Aku mencoba tas tangan warna hitam ini.


Lalu aku melihat di kaca, cantik sekali dan bagus. Lalu aku melihat harga yang di pasang..


Astagaa! 3 juta!


Aku langsung melepas dan mengembalikannya. Aku membersihkan noda yang mungkin tertinggal.


Aku meninggalkan dan melihat tas lain. Siapa tahu aku salah lihat harga yang ada.


Aku mengintip ke salah satu tas ransel merah muda. Tertulis disc 50%, tapi harga asli 2 juta.


Aku meninggalkan langsung tas tersebut.


"Sudah menemukan yang kamu suka?" Tanya Jimmy.


"Belum..mungkin kita bisa pindah ke toko lain...." Aku langsung berjalan ke pintu keluar.


Aku berjalan ke arah bazzar yang ada di tengah mall. Lebih wajar harga yang ada disana menurutku.


Tapi Jimmy menarik tanganku, ia mengajakku berbicara di sebuah sudut.


Ia menyandarkan ku di dinding.


"Kenapa kamu milih yang di luar? Kamu sudah mencoba 1 tas disana, aku lihat juga cocok dengan mu. Kenapa kamu malah pergi?? "


Aku melihatnya begitu serius. Ayolah ini hanya sebuah tas dengan harga gila buatku. Bahkan barang yang aku bawa tidak semahal harga tas tersebut.


"Aku beri tahu! Aku terbiasa jika mencoba barang apapun, aku membeli nya.. Tidak seperti tadi. Ini hal tabu di negaraku!"


"Maaf.... Aku tak terbiasa dengan barang semahal itu. Terlalu berlebihan dengan harga yang ada. Nominal segitu bisa digunakan banyak hal lain buatku... Aku engga nyaman dengan benda mahal... " Aku menjawab dengan tenang.


"Saat kamu bersama ku. Tolong buat dirimu tampak layak bersamaku! Aku tidak nyaman melihat tas mu itu. Warna pun sudah memudar, ganti lah dengan yang baru." Jimmy menarik tas yang aku bawa.


Jadi ia malu bersamaku, baiklah aku mulai paham jarak kami. Aku memandang Jimmy dengan tatapan pasrah.


Pasrah atas keadaan dengan jarak kami. Mungkin harga yang tak berarti buatnya.


Tapi untukku itu bisa menyambung hidup dan sekolah ku. Aku hanya malu dan menundukkan kepalaku.


Jimmy menarik tanganku, ia mengenggam pergelanganku dengan erat. Ia seperti memintaku berjalan di sampingnya.


"Apa kita akan kembali ke toko tadi?" Aku memberanikan diri bertanya.


"Tidak Sudi! Kita ke toko lain... " Jawab Jimmy dengan nada yang dingin.


Aku pasrah saja mengikuti gerak langkahnya. Berjalan memutar ke tempat yang kami lewati.


Sampai kami berhenti di toko yang ada seseorang. Seorang yang aku benci dan hindari. Aku berhenti dan Jimmy pun kaget.


Ia menoleh ke arahku, pandangannya tajam dan dingin. Ia memberi kode lewat alis nya yang menangkat.

__ADS_1


Aku hanya membalas dengan mengelengkan kepalaku. Ia kembali memberi kode kepadaku.


Aku malah diam dan menundukkan pandanganku. Aku enggan berbicara soal Tante Rose.


Jimmy mengdekatiku, "kenapa? Apa ada sesuatu yang menganggumu..?" Suara Jimmy berubah lembut.


"Sebenarnya ada seseorang yang tak ingin aku temui... Ia ada di dalam, aku jadi enggan masuk... " Jawabku.


Jimmy memandang kedua mataku, lalu ia berkata. "Sudahlah, kamu itu sama aku... Tenang.... " Jimmy memegang telapak tangan dan menepuk perlahan.


Rasanya diperlakukan dengan baik. Hal itu memberi kekuatan untukku. Aku pun mengikuti Jimmy lagi. Kami masuk ke dalam...


aku berpencar dengan Jimmy. aku memilih menghindari nya, aku mengamati Tante Rose dari jauh.


"hei, gw itu member disini.. liat nih kartu.. ni kartu... " tante Rose menunjukkan kartu dari dalam dompetnya.


"saya paham Bu.. tapi memang point itu kurang untuk diskon ini.. mohon ibu membayar harga yang tertera... " jawab petugas dengan pakaian hitam itu.


"enak aja! ini ya, gw laporin sama yang punya biar di pecat lo semua. lo bilang gw bisa bayar pake point belanja gw!" tante Rose masih marah.


"Maaf Bu... Maaf sebelum nya kami memang salah Bu.. Tapi ibu tidak bisa berlaku demikian kepada kami. Kami pekerja sama dengan Ibu... " Jawab salah seorang.


Aku yakin itu kepala toko. Hanya ia yang berani melawan tante Rose.


marah dan kesal itu yang aku lihat dari raut wajah Tante Rose. wanita dengan sejuta cara licik.


"Bisa di bantu Bu?" Seseorang mengangetkan ku.


pramuniaga wanita muda dengan senyum ramah mendekat dan melayaniku.


"Ah sebentar saya lagi milih... " Aku menjawab.


aku melirik ke beberapa tas dihadapanku.


Rupanya hal itu menarik perhatian Tante Rose. Ia melirik ke arahku, lalu kedua matanya berubah menjadi melotot dan wajahnya menjadi merah.


Ia menghampiriku yang sedang memilih tas di dekatnya. Lalu ia menarik tanganku dan berkata.


"Bagaimana bisa kamu kemari! Kamu kan orang miskin.! tak mungkin kamu bisa beli barang disini." Tante Rose berkata dengan kencang.


Aku seperti akan di rendahkan olehnya. Sama seperti mama papa saat itu. Kami seperti menyembah kepadanya saat meminjam uang untuk membeli beras.


"Heh! Denger ya Mbak! Ini itu orang miskin, dia engga mungkin bisa beli tas disini. Jangan di layani, cuman buang waktu sama tenaga lo semua." tante Rose berkata kepada pramuniaga di hadapanku.


Hampir semua orang yang ada melihat ke arahku. Rasanya aku ingin marah dan menampar wajahnya. Berkali - kali ingin aku tampar mulutnya.


"Lo jangan sok kaya deh, baju aja beli bekas segala masuk toko begini. Lo ga bakalan sanggup, orang kaya lo itu mendingan mikir gimana makan besok...." Ucap tante Rose.


"Bu, bagaimana tas ini apa ibu jadi membeli?" Salah seorang pramuniaga menghentikan Tante Rose.


"Ah lupa kan gw.. Yuk kita ke kasir..mbak nya di bilangin buang waktu aja itu.... " Ucap Tante Rose. Lalu mereka menjauh dariku.


Aku melihat ke pramuniaga yang melihatku. Ia binggung harus menanggapi bagaimana denganku. Aku pun tersenyum melihatnya.


"Mba, gapapa mbak mau liat. Ga beli juga boleh. Saya engga bedain pembeli kok.. Soalnya ada yang beli apa engga, saya juga tetep dapet gaji... " Ucap pramuniaga dengan sopan.


"Terima kasih ya mba, saya mau lihat ini....sebelumnya, terima kasih ya mbak. mau melayani dan respect ada saya disini. " Aku menunjuk ke salah satu tas berwarna Peach.


"Wah mba, ini edisi terbatas. Ibu tadi juga mau beli tapi ga jadi. Harganya mahal ga cukup limit CC (credit card) punya dia..." Pramuniaga berbisik kepadaku.


Aku lalu melihat tas itu. Ingin rasanya aku beli.


bagus, simple dan aku yakin awet di pakai. eh ini sepertinya mahal..mau beli tapi, uang siapa? Jimmy?


"Kalo kamu memang suka, ambil saja. Aku juga suka, warna itu bagus buat kamu... " Suara Jimmy memecah lamunanku.


"Selamat malam Pak... " Ucap pramuniaga.


"Malam. Oh iya ingat ya, dia adalah Ny. Jimmy. Jadi jika dia datang kemari dan memilih sesuatu, beri tagihannya ke kantor saja." Jimmy membalas.


"Baik Pak... Jika begitu saya ambilkan tas ini ya.. Bagimana Bu?" Pramuniaga mengambil tas tersebut.


"Boleh...." Jawabku.


Lalu pramuniaga meninggalkan kami. Aku memandang Jimmy dengan penasaran.


"Suamiku... Tuan Jimmy... Hahahaa.... " Aku tertawa dengan meledeknya.


"Jangan begitu, kamu tidak penasaran berapa harganya?" Jimmy mencoba menjaga wibawanya.


"Ah.. Aku lupa.. Berapa sih harganya!?"


"Entahlah... Sana ke kasir ambil tas nya... " Jimmy kesal dan meninggalkanku.


"Yee... Ngambek... " Aku berjalan ke arah kasir.

__ADS_1


"Heh! Gimana bisa decline? Ini cc aja baru saya bayar!" Ucap Tante Rose.


"Kartu lain saja Bu...saya coba semua dan gagal bu..." Ucap kasir yang ada di hadapannya.


"Mana ada, semua kartu sudah kamu coba. Atau ambil 1 juta di sini terus sisanya dua kartu ini... " Ucap Tante Rose dengan menunjukkan beberapa kartu lain.


"Bu, kami melakukan pembayaran hanya dengan sekali saja. Entah Cash atau lewat kartu.... Mohon di pastikan dulu bu. Biar saya melayani Antrian di belakang.... " Pramuniaga menunjuk dengan telapak tangannya.


Tante Rose menoleh sambil berkata, "siapa sih! Kaya mampu aja bayar disini... "


Matanya melotot ke arahku. Ia lalu menggelengkan kepalanya. Wajahnya tampak tak senang dengan ku.


"Ini Bu tas nya, mohon tanda tangan disini.." Pramuniaga memberiku sebuah kertas.


Aku membacanya, ini invoice tanda lunas. Hah? 25Jt yang bener aja. Duit gw di dompet aja jarang sampe 250ribu.


Tapi aku harus terlihat Jaim dan tenang. Lalu aku memberi tanda tangan dan mengembalikannya.


"Terima kasih... " Aku berkata dan tersenyum.


Pramuniaga memberi paperbag hitam. Aku menerimanya dengan wajah bahagia.


"Terima kasih Bu, kami tunggu kedatangannya lagi... " Ucap Kasir di hadapanku.


"Pasti... " Aku membalas dengan tenang.


Aku melewati tante Rose dengan mengangkat kepalaku. Aku membuang pandanganku darinya.


"Sini ikut aku!!" Tante Rose menarik tanganku.


Ia lalu menarikku keluar dari toko. Ia mendorongku agar duduk di kursi yang ada di samping toko.


"Dapat uang dari mana kamu! Kamu jual diri hah?!dasar Keponakan ga tau diri! yang kamu lakuin itu bikin Tante Malu!!" Ucap Tante Rose.


"Tante... Saya itu kerja di industri film. Tante pasti paham lah bayaran kami mahal. Apalagi kami yang di balik layar... lagipula kalo gw jual diri, tante ga rugi kan! berfikir positif lah Tante..." Jawabku dengan tenang.


"Ga mungkin! Kamu itu ga mungkin bisa punya duit banyak.. Orang kamu itu miskin. apalagi sejak semua usaha papa kamu aja udah saya ambil!!"


"Apa.! Jadi tante yang bikin papa ancur?! Tante... Tante itu.... " Aku masih menahan marahku.


"Apa? Gw itu pinter sama kaya inget!"


Plakk..! (Aku menampar tante Rose).


rasanya lega menamparnya. mulutnya amat jahat, kelakuannya pula. biarlahaku di bilang tak paham soal sopan dan santun. aku hanya mencoba mempertahankan diriku.


Lalu aku meninggalkan dia. Untung tak banyak yang melihat hal itu. Aku tak peduli dan terus berjalan menjauhinya.


marah, sedih dan tak bisa aku lukis yang aku rasa. yang jelas semua berkecamuk di hatiku.


"Heh?!! Kurang ajar.. Sini kamu orang Miskin!!" Tante Rose berteriak dan mengejarku.


Jimmy berdiri di salah satu pintu di depanku. Dibelakangnya sudah ada mobil yang kami pakai.


"Sudah belanjanya? Ayo kita pulang... " Ucap Jimmy.


Aku hanya mengangguk dan ikut dengan Jimmy. Aku menoleh sedikit, petugas keamanan menahan tante Rose. Mereka menghalangi agar tidak mendekati kami.


***********


aku menyandarkan tangan dan memandang ke jalan. aku menghela nafas mencoba mencerna betapa jahatnya ia kepada keluargaku.


"aku pikir kamu engga punya keberanian seperti tadi... " jimmy memulai pembicaraan.


"sudah sepantasnya, walau aku menyesali kenapa aku harus mengotori tanganku. biar semesta yang membalasnya.... " aku menjawab dengan malas.


"hmm..... aku pikir kamu akan membiarkan dia menghina dan merendahkan terus... tapi, cukup salute dengan apa yang kamu lakukan.... " Jimmy menepuk pundakku.


"......... " aku diam tak menanggapi apa yang Jimmy lakukan.


"apa ada yang salah? sepertinya kamu kurang suka... atau kamu lapar?" jimmy bertanya.


"tidak.... tapi aku menyesal... "


"atas..??? " Jimmy penasaran dengan apa yang aku sesali.


"...... "


Jimmy mengelus dahi dan menutup bibirnya dengan tangan kanannya. ia mencoba menungguku untuk berbicara.


"menyesal.. beli tas 25 jt. padahal dompet sama ATM gw aja ga sampe 2juta. kan nyesel... mendingan buat berobat papa kali.... ah...."


Jimmy kaget mendengar perkataanku. ia lalu tertawa.


"kamu tu emang beda ya.. emang engga munafik dan out of the box... aku pikir.. ah.. memang aku tak salah memilih.. " Jimmy tertawa melihat jawabanku.

__ADS_1


"bener kan? buat aku ya... sayang banget duit segitu.. bisa aku jual lagi ga ni? sayang gitu buat di pake.. " aku berkata sambil mengintip tas di pangkuanku.


"segitu berharga sampe kamu pangku?" tanya Jimmy.


__ADS_2