
Kami masih tersipu malu. Aku menundukkan kepalaku, aku tak sanggup melihat wajah Jimmy.
Jimmy menarik tanganku, yang sedang memegang burger. ya, aku sangat lapar malam itu.
Ia menggenggam erat dan aku memandang nya. dalam hatiku aku bertanya, kenapa ia begitu baik kepadaku?
"Wajahmu jadi merah?" Ucap Jimmy.
"Ah... Engga kok.." Aku menjawab sambil membuang pandangan.
memang rasanya malu saat ia menegurku. aku menahan tawa dan senyumku, aku harus menjaga image ku di hadapan Jimmy.
meski jadinya Aku salah tingkah dengan Jimmy.
"Kumohon berhenti memandangku seperti itu. Aku risih dan tidak biasa... kenapa kamu selalu memandangku dalam waktu yang lama...." Aku menjawab.
Jimmy lalu menarikku, aku pun jatuh ke pangkuannya Jimmy.
Mudah sekali diriku seperti ini. Murahan! (Aku mengutuk diriku).
aku merangkul pundak Jimmy. dahi kami menyatu, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Aku ingin kita seperti ini.. Tinggal lah lebih lama denganku.... Tapi tak ada yang gratis... " Jimmy berbisik di telingaku.
"Maksud.. Aaa... Aku paham... Aku menemani kamu disini, melakukan tugas seperti tadi... Benar?" Aku memperjelas. aku cukup percaya diri dengan jawabanku.
"Bukan! Aku bukan pria mesum seperti itu... Memang itu kebutuhan sebagai pria dewasa. Tapi, aku tidak mau kamu seperti ini.... "
"Maksud kamu?" Aku mengernyitkan dahi.
"Hmm... Kamu bisa kursus bahasa, memasak, sekolah menjahit. Pasti ada kelas singkat yang kamu bisa ambil... Jadi kamu tidak membuang waktu kamu hanya disini menonton, makan, tidur...
Karena kamu biasa bekerja, aku yakin kamu akan bosan... " Ucap Jimmy.
"..... " Aku diam berfikir. Kenapa dia malah menyuruhku melakukan hal itu.
Harusnya kan enak aku hanya disini. Menikmati liburku.
"Aku paham.. Kamu pasti marah mendengar ini. Tapi, aku punya maksud baik.. Agar kamu bisa mengisi waktu kosong mu... Aku tidak memaksa kok, cuman kalau kamu minta aku bayar semua kursus kamu... Aku siap... " Jimmy memelukku.
" Sebelum nya, aku pernah denger.. Biasanya perempuan seperti aku, hanya butuh melakukan perintah dan mendapat uang dengan urusan ranjang dengan mereka. Kenapa kamu minta aku mencari sekolah.?
bahkan kamu membiayai pula...apa ada yang salah?" Aku penasaran dengan tujuan Jimmy.
"Karena aku tidak menganggap kamu seperti wanita itu. Maksud aku baik, tergantung kamu aja. Mau berfikir seperti apa..yang jelas,aku tidak mencari wanita penghibur.. "
Aku diam, memandang pria di hadapanku. Salah satu pasionku memang soal seni. Aku ingin sekolah tetapi uang yang tak ada buatku.
jika aku mengambil tawaran Jimmy. aku untung, eh jangan gegabah Cath...
"Sudahlah, aku tidak perlu kamu jawab sekarang. Aku cuman pengen menikmati saat kamu sama aku disini... Terima kasih... Karena kamu disisiku saat ini... " Jimmy memelukku dengen erat.
aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku bisa mendengar detak jantung yang tak beraturan. Nafas Jimmy pun seperti agak berat.
Aku menikmati pelukan ini, saat orang lain memelukku dengan hangat. Namun, apa artinya kita bersama jika nantinya tak akan ada pernikahan?
aku memandang wajahnya saat kami di tempat tidur yang sama. pelukannya hangat, tatapannya membuatku damai.
aku bahkan menyentuh wajah Jimmy. wajahnya halus dan tak pernah membosankan aku pandangi.
aku memejamkan mataku dan menyandarkan kepalaku di dalam pelukannya.
*******
pagi harinya Jimmy sudah berada di kantornya. Ia meninggalkan Cathrine yang masih terlelap.
kini ia sedang bekerja di ruangan nya. Di sudut mejanya ada foto Mira. Foto yang kadang tersembunyi, kadang ada pada tempatnya, sisi meja kerja Jimmy.
Ia tersenyum melihat Foto Mira. aura bahagia yang hilang hampir 3 tahun lebih kini mulai terlihat lagi.
"Andai kamu disini, aku seperti menemukan separuh diriku. Tapi, aku tak sanggup membawa dia masuk jauh ke hidupku... Mira... Andai kamu tahu, aku tak akan bisa mengganti kamu....
andai kamu juga sabar waktu itu...mengijinkan aku untuk mengejar pelaku dan membujuk orang tuaku.."
Jimmy memejamkan kedua matanya. Ia teringat saat membawa Mira ke negaranya. Negara diktator dimana keluarga Jimmy berpenggaruh dalam perekonomian disana.
Ia juga memperkenalkan Mira sebagai kekasih ke hadapan umum. Dan saat itu juga kedua orang tua Jimmy murka.
Bagaimana tidak? ini acara kenegaraan yang merupakan upacara negara.
membawa Mira dan mengandeng di hadapan banyak rakyat.
__ADS_1
mereka langsung menjadi buruan wartawan disana.
hingga saat mereka kembali ke kediaman orang tua Jimmy. Mira yang tadinya bahagia dan tertawa langsung menutup mulutnya.
ayah Jimmy melihat mereka masuk dengan tatapan tajam. tatapan penuh kebencian kepada Mira.
"Kamu bawa wanita hina kemari?! Dimana ota* mu? Dia siapa? artis? Apa yang bisa ia lakukan untuk negara ini? papa tidak Butuh menantu tak berguna." Ucap ayah Jimmy.
"Pa.. Apa bisa kita bicara berdua saja? Mira tidak perlu mengetahui, atau bisa kita bicara lebih pelan?" Jimmy berbicara dengan pelan ke ayah nya.
"Bicara pun, dia tak akan paham apa yang kita katakan! Aku tak sudi menganggap dia sebagai calon menantu. Bawa pergi dia kembali. Kembalikan ke negara nya! " Ayah Jimmy berkata sambil memalingkan pandangan ke jendela kaca.
Baginya tak sudi mendapati anak satu - satunya menikahi wanita itu. Wanita yang di anggap kotor karena memiliki anak tanpa pernikahan.
Pintar pun tidak, apalagi gelar bangsawan. Menjadi artis dengan jalan menjadi model majalah dewasa. Makin membuat ayah Jimmy murka.
"Baik pa.. aku pikir papa bisa berubah dengan apa yang lalu terjadi. tapi aku salah ya...papa masih sama.....aku akan pergi dan jangan minta saya datang kemari lagi.... Selamat malam Tuan.." Jimmy langsung menarik tangan mira.
Mereka berjalan menuju pintu keluar utama..
"Tunggu..! Jika kamu kembali sendiri. Papa menerima. namun, Jika bersama wanita itu. Lupakan! Pikirkan bagaimana rakyat menilai! Kamu anak penguasa keuangan negara ini!
Menikah dengan wanita model majalah dewasa. Memalukan! akan memiliki keturunan seperti apa kalian..." Ayah Jimmy masih memancing emosi.
Mira melepaskan tangan Jimmy. Lalu ia berbalik dan berlutut di hadapan ayah Jimmy.
"Mira!" Jimmy bersuara tinggi.
"Pak.. Maaf karena saya lancang merebut hati anak anda. Maaf karena saya wanita hina, bukan wanita cerdas dan berdarah bangsawan. Bahkan saya bernafas disini pun.... Tak pantas.....apalagi menjadi menantu anda..saya cukup sadar diri dengan semuanya...
Tapi saya mohon jangan memperlakukan Jimmy seperti ini ...saya mencintai anak anda, dan saya salah disini....
Maaf jika saya lancang...
Saya berjanji kepada anda...tak akan pernah kembali kemari. Tapi, perlu anda ketahui...
Saya tidak pernah membenci anda.. Saya... " Mira berkata sambil menangis.
"Sudah! Biarkan orang tua ini sendiri!" Jimmy menarik Mira pergi dari sana.
Tak menunggu lama, mereka langsung menuju bandara. Mereka memilih langsung kembali ke indo.
"Mereka harusnya yang belajar! Sudah kehilangan anak yang satu.. Masih punya satu kok masih keras saja. kita tidak salah sayang..sudahlah.." Jimmy tetap pada pendiriannya.
"Tapi, aku merasa terganggu Jim... Aku engga bisa begini, atau memang nasib ku yang harus begini.... Sudah Jim..
mungkin jodoh kita hanya sebagai teman...Aku lelah, lelah mencoba meyakinkan mereka semua.... Aku pengen istirahat... " Mira menyadarkan kepala di pundak Jimmy.
"baiklah, sampai disana kita istirahat ya. Kita liburan ke pantai berdua ya.. Okei... " Jimmy membelai rambut Mira.
"Aku pengen istirahat Jim... Sendiri... " Mira mengusap air matanya.
Jimmy tak mengerti itu ternyata tanda dari Mira.
Tak berapa lama, foto semi terbuka Mira beredar luas. Foto yang lama di ambil sebelum ia bertemu Jimmy.
semua orang memburu Mira, beragam foto dan cacian dalam tiap komen foto Mira.
hal ini membuat Mira merasa titik terendah dan malu bersama Jimmy.
Dalam keadaan depresi, Mira memilih pergi selamanya.
Saat Jimmy berjuang mencari pelaku dan membuat laporan kepihak berwajib. Malah Mira memilih pergi untuk Istirahat selamanya....
pelaku pun belum bisa ketemu sampai saat ini. Jimmy sempat mencurigai orang tuanya. namun ia masih belum yakin.
.....
Tok... Tok... (seseorang mengetuk pintu ruangan Jimmy ).
Jimmy ternyata meneteskam air mata. lalu ia menghapus air mata nya. Lalu membuka kedua matanya. Ia membenarkan posisi duduknya.
"masuk... " ucap Jimmy.
pintu pun terbuka, sosok pria campuran timur tengah masuk.
"selamat pagi Pak... " ucap Adam.
"silakan, masuk sini.. duduk... bisa saya bantu?" ucap Jimmy sambil duduk dengan posisi tegap.
"pagi pak... permisi saya duduk. saya melihat mobil bapak, jadi saya yakin bapak ada disini." Adam duduk di hadapan Jimmy.
__ADS_1
"Gimana Dam? Ada update apa? ia weekend ini ada email yang harus saya kirim. sedang filenya saya lupa copy ke Fd..ini juga saya sudah mau balik..." tanya Jimmy
"Begini Pak, sore nanti saya akan open Casting di Cafe teman saya di daerah selatan. Mungkin Bapak berminat mau lihat? mumpung ini kan weekend juga Pak, maksud saya..." Adam menjelaskan acara nya nanti sore.
"Aa... Iya acara kamu itu ya.. Saya usahakan saja ya. Saya percaya kamu pintar dan mempunyai feeling kuat soal artis yang pantas...
apalagi acara talkshow kita ini baru di negara ini. agak gambling juga,...." Jimmy memberi pujian ke Adam sambil tersenyum.
"saya juga berfikir tidak bisa membawa artis sembarangan. lagi pula Saya masih orang baru... Cuman kalau bapak berkenan, saya mengajak Jessica untuk casting. Apa bapak berkenan?" Adam mengutarakan maksudnya
"Silakan saja, siapapun bisa aja.. Kan masih Casting. Hmm... Yang jelas kamu paham dia orang seperti apa...biasa main dalam acara apa Dan juga dia bersama managemen sebelah... Saya tidak mau ada ribut soal ini.....
pesan saya hati - hati dengan perempuan itu.." Jawab Jimmy.
Adam mengerti dan dia tersenyum.
"Saya paham pak... Malah yang saya pikirkan, apa pendamping bapak tidak cemburu jika Jessy ikut casting dan ada bapak juga...apalagi jika ia yang terpilih nanti..." Adam mencoba memancing.
"Kamu itu punya maksud apa sebenarnya? Cathrine bukan wanita yang biasa saya temui. Kamu juga kenal kan dia seperti apa..Eh, benar juga... Lebih baik aku memberi tahu Cathrine dulu...dan mendengar bagaimana reaksi dia..pintar kamu..." Jimmy mengambil ponsel yang ada di sampingnya.
"rupanya Bapak ingin menggodanya.. yang saya tahu dia wanita baik dan pintar Pak.. berasal dari Keluarga baik - baik, dia sepadan dengan bapak... Saya team bapak dengan Cathrine..."
Mereka pun tertawa bersama, lucu karena baru kali ini pegawai Jimmy berani.
Berani menggoda boss mereka. Apalagi soal percintaan... Mungkin memang jodoh Jimmy dan Cathrine bersama?
"Saya permisi dulu Pak... Sampai jumpa lagi... " Adam berdiri dan meninggalkan ruangan Jimmy.
Jimmy lalu berfikir, ia bisa memancing Cathrine dengan berita ini. Ia penasaran bagaimana reaksi Cathrine ya mendengat Jessy akan bertemu dengannya.
Lalu Jimmy menekan panggilan ke Cathrine.
"Hallo.... Sudah bangun?" Jimmy mengawali.
"Sudah, ini ada yang antar bubur dengan telur warna hitam. Aku baru saja habis memakannya... "
"Ooow... Syukurlah, apa kamu kaget tidak ada aku? Saat bangun?" Jimmy mulai menggoda.
"Sebenarnya iya, yang lebih kaget lihat jam. Sudah jam 9 pagi... Kamu kenapa engga bangunin pas berangkat.... "
"Aku engga tega, kamu tidur seperti kerbau yang tidak bisa bangun... " Jimmy masih mencoba merayu Cathrine.
"Hisss.... Jangan main fisik deh ngomongnya..... Sudah aku mau mandi.. Byee... " (Cathrine mau menutup panggilan)
"Tungguuuu!!! Aku mau cerita.. Sore nanti akan ada Casting dengan direktor baru untuk program baru. Di salah satu cafe di selatan.... Lalu... Ada sahabat kamu disana Jessy..... Bagaimana menurutmu...?" Jimmy berbicara dengan perlahan sambil menunggu reaksi Cathrine.
"....... (Hanya suara hembusan nafas)..."
"Apa kamu masih disana? Halo?"
"Ya masih.... Sudahlah... Terserah kamu.. Aku mau mandi dulu... "
"Tidak! Begini... Maksudkuu... Jika kamu melarang aku... Aku tidak akan pergi... Jika kamu perbolehkan, aku pergi.. " Jimmy penasaran kenapa reaksi Cathrine santai.
"Begini Jimmy, kamu sudah dewasa. Jika kamu pergi soal kerja ya udah pergi aja... Toh kamu mau ngapain kan bukan bagian ku.... "
Panggilan putus...
Jimmy lalu tersenyum, ia merasa menang. Cathrine pasti cemburu makanya ia langsung menutup panggilannya.
*******
"Yaelah.... Gw belom selesai lo udah mati.. Dasar! Hape kurang ajar..!" Aku berbicara dengan ponselku yang mati.
aku mencari charger dari dalam tas. kemudian aku melihat pil pengontrol kehamilan.
aku mengambil kedua benda itu. aku lalu mengisi ponselku dan meletakkan di dekat meja pantry.
aku mengambil air dan meminum pil tersebut. lalu aku duduk di sofa dan menonton televisi.
"kenapa dia harus menelpon untuk hal itu? bukannya itu terserah pada Jimmy. lagi pula itu soal pekerjaan.. " aku berbicara sendiri.
sebenarnya aku merasa tidak senang mendengar nama Jessy. apalagi dengan hal yang ia lakukan kepadaku.
sebenarnya apa yang membuatnya berubah. yang aku kenal Jessy tidak seperti itu. pasti ada hal yang merubahnya, ia jadi berbuat seperti itu kepadaku.
jam dinding menunjukan pukul 11 siang. aku pun mulai merasa bosan, aku merebahkan tubuhku dan menonton film di tv.
"kenapa rasanya bosan ya? padahal acara tv bagus..weekend ini tumben juga Jimmy berangkat. apa karena casting itu ya? ..... ah tidak penting Cath!! berfikir saja soal makan siang mu? tapi, aku bisa menghangatkan yang ada di kulkas... "
Cathrine merasa bosan, ini akhir minggu. tapi Jimmy pergi begitu pagi dan meninggalkan dia sendiri.
__ADS_1