CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
31


__ADS_3

"sure.. semua di dalam sini kamu gunakan. termasuk aku... hahaha.... " Jimmy menyombong di hadapaku.


"cih... kamu terlalu percaya diri..... oh iya, minggu depan aku mau pulang. mumpung aku abis dapet rejeki..."


"jangan!" Rupanya Jimmy merasa kaget dan tidak suka dengan jawabanku.


"maksudmu?? kenapa reaksi kamu begitu berlebihan..." aku kaget mendengar reaksi Jimmy.


seharusnya bukankah dia senang? aku pergi ke tempat yang ia lacak pun mudah. bukan pergi ke pelukan lelaki lain.


"awal bulan depan saja. 3 minggu lagi, sembari menunggu... kamu temani tinggal disini.... " Jimmy berusaha menahanku..


aku berfikir, memang kalau aku kembali sekarang. pasti orang rumah akan curiga. darimana aku mendapat semua ini.


memang ada misi juga, aku harus bertanya kepada Anne soal Jimmy. bagaimana mereka bisa menjadi saudara sepupu. serta bagaimana pria ini, sebelum aku memutuskan tinggal dengannya.


"karena saat itu aku akan pergi keluar negeri sebentar... jadi kita tak perlu bertemu. bagiku tidak masalah, kamu pun pergi menemui keluargamu.. bagaimana?" Jimmy memberi penawaran kepadaku.


"........ bagaimnaa jika aku stay disini tiap jumat - senin pagi. setuju? selebih dari itu aku ke kost. aku bisa kerja di warung serta, aku engga pengen teman ku curiga aku kemana. lagipula..." aku menjawab.


"ah.. jangan pernah menggoda pria kecil di kost itu. kamu boleh kembali tapi tidak untuk Pria itu." Jimmy sepertiny tidak suka dengan Yofie.


"kak Yofie?" aku berkata.


"kakak? kenapa kamu bisa memanggil seperti itu? kalian punya Hubungan lebih dari penyewa dan pemilik? panggilan yang menurutku tak lazim...." Jimmy berkata dengan nada tinggi.


sampai disini aku sadar, ia cemburu?


tapi terlalu cepat aku menyimpulkan soal dia. banyak hal yang tak aku pahami soal Jimmy.


"Yofie ? dia lebih tua daripada umurku. bukan kah lebih sopan aku memanggil Kakak?" aku membela diri atas apa yg terjadi.


"kakak? lantas kalian itu teman, sahabat atau sebatas penyewa dan pemilik rumah? karena dari pertama aku melihat, ia seperti menyukaimu." Jimmy berubah sinis.


"........ " sampai sini aku diam. tak mampu aku menjawab apa yang terjadi.


karena memang tak ada apapun antara kami. tapi hubungan apa? yang jelas bukan cinta juga.


menyukai? aku sudah trauma dengan kisahku bersama Michael. Biar diriku sendiri dengan keadaanku, berfokus pada masa depan adikku saja.


menikah atau tidak... bukan menjadi tujuanku saat ini.


"bahkan kamu engga bisa menjawab kan? jelas ada sesuatu antara kalian.... " Jimmy lalu berdiri.


ia berjalan ke arah lemari pendingin. ia mengambil sebuah minuman soda dan membukanya.


jika aku tak salah lihat, warna kaleng nya Hijau dengan motif salju di sana. ia lalu membalik badannya dan memandangku.


tetapi pandangan nya tajam dan terlihat sinis.


"berhenti memadangku seperti itu... apa aku melakukan sesuatu? salahku apa?" aku memandang Jimmy.


Ia hanya menggelengkan kepala dan meminum kembali apa yang di tangannya.


Tatapannya tak berubah sedetik pun. Disini aku binggung harus berkata apa.


tatapan itu bahkan seperti ia ingin menerkamku. sungguh bukan tatapan hangat. malah membuatku ngeri.


"Kalau aku bicara semua soal Yofie apa kamu akan senang? Jadi kamu bisa menyimpulkan sendiri bagaimana kami. Aku sendiri ga paham apa itu pacaran, sahabat di mata kamu...." Aku berkata apa ada nya.


Aku mencoba bicara jujur saja dengan keadaan. Harapanku ia akan paham dan berhenti mengintimidasi aku.


aku harap Jimmy mau mendengar ku dan berhenti melakukan hal itu.


"Bicaralah..... " Jimmy berkata. Namun ia tetap pada posisinya berdiri dengan bersandar di meja pantry.


"Jadi perkenalan pertama kami.... Saat itu aku baru 2 minggu kost. Dan aku juga baru melihat dia datang dengan motor sport putihnya. waktu itu.....Aku terkunci di teras karena aku lupa membawa kunci.


Jessy sebagai teman sekamar, pergi tanpa memberi tahu. Aku waktu itu pulang syuting jam 11 malam...."


Jimmy melotot mendengarku, aku mencoba menata kalimatku. Aku juga berbicara jujur kepadanya.


"Lalu ia menyapa memperkenalkan diri sebagai... "


"Sebagai pahlawan kemalaman?" Jimmy memotong.


"Bukan... Bukan.... Dia memperkenalkan diri nya Yofie, anak pemilik kost. Itu pertama kali kami bertemu. Tapi, dia juga jarang di kost. Kalo dia bilang kerjanya bikin program komputer gitu. IT gitu lah,... kami hanya sesekali bertemu, kami juga belum lama bertukar nomer karena janjian makan malam...."

__ADS_1


"Terus? dinner dimana? Kapan dan kenapa kamu jadi memanggil dia, kakak Yofie?" Jimmy berkata sambil tangannya mengutip kata "kakak".


" Uhmm...makan dimana aku lupa, kalo engga salah waktu itu kami nonton dan makan di mall...panggilan itu.....Kapan ya? Dia yang minta panggil kakak. Jadi aku mikir ya udah, dia kan baik, lebih tua juga..kan sopan juga kalau aku memanggil dia, Kakak....Dia tu sering muncul pas aku balik kerja. Terus ngajak makan, beliin sarapan... Sama nganter aku ketemu sama kamu....."


"Apa?! unbelievable.." Jimmy kesal dan meminum abis semua yang masih ada dalam kaleng.


"..... " Aku binggung, apa aku melakukan sesuatu yang salah? Aku hanya jujur dengan apa yang terjadi.


"baiklah, Kamu kayanya memuji pria itu. Apa kamu punya perasaan kepada dia?" Jimmy berkata sambil menyilangkan tangannya.


"Tidak... Aku rasa tidak.... Hanya saja, sebenarnya... Ehm.... Aku sempat kagum sama dia atau gimana ya.... Dia orang yang baik kepadaku, peduli saat semua lawan jenisku bilang aku jelek, pendek dan berambut ikal.... Dia tak pernah bicara soal fisikku.....


Sebenarnya....


Itu membuatku merasa tidak perlu membela diri atau merasa rendah..... dia beliin aku makan saat uang ku habis. seperti menolongku tanpa sengaja.


aku sendiri sulit mendiskripsikan, aku berhutang budi atau tidak..."


Jimmy berjalan ke arahku, lalu ia duduk di sampingku. rasanya sofa ini menjadi sempit dan nafasku sedikit berat saat Jimmy mendekat seperti ini.


"Aku ga paham apa itu cinta? Aku juga engga pernah merasa memiliki arti atau di perjuangkan dalam suatu hubungan......


Mungkin aku kuper. Polos atau bodoh.


Tapi, masa SMA ku tidak aku lalui dengan baik.... Membuatku minder (malu) soal lawan jenisku. hal itu juga yang membuatku membatasi diri soal hubungan cinta....."


Jimmy mendengarkan ku, ia membiarkan aku bercerita semuanya. namun, kali ini dia lebih tenang.


"Aku pernah pacaran waktu itu..hubungan kami di lalui secara tertutup..aku berpacaran dengan pria populer di sekolahku. percaya? Ia hanya menghubungiku di waktu tertentu......backstreet mungkin populer orang bilang soal hubungan kami....


Saat di sekolah kami saling diam, bahkan kami menutupi apa yang ada. aku hanya memandang nya bermain basket di lapangan..


aku tersenyum saat sesekali ia melihat ke arahku. bahkan aku diam - diam mengambil foto nya saat bermain basket......


Percaya atau tidak? Hal itu sudah membuatku senang, rasanya aku berangkat sekolah dengan kekuatan yang besar... Bahkan aku udah membawa hati dan pikiranku hanya ke cowok itu....


setiap menerima pesan darinya, aku tersenyum sendiri. konyol...." Aku mulai menahan air mataku.


Aku mencoba tegar menceritakan kesakitanku. Bagaimana pun lebih baik aku ucapkan daripada ia harus mendengar dari orang lain.


"Satu, dua , tiga bulan dalam keadaan seperti itu. Hanya di belakang kami saling komunikasi, hal seperti itu sudah membuatku senang....merasa di perhatikan oleh Pria tanpa membawa fisik ku...


Aku pikir, dia juga punya rasa sama kepadaku. Tapi aku salah.....Nyatanya ia malah mengatakan cinta ke salah satu teman sekelasnya. Di hadapan semua orang yang ada saat itu...


saat ia kembali membawa medali, ia persembahkan kepada wanita lain...


hancur, sakit, aku di tinggalkan begitu saja..." Aku menundukkan kepalaku.


amat sakit jika mengingat segalanya. bagaimana dia di tiap doaku selalu kusebut. setiap hari aku tunggu kabarnya.


mengalihkan pikiran dan duniaku, membawaku mabuk akan kalimat rayuan lewat pesan singkat.


"Sudah?" Ucap Jimmy.


Aku refleks mengangkat kepalaku dan memandang Jimmy. Aku tak menyangka dia tak bersimpati sedikit pun dengan ceritaku.


"Kenapa memandangku begitu?" Tanya Jimmy.


"Kamu serius engga sedih denger ceritaku? Jessy aja nangis lho, denger michael melakukan hal itu... " Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat"


"Kenapa aku harus sedih? ah namanya Michael, cukup bagus namanya.." Jimmy masih bertanya.


aku engga percaya Jimmy sama sekali tidak merasa iba. ia bahkan terlihat lebih kalem daripada ceritaku soal Yofie.


"Ya sedih dong, gw tu ya... Ah kenapa sih kamu ga nangis. Ekspresi simpatik juga engga ada. biar aku seneng dikit gitu lhooh.....Jangan - jangan kamu psikopat lagi... "


Aku mundur sedikit dari posisi dudukku.


"Kamu tau apa arti psikopat? Jangan asal menyebutku seperti itu. Aku bisa membuatmu tak bisa berjalan dan tinggal di kamar ini sepanjang hari jika kamu mau tau. Apa itu psikopat.. " Jimmy berkata dengan tatapan dingin.


Sebenarnya aku takut, ia begitu menakutkan. Apa ia serius dengan apa yang ia katakan...


Aku membayangkan diriku di siksa olehnya. Terkunci di kamar ini...


"Sudahlah, jangan mikir aneh soal itu. Yang kamu ceritakan bagian dari masalalu kamu. Dan perkara kekasihmu, kamu itu yang bodoh! Seorang pria jika menyembunyikan hubungannya. Pasti sudah ada wanita lain di hidupnya.


Sudahlah, kamu seharusnya berterima kasih.

__ADS_1


Berkat dia, kamu bisa bertemu denganku...." Jimmy berkata sambil menyombongkan dirinya.


"..... " Aku hanya diam dan memonyongkan bibirku.


aku kesal, dia tidak merasa iba denganku. biasanya aku bisa mendapat perhatian dari ceritaku


"Kamu mau aku merasa sedih atau memperhatikan kamu? Dengan cerita semacam itu....Sudahlah, apa yang kamu alamin itu.. Masih hal yang engga menyedihkan.. Syukuri dengan bersamaku saja sekarang.... Ah....


Aku lebih tertarik apa yofie tau soal cerita ini.?"


"Tau..... Aku cerita pas kita makan malam... " Aku menjawab.


"Apa?!! Terus bagaimana reaksinya!" Jimmy langsung berubah.


"Sante aja kalik. Engga usah kenceng gitu, sampe melotot segala... " Aku menjawab Jimmy.


"Ya dia tu bilang sama kaya kamu. Ga penting di inget, cinta monyet. Gw cinta dia monyetnya.. .. "


"Terus.. " Jimmy penasaran dengan Yofie.


Sejauh apa kami dekat dan bagaimana ia memperlakukan ku.


"Ya dia benernya pengen meluk aku kali ya. Biar aku ga sedih, tapi kan kami di tempat umum. Ga mungkin dan engga bakalan juga dia begitu. Dia kan cowok baik - baik... " Aku tanpa sadar memuji Yofie.


sebenarnya aku sedikit penasaran dengan reaksi Jimmy. bagaimana jika aku memanasinya dengan apa yang Yofie lakukan.


Jimmy menarik pergelangan tangan kiriku. Ia menarik dengan keras.


"Sakit Jimmy.... Lepasss... Apa aku salah bicara?" Aku mencoba menarik balik tanganku.


"Kamu bilang dia cowok baik? Terus aku engga baik." Rupanya kalimatku memancing emosi Jimmy.


"Bukan.... Bukan Jimmy, kamu baik... Baik banget kepadaku dari... "


Jimmy menarik tubuhku, ia mendekap dan mencium bibirku. Kedua mataku terpejam, sesaat aku membiarkan dan menikmati sentuhan dan pelukan pria ini.


Jimmy melepaskan ku, lalu ia menatapku. Saat aku membuka kedua mataku, ia terlihat tampan dan begitu mendominasi dslam hubungan rumit ini.


"Kumohon, jangan dekati Yofie. Aku akan berusaha agar kamu disini. Tapi jangan kembali ke kost, jangan bertemu Yofie. Tinggal disini bersamaku... Kita hidup bersama dan menata masa depan kamu... " Ucap Jimmy dengan lembut.


Tangannya membelai rambut dan pundakku. Bagaimana bisa pria ini begitu menjaga ku.?


"........Jika kita bersama disini, aku tak tau harus berkata apa kepada keluarga di kampung. Sedang kita saja tanpa ikatan.... " Jawabku.


"Buat ku, saat ini aku tidak bisa menikah denganmu. Ada suatu halangan besar dan biar kita saling mengenal. Begitu juga dengan masa depan mu..... Aku tak rela jika kamu jatuh pada pria yang salah.."


kata - katanya membuatku berdebar. rasanya hangat dan hatiku rasanya berbunga. ini rayuan bukan sih?


aku masih belum bisa membedakaan saat pria merayuku. tapi tatapan Jimmy begitu tulus.


"kamu belum pernah di perlakukan seperti ini?" tanya Jimmy.


aku hanya mengangguk, biar aku polos tapi ia yang pertama menyentuhku. sebenarnya dalam hatiku ada suatu rasa aku ingin di dekatnya.


aku juga merasa nyaman di dekat Jimmy. tapi aku merasa juga bukan seharusnya seperti ini. ada sesuatu yang salah.


Kalimat Jimmy tak dapat menikahiku. lalu untuk apa semalam ia melakukannya. aku sedih mendengarnya, aku merasa hina.


apalagi jika suatu saat ia meninggalkanku.


"kamu berfikir sesuatu?" tanya Jimmy.


"Jika kita tidak menikah, apa ada pria yang mau menerimaku. Dengan keadaan aku saat ini?" Aku bertanya.


"Buahahahaahaa... Kamu emang polos ya?" Jimmy malah tertawa mendengar perkataanku.


"Ada yg salah?" Wajahku jadi merah karena malu.


"Jaman sekarang ini, aku tak pernah mengerti perempuan yang masih suci. Tapi, aku tahu satu hal. kamu berharga mahal dan kamu itu.... Sudah pokoknya jangan sama Yofie dan aku tak mau mendengar atau melihat kamu bersama dia." Jimmy berkata.


"Ya...... " Aku menjawab dengan gerak kepala juga.


"pada intinya... kita bersama dan kamu menata masa depan ya... " ucap Jimmy dengan hangat.


kalimatnya membuatku merasa nyaman. benar atau ini rayuan semata. aku tak dapat membedakan, yang jelas aku merasa damai berada di dekat Jimmy.


"Aku paham wanita di era saat ini pasti lebih suka menjadi simpanan atau mencari pria kaya. Tapi, aku percaya kamu beda.... " Ucap Jimmy.

__ADS_1


Sebenarnya aku sempat berfikir demikian. Tapi, aku takut jika uang yang aku terima dengan mudah. Pasti akan pergi dengan mudah.


__ADS_2