
Aku berganti pakaian, jam dinding menunjukan pukul 12 siang. Aku ingin melihat ke warung. Apakah Uda dan Uni sudah buka atau belum.
Aku telah siap, seperti biasa tas coklat menjadi andalanku. Aku tak melupakan ponselku.
Ada 2 pesan baru masuk.
Jimmy : jangan lupa makan. Istirahat dan melakukan olah raga jika kau senggang.
Jimmy : menyebalkan sekali, tak ada pesan yang kau balas. Apa ini sengaja?
Me: nope.. Aku mau ke warung. Sudah jangan cari aku. Bye..
Aku mengirim balik ke Jimmy. Baru saja terkirim, sudah ada balasan darinya.
Jimmy : naiklah taxi daripada kau bersama Yofie. apa perlu aku menjemputmu?
"Ish...kenapa sih gitu amat? Emang racun si Yofie?! segala naik Taxi! buang duit, jalan aja cepet kok..ishh..." Aku ngomel sendiri melihat tingkah Jimmy.
Cathrine merasa Jimmy semakin menggila dengan Yofie. ia tak sadar, Jimmy sebenarnya cemburu. maka dari itu, kesal yang di rasa Cathrine.
Aku bergegas keluar dari kamar. Suasana rumah seperti biasa sepi. Om yang biasa nonton di depan kamar juga tak terlihat. Esyeh pun sudah dari akhir minggu tak terlihat.
Aku mulai melangkah ke pintu keluar.
"Tunggu.... " Stacy memanggilku.
Aku membalikkan badan dan menyapanya lewat senyumku.
"Gimana ? Bisa di bantu kak?" Aku memilih menyapa terlebih dahulu.
"Gw mau ngomong sebentar bisa?" Stacy melipat tangannya di depanku.
"Bisa kak... Tapi sebentar saja ya.. Aku harus bekerja... "
Lalu Stacy duduk di kursi ruang tamu. Aku pun menyusulnya kesana. Kami duduk bersebrangan, berhadapan.
Aku bisa melihat jelas wajah imut ya. Ia cukup manis dan cantik, pantas jika bersanding dengan Yofie.
"Gw buat ini simple... Yofie suka sama lo. Dan gw mau tau.. Gimana lo ke dia...
Ehem... Perlu gw ingetin, kalau kami sudah di jodohkan dari kecil... " Stacy berkata sambil memandang tajam.
Aku merasa terpojok, tapi aku juga tak mengerti perasaanku pada Yofie.
"Gw anggep dia sebagai orang baik.. Dan gw juga di ajarin sama orang tua di kampung... Dimana pun gw pergi.. Kalau orang baik.. Maka gw wajib balas baik ke mereka.... " Aku menjawab polos.
"Lo itu polos ya... Atau pura - pura polos? Cih... " Stacy mencibirku.
"Maaf, jika tidak ada yang penting lagi. Boleh saya pergi?" Aku berdiri dari kursi.
"Tunggu! Engga penting gimana. Penting, satu hal yang gw mau mau! Lo bener kaga punya rasa apapun sama Yofie?"
"Hmm... Engga usah khawatir.. Gw belom mikir soal cinta. Fokus nya masih soal rumah dan karir. Banyak hal penting yang gw harus pikir. Ga melulu soal Yofie... " Aku pun beranjak dari posisiku.
"Gw cinta sama Yofie. Jadi gw harap lo paham rasanya.... " Stacy berkata lirih.
Aku berhenti sesaat, aku sempat berfikir. Memang aku tak seharusnya ada di antara mereka.
Aku memang tak bisa menjadi seperti ini. Terpikir untuk menjadi perusak pun tidak.
"Iya, ge paham... Permisi... "
Aku pun meninggalkan Stacy, aku bergegas keluar dari rumah. Aku sempat berhenti di lapangan dekat rumah.
Aku mengingat bagaimana suara lirih stacy. Mengapa mencintai harus sekonyol itu?
Aku memang hanya pernah merasa sakit mencintai. Tapi, selama aku tak dapat menahan.. Baiklah aku biarkan ia pergi.
Michael... Luka lama yang membuatku trauma akan rasa cinta.
Juga menyadarkanku, bahwa cinta juga butuh pengakuan. Polos? Atau bodoh? Mungkin keduanya.
"siang Uda... Uni.... sudah sehat?" aku menyapa boss ku.
"lumayan Nak... tapi kalo indak cari uang, mau makan dari mana? kau bagaimana sehat kah?" Uni menepuk pundakku.
sepertinya ia mengerti aku sedang memikirkan sesuatu.
"sehat Uni.. sehat kok, aku beberes di belakang ya... "
aku pun meninggalkan mereka. aku memilih mencuci piring dan perkakas kotor.
pikiran ku kembali ke Stacy, ia begitu mencintai Yofie. sepertinya banyak hal yang ingin ia katakan.
sebaiknya aku mendengar nya, siapa tau dengan begitu ia berhenti menuduhku.
Kak Yofie, ia memperlakukanku dengan baik. aku pikir ini hal wajar. bagaimana kita baik, maka orang akan kembali baik kepada kita.
**********
Hari itu warung pun tidak begitu ramai. Tapi jam dinding menunjukkan pukul 6 sore.
Uda sudah terlihat lelah, sepertinya ia memang belum fit betul. Uni pun membereskan sisa lauk. Entah sepertinya mereka ingin membagi ke orang di jalan nanti.
Aku pun membatu membereskan sisa cucian yang ada. Sebenarnya badanku juga masih kurang enak.
Rasanya lelah sekali, padahal ini hal yang biasa aku lakukan.
"Cathrine... Sudah pulang lah, ini sedikit rejeki untuk kamu... " Uni melipat beberapa lembar uang puluhan ribu.
__ADS_1
"Sebentar lagi Uni.... Terima kasih, saya terima ya.. " Aku menerima pemberian Uni dan menaruh dalam saku celanaku.
Aku segera membereskan, menyapu dan mengepel lantai. Semua sudah bersiap untuk pulang, begitu pula aku.
Aku mengambil tas dan menyusul ke pintu depan. Aku melihat jam ponsel ku, 7.30 malam.
Ada Pesan Baru lagi, aku membukanya...
Jimmy : apa kau sudah pulang?
Me : baru akan jalan ke kost. Apa sudah makan? Bagaimana harimu?
Aku membalas dan menaruh kembali ponsel ke dalam tas. Aku pun berpamitan pada Uda dan Uni.
"Hati - hati ya Nak.. Sampai jumpa besok... " Uni melepasku pulang.
Aku jalan sendiri ke kost. Cuaca cukup cerah malam itu. Tak banyak orang yang nongkrong disana. Mungkin ini efek awal minggu, semua orang sibuk.
Aku terus berjalan, melewati tanah lapang. Ada beberapa anak kecil dan orang tua yang masih ada disana.
Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala, aku minta ijin untuk lewat.
Aku terus berjalan, dan seperti sosok yang aku kenal di depan kost.
Itu adalah Yofie...
Dia disana sendiri?
Sebenarnya aku malas melihatnya. Apalagi Stacy tadi siang baru saja membahas hubungan mereka.
Ya sudahlah.. Aku menarik nafas panjang dan aku berjalan mendekati Yofie.
"Malam kak... Permisi.... " Aku menyapa dan meminta ijin melewatinya.
"Tunggu Cathrine.... Kakak mau bicara... " Yofie memegang tangan kiriku.
Tapi aku langsung menapik tangannya. Aku merasa ini paksaan darinya.
"Kak maaf ada apa?" Aku berkata sambil memegang tangan kiriku.
"Maaf Cathrine... Kakak mau jelasin soal Stacy. Bagaimana hubungan kami, agar kamu tidak salah paham." Yofie memasang tampang penuh harap kepadaku.
"Salah paham? Kayanya engga deh kak... Jelasin apa juga aku ga paham.." Aku menjawab.
"Jelas kamu engga paham, maka dari itu. Kakak harus memberi pengertian.. Kakak.... Kakak suka sama kamu... "
Aku melotot, mulutku terbungkam mendengar perkataan nya. Ini gila pasti, dia salah makan..?
"Kakak salah makan?" Aku memberanikan diri berbicara.
"Engga.... Kakak beneran suka sama kamu... Kakak engga pernah ngerasa kaya gini sama perempuan lain... "
Aku mengernyitkan dahi, apa yang harus jawab? Tapi aku memang tak harus menjawabnya.
"Cathrine... Apa kamu punya rasa yang sama?"
Aku menghentikan langkahku, aku membalikkan badan. Aku memandangnya dengan menghela nafas.
"Aku tidak tahu kak.... Aku belum berfikir soal perasaan... Yang jelas kakak orang baik, ganteng dan manis...kakak juga baik dan selalu baik kepadaku, Jadi aku harus membalas kebaikan kakak ke aku... Tapi....
Luka masa lalu yang aku lalui, membuat aku tidak berani menaruh hati lagi...
Oh iya, ada perempuan juga yang tulus sama kakak. Aku berfikir kalian juga cocok menjadi pasangan serasi.... " Aku lalu tersenyum.
"Kamu.... Kamu akan paham Cathrine, kenapa aku tidak pernah menganggap Stacy sebagai pasangan... Kakak..."
"Kak, aku istirahat dulu ya... Badanku capek dan aku mengantuk.. Sampai jumpa.. Selamat malam.." Aku meninggalkan ia sendiri.
Aku masuk ke dalam kamarku, aku menutup rapat dan menyandarkan badanku di balik pintu.
Sedih dan air mata keluar menetes ke pipi. Apa ini mencintai juga? Kenapa sakit ya disini, dada pun terasa sesak.
Aku ....
Bukan inginku menolak Yofie, tapi aku juga sadar. Ia sebentar lagi akan menikah.
Jika ia memilih bersama ku, kami beda darah keturunan. Yang ada akan makin banyak halangan kami.
Lagi pula, masa depanku masih abu - abu..
"Cathrine, kakak engga peduli yang kamu bilang malam ini... Kakak akan terus berusaha membuat kamu yakin sama kakak... " Yofie berkata di depan pintu kamarku.
Suaranya membuatku makin menangis. Aku tertunduk dan makin terisak menangis.
Sungguh sial dan bodoh diriku. Menaruh hati sampai seperti ini, aku menangisi semua kata - katanya.
Harus kah aku bertahan?
membiarkan Yofie mengejarku...
atau
aku harus pasrah, dengan garis hidupku?
aku membaringkan tubuhku, semua perkataannya mengiang di pikiranku. melepasnya berat, seberat ini? konyol! aku bodoh..!!
aku lalu mengambil ponselku, banyak pesan masuk. aku yakin pasti dari orang rumah atau Jimmy.
mengapa Jimmy begitu menyebalkan?
__ADS_1
bukannya aku sudah memberi kewajiban yang ia dapat.
aku lalu menekan tombol Switch Off pada ponselku. aku ingin istirahat dan menikmati sedihku malam ini.
tak ada satu pesan yang ingin aku baca. aku hanya ingin waktu sendiri.
**********
"Ish kemana lagi wanita ini. Pesan tak satu pun ia balas. Mengapa ia tak menggunakan Instant Messanger saja!" Jimmy menggerutu.
"Tak pernah aku lihat kamu seperti ini. Sepertinya kamu sudah jatuh cinta ke perempuan itu... Haha... " Louise menggoda Jimmy.
"Ha? Tidak siapa bilang!" Tapi Jimmy sibuk menekan panggilan ke nomer Cathrine.
"Malah tidak aktif nomernya.. Kemana lagi perempuan ini... " Jimmy menggerutu.
"Hai... Selamat malam... Boleh gabung?" Jessy datang dan mendekati meja Jimmy.
"Tidak... " Mereka serempak menjawab.
"Oh, maaf aku pikir kursi disini kosong. Jadi aku gabung saja ya... " Jessy langsung duduk disana.
Louise melihatnya dengan pandangan sinis. Perempuan tidak tahu tempat, itu yang ada dalam pikiran Louise.
"Hallo, nama saya Jessy... " Jessy memperkenalkan diri.
Tak ada satupun yang merespon Jessy. Jimmy sibuk dengan ponselnya. Louise memandang dengan tajam.
"Kau wanita Budiawan kan?" Louise bertanya.
"Ah, kami cuman kebeneran datang bareng kemarin.. Aku free kok.. Hehee... " Jessy cengengesan.
Ia mencoba mendekati pria muda di hadapannya. Jenuh bagi Jessy, melayani pria paruh baya seperti Budiawan.
"Jangan begitu, jika pria mu sampai mengetahui. Nyawa kamu yang berbahaya.. Kamu tidak tahu, orang macam apa dia.... " Louise menjawab.
Jessy terperanah mendengar perkataan Louise. Ia memang tak mengetahui seperti apa lelaki yang menjadi pacarnya.
yang ia tahu, pacarnya selalu memiliki banyak uang dan bisnis. ia rupanya lupa memeriksa bagaimana Budiawan beraksi selama ini.
"Kamu lebih baik, sebelum berkencan dengan Pria... Siapa pun dia.. Selidiki pasti, siapa wanita yang pernah bersama dia... Dan kabar wanita itu.."
"Jangan sampai nasibmu hanya tinggal nama.. " Jimmy menyudahi ucapan Louise yang berbelit.
"Iya, itu maksudmu. Kami pergi dulu, karena kami masih menghargai sebagai sesama pria... "
Jimmy dan Louise berdiri dari tempat duduk mereka.
"Tunggu... Memang kalian tidak sama sekali tertarik denganku?!" Jessy malah berubah kesal.
"Tidak... " Jawab Jimmy.
"Kami sudah memiliki wanita, dan lebih mengasikkan ketika kami setia pada mereka. Lebih baik, kamu belajar dulu sebelum nya.. Sampai jumpa... "
Mereka pun meninggalkan Jessy. Louise menyalakan rok*k di luar ruangan lounge. Ia terbiasa menghirup sebatang jika sedang kesal.
"Tunggu kalian!!" Suara Jessy mengejar .
Mereka pun berbalik dan melihat Jessy terengah - engah mengejar.
"Ya?" Tanya Jimmy.
"Kenapa... Kalian bisa tidak tertarik padaku? Apa salahku?!" Tanya Jessy dengan nada marah.
"Ya kami bosan... Sudah banyak wanita seperti kamu. Dan kami tidak mau bermain dengan pria mu... " Jawab Louise.
"Oke, tapi kamu! Jimmy! Kenapa kamu lebih memperhatikan temanku!" Mata Jessy menjadi merah.
"Teman?" Jimmy malah tertawa mendengarnya.
"Kamu bilang teman? Sejak kapan? Dari awal saya melihat, kamu memperlakukan dia sebagai pesuruh. Bukan teman yang seperti kamu bilang... " Jimmy berkata.
"Kenapa?" Jessy masih marah.
"Ya karena teman kamu lebih menarik dan tidak membosankan... " Jimmy berkata jujur.
"Konyol!!" Ucap Jessy.
"Apa?" Jimmy berkata.
"Ya... Ucapan lo, engga masuk akal. Lo itu cuman pengen manasi gw kan? Lo sebenernya suka kan sama gw.. Cantikan gw, seksi juga gw.. Lo salah.... Pasti salah... " Jessy terlihat seperti orang mabuk. Ia meracau tak karuan.
"Nona yang terhormat, cantik dan mengaku seksi.. Whatever... Yang di katakan teman saya itu real... Yang sebenarnya.. Terima saja kenyataan yang ada..." Louise mencoba menyadarkan Jessy.
"Sudah malam, kami permisi nona Jessica Terhormat... " Jimmy dan Louise meninggalkan Jessy sendiri.
Jessy masih melongo mendengar pernyataan mereka. Tak biasa baginya di tolak oleh pria.
"Penghinaan saat gw di kalahkan sama perempuan model gitu. Ini hinaan!!" Jessy masih meracau tak karuan.
Jessy merasa ia harus merebut Jimmy. ia harus bisa mendapatkan Jimmy dan membuat Cathrine sadar bahwa ia tak sebanding dengannya.
Jessy lupa seperti apa Budiawan. ia selalu menghilangkan Jejak wanita yang pernah bersamanya. apalagi jika wanita tersebut malah menghianatinya.
Jimmy pernah berada di posisi orang yang menolong pacar Budiawan. Mira....
ya, Mira bagian masalalu Jimmy. ia sebenarnya berpacaran dengan Budiawan sebelum insiden bun*h diri itu terjadi.
sampai detik ini pun, Jimmy masih belum percaya. mana mungkin wanita yang selalu berfikir maju mau melakukan hal sedangkal itu.
__ADS_1
tetap ada sosok besar di balik itu semua.
Jimmy sendiri memang dari awal tidak pernah menaruh hati ke Jessy. ia tetap lebih tertarik padw Cathrine.