CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
34


__ADS_3

"Gw sama dia engga untuk waktu lama kok... Jadi gw ga mikir untuk menikah... " Aku berkata kepada adit.


Ia memandangku dengan penuh tanya. Tindik di telinga sebelah kanannya membuat ku tertarik.


Ya bartender memang hampir sama dengan pekerjaan seni. Jadi penampilannya terkesan seperti seorang yang santai dan mudah bergaul.


"Tapi, menurut gw.. Lo juga ga bisa ngomong gitu.... " Adit membalasku.


"kenapa? dia sudah bicara soal itu. kami bersama tanpa ikatan dan pernikahan... " ucapku.


Kami berpandangan sesaat, bagiku tak ada yang berbeda. Hanya ketika menatap Jimmy rasanya sesak dalam dadaku.


Apalagi saat bersama Yofie, duniaku rasanya berhenti.


"Sepertinya ada yang seru?" Suara Jimmy mengagetkanku.


Aku menoleh ke belakang, dia datang dengan senyum ramah. Lalu ia memegang pundak ku.


Ia memelukku dari belakang. Sesaat mereka, kedua pria di hadapanku bertatapan.


"Kau tak perlu seperti itu Jimmy. Aku paham dia wanitamu.... baru kali ini aku melihatmu posesif..." Ucap Adit sambil memoles gelas di depannya.


"Lalu? Apa yang asik disini...gw mau join apa yang ada disini.. " Jimmy berkata sambil menempelkan wajahnya di pundakku.


Rasanya aku jijik dengan apa yang Jimmy lakukan. Malah merinding seluruh tubuhku.


"Gw pengen duduk disini. Dan dia yang bisa nyambung gw ajak bicara dari semua orang yang ada di ruangan ini. Apa salah?" Aku berkata.


Nadaku berat dan nafasku pun berat.


Aku menahan emosi saat itu. Aku mencoba menahan diri, ini bukan tempatku.


Jimmy kaget, ia meremas pundakku. Aku yakin ia tak suka aku menyela pembicaraan mereka.


"Hmm.... Rupanya aku lebih memberi kenyamanan kepada Cathrine ya...senyaman apa pembicaraan kalian??" Adit menjawab.


Kalimatnya membuat Jimmy marah, ia menekan tanganku lebih keras. Posesif, hubungan tanpa ikatan yang membuatku menjadi rumit.


"Awh! Sakit Jimmy... " Aku berbisik.


Ia melepaskan tangaku, lalu berpindah duduk di sampingku.


"Broo!! Sini!" Seseorang memanggil Adit.


"Gw tinggal ya... See you.. Gw tunggu kedatangan lo ya...just the way you are Cathrine...." Adit berkata. ia pun meninggalkan kami.


Aku hanya melihatnya, Jimmy pun hanya melambaikan tangan. Jimmy kemudian pindah duduk di sampingku.


"Jadi... Aku membosankan? Tidak menarik? Kemudian lebih menarik bartender itu..?" Jimmy mengawali.


"Menurutmu?" Aku lalu mengehela nafas.


"Tidak, selama aku kesini tidak sendirian jadi tidak membosankan..aku pun lebih menarik dari dia.... " Jawab Jimmy.


"..... " Aku hanya diam dan melihat ke arah botol minuman di hadapanku.


"..... " Jimmy menungguku menjawab.


"......" Aku masih diam dan hanya menghela nafas.


"Bisa kamu bicara? Apapun. Tidak diam seperti ini... " Jimmy mulai kesal.


"Baik.... Aku merasa baik... Cuman, kayanya tempat ini engga cocok denganku....disini dunia kamu, bukan aku..."


"Kenapa?" Jimmy melihat ke arahku.


"Kamu akrab dengan orang yang ada disana?" Aku bertanya.


"Tidak... Hanya dengan Fukuda dan Louise saja.... Kami berteman dari bangku sekolah dasar... " Jawab Jimmy.


"Kalian kenal udah dari lama ya?" Aku berkata dengan datar.


"Ya hanya mereka teman yang aku rasa tulus dan memahami. Aku bukan orang yang suka bertemu dengan banyak orang. "


"..... " Aku melihat ke arah Jimmy.


"Dari kecil, aku merasa menjadi anak tunggal. Padahal, aku punya adik perempuan... Dinegaraku, perempuan tidak begitu menonjol perannya.... " Jimmy terlihat sedih.


"Lalu?" Aku penasaran dengan cerita Jimmy.


"Kami selalu bersama, aku sayang kepada adikku. Namun, sejak ia memilih tinggal di luar negeri... Aku merasa kesepian, terlalu berat beban keluarga yang aku harus lalui...hingga aku bisa pindah kemari...memulai semuanya dari awal disini.."


"..... " Aku masih fokus pada cerita Jimmy.


"Sudahlah.... Bukan hal yang kamu harus tahu... Ayo kita pulang..."


Jimmy berdiri dan mengandeng tanganku. Ia membawa ku keluar dari Pub.


Gengaman tangannya tak pernah lepas dariku. Aku melihat pantulan dinding lift. Kami jalan bersama?


Lift pun terbuka, jimmy menarikku. Aku pun menurut ia membawaku kemana. Didalam lift kami hanya diam, rasanya bibirku kering.


Hingga kami di dalam mobil pun. Kami masih diam walau mesin mobil sudah menyala.


Dingin cuaca, atau pendingan? bukan. ini dingin suasana yang di ciptakan pria di sampingku. ia sulit di tebak. moody? ya sesekali mungkin, tapi semuanya belum terlihat.


Aku melihat ke arah luar, seperti perempuan yang aku kenal. Tas, pakaian dan rambut.


Jes...


Jessy!! ia disana!


Aku bergerak melihat siapa yang bersama dengannya. Orang tua? Pria? Bukankah dia aktor senior?

__ADS_1


"Ia temanmu kan? " Tanya Jimmy dengan posisi tangan kanan nya berpangku pada pintu mobil.


"Iya .... Ia bersama.... "


"Budiawan." Jimmy menjawab.


"Ya... Kamu kenal? Ah bodohnya aku! Kan kamu orang film ya... Mesti nya dong uda kenal juga... " Aku mengetuk dahiku.


Betapa bodoh dan lemot nya aku. Kenapa bertanya hal konyol seperti ini!


"Kami pernah berpartner saat aku merintis... Tapi, sudahlah, dia tua bang** yang haus uang... "


"Tapi kenapa Jessy sama dia? Bukannya Jessy tu pacaran sama aduh gw lupa.... " Aku mencoba mengingat nama pria yang bersama Jessy.


"Ya mereka bukan pacaran.. Tapi hubungan simbiosis mutualisme... Yang tua butuh hormon yang muda... Yang muda butuh honor yang tua.... " Jawab Jimmy sinis.


"Buahahaha.... Kamu tu lucu bahasanya. Walau aku ga nangkep kenapa kamu sinis gitu ya..uhm... Kenapa kamu engga mencoba mendekati Jessy? Malah kamu mau sama aku? Dimana hubungan kita udah sampe ke arah tempat tidur... "


Jimmy menatap diriku, sorot matanya sendu. Tapi, kenapa rasanya jantungku berdebar ya saat ini.


"..... "


Jimmy tidak menjawab, ia malah tancap gas. Kami pergi keluar dari gedung tersebut.


Aku masih memandang Jimmy, pertanyaan yang tak ingin di jawab oleh ya?


*********


"sayang .. kenalin.. dia temanku, namanya Adit... " Budiawan membawa Jessy ke arah meja bar.


"Eh dia lagi.... " Adit berkata dengan refleks.


".... " Jessy memberi tangannya dan ia melotot ke arah Adit.


Adit memandang Jessy dan dia mengerti. Rahasia dengan siapa Jessy pernah kesana.


"Adit... " Adit menjabat tangan Jessy.


"Jesica. Panggil Jess atau Jessy aja biar akrab... "


"Sayang... Ini bartender tu pinter bikin minuman enak. Tolong buatin mocktail yang seger ya.. " Budiawan berkata.


"Siyap.. Silver aja ya? Yang ringan... " Adit mulai meracik minuman untuk mereka.


"Babe, aku tinggal ke toilet ya.. Nanti aku kesini lagi... " Budiawan meninggalkan Jessy.


Jessy memperhatikann sekitarnya, ia mencari seseorang. Namun sepertinya orang tersebut tidak datang.


"Nyari Jimmy ya? Atau Abdul?" Jimmy berkata sambil menyajikan minuman Jessy.


"Kepo banget sih lo? Jangan suka ikut campur. Sama lo liat kan? Gw bisa kesini lagi... " Ucap Jessy.


"Ya.... Lo kesini dengan pria yang berbeda. Hebat. " Adit tak begitu tertarik dengan jessy.


"Bro... Bill gw!" Louise mendekati Adit.


Jessy melihat ke arah pria tampan itu. Sebenarnya ia blesteran antara asia dan prancis. Jadi ya memang wajahnya menarik.


Hidung nya mancung, matanya sipit, kulit pucatnya. Sungguh menjadi magnet bagi jessy.


"Uda di bayar boss.. " Jawab Adit.


"Lah, kan gw bilang masuk ke gw. Ah gimana sih....!" Louise kesal.


"Hei.... Kayanya bete amat?" Jessy mencoba menarik perhatian Louise.


"..... " Louise diam, ia malah melihat ke ponselnya.


"Hei!" Jessy menepuk meja di hadapan nya.


"Excuse me? Saya menganggu?" Louise bertanya.


"Oh tidak.... Hehe... Kenalin, Jessy. " Jessy menunjukan wajah manisnya.


"...... " Louise hanya melihat sepintas.


Wajah Jessy menjadi merah, ia di abaikan. Persis seperti Jimmy memperlakukannya.


"Hon, balik Yuk.. " Perempuan berwajah oriental dengan perawakan tidak terlalu tinggi memeluk Louise dari belakang.


"My fiannce.. Come on... " Mereka pun meninggalkan Jessy sendiri.


Wajahnya merah, ia malu sudah di abaikan oleh pria di hadapannya. Sungguh hinaan terbesar!


"Lo bukan tipe dia... Dia itu seleranya aneh... " Adit nyeletuk.


"Tau apa kamu soal dia?!" Jessy kesal.


"Ya tahu lah, kenal udah dari dia pertama kesini.... " Adit santai menjawab Jessy.


"Bisnisnya dia apa?" Jessy mencoba mencari info.


"Aduh.. Apa ya, raja restauran sama emas kalo ga salah... "


Mendengar kata raja dan emas. Mata Jessy langsung hijau, ia langsung berfikir soal duit.


"Tau no hp nya? Gw minta sini!" jessy memaksa Adit.


"Its sorry! Itu privacy ya! Lagipula lo uda punya laki.. Gila lo!" Jawab Adit.


"Eh, kalo ga mau ngasih gapapa. Gausah bilang gw gila! Lo itu sinting!" Jessy kesal ke Adit.


"Eh... ada apa ini? Kenapa kamu kesal sayang.?" Tanya Budiawan yang baru kembali.

__ADS_1


"No... Aku mau balik aja. Ga asik disini. . " Jessy cemberut ke arah Budiawan.


"Kamu jangan begitu.. Kita baru sampai.... Apa adit menganggumu?" Budiawan mencoba merayu Jessy.


"Aku tidak nyaman. Banyak orang yang tidak suka aku ada disini... " Jessy masih kekeh untuk pergi.


Jelas ia malu, louise sama sekali tidak merespond dirinya..


"Adit...apa bocah kemarin sore masih sering kemari?" Budiawan berbicara dengan nada sinis.


"Jimmy Yongs?" Adit bertanya balik.


Jessy melotot mendengar nama Jimmy di sebut. Pria yang menjadi sasaran berikutnya untuk Jessy dapatkan.


"Siapa lagi? Anak kecil yang sok pintar dan suka memerintahku itu.. Ha ha ha.... "


"Tadi dia kesini kok... " Jawab Adit santai.


"Apah?! Kemana dia? Kenapa aku tak melihatnya keluar!" Budiawan langsung naik darah.


"Lah dia baru aja sekitar 5 menit. Harusnya kalian bertemu dong..."


Seseorang melambaikan tangan ke arah adit. Ia pun harus segera kesana.


"Bentar ya Om. Gw kesana... " Adit meninggalkan Jessy.


"Hmm... Sayang... Kamu kenal Jimmy seperti apa?" Jessy mencoba mencari info.


"Kenal dia datang kesini sebagai gembel... Lalu aku melihat dia banyak membawa emas batangan.. Ya sudah kami bekerja sama... "


"Lalu.?" Jessy berbicara sambil memegang tangan Budiawan.


"Lalu aku kesal! Ia tak mempercayai aku lagi. Dan dia menuduhku melakukan korupsi... Dasar anak sok tahu. Aku itu cuman mengambil hak ku... "


"Oh gitu.... Sayang.... Sudah yang penting sekarang ada aku kan... Jangan bete dong.." Jessy menyandarkan kepalanya ke pundak Budiawan.


"Aku pernah mendengar dari team. Katanya dia mengabaikan dirimu ya?" Budiawan berkata dengan sinis.


"Ah engga juga.. Aku yang tidak mau dengan pria yang keras seperti itu. Aku suka pria dewasa dan mapan sepertimu... " Jessy menyilangkan jarinya.


Ini tanda ia sedang berusaha berbohong. Malu baginya jika sampai Budiwan tahu faktanya.


"Ahahha... Aku dengar apa? Dia malah memilih temanmu.. Bodohnya.. ada wanita cantik, dengan tubuh indah. Dia malah memilih wanita seperti itu... "


Jessy hanya tersenyum manis menanggapinya. Dalam hatinya ia juga kesal dengan Cathrine.


******


aku berjalan memasukin Flat(apartemen) Jimmy. dan pintu pun di tutup oleh Jimmy.


Aku meletakkan tas dan melepaskan alas kaki. Tapi sebuah tangan menjalan ke pinggangku.


"Maafkan aku... " Jimmy berbisik.


"........ " Aku diam.


Jujur aku binggung kenapa ia harus meminta maaf?


Memang keadaannya aku itu terlalu jauh.


"Kamu selalu diam sejak kita duduk bersama temanku. Aku paham mereka pasti asing buatmu kan... " Jimmy kemudian memelukku dari belakang.


"....... " Aku lalu membawa Jimmy duduk di sofa kecil.


Ia pun memandangku penuh tanya. Jujur wajahnya terlihat manis malam itu. Aku mengamati wajahnya dengan tatapan sendu.


"Aku mohon jangan menatap dengan tatapan itu. Aku rasanya ingin memangsa kamu... " Jimmy mengelus pipi kananku.


"Hmm... Sebenarnya saat kembali aku mendengar sedikit pembicaraan kalian. Jujur antara aku kecewa atau ya ini faktanya. Aku mendengar, bagaimana kamu memposisikan aku.... Aku cuman berusaha dan harus bisa memposisikan diriku... "


"Aku engga paham, tolong bisa lebih detail. Atau inti nya apa yang kamu maksud?" Jimmy makin mendekati wajahku saat bicara.


Tenggorokan ku malah rasanya kering. Sial bagiku, aku harus meneruskan tapi ia malah mendekat. Membuat nafasku jadi berat.


"Aku hanya kebetulan kamu bawa kesana. Hubungan kita cuman sampai besok kan? Besok sudah hari senin. Kemudian kita kembali ke hidup kita masing - masing. " Aku menjawab datar.


"Jika aku tidak mau kamu kembali?"


"Ya kamu harus mau, memangnya kamu siapa? Mengaturku seperti itu... Lagi pula kita juga cuman bersenang - senang kan... " Aku mencoba mengalihkan perhatian Jimmy.


Tapi ia menatapku makin tajam.


"Yakin kamu cuman mau seneng - seneng aja? Aku tidak akan memberi timbal balik kepadamu. jika kamu bilang kita cuman senang - senang bersama. .. " Jimmy mengenggam lengan ku.


"Bukan ... Sakit Jimmy... Ampun... Aku cuman merasa tidak mungkin kita bersama lebih dari ini... Aku harus menjaga agar aku tidak menyukaimu... Lepaskan tolong... " Aku berkata jujur.


"Apa? Kamu menyukaiku?" Jimmy melonggarkan tangannya.


"Tidak.... Bukan... Aduh.. Jadi kita bersama dalam hubungan rumit ini. Jadi aku jangan sampai menyukai kamu. Begitu... Jessy aja cantik begitu... "


"Menurutku tidak... Lebih menarik dirimu... "


Wajahku menjadi merah mendengar perkataan Jimmy. Apa benar yang aku dengar?


"wajahmu merah... kamu kepanasan?" jimmy mendekati wajahku.


"jangan begini... ah sudah lah... aku mau ganti baju... " aku berdiri dan meninggalkan Jimmy.


aku mengambil baju tidur panjang hingga lututku. lalu aku menuju kamar mandi untuk mengganti baju.


"ganti disini saja Cath... aku sudah lihat semuanya... kenapa kamu malah kesana? jangan malu... " ucap Jimmy dengan ngawur.


"hei! terserah aku mau ganti dimana..." jawab ku dengan nada keras.

__ADS_1


sebenarnya aku malu, kenapa sih dia mesti begitu. mempermainkan diriku, berkata apa kepada temannya. tapi dia malah memperlakukan aku seperti itu.


__ADS_2