
Tatapan Jimmy tajam dan dalam kepadaku. Ia diam sesaat saat itu, agak lama dia menatapku penuh tanya.
"..... " Aku beberapa kali menahan amarahku dengan nafas yang cepat.
"Kamu..... " Ucap Jimmy.
"..... " Aku diam menatap nya dan menaikan satu sisi alis ku.
"Kamu.... " Ucap nya dengan lembut
".... Hmm.... " aku menghela nafas. Aku malas mendengarnya.
"Kamu mau kemana.....?" Suara Jimmy makin halus.
'Gila ni cowok.. Absurd... ' suaraku dalam hati.
"Aku... Mau... Kursus... Sama... Beli.. Makan.... " Jawabku satu per satu.
Jimmy malah menutup pintu dan menarikku ke dalam. Ia menahanku untuk pergi.
"Sebenarnya.. Apa yang sudah aku lakuin semalam? Apa aku menggila?" Jimmy bertanya dengan polos kepadaku.
"Kamu tanya aja sama hati kamu. Kenapa saya diam dan baju itu bisa robek parah... " Aku memilih diam dan tak menjelaskan.
Gengsi bagiku dan sakit hatiku atas perbuatannya semalam.
"Tolonglah... Semalam.. Aku pergi ke undangan salah satu rekanan ku... Lalu... "
"Lalu kamu mabok, pulang ke sini...bilang aku wanita murah*n... Panggil aku j**ang.. Nih.... Hasilnya... Saya pergi dulu... " Aku menjawab dengan menekankan setiap kata dan menunjukan tanda merah di pipiku.
Aku lalu pergi meninggalkan Jimmy. Aku hanya ingin tenang. Aku hanya ingin segala berjalan wajar dan baik.
Walau aku tahu, hidup ga akan selamanya lancar.
Aku mampir di kedai Sammy dia terlihat menyambutku. Lalu dia memberi kode duduk di kursi luar.
Aku memilih duduk dan diam menatap ke jalanan. Rasanya memang benar, jika kita sedang tidak enak hati. Lebih baik menyendiri dan melihat pemandangan di luar.
Sammy datang membawakan Teh hangat dan semangkuk bubur. Ia lalu mengambil bangku dan duduk di samping kananku.
"Aku belum pesan Bang... " Kataku.
"Sudah makan saja, aku tahu kamu mau pesan apa.... " Jawab Sammy dengan senyum ramah.
"Terima kasih Bang... " Aku lalu membuka masker yang menutup sebagian wajah ku.
Sammy tersentak melihatku, sepertinya ia melihat tanda merah di pipiku.
"Kamu kenapa?" Tanya Sammy sambil menunjuk ke tanda itu.
"Ah.. Aku jatuh lalu kena lemari jadi begini... Hehe.. " Jawabku sambil ketawa.
"Bukan.. Pasti Jimmy melakukan sesuatu..aku tahu itu sakit karena tamparan yang keras.. " Sammy sinis.
Aku hanya mengaduk buburku dan menundukan kepala. Aku malu jika menceritakan hal yang sebenarnya.
"Harusnya kamu melawan kalau Jimmy melakukan kekerasan. Apalagi kamu perempuan... Apa pun salah kamu, Jimmy ga bisa menamparmu.. Sampai merah seperti itu.... " Sammy makin marah melihatku.
selera makan ku mulai hilang mendengar Sammy berkomentar. Aku hanya sesekali menghela nafas.
"Ya...! Aku tinggal ya, ada pembeli... Kasirku belum datang... " Sammy berpamitan.
Aku hanya mengangguk dan membiarkan dia pergi. Aku lalu mulai memakan bubur yang ada di hadapanku.
Aku mencoba menghabiskannya, namun aku malas menghabiskan nya. Entah karena perih atau aku yang hilang mood untuk makan.
Aku lalu memakai masker lagi, aku berdiri dan menuju kasir. Sammy sedang melayani orang lain.
"Sudah?" Sammy menyapa setelah pelanggan pergi.
"Iya, berapa Bang... Saya bayar nya.. " Aku berkata.
"Alah sudah, ndak perlu.. Itu untuk kamu.... Oh iya, mau kemana kamu pagi begini... "
"Jangan begitu Bang. Bagaimana pun aku beli kesini ga minta gratis..." Jawabku.
"Jangan... Sudah besok saja. Aku minta ke Jimmy saja bayaran nya... Sudah... " Sammy tetap kekeh tidak mau aku bayar.
"Baiklah Bang... Oh iya, aku sekarang kursus di ruko sebelah..jadi pagi aku biasa pergi...aku duluan ya...Terima kasih atas sarapannya... Bye..." Aku meninggalkan Sammy.
"Hati - hati.... " Sammy melambaikan tangan kepadaku.
Aku berhenti di mejaku tadi. Lalu aku menyelipkan uang di bawah piringku. Aku pun pergi setelah itu.
Biar bagaimana aku membeli, aku tidak memintanya. Aku memang gengsi, mungkin ini adalah hasil dari didikan papa.
Aku menghela nafas dan berjalan dengan santai. Tapi masih terlalu pagi untuk masuk ke kelas.
Aku lalu duduk di bangku taman di salah satu tower disana. Aku hanya diam dan melamun.
"Pagi banget uda keluar... " Suara yang aku pernah mendengar.
"Nicky?" Aku bersuara parau.
__ADS_1
"Huft bagaimana ya, ternyata kita ketemu lagi... Mau rokok?" Ia memberiku 1 box rokok yang sudah di buka.
Aku hanya mengelengkan kepala, lalu ia menyalakan rokok dengan pematik otomatis. Ia duduk disebelahku dan menghembuskan ke udara asap rokok nya.
"Lo seneng duduk disini?" Nicky menyapa lagi, ia membuka pembicaraan lebih dahulu.
"Engga, cuman kebeneran hari ini aja pengen kesini. .. "
"Cath... Kenapa lo mau tinggal sama pria yang ringan tangan... "
Aku tersentak dengan perkataan nicky. Dari mana ia tahu?
"Lo ga udah munafik, gw lihat tadi waktu lo sarapan... Masker yang lo pake cuman buat nutupin jahat nya tu cowo... " Nicky berbicara dengan picik.
Aku hanya menghela nafas dan melihat ke rumput di hadapanku.
"Better lo mulai memikirkan fisik dan psikis lo. Jangan habisin waktu lo, buat pria ga gentle kaya begitu..... "
"Lo bisa diem?!" Aku berkata dengan kasar.
"...... " Nicky kaget dan diam sesaat. Lalu ia menatapku.
"Kalo lo, engga tahu apa pun soal gw. Better lo itu diem aja.... Lo engga tahu apa yang terjadi dalam hidup gw. Apa yang udah gw lalui, dan apa yang baru aja kejadian.... " Aku berkata dengan menahan emosiku.
"Iya... Iya emang gw ga tahu... Gw cuman mencoba memberi tahu soal... "
"Soal apa? Soal hidup? Ngerti apa lo soal gw?" Aku kesal menjawab Nicky.
"Gw.... Gw cuman ... Cuman mencoba ramah dan peduli sama lo.... " Nicky berkata dengan nada lembut.
"Lo ga perlu begitu... Karena gw ga suka di peduli in sama orang dan gw.... Gw engga suka sama cowo yang sok ramah dan sok deket....... " Nada bicaraku pelan namun menekan pada kata ramah dan dekat.
Kami lalu terdiam, aku benci dengan pria yang terlalu banyak bicara. Apalagi aku baru bertemu dengannya.
Bukan ranah area dia untuk berkomentar atau ikut campur. Lagi pun, belum tentu dia lebih baik dari Jimmy.
'Jangan besar kepala, dia pasti hanya pura - pura peduli.' Ucapku dalam hati.
Aku hanya butuh sendiri dan menenangkan pikiranku. Bukan model seperti ini.
"Maaf..... Gw cuman engga suka perempuan di tindas. Sampe main tangan, lo mungkin engga tahu soal gw juga. Nyokap gw salah satu korban.. Dan dia mempertahankan pernikahan hanya karena gw... Hal konyol.... Udahlah, sorry bikin hari lo buruk... " Nicky pun pergi meninggalkanku.
Aku lalu menoleh melihatnya pergi meninggalkanku. Aku masih tak percaya dengan apa yang dia katakan.
Biasanya anak korban seperti itu bisa lebih menghargai perempuan. Sepertinya menarik juga Nicky, engga ada salah nya buat tempatku bercerita.
'Jangan Cathrine... Kamu bisa habis dengan Jimmy. Pria yang bersamamu itu posesif!' Hati ku berbicara.
*********
Jimmy memcoba mengingat bagaimana ia bisa melakukan hal gila ke Cathrine.
Sebenarnya Jimmy tak ingat apa yang terjadi. Ia hanya ingat wanita muda yang merayu nya. Lalu ia lupa apa yang terjadi.
Jimmy mencoba memejamkan mata dan menekan dahi nya. Ia harus ingat apa itu dan bagaimana semalam.
Jimmy lalu ingat, ia mendorong wanita itu.. Lalu..... Ia kembali ke apartemen.... Lalu....
"Sial!! Hina banget yang gw lakuin ke Cathrine. Masak iya gw nampar dia.. Gilaa!! " Jimmy memukul kepalanya.
Bodoh... Tolol... Dan hina... Ia menampar dan mengatakan Cathrine dengan kasar.
Jimmy lalu ingat ia harus datang meeting pukul 8 pagi. Jimmy bergegas membersihkan diri, lalu bersiap berangkat.
Jimmy memang terkenal bisa membedakan urusan bisnis dan pribadi. Ia tetap pada pendirian bahwa harus sukses agar ia bebas menikah dengan siapapun.
Tok... Tok... (Pintu ruangan Jimmy)
"Permisi pak.. Saya mau menghadap.. " Suara Adam.
"Masuk.... " Jimmy menjawab.
"Selamat pagi pak, saya mau ngasih laporan program Tv yang baru.... " Adam masuk dan memberi berkas ke Jimmy.
"Ok,.. Duduk dulu ya.... " Jimmy mempersilahkan.
Jimmy melihat ratting dan feedback dari penonton. Sebenarnya Jimmy ingin pensiun dari dunia tv.
Tapi, ia melihat potensi Adam dan dendam dia ke Budiawan. Ia harus bisa membalas kematian Mira.
Serta membuka apa benar penyebar nya adalah Budiawan.
"Hmm... Sebenarnya menurut saya kurang menjual.. Tapi acara kacangan begini malah tinggi rattingnya.. Haha... Lupakanlah, kerjamu bagus.. Walau saya masih mau 1 program mendidik dan nantinya akan keluar di tv cable saja...."
"Program apa yang bapak mau...? " Adam bertanya.
"Semacam edukasi, biografi, foodies.. Ya seperti itu... Apa kamu sanggup?" Jimmy menantang.
"Mungkin saya bisa bikin proposal dulu.. Nanti baru saya beri ke bapak.. Bagaimana komentar bapak nantinya.. "
"Boleh... Boleh... Ide kamu biasanya bagus dan beda dari yang lain... " Ucap Jimmy.
Jimmy mengangguk dan menutup berkas itu. Ia mengembalikan ke Adam.
__ADS_1
"Oh iya, bagaimana program yang Jessy jadi host. Apa bagus? Saya ga liat di list kamu.. " Jimmy bertanya.
"Hmmmm(menghela nafas), acara itu sempat mengudara 2 pekan. Lalu ratting turun karena Jess terlalu kaku sebagai Host. Saya sudah mencoba memberi Co-Host lain untuk memancing nya... Namun... Engga bisa naikin ratting juga... " Adam menjelaskan.
"Sebenarnya saya engga kaget.. Dia beruntung karena pria di sampingnya.. Sempet saya ngira, kalau dia bisa berubah dan dugaan saya salah... Tapi... Sudahlah...oh iya kamu masih pergi dengan perempuan itu..? " Jimmy berkata.
Ada hanya tersenyum, mimik wajahnya kurang suka dengan pertanyaan itu.
"Saya sudah tahu jawabannya..... "
"Pak... Saya memang mencintai Jessy... Saya lebih cinta ke diri saya dan orang tua saya.. Jadi lebih baik dia pergi dan melakukan hal yang ia mau... Pak, selamat atas pernikahan Anda.. Semoga bahagia.. " Adam tersenyum ke Jimmy.
"Rupanya tembok pun bisa berbicara ya... Hampir semua tahu berita itu... Padahal... Istri saya saja ga sadar kalo sudah menikah... " Jimmy tersenyum, ia menahan tawa di wajahnya.
Sejujurnya Jimmy senang mendapat ucapan selamat yang merupakan doa. Ia hanya menjaga image di bawahannya.
"Bapak cocok kok.. Saya rasa, Cathrine akan mengetahui dengan sendirinya.. Gadis polos dan manis.... " Adam mengelengkan kepalanya.
"Iya, saya juga mikir begitu.. Mau nya saya... Ketika ia mengetahui.. Keadaan sudah berbeda, dia sudah bisa berdiri di atas kaki nya sendiri... Agar keluargaku bisa menerimanya... "
"Baik... Baik... " Adam menjawab.
"Dam... Kamu tahu cara meminta maaf yang pasti akan langsung di maafkan?"
Adam diam dan melihat Jimmy penuh tanya....
*********
Pukul 6 malam, aku baru berjalan ke tower apartemen Jimmy. Seharian aku hanya berputar di area ini.
kursusku rasanya lebih cepat dari biasanya, perasaan atau memang berjalan cepat segalanya hari ini...
Sesekali aku duduk, makan - minum dan melamun. Memburu waktu dan membuang rasa sakit.
Aku malas kembali, tapi tubuhku mulai gatal. Hujan pun sudah mulai turun. Mau tidak mau... Aku harus kembali...
Aku berdiri di depan pintu H108. Aku ragu untuk masuk, biasanya aku paling semangat untuk pulang.
Kalau aku engga kembali kesini, aku mau kemana lagi. Kost? Sudah lama aku tak melihatnya. Hotel? atm ku tertinggal di kamar... Mau tidak mau, aku harus kembali.
Aku menekan gagang pintu, dan menempelkan kartu. Aku membuka pintu, semuanya gelap. Sepertinya Jimmy belum kembali.
Aku masuk ke dalam, di atas tempat tidur ada bunga lily dan mawar. Sepucuk kartu ada disana.
'Sorry, for last night..im stupid at all.. '
Lalu lampu kamar di nyalakan. Jimmy muncul dari kamar mandi. Ia lalu berdiri di belakangku.
Ia meraba kedua telingaku, lalu melepaskan masker berwarna biru itu. Ia lalu mengelus pipi kiriku yang memerah.
Ia mencium bekas tamparan itu. Lalu berbisik.. "Forgive me.... "
Jantungku berdebar kencang dan kedua tanganku merinding. Aku binggung harus menjawab apa.
Jimmy membalikan badanku agar kami berhadapan. Lalu Jimmy mengajakku duduk bersama di sudut tempat tidur kami.
Aku memandang wajahnya, rasa amarahku seakan sirna. sepertinya aku bodoh dan tersihir dengan Jimmy. Suasana nya hanya kami berdua saling menatap.
"Wajah kamu jadi merah semua... " Jimmy mengancurkan suasana.
Aku langsung kesal dan membuang wajahku. Lalu aku menutupi wajahku dengan tanganku.
"Ssst... Jangan begitu, aku mau lihat pipi kamu.... " Jimmy menarik tanganku dan wajahku.
Ia kembali membelai pipi dan kepalaku. Rasanya nyaman di perlakukan seperti ini.
"Ampuh juga saran Adam... Pipi kamu sudah engga merah lagi kaya tadi... "
"Apa??" Aku kaget.
"Iya, aku meminta saran bagaimana cara minta maaf ke kamu..." Jimmy menjawab polos.
Aku tak percaya, rupanya ini saran dari Adam. Bukan mau dia?
Aku langsung menyingkirkan tangan Jimmy.
"Sudah lah sayang, jangan marah.. Aku semalam di beri minuman sama wanita sewaan di pesta itu. Aku engga ingat kalau aku sudah pulang....apalagi aku sampai menampar dan berkata kasar.. Aku bodoh.... "
Aku binggung harus menjawab apa... Aku hanya diam menatap Jimmy.
"Aku bahkan engga tahu bagaimana cara memperbaikinya. Aku cuman bertanya bagaimana cara minta maaf jika sudah melakukan hal paling bodoh dalam hidupku.. Jujur sakit saat aku sadar sudah melakukan itu ke kamu... "
Aku tetap diam menatap Jimmy.....
"Tolong, jawab aku.. Jangan diam begini, aku jadi makin bodoh.... " Jimmy binggung.
Aku refleks menarik wajah Jimmy. Aku memejamkan kedua mataku, Lalu aku mencium bibir Jimmy.
Ia pun sepertinya kaget dengan apa yang aku lakukan. Lalu ia memelukku, kami menikmati moment tersebut dalam beberapa menit.
aku melepaskan pelukan Jimmy, aku menyandarkan kepalaku di dada nya. Ia membelai rambutku dan mencium kepalaku.
Tak ada kata terucap, hanya kami menikmati moment berdua. Mencoba mengobati hati yang saling terluka.
__ADS_1