
Tak lama Jimmy masuk ke dalam mobil. Saat itu pula jantungku berdegup kencang.
Ia menyalakan mesin mobil, pendingin suhu langsung menyala. Menghembuskan hawa dingin yang langsung menyentuh kulitku.
Ia memasukan perseneling mobil. Lalu kami pun pergi dari tempat parkir.
Ia membawaku pergi, tak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Sungguh pembawaannya tenang dan misterius. Ia membawaku keluar dari mall, menyusuri jalan samping mall.
Jika aku tak salah ingat, kami hanya seperti berputar ke area lain. Lalu ia masuk ke salah satu bangunan.
Aku yang tak paham dengan sekitar hanya diam dan menengok kanan kiri. Aku pun tak bertanya kemana kita pergi.
Mobil yang membawa ku pun berhenti. Aku melepaskan Seatbelt begitu pula dengan Jimmy.
"Ayo turun, aku tunjukan tugas pertama mu... " Suara Jimmy dengan halus.
Lebih mirip berbisik kepadaku.
Aku rasanya terhipnotis, aku menuruti nya. Tanpa aku bertanya apa tugas pertamaku.
Aku turun dan memperhatikan sekitar. Dimana dan di lantai berapa ini. Naluri ku menuntunku mencari dimana aku berada.
Jimmy mendekati dan memberikan kode berupa lambaian tangan. Aku langsung mengikuti di belakangnya.
Kami menuju ke arah tulisan 'Lift'. Cuman ini bukan mall, lebih mirip tempat hunian. Namun aku biasa melihat di film.
Kami bertemu beberapa orang yang juga melintas. Lalu beberapa dari mereka memandangku sinis. Tapi ada pula yang acuh dengan keberadaanku.
"Aduh... Maaf... " Aku refleks berkata.
Aku menabrak bagian belakang tubuh Jimmy. Lalu aku mengintip, kami menunggu didepan pintu lift.
Saat terbuka Jimmy langsung masuk ke dalam, aku menyusulnya masuk. Lalu aku berdiri di sampingnya.
Ada 2 orang lain yang ikut naik dengan kami.
Jimmy menekan angka 10. Sedang kedua orang itu menekan angka 7.
Mereka sepertinya pasangan dengan range umur yang cukup jauh. Aku sebenarnya memperhatikan mereka, apakah mereka suami istri?
Lift terbuka...
Aku melihat angka 7 di atas lift.
Ah, rupanya mereka turun.
Lift pun kembali tertutup.
"Kamu baru pertama melihat seperti itu?" Tanya Jimmy.
"Ya, aku berasal dari daerah. Dan aku juga tidak biasa melihat hal semacam itu.... "
Lift pun kembali terbuka. Kali ini angka 10 yang menyala.
Jimmy langsung turun, aku pun menyusul di belakangnya.
Kami berjalan melewati lorong. Ada banyak pintu di sisi kanan dan kiri. Aku hanya mendengar sedikit suara dari dalam.
Aku yakin tempat ini tidak murah. terlihat dari dinding dan model pintu disana. apa ini hotel?
aku terus berjalan di belakang Jimmy.
Jimmy berhenti di salah satu pintu. Lalu ia menempelkan kunci ke sebuah benda di atas gagang pintu.
Lalu Jimmy membuka pintu, ia mempersilakan ku untuk masuk.
Aku melangkahkan kakiku melwati dirinya. Aku masuk ke dalam, hmm...
Sebuah kamar, dengan kamar mandi di dalam. Biasanya aku tau ini seperti hotel. Tapi ada pantry dan dapur disana. Apa ini apartement?
"Ini flat (apartemen tipe studio) ku. Kamu bisa tinggal disini selama masa tugasmu. Karena tempat ini confidential, hanya kamu dan saya yang boleh masuk." Ucap jimmy.
Aku masih berdiri di dekat kursi di pantry dekat pintu masuk. Jimmy dengan santai meletakkan tas, ponsel dan kunci mobil di atas meja tv.
Lalu ia membuka 3 kancing kemejanya. Jimmy lalu menyalakan pendingin udara.
Aku masih tetap berdiri mematung di tempatku. Aku masih tak dapat berkata apapun.
tapi, aku yakin akan ada sesuatu yang terjadi. aku harus tinggal disini selama masa tugas? tugas apa?
Aku masih belum paham, apa yang di lalukan Jimmy. ia seperti ingin melakukan sesuatu kepadaku,Dan tugas ku? Memang apa pekerjaan itu?
Jimmy duduk di sisi tempat tidur. Lalu ia melihatku yang masih binggung.
"Kemari, duduklah sisini.. " Ia menepuk sisi samping nya yang kosong.
"Hah? Kenapa disana pak? Saya disini saja duduk di kursi ini.. "
Aku langsung menarik kursi di sampingku, lalu aku duduk disana.
Jimmy tersenyum dan tertawa di sudut bibirnya. Ia lalu berdiri dan mendekatiku. Ia berdiri tepat di depanku, kepalaku terdongkak ke atas melihat Jimmy.
__ADS_1
"Saya mau tau, kamu apakah ahli melayani. " Ucap Jimmy.
"...... " Aku melongo melihat Jimmy.
"Ya melayani, kamu pernah kan melayani Pria...?" Jimmy menyilangkan kedua tangannya tepat di dadanya.
"Owh... Membersihkan rumah?? Bisa, aku biasa bersih - bersih rumah kalo di kampung. Bapak Butuh jasa bersih - bersih.? " Jawabku polos.
"Ash! Bukan, aku punya pelayan buat mengurus tempat ini setiap hari! Maksudnya mengurusku!" Nada Jimmy mulai meninggi.
"Saya ga paham Pak...... " Jawabku perlahan.
"Sh**! Aku benci wanita munafik! Sini aku beri tahu... "
Jimmy menarik wajahku, ia langsung menciumku. Ia amat memaksakan apa yang sedang dilalukan.
Tak lama ia melepaskan ciumannya.
Nafasku terasa berat, rasa nya aku seperti habis berlari. Jantungku berdegup kencang, ini... Ini ciuman pertamaku....
Wajahku menjadi merah, aku tak sanggup memandang wajah Jimmy. Aku justru menutup bibirku dengan tanganku.
"Cepat lihat aku..." Jimmy berkata kepadaku.
Aku tak sanggup mengangkat kepalaku. Aku diam saja mencoba mengatur nafasku.
Kedua tangan jimmy berpangku pada kursi dan meja. Ia mengunciku dengan posisi yang tidak baik.
Tangan kanan Jimmy menarik pipiku. Ia ingin melihat bagaimana keadaanku.
Kami berpandangan sesaat, Jimmy terlihat seperti serigala yang ingin memangsaku.
"Apa ini pertama bagimu?" Tanya Jimmy dengan halus.
Aku hanya mengangguk dengan wajah sendu.
Tapi tangan Jimmy meremas rambutku. Tangannya hangat menyentuh pipiku.
Ia melakukannya lagi, bibir kami bertemu. Aku hanya sanggup mengikuti apa yang Jimmy mau.
Tangan Jimmy kemudian menarikku. Ia melemparku ke atas tempat tidur.
Aku berusaha bangun, naluri ku memberontak. Aku paham apa yang ia maksud dengan tugas pertamaku.
"Kamu mau aku melayani kamu seperti wanita di tempat hiburan?" Aku berkata.
"Iya, keahlian apa yang kamu punya? Kamu hanya bersekolah hingga tingkat akhir. Ini pekerjaan yang kamu bisa lakukan.. " Jawab Jimmy dengan tegas.
Ia kemudian naik menyusulku...
Apa yang seharusnya bisa aku jaga untuk pria yang aku cintai...
Dimana itu adalah saat kami bersama dalam ikatan suci. Bukan seperti ini.
***********
"Perasaan gw kok engga tenang ya... Cathrine juga kok diem aja ya.... " Yofie berkali - kali melihat ponselnya.
Tak ada satupun panggilan atau pesan dari Cathrine. Yofie pun memutuskan untuk keluar dari kamar.
Ia turun ke lantai bawah rumahnya. Namun ia hanya melihat Esyeh yang baru pulang dengan pacar barunya.
Tapi, ada Jessy yang duduk di ruang tamu. Yofie melanjutkan turun dan mendekati Jessy.
"Boleh duduk sini... " Ucap Yofie.
"Sure... Ini kan rumah kamu... " Jawab Jessy.
Yofie pun duduk dan menarik nafasnya. Ia seperti memiliki segudang pertanyaan untuk Jessy.
"Jes, kamu kan satu kampung sm Cathrine... Apa kamu tau, kenapa dia harus segitu kerasnya cari duit.... " Yofie membuka percakapan.
"Ya memang kami satu kota dulu. Tapi, aku baru mengenal nya disini. Lagipula, bukannya semua orang harus kerja ya, kalo mau duit.... " Jawab Jessy sinis.
"Bukan itu maksudku. Tapi, kamu kenal dengan dia kan.. Kalian juga sama perempuan. Mungkin kan saling berbagi cerita... " Yofie masih terus berusaha mencari informasi.
Jessy lalu meletakkan ponselnya diatas meja.
"Kak, engga segala hal itu kami berbagi cerita. Ada batasan dan rahasia kami kak. Kalo kakak penasaran, tanya aja sendiri deh.....
Oh iya, jangan bilang kakak seneng ya sama Cathrine?"
"Memang kakak tertarik dengannya. Tapi, kakak tiap bertanya soal pribadi... Cathrine selalu menutup mulutnya. Makanya kakak cari info, kaya hari ini. Kakak itu nganter dia interview. Tapi, kenapa di mall gitu maksud kakak. Dicafe dalem mall... "
Mimik wajah Jessy langsung berubah. Ia langsung kaget dan menjadi marah.
"Interview apa? Dan dimana? Kakak anter ke mall mana? Terus apa lagi?" Jessy penasaran.
"Dia cuman nyebutin cafe aja di mall Plaza Indah. Kakak penasaran dan kakak mau info dia dimana. Kerja apa gitu, jangan sampe jadi aneh - aneh... "
"Simpenan om - om?" Ucap Jessy.
"..... " Mata Jimmy melotot melihat Jessy.
__ADS_1
"Kenapa? Salah? Menurutku ya kak, kalo kita bisanya gitu asal tercukupi semua kenapa engga?
Jangan munafik kak, cewek itu butuh nafkah... Kalo dia jadi begitu, aku ga akan menyalahkan dan yang ada aku maklum... " Jessy dengan enteng berkata.
"Bukan gitu jess.. Kakak cuman ngga... "
"Engga rela? Ga ikhlas? Lah, kakak bisa ga kasi duit buat dia. Kita orang daerah ke kota itu cari duit. Bukan cari cowo...
Jadi realistis kak kalau sampe Cathrine kesini terus ujung - ujungnya jadi cewe begitu.. "
"......" Yofie hanya diam. Ia seperti berfikir sesuatu.
"Udah deh kak, aku mau istirahat. Kita lihat aja besok atau lusa pasti Cathrine baru pulang. Dan dia pasti sudah bawa banyak barang baru dan mahal... " Jessy meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.
Yofie masih duduk dan melihat pintu depan. Ia berharap seseorang membuka, berharap Cathrine akan pulang dengan keadaan sama saat ia pergi dengannya.
Jika sampai benar apa yang di katakan Jessy. Yofie merasa bersalah, karena ia lah yang mengantar Cathrine pergi.
*******
Kedua mataku terasa berat. Badanku pula sakit sekali rasanya. Aku sulit menggerakkan badanku, tapi berusaha bangun.
Aku menutupi badanku dengan selimut. Aku mencari pria itu, dimana ia pergi.
"Sudah bangun?" Ucap Jimmy dari arah pantry.
Ia datang dan membawakan sesuatu dari dalam cangkir. Lalu ia meletakkan di meja yang ada di sampingku.
"Minumlah, ini teh gingseng. Baik untuk badan dan mengembalikan tenaga. Apalagi setelah apa yang kamu lewati..." Jimmy berdiri dan pergi mengambil ponselnya.
Ia hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang. Aku baru jelas melihatnya pagi ini.
Kepalaku berat dan aku pun mengambil teh tersebut. Aku meminum, rasanya segar dan hangat di badanku.
Benar rasanya sedikit nyaman di tubuhku.
Lalu jimmy datang mendekatiku. Ia duduk di hadapanku dan menatapku.
"Temani aku selama 3 hari. Kamu aku bayar segini, sekarang isi bank account kamu. Aku bayar, agar kamu bisa membayar sekolah adik mu... " Ucap Jimmy.
Tapi aku masih diam dan memegang cangkir berisi teh itu.
Jimmy pun mengambil dan menaruh di meja kembali.
"Maaf jika saya terlalu to the point. Tapi, saya ga suka kalau berbelit soal ini. Dan saya paham, kamu bukan wanita seperti itu.... "
"...... " Tak mampu berkata apapun aku. Aku diam dan merenungi, apa salah jalanku?
"Jangan begini, aku tak suka jika drama seperti ini." Jimmy mulai hilang kesabarannya melihat Cathrine.
"Bukan! Sini aku isi accountku. Jangan lupa dengan tips nya. Aku sudah menjalankan tugasku." Aku menjawab singkat dan cepat.
aku berakting seolah - olah aku kuat dan tak merasa sakit. anggap saja aku wanita bayaran, duit udah itu tujuannku.
"....... " Jimmy melihat ku, ia memperhatikan ku. Seperti sebuah tontonan yang lucu dan mainan yang asik.
"Sudah... Ini...., aku butuh membayar obat ayahku." Aku mengembalikan ponsel Jimmy.
"Sudah .... Terimakasih... " Jimmy memperlihatkan mutasi bank ke arahku.
Wow, saldo rekeningnya.. Kedua mataku langsung terbuka, ia membayar 50jt untukku.
"Tunggu.... Kamu?" Aku meraih tangan Jimmy.
"Ya.... Karena aku tau, kamu bukan wanita seperti itu. Tarif pun kamu tidak menyebutkan.. Hanya saja, tugas kamu berikutnya akan aku informasi lagi. Yang jelas temani aku selama beberapa hari... "
Lalu Jimmy berdiri dan mengambil beberapa kantung laundry. Ia meletak kan di hadapanku.
"Ini baju yang aku beli dan sudah di cuci. Kamu bisa pakai selama disini. Pakai lah, gunakan baju yang pantas denganmu... Kini kamu bersanding denganku untuk beberapa waktu. Jadi buatlah dirimu pantas.... " Ucap Jimmy.
"memang aku harus disini sampai kapan? aku punya kerjaan disana. apa aku harus seperti ini?" aku berkata.
"sudahlah, mulai sekarang kamu disini. warung itu... sudah lupakan sementara waktu..kan ini pekerjaan baru untukmu..." jawab Jimmy
"hei... bapak belum ngasih tau saya tugas saya apa aja.. bagaimana jika Uda dan Uni mencari saya.... " aku marah melihat Jimmy seenaknya.
jimmy berdiri dan membalik badannya. ia melihatku dengan tajam, wajahnya harus ku akui begitu tampan dan gagah.
aku harus sadar pria ini sulit untuk ku raih. aku tak bisa jika begini, hanya jika dia menggunakan ku. aku baru mendapat uang.
"cepat cuci badanmu, atau aku yang harus membersihkan juga? kamu tidak merasa harus membersihkan dirimu?" tanya Jimmy.
ah benar juga... aku sadar lalu membuka selimut, lalu aku menurunkan kaki kiriku. aku mencoba meraih lantai.
saat aku mencoba berdiri, sakit sekali perutku. lalu aku hampir terjatuh ke arah lantai kayu.
Jimmy langsung meraih tanganku, ia memegang tangan ku dengan erat. " hati - hati... mari aku bantu kamu jalan... "
aku berjalan di papah oleh Jimmy, ia membawa ku masuk ke kamar mandi. disana ada bathtub dan shower.
kamar mandi simple dan mewah yang aku pernah temui.
"ini ada shampoo beberapa merk dan sabun yang aku rasa wanginya enak. kamu bisa pakai, ini baru semua.." ucap Jimmy memperlihatkan apa yang ada di wastafelnya.
__ADS_1
"apa kamu sudah mempersiapkan semuanya? kenapa sepertinya kamu sudah merencanakan ini?" aku menjawab.
"jangan berfikir negatif. aku hanya menyiapkan apa yang mungkin saja kamu butuhkan.. sudah lah, aku tinggal kamu. bersihkanlah sendiri. " lalu Jimmy menutup pintu dan meninggalkanku sendiri.