CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
19


__ADS_3

Aku membuka kedua mataku. Goncangan mobil masih terasa, ini artinya aku masih dalam perjalanan.


Kepala ku bersandar kepada pinggiran pintu sampingku. Aku melihat hari sudah mulai pagi.


Ini artinya aku sudah dekat dengan kota.


Aku menegakkan posisi dudukku. Travel pun berhenti di salah satu pintu keluar jalan bebas hambatan/tol. Aku membaca tanda rambu di samping ku.


Ah... Rupanya aku sudah sampai di kota. Sepertinya aku akan jadi yang pertama di antar.


Aku kembali merebahkan kepalaku ke bangku. Aku mengambil ponsel dari dalam tas ku.


Aku menekan tanda kunci, aku memastikan siapa yang mencariku. Ah, ada Ghea yang mengirim pesan.


'Kak.. Sudah sampai? Mama papa semalem engga berantem kak, pagi ini aku juga di masakin nasi goreng kak. Papa juga kelihatan sehat kak..'


Aku pun membalas pesan Ghea.


'Baru mau sampai dek... Syukurlah, kakak titip ya dek. Kalau ada apa - apa kamu bilang kakak ya... Bye dek.'


Pesan pun terkirim....


Aku memasukkan kembali ke dalam tas ku. Aku menyandarkan kepalaku kembali ke pinggir jendela. Aku menghela nafas dengan berat.


"Neng yang pertama saya antar ya.. " Ucap supir kepadaku.


"Ya... Terima kasih pak... " Aku hanya menjawab dengan malas.


"Neng, kok lesu engga semangat gitu. Biasanya orang ke kota tu seneng, bawaannya hepi. Liat tempat yang di daerah engga ada... " Supir travel masih mencoba ramah kepadaku.


"Engga pa, saya cuman ngantuk.... " Aku menjawab.


"Mbak kerja disini? Apa cuman kuliah? Tapi kalo kuliah kayanya engga mungkin deh.. Penampilan mbak bukan mahasiswa... " Supir tersebut terus berbicara.


"Saya kerja Pak...... " Nadaku menjawab sudah mulai malas.


"Kerja apa mbak? Ndak kerja sembarangan kan... Hehe... " Ia mencoba melecehkan ku.


"Pak, maksudnya apa? Lucu pak? Saya engga kerja jadi simpenan atau perempuan engga bener. Saya kerja di restaurant dan nyambi jadi artis figuran. Saya emang ga pernah masuk TV. Tapi kerjaan saya itu engga nyusahin orang lain!"


"Neng jangan nyolot... Saya cuman tanya.. Maaf kalau saya salah, jaman sekarang banyak perempuan yang kerjaannya engga bener soalnya neng. Makanya saya tanya sama neng..." Jawab supir tersebut.


Aku membuang pandanganku ke jalanan. Matahari sudah mulai naik, hawa panas Ibukota sudah mulai keluar. Aku menyipitkan kedua mataku, cahaya matahari amat silau.


"Cakep cakep galak... " Suara salah satu penumpang di belakangku.


Seorang pria muda, aku taksir umur nya tak jauh dariku.


Aku hanya melirik sedikit, ah mereka tak penting. Aku pun tak mengenali mereka. Belum tentu juga aku akan bertemu kembali.


Mobil masuk ke area perumahan kost ku. Aku sempat berpapasan dengan mobil sedan hitam.


Sepertinya aku mengenal mobil tersebut. "Jessy..... " Aku berbicara sendiri.


Aku melihat Jessy dalam mobil tersebut. Namun aku tak melihat jelas dengan siapa dia pergi. Apakah itu Adam atau Lutfi ya?


Mereka mau kemana?


Mobil pun berhenti di depan kost. Aku kemudian turun dari mobil.


Sopir travel memberi tas ku yang di ambil dari bagasi. Aku menerima dan memberi sedikit uang pecahan 20ribu.


"Terima kasih neng, sampe jumpa... " Jawab Supir sambil memasukkan kedalam saku baju nya.


"Sama sama Pak, terima kasih.."


Aku mengambil baju dan berjalan ke arah pagar. Aku membuka pagar kostku, sepi keadaan pagi itu.


Aku tak melihat motor Yofie juga. Apa dia tidak pulang ke rumah?


Aku lalu masuk ke dalam rumah.


"Permisi.... " Aku berkata, tapi tak ada seorang pun yang menjawab.


Aku lalu membuka kamar Jessy. Ah, terkunci rupanya. Aku mengeluarkan kunci cadangan dari dalam saku tas ku.


Aku memasukan kunci ke lubang yang terdapat di pintu. Saat bisa terbuka aku masuk ke dalam.


Betapa kaget nya aku, berantakan sekali keadaannya. Sampah di balik pintu menumpuk.


Banyak baju Jessy berserakan di lantai dan atas tempat tidur.

__ADS_1


Tempat tidurku pun, tak luput dari tas jessy. Aku mengeleng kan kepalaku.


Aku kemudian mengambil sapu dan pel dari samping rumah. Aku mulai membuang sampah bekas makanan ke tempat sampah.


Namun aku melihat ada sampah puntung rokok dan alat kontrasep**.


Aku membuangnya ke tempat sampah besar di luar rumah. Aku tak mau banyak berfikir soal apa yang terjadi saat aku pulang.


Aku lanjut melipat baju Jessy. Lalu merapikan tas yang ada di atas tempat tidurku. Aku meletakkan di dalam lemari samping kasur Jessy.


Lagi, pakaian pria yang aku temukan. Apa yang sebenarnya terjadi selama beberapa hari ini?


Lalu Segala sudut aku sapu dan aku pel hingga bersih.


Aku merebahkan badanku di atas tempat tidur. " Ahh capek nya....... Akhirnya selesai... Huffh.... "


Lalu aku bangun dan mengambil handuk dari dalam tas ku. Aku mengambil pula beberapa alat mandiku yang lain.


Semua nya selalu aku bawa. Agar aku bisa berhemat, aku juga takut jika aku tinggal maka akan hilang atau terbuang. Meskipun mungkin hanya pikiran negatifku saja.


Aku membuka pintu kamar mandi dan.. "Astaga!! Kenapa penuh piring kotor.... "


Aku meletakkan kembali di atas kasurku semua peralatan mandiku. Aku lelah sebenarnya, namun aku tak mungkin mandi dengan keadaan begini.


Tak habis pikir aku, bagaimana bisa wanita secantik Jessy bisa hidup dengan keadaan begini. Aku risih merasakan semuanya seperti terkena badai. Berantakan.


akhirnya semua nya bersih. aku kini bisa rebahan di atas tempat tidur dengan santai. lelah sebenarnya seluruh badanku, aku merasa lapar sekali.


lalu aku mengambil tas ku yang ada di lantai. aku membuka dan mengambil dompetku. aku menghitung sisa uangku.


"ha... tinggal 10ribu? bisa makan apa aku.... apa aku langsung ke tempat Uni ya...biar bisa makan gratis sama dapet duit dikit - dikit...tapi aku pengen tidur dulu lelah rasanya.... " aku berbicara sendiri.


lalu aku memasukkan kembali dompetku. kemudian mengembalikan tas slempang coklatku ke lantai.


kemudian aku memejamkan kedua mataku. aku mencoba untuk tidur. dengan begini rasa laparku bisa aku tahan setidaknya sampai malam.


********


"Om.... Kata nya aku mau di ajakin main film... Jadi?" Jessy berbicara dengan pria paruh baya di sampingnya.


Mereka ada di dalam sebuah kamar. Lebih mirip sebuah apartement studio. Namun, Jessy sepertinya sudah tak asing dengan tempat tersebut.


"Sabarlah sayang, mas kan harus bikin pers penasaran siapa kamu. Mas pengen kamu itu abadi sebagai artis. Bukan cuman sensasi saja sayang. Kemudian, akting kamu itu harus banyak di latih dulu.... " Jawab pria tersebut sambil memeluk pundak Jessy.


"Huss... Sst... Jangan marah dulu, mas itu tujuannya baik sayang. Kalau mau mainan, mas milih wanita lain Jes. Mas engga tega mainan sama perempuan se cantik kamu.... Please sayang percaya ya sama mas... Mas besok ketemu kok sama produser, abis itu mas janji. Kita mulai syuting... " Pria tersebut meletakkan dagunya di pundak Jessy.


"Promise?" Jessy memandang pria tersebut.


"Sure honey.... " Mereka saling berpandangan. Namun, bukan pandangan biasa. Seperti ada hubungan lain antar mereka berdua.


Jessy dan pria tersebut melanjutkan aktifitas mereka. Melakukan hal yang tak semestinya di lalukan Jessy.


Pria yang di pacarinya lebih mirip seperti paman nya. Namun, si pria malah benar - benar jatuh cinta kepada Jessy.


*********


"Sial, udah jam 4 sore ternyata. Ah, aku tetap harus makan. Lebih baik aku beli mie instan di betamart... " Cathrine mengomel sendiri.


Ia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil uang terakhir yang ia punya. Ia memasukkan kedalam saku celana panjangnya.


Cathrine keluar dari kamar dan mengunci pintu. Diluar adik Ibu kost seperti biasa. Menonton berita sendiri di depan kamar Cathrine.


"Malam Om... Lama engga kelihatan."


"Malam... Kamu lama tak kelihatan, balik kampung ya?"


"Iya om... Aku balik kampung, baru tadi siang sampe... " Aku menjawab.


"Oh.... Baiklah... " Jawab nya.


sebenarnya aku lupa siapa namanya. padahal ia pernah memperkenalkan diri. atau malah belum ya? yang jelas aku sering menyapanya.


"om saya tinggal dulu ya.. mau beli jajan ke Betamart... " aku berjalan menjauhi dari nya.


"ya... hati hati.... " jawab nya dengan datar.


aku keluar dari rumah, lalu aku berjalan ke ruko depan kost. jalan yang sama kulalui jika aku berangkat kerja.


tak ada yang berubah, namun aku senang kembali kesini. udaranya cukup bersih dan tidak seramai pusat kota.


aku masuk ke dalam Betamart. penjaga menyambutku dengan senyum ramah mereka.

__ADS_1


Aku langsung masuk ke barisan mie instan. Aku memilih harga yang ada di bawah tiap barang.


Semua berada di atas 10rb. Uang yang ada dalam saku celanaku tak akan cukup jika begini.


Aku terus melihat harga yang ada, hingga aku memutuskan mie cup ukuran mini. Terpampang harga nya hanya 4rb tiap cup.


Aku langsung tersenyum, lalu aku mengambil 2 buah. Aku menuju meja kasir dan meletakkan nya.


"Ini aja mbak? Ada membernya?" Tanya kasir pria di hadapanku.


"Ini aja mas, udah. Engga punya member mas... "


Pramuniaga menginput kode barang ke komputer di hadapannya. Aku mengambil uang dari saku celanaku. Lalu meletakkan di atas meja kasir.


Kasir mengambil uang ku dan mengambil kembalian dari dalam drawer Kasir.


"Kembalinya Mbak.. Terimakasih."


Aku menerima uang 2rb yang dia beri. "Makasih ya Mas.." Aku menjawab.


Kemudian aku membawa plastik putih kecil dan keluar dari Betamart.


Aku berjalan kembali ke kost. Aku menikmati suasana sore itu, udara yang selalu segar. Sesekali anak kecil bermain sepeda di dekatku.


sebenarnya perumahan ini tak sepenuhnya sepi. masih ada anak yang bermain tiap pagi dan sore hari. namun juga lebih banyak yang diam di dalam rumah saja.


aku melangkah ke arah gang kost ku. aku tersenyum dan menghirup udara sore yang menenangkan jiwaku.


Langkahku terhenti di depan kostku. Melihat seseorang yang tak asing dan yang aku tunggu.


memandang nya saja kadang membuatku menjadi es batu. semuanya rasanya dingin dan kaku lidahku.


bahkan tersenyum pun agak sulit. jika sudah tersenyum, aku sulit mengatur seberapa besar senyumku. meski aku selalu mengingkari dan berusaha biasa saja. namun.....


Aku melihat Yofie datang di hadapanku. Ia masih berada di atas motornya yang berwarna putih. Ia lalu membuka helm nya, dengan masih berada di atas motor.


seperti pembalap motorGp yang membuat perempuan tergila - gila. rasanya ia bersinar seperti cahaya yang silau.


Ganteng nya dia, amat gagah dan terlihat gentle. Aku sedikit menelan ludah dan terpana memandangnya.


Aku hanya diam mematung tak berkata. apalagi saat Yofie tersenyum kepadaku, lesung pipi nya menambah daya tarik nya.


harusnya pria seperti Yofie sudah memiliki kekasih. jadi buat apa aku harus terpana kepadanya.


lebih baik hanya aku jadikan 'pemandangan'. untuk menyejukkan kedua mataku.


Sebenarnya saat itu aku sudah mulai menaruh hati kepadanya. Namun, aku selalu berusaha menahan dan melupakan.


Masalalu selalu membuatku malas memulai suatu hubungan.


aku harus segera sadar dan membentengi diriku. lalu aku memandang jalanan dan menundukkan kepalaku.


Ini adalah caraku untuk membuyarkan pikiranku, agar aku tak terlalu jauh menanam rasa kepada Yofie.


Aku berjalan mendekati pagar, aku lihat dari ekor mataku. Yofie masih memperhatikanku, aku terus maju hingga Yofie menarik lengan kiriku.


Aku diam dan refleks membalikkan badanku. Aku melihat kedua matanya, berwarna coklat muda kedua pupil matanya.


aku harus berkata sesuatu. agar aku tidak menjadi aneh dihadapannya.


"Hallo kak... Gimana kabarnya?" Aku memulai dulu percakapan dengannya.


"Cathrine,, kamu engga bilang kalo datang. Kenapa? Kapan kamu dateng. Terus kamu ini dari mana?" Yofie meremas lenganku.


"kak sakit ka, maaf bisa lepasin tanganku..aku sampai tadi pagi kak, maaf aku engga bisa ngasih kabar ke kakak... Aku engga ada pulsa kak, jadi aku ga bisa balas sms kakak.. Aku dari sana kak Yofie, beli mie tadi. Kakak dari mana?" Aku mencoba menjawab Yofie dengan santai.


Aku tak bisa berbohong. Tangan ku rasanya dingin, baru kali ini aku mendapat pertanyaan detail dari lawan jenisku.


"Ya ampun, maaf Cathrine...." Yofie melepaskan lenganku.


"kamu bilang dong sama kakak. Aku khawatir kamu engga balik Cathrine. Hampir semua pesan yang kakak kirim tidak ada yang kamu balas. Oh iya buat nyambut kamu dateng.. Gimana kita makan malam? Kita makan di sana... " Yofie menunjuk tempat makan baru dengan logo bendera italia.


"Tempat baru ya kak? Aku kok baru lihat...makan malam, boleh juga kak." Jawabku, lumayan aku jadi bisa berhemat.


"Iya baru kemarin buka, pas kamu balik baru di beresin kalo engga salah.... Nanti jam 7 ya kita kesana..kakak penasaran soalnya walau engga antri selalu ada yang makan disana Cath..jadi harusnya rasanya Enak ya..." Yofie begitu bersemangat.


"Boleh deh kak, ehm jam 7 nanti ya.... Aku masuk dulu ya kak, mau naruh ini... See You kak... " Aku melambaikan tanganku.


"Sampai ketemu Cathrine.... " Jawab Yofie.


aku meninggalkan Yofie di depan. sebenarnya aku untung jika makan dengannya. aku tak perlu membayar makan malam.

__ADS_1


tapi, aku juga tak mau berhutang budi kepadanya. ia pria baik dan mapan, jujur saja aku sedikit merada rendah di hadapannya.


__ADS_2