CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
11


__ADS_3

Jessy masih melipat kedua tangannya. Ia mendengus dan menekan nafasnya. Begitu tak suka nya atas apa yang dilakukan Jimmy.


"Permisi mbak... sudah dapat nasi kotak?" Tanya Pak Teddy, yang muncul di samping Jessy.


"Hihhh apaan Sih!?" Jessy melotot ke arah Pak Teddy.


"Maaf nona Artis, sudah mendapat ini?" Pak Teddy membawa kotak berwarna hijau tersebut.


Jessy kemudian melihat sinis ke arah nasi kotak itu. Ia melihat kardus dengan warna hijau di bagian atas. Dengan tulisan 'Warpad - Sahabat'.


'cih, ini kan warung nya di Cathrine.'


"Maaf apa nona mau? Kalau tidak biar saya beri ke masyarakat sekitar saja."


Jessy lalu memandang Pak Teddy. Ia pun membuka mulutnya.


"Ada acara apa? Kok bagi ginian?" Jessy menunjuk dengan jari tangannya.


"Hari ini adalah hari ulang tahun anak Boss. Jadi ia membuat syukuran ke semua pegawai... " Jawab Pak teddy dengan halus.


"Apa? Bukannya Boss Jimm itu belom punya nikah? Dia udah punya anak?" Jessy tak mempercayai pria yang ia jadikan target, ternyata seorang ayah.


"Iya, ada anak laki - laki. Makanya, silakan di terima... " Pak Teddy lalu memberikan kotak nasi tersebut.


Ia pun meninggalkan Jessy yang masih kebinggungan. Lalu membagikan kembali sisa nasi ke warga sekitar.


"Sini Je, kita makan bareng.... " Ucap salah seorang pemain disana.


Jessy pun menyusul duduk disana. Ia lalu duduk di tengah pemain lain dan mulai makan bersama.


Sebenarnya dalam hatinya, ia senang mendapat nasi tersebut. Bukan masalah apa, tapi memang rasa masakannya enak. Tetapi rada gengsi nya lebih besar dari apapun.


********


"Uni, semua sudah beres. Saya balik dulu ya..." Cathrine berkata sambil mengambil tas slempang warna coklat tersebut.


"Tunggu nak.... Ini ambil dulu.... " Uni memberikan beberapa lembar uang berwarna biru.


"Banyak sekali Uni? Tak salah ini?" Cathrine menerima sambil terpana.


"Indak... Ini kan gaji mingguan dan bonus karena lembur hari ini. Doakan saja kita sering dapat borongan macam ini.. Jadi Uni bisa kasi lebih buat kamu.... " Uni berkata sembari sibuk mengelap wadah besi yang telah di cuci.


"Terima kasih sekali Uni.... Uda.... Terima kasih.... " Cathrine hampir menangis. Ia tak sanggup menahan betapa beruntungnya dirinya.


"Sudah pulang lah, biar Uda lanjut bantu Uni.... " Uda tiba - tiba muncul dari dalam dan membawa barang - barang mereka.


"Iya kami juga mau pulang.. Besok kita libur, kamu kalo mau pergi silakan. Nikmati masa muda lah dengan kawan." Kata Uni.


"Baik Uda, Uni... Saya pulang ya.... Dadaaahh.... "


Aku pun berjalan menuju lapangan di belakang. Sore itu cuaca lumayan cerah. Aku juga bersemangat karena Yofie mau mengajakku nonton.


Sebenarnya ini kali pertama ku menonton bioskop dengan lawan jenis. Aku tak pernah bisa pergi karena papa. Papa begitu menjagaku dengan hati - hati.


Pulang hingga pukul 9 pun aku tak bisa. Apalagi berfikir untuk punya pacar.


Papa begitu selektif terhadap lingkungan pertemanan. Jika papa tidak mengenal orang tua dan rumah temanku. maka papa pasti melarang ku untuk pergi.


Sejujurnya aku iri kepada teman ku. Masa SMA mereka bisa pergi dengan bebas.


Aku berangkat dan pulang sekolah, papa yang mengantar. Aku kursus mata pelajaran juga memanggil guru ke rumah.


Jika aku pergi dengan Adikku, Ghea. Papa baru bisa sedikit lega dan tidak banyak menganggu dengan sms dan telpon nya.


Aku berjalan santai sambil mengingat. Jika sore seperti ini, aku pasti mengajak Ghea pergi. Entah hanya membeli bakso atau berkeliling saja. Aku amat rindu sekali dengan Adikku.


Baru kali ini kami terpisah selama beberapa bulan. Biasanya kami selalu kemana pun bersama. Bahkan kami di kira anak kembar.


Aku tak sadar sudah sampai di halaman depan kost. Aku lihat Yofie sudah siap dengan motor nya.


Motor sport dengan warna putih. Motor yang cocok dengan Yofie. Tinggi, gagah dan murah senyum.


"Udah balik?" Tanya Yofie.


"Iya kak, aku ganti baju dulu ya. Bau minyak sama daging... " Aku berjalan saja masuk.


Entah aku merasa aneh saja. Mengapa aku bisa bersikap 'biasa aja' kepada Yofie. Padahal beberapa teman ku dari management artis yang datang. Selalu saja menebar pesona dan menarik perhatian yofie.


.


Aku masuk ke dalam kamarku. Lalu aku membuka koper berwarna hitam di samping ranjangku.


Aku memilih baju berwarna putih dengan logo khas Pol*. Kaos ini adalah kaos mahal yang aku pernah punya.


Bahkan aku membelinya saat aku mendapat gaji pertamaku dari lomba. Pada saat itu, pertama kali nya aku berani mengikuti lomba memasak di sekolah.


Ternyata hal tersebut membawaku menjadi juara pertama. Hadiah yang aku terima pun berupa voucher belanja. Betapa senang nya aku pada saat itu.


Aku bisa membelikan pakaian untuk kami sekeluarga.....


.


Aku melepas ikat rambutku. Lalu aku menyisir rambutku.


"Astaga!! " Aku kaget melihat pangkal rambutku.


Sudah mulai di tumbuhi oleh rambut asliku. Rambut ikal yang aku benci!

__ADS_1


Ya aku langsung mengambil lagi karet dan mengikat rambutku. Setidaknya dengan begini rambutku masih terlihat lurus.


Aku langsung memulas pipiku. Lalu aku menggunakan lipgloss dengan warna pink.


Aku menyemprotkan minyak wangi reffil di mall. Baunya seperti bunga, namun ini bukan bunga mawar. Bunga daisy atau bunga lain yang tak aku paham. Tapi aku suka aroma yang di hasilkan.


Aku langsung mengambil tas ku. Kemudian aku mengambil sepatu flat ku yang berwarna coklat muda.


Senada dan simple untuk outfitku sore ini. Aku pun keluar dari kamar dan menyusul Yofie ke teras.


Disana Yofie sedang duduk dan memutar musik dari ponselnya. Aku dengan musiknya seperti lagu pop yang sedang hits.


"Kak... Udah nih, jadi kan?" Aku berdiri di samping Yofie.


"Oh, ayo aja... Kamu, pake ini ya... " Yofie memberi helm berwarna putih kepadaku.


Aku menerima namun juga bertanya. Helm punya siapa ini? Dan sepertinya ini baru dan mahal..?


"Helm siapa kak?" Aku bertanya ke arah Yofie.


"Helm ku... Baru kok itu, biar bisa kamu pake... Udah siap? Ayo kita cabut... " Yofie mengambil helm dan berjalan ke arah motornya.


Aku menyusul di belakang Yofie. Ia sudah bersiap di posisi kemudi. Namun, aku masih binggung bagaimana aku harus naik?


Motor ini tinggi, sedang aku pendek. Aku sedang mengira dan menerka bagaimana aku naik.


"Kenapa?" Tanya Yofie.


"Gimana naik nya kak?"


"Ha ha haa... Kamu belum pernah boncengan naik motor cowo ya?"


Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


"Sudah ini ada footstep. Kamu naik kaki kiri disini.. Terus kamu pegang pundakku, kamu angkat kaki kananmu.. Udah kamu naik tinggal duduk.. Ya... " Suara Yofie begitu lembut.


"Iya kak, sebentar ya... " Aku lalu melakukan apa yang Yofie katakan.


Semua begitu cepat, dan aku duduk dengan benar dan nyaman.


"Sudah kak... " Aku berkata agak lebih keras.


"Pegangan yaa... Aku jalan... " Yofie mulai menjalankan motornya.


Aku sempat kaget dan langsung memegang erat baju Yofie. Kami pun mulai perjalanan kami.


Sebenarnya dekat kost dan mall yang kami tuju. Namun karena dekat dengan lampu merah yang ramai. Yofie lebih memilih menggunakan helm demi keselamatan kami.


Saat kami berhenti di lampu merah. Aku melihat ke arah spion, aku melihat wajah Yofie. Ia tersenyum kepadaku, dan aku pun membalas senyum nya.


Kami tiba di mall tersebut. Sebut saja Junction Center, kami pun berjalan setelah selesai parkir.


Yofie berjalan persis di sampingku. Tapi kami tetao tidak bergandengan tangan.


Aku merasa aneh saat itu. Sesekali aku merasa tangan Yofie menyentuh tanganku.


Tapi aku malah menarik tangaku. Aku memilih memegang tali pada tas slempangku.


Kami mendapat kursi dengan kode G10 dan G11. Aku pun duduk sambil menunggu film mulai.


"Popcorn, soft drink.. Pahe..pahe.. Cuman 10rb..." Salah satu petugas berkeliling dan menawarkan pada kami


"Dua ya mbak... " Yofie melambaikan tangan ke petugas terrsebut. Ia kemudian menyusul ke arah petugas itu berdiri.


"Nih... " Yofie memberiku satu paket tersebut.


"Makasih ya kak... Ini aku ganti... " Aku menyodorkan uang pecahan 10rb.


"udah simpen aja, buat bayar parkir atau makan aja... " Yofie tersenyum kepadaku.


"Kak Yofiee..... " Aku refleks menjawab dengan suara manja. Sepertinya aku terbawa suasana sekitarku.


Saat itu banyak pasangan yang datang untuk sekedar menonton. Namun, sepanjang film kami tidak melakukan apapun. Hanya fokus pada film yang sedang diputar.


Aku risih mendengar orang di sampingku. Mereka bercum** dengan terang - terangan. Aku pun sedikit bergeser ke arah Yofie.


Yofie pun menyadari dan menggeser sedikit tangannya. Kami melanjutkan lagi ke layar bioskop.


Saat sceen yang romantis. Aku merasakan seperti tangan Yofie berada di pundakku.


Aku pun refleks menoleh ke arah kiri. Yofie langsung menarik kembali tangannya.


"Maaf.... " Ucap Yofie.


Aku hanya diam dan kembali menonton film tersebut.


.........


"Cathrine, mau makan apa?" Yofie memberi helm kepadaku.


"Apa ya kak? Aku engga ada ide nih. Soalnya juga aku engga paham daerah sini.... Ngikut aja deh... "


"Baiklah, ayo naik... " Yofie mengajakku pulang.


Kami menyusuri jalanan yang ramai. Aku baru kali ini merasakan malam minggu di dekat kostku.


Ternyata suasanya lumayan ramai. Banyak anak muda yang berkumpul disana.

__ADS_1


"Rame ya kak.... Aku baru kali ini jalan pas malem minggu... " Aku memecah keheningan kami.


"Ii.. Iya Cath, sama... Kakak biasa malah cuman di kamar bikin program... "


"Sama dong kak... Hahaa... " Dan kami pun tertawa bersama.


Yofie menghentikan motornya di depan warung tenda. Tertulis 'Mie & Nasi Goreng' di tenda tersebut.


Aku pun turun dan melepas helm ku. Lalu aku memberi ke Yofie, agar ia bisa meletakkan di atas spion motor.


"Makan disini ya Cath?"


"Boleh kak... Kayanya juga engga terlalu rame kok... " Aku pun langsung masuk ke dalam.


Kami memilih tempat yang dekat dengan jalan keluar. Malam itu udara agak lebih panas. Sedangkan tenda tersebut tidak memiliki kipas.


Aku duduk sambil membuka ponselku. Siapa tau ada tawaran atau keluargaku mencariku......


Namun tak satupun yang mencariku. Aku memasukkan kembali ponselku.


Yofie datang dan duduk di hadapanku. Ia memberi ku sebotol air mineral.


"Makasih kak Yofie ... "


Yofie hanya mengangguk dan ia langsung minum air mineral miliknya. Aku hanya membuka tutup milikku dan meletakkan nya. Aku lebih suka minum dan langsung makan.


Jika aku minum terlebih dahulu. Perutku akan lebih kenyang dan aku pasti tidak makan apapun.


Tak berapa lama pelayan pun datang. Ia membawa dua mie goreng. Kemudian meletakkan di atas meja kami.


"Makasih mas.... " Yofie berkata kepada pelayan tersebut.


"Kayanya enak kak... Baunya enak gini kok.... " Aku mencium aroma yang amat nikmat.


"Iya Cath, ini langganan kakak dari jalan masih sekolah. Cuman kakak ga tau kok engga rame kaya sebelah... "


Memang warung sebelah itu bisa begitu ramai pembeli. Sampai banyak orang yang rela mengantri berjam - jam.


"Iya ya kak... Sudahlah... Mari makan.... " Kami pun berdoa terlebih dahulu sebelum makan.


Aku mengambil sendok dan meyuap mie tersebut ke mulutku. Uhm.... Memang enak dan rasanya pas di mulutku.


Selera makan yofie memang cukup bagus. Aku jadi mendapat referensi tempat makan lagi.


Jarak pun aku kira tidak terlalu jauh dari kost. Bisa aku ulang kembali membeli disana.


......


Aku menunggu Yofie di parkiran. Ia bilang kalau aku menunggu di depan saja. Tak lama Yofie menyusulku dan mengajakku pulang.


"Berapa kak tadi punyaku?" Aku berkata dengan suara pelan ke arah Yofie.


"Kakak lupa, udah ayo pulang. Anginnya kencang, kalo hujan kamu bisa sakit.... "


Kalimat Yofie.... Membuatku... Malu..


Entah hatiku menjadi berdebar dengan apa yang di katakan oleh nya.


Aku pun tersenyum dan naik ke atas motor. Sisa perjalanku, aku habiskan dengan sesekali melihat ke spion. Aku mencuri - curi kesempatan memandang Yofie.


Aku akui lumayan juga wajahnya. Tapi kenapa dadaku jadi sesak? Jantungku rasanya tak beraturan... Tanganku juga menjadi dingin dan kaku...


Aku membuang nafas beberapa kali. Aku tak ingin Yofie mengetahui apa yang aku rasakan.


Aku segera bediri dan mengganti bajuku. Aku memilih menyeka tubuhku dengan air dan sabun.


Aku biasa melakukannya saat malam hari. Biasa aku lalukan agar aku bisa tidur dan tidak sakit.


Saat aku sedang mengeringkan rambutku. Aku melihat pantulan air hujan dari bayangan di atas kaca. Derasnya malam itu, aku hanya berharap Jessy pulang dengan aman.


Tok... Tok.... (Suara pintu kamarku).


"Iya sebentar.... " Aku menjawab.


Lalu aku berdiri dan membuka pintu. Kagetnya diriku ternyata ada Yofie di hadapanku.


Ia mengenakan kaus polos putih dan celana tidur. Lalu ia membawa gelas berewarna biru di tangannya.


"Belum tidur kan? Ini teh madu, bagus buat imun.. Kakak bikin buat kamu... "


"Hah? Makasih kak, malah ngerepotin kakak.. Oh iya makan malam tadi aku ganti berapa kak?"


Yofie membetulkan kacamatanya yang melorot. "Tidak usah, kan kakak yang ajak kamu pergi. Jadi tanggungan kakak semua yang kamu beli... "


"Hehe... Gimana ya... Jangan gitu kak, aku malah engga enak sama kakak... Besok lagi gantian ya kak... "


"Iya, ini teh nya kamu minum dulu ya.. Kakak tinggal ya, mau ngelanjutin kerja. Nanti gelas kotornya taruh di meja makan aja. Biar kakak yang cuci aja... "


Aku pun menerima gelas tersebut. Lalu Yofie meninggalkanku, ia naik ke lantai 2.


Kamarku persis berhadapan dengan ruang TV dan tangga naik. Biasanya Adik dari Ibu kost duduk dan menonton TV hingga pagi.


Namun saat itu keadaaan sepi. Hanya hujan dan angin yang menemaniku.


Aku pun kembali ke dalam kamarku dan mengunci pintu.


Aku pun mencoba Teh yang di beri oleh Yofie. Hmm... Harum dan hangat rasanya.

__ADS_1


__ADS_2