
"Ga masalah, gw to the point ya. Ini undangan lo... " Stacy memberiku undangan atas nama kami.
Jimmy hanya melirik ku dan kembali mengamati Yofie.
matanya tak bisa menipu ia memiliki rasa cemburu.
Aku melihat tanggalnya, rupanya weekend ini. Aku mengangguk dan membawa undangan itu.
'aku ga pengen komen apa pun. Rasanya sedikit sakit di dada ini... ' Aku berbicara dalam hati.
Rasanya kikuk dan aneh, apa sebaiknya aku memulai pembicaraan ini ?
"Kayanya udah engga ada yang perlu kita bicarain lagi. Kami duluan ya, selamat sore... " Jimmy lalu meraih tanganku dan membawaku pergi menjauh.
Aku enggan menoleh kebelakang. Melihat pria yang selama ini baik. Tapi....
Kebaikan itu palsu rupanya. Ia bahkan tetap menikahi stacy.
bahkan jika Yofie jujur mengatakan perasaannya. Ia pasti sudah mempertahankan ku.
Entah kemana jimmy membawaku, aku berjalan dalam lamunanku. Hingga aku sadar! Kami duduk di salah satu cafe yang menjual ice cream. Jimmy lalu datang membawa 2 pot ice cream.
Aku mengambil vanila dengan topping rice ball. Jimmy memakan yang rasa chocomint .
"Kamu pasti lagi sedih... " Jimmy memulai.
"Sedikit..... " Aku menjawab singkat.
"Normal kok... Kalian kenal lebih dulu, pernah tinggal bareng beberapa bulan... Pasti.... Intinya aku cuman mau mengingatkan. Kamu itu milik ku!" Jimmy berkata sambil menekan - nekan ice cream nya. seperti anak kecil yang sedang marah.
"Tapi kami ga pernah tidur bersama. Bahkan dia tak pernah mencoba menyentuhku. Bukannya pria seperti itu adalah pria yang baik?" Jawaban ku enteng tanpa berfikir.
Perkataanku membuat Jimmy tersentak. Kasar? Sedikit. Alam bawah sadarku yang berbicara....
Aku hanya berusaha jujur dengan hatiku...
"Tapi, dia juga pria yang engga mau berusaha mendapat apa yang dia mau. Hanya menuruti kemauan ibunya. Apa yang dia pengen aja ga bisa di perjuangin. Pria lemah... " Jimmy membela diri sambil menahan emosinya.
"..... " aku diam dan memikirkan apa yang lalu antara yofie dan diriku...
"Kamu tu ngelamun.. Habiskan cepat, aku lapar... " Jimmy membuyarkan lamunanku.
"Kita beli cincin yuk... Biar kaya anak yang lagi pacaran... Biar seakan - akan kamu adalah calon suami aku..." Aku berkata lagi dalam pandangan kosong.
"Jangan bilang setelah ini kamu minta kita kembaran baju, celana, tas... Menjijikan... " Jimmy membayangkan dengan wajah jijik.
"No.... Tidak.... Cincin saja, biar kalo aku ada apa2 cincin itu bisa aku jual lagi kan..?" Jawabku.
Jimmy melonggo mendengar perkataanku. "Repeat again....please honey..?"
"Yea, if someday ga tau kapan... Aku udah engga sama kamu.. aku susah dapet duit.. Itu bisa aku jual kan? Daripada aku menambah hutang. Lagi pun, aku engga kepikiran jadi simpenan..masuk akal kan..? " Aku menjelaskan.
Jimmy mengangguk sambil menggaruk alisnya. Ia tak pernah berfikir bahwa aku serealistis itu sebagai perempuan.
"Bener kan Jimmy?" Aku kembali bertanya...
"Ya.. Ya... Yaaaa... Ok... Sudah ayo, aku lapar... " Jimmy lalu berdiri dan aku menyusulnya.
Ia merangkul pundakku agar aku lebih dekat dengan nya. Aku binggung, apa ini rasanya pacaran?
Seperti orang di samping kami. Ia bahkan memperlakukan dan menyentuhku dengan lembut. Membawaku pada realita kehidupan.
"Honey... Kalo suatu saat kamu menemukan pria yang lebih baik dari aku... Kamu boleh pergi kok...." Ucap Jimmy dengan lirih.
"Hmm.... " Aku hanya mengangguk.
"Uhm.. Kenapa kamu engga komen? Aku dengar dari Louise itu bisa memancing reaksi bagi perempuan... " Jimmy menunduk melihat kepalaku.
(Ya karena aku lebih pendek darinya.)
"Ya karena kita bukan pacaran yang pake hati atau orang yang saling cinta kan?" Aku melirik ke wajahnya.
"kalaupun kita pacaran yang saling cinta. aku cuman percaya kalo pria benar mencintaiku, ia tidak akan pernah melepaskan ku dengan orang lain. berarti kalimat tadi adalah, aku engga beneran ada di hati nya... cuman jadi hiburan dan taman bermainnya..... " aku berkata sambil memandang Jimmy.
Jimmy diam sesaat, seperti nya aku salah bicara lagi. Atau yang aku katakan terlalu frontal?
"Jimmy, sakit pundakku. " Aku menunjuk ke tangan nya yang meremas lenganku.
"Aku marah, karena aku pengen ngomong jujur ke kamu.... " Jimmy tajam menatapku.
*******
Ia menurunkanku di lobby apartemen. Jimmy pergi tanpa berpamitan ke padaku.
Aku menghela nafas sambil memandang mobilnya yang perlahan menjauh dan hilang di belokan ujung tower kami.
'aku kok sedih ya melihat nya meninggalkan ku tanpa kata.' aku berbicara dalam hati.
"Di drop nih, pasti di tinggal nemuin pacarnya... " Suara yang sepertinya aku biasa dengar.
suara seseorang yang selalu memancing emosiku.
Aku menoleh ke belakang, Benar kan!
__ADS_1
"Kenapa si mulut loe tu engga pernah enak kalo ngomong soal hubungan gw? atau soal kehidupan gw." Aku membalas Nicky.
"Engga... Gw cuman jujur aja, kasian. Perempuan baik - baik kaya lo bakal engga di anggap keberadaannya." Nicky lalu mematikan rok*k nya.
Ia mendekatiku, aroma tembakau yang membuat sesak nafasku menyeruak. aku terbatuk menghidup aroma yang keluar dari mulut Nicky.
"Lo jangan deket - deket, nafas gw berat nyium bau rokok." Aku berkata ketus sambil tanganku mengipas agak aroma tersebut sedikit hilang.
"Hmm.... Gw cuman mau bilang.. " Nicky memandang sinis.
"Lo mau bilang puluhan kali pun sama gw. Engga peduli! Lo engga ngerti keadaan gw dan lo itu ga tau siapa gw dan pria itu. Berhenti lah berspekulasi sendiri....
Kalo pun lo mau ngomong ke gw atau ngasih advance ke gw! Please ajak gw ngomong baik - baik dengan bahasa yang enak buat di denger. Paham!"
lalu aku membalikan badan, menghela nafas dan bersiap naik ke lantai 10.
"gw cuman mau ngomong, gw kenal kok siapa dia. gw juga sering ketemu Jimmy Yo di Club dengan wanita lain.... lo juga harus tau, kalo dia uda punya tunangan. keluarga Jimmy engga akan membiarkan Jimmy dapet perempuan biasa... " Nicky berbicara dan aku membelakanginya.
"mau lo tau soal dia, mau gimana pun dia. yang gw pahan dia bisa buat gw nyaman dan menghargai gw. bahkan dia tahu cara ngomong ke perempuan itu seperti apa.... " jawabku sesaat sebelum lift terbuka.
Lalu aku meninggalkan nya. Aku lelah menghadapi pria aneh.
Ya.. Hari ini penuh sekali pria yang bersikap aneh.
Aku lalu meletakan tas tanganku. Membanting tubuhku ke sofa di depan tv.
Aku pun menyandarkan kepalaku, hari yang aneh!
Pria itu emang semua sama ? atau kebetulan yang aku temui mereka yang aneh saja.
aku memandang jendela luar. suasanya gemerlap lampu. tapi sendiri seperti ini rasanya sepi ya.
sesekali aku melihat ponsel. tak ada satu pun pesan dari nya.
aku mulai berfikir apa benar Jimmy ke Pub. lalu banyak wanita dengan pakaian seksi mendekatinya.
lalu mereka pergi bersama..
aku langsung membuyarkan khayalan liar ku.
"Jimmy ga akan gitu Cathrine!" aku berbicara sendiri menenangkan diriku.
**********
Jimmy memilih duduk dekat meja Bar. ia menyendiri agar pikirannya agak tenang.
takut kehilangan Cathrine, juga takut kejujurannya malah membuat nya ingat dengan kenangan buruk itu.
"Mira... aku harus apa?" Jimmy berbisik.
ia pun duduk di samping Jimmy. Bartender yang sudah hapal meletakan gelas di hadapannya.
"ruwet kepala ku.." Jimmy refleks berkata.
"gara - gara cewek itu kah? rupanya udah mulai kena ucapan sendiri... " louise mulai mengambil gelas dan meminum nya.
"gw takut, kalo ternyata gw mulai engga bisa ngontrol perasaan gw ke dia. gw takut... " pandangan Jimmy kosong.
"Lo bilang mau menikmati.. Yaudah nikmatin aja sewajarnya dia.. Pun tante dan om ga pernah nanyain kan soal kalian?"
Mereka diam dan berusaha menikmati suasana pub yg cenderung sepi.
"kenapa gw malah bikin rumit semua nya.... kebohongan gw soal status kami dan keinginan gw ketinggian soal Cathrine.... "
"no... engga... lo cuman menyiapkan senjata ampuh buat keluarga Lo.. rumit di awal. tapi, gw percaya kalian bisa kok melewati. keluarga juga akan menerima Cathrine.... udah.... nikmati aja dulu, selagi kalian bersama kaya orang pacaran... " Louise enteng menjawab Jimmy.
Jelas dari jauh tampak seorang gadis. Seumuran rasanya dengan Cathrine.
pantulan kaca di hadapan mereka merekam jelas wanita itu mendekati mereka.
Makin dekat, makin jelas itu Jessy.
riasan menor dengan baju yang amat kurang bahan. seksi? tidak menurut kedua pria itu.
"Hallo kakak... Boleh gabung dong... " Jessy berdiri di antara Jimmy dan Louise.
Rupanya mereka bosan dengan kecentilan Jessy. Bosan pula dengan pemandangan malam itu.
Mereka berdiri lalu pergi berlalu meninggalkan Jessy.
Wanita itu rupanya tak kehilangan akal. Ia lalu menarik tangan Jimmy dan pura - pura terjatuh.
Ia berharap Jimmy akan menahan dan tak membiarkan jatuh ke lantai.
Yah.. Itulah yang ada dalam khayalannya.
Tapi,
"Brukk... Aduuuhhh!!!" Jessy berteriak.
Ia terjatuh di belakang Jimmy. Tepat beberapa inch dari Jimmy berdiri.
Louise yang pertama melirik hanya tersenyum. Jimmy melihat dari pantulan kaca di hadapannya.
__ADS_1
Enggan baginya membantu perempuan murah seperti Jessy. Bahkan ia masih mengingat jelas perlakuan Jessy kepada istrinya.
Mereka memilih pulang saja. sudah banyak pria yang membantu Jessy berdiri.
'sialan! udah jatuh malah mereka pergi lagi!' Jessy mengumpat dalam hati.
ia tetap memberi senyum manis ke pria di sekitar yang membantu nya tadi. ia selalu menjaga image sebagai wanita yang ramah dan cantik.
Budiawan memandang dari salah satu sudut. menonton pertunjukan yang membuatnya tertawa.
ia sadar Jessy tak akan puas hanya dengan seorang pria. lebih tepat nya, Pria Tua yang membantu nya sejauh ini sebagai artis.
Budiawan pun paham, Jessy mengincar Jimmy. sayang Jimmy lebih memilih wanita polos kampungan macan Cathrine.
"bagaimana pak? kita kesana? pengamanan?" ucap pria tegap di samping Budiawan.
"engga perlu, itu salah dia. wanita bodoh."
Pria tegap itu hanya mengangguk dan kembali di posisi Siap nya.
"menurutmu, wanita itu dengan istri Jimmy. mana yang kamu pilih?" Budiawan memancing.
"kalo saya.. ya.. hehe.. jelas mbak Jessy. udah cantik, body nya bagus dan engga kampungan..."
budiawan tersenyum sungging dan menghembuskan asap dari cerutunya.
"selera mu rendah. kalau saya memilih wanita polos itu... makin polos makin membuat ku berhenti bermain perempuan.. . oh.. . i see....paham kenapa Jimmy memilih wanita itu daripada boneka di hadapanku.. . " Budiawan sadar.
Jessy memang cantik, tapi kecantikan nya semu.
*****
Matahari sudah mulai muncul, pantulan dari celah jendela membuatku perlahan membuka kedua mataku.
Aku terbangun dan...mendapati Jimmy ada di sampingku. aku ingin tertawa tapi aku malu jadi aku mencoba menahan bibirku agar tidak tersenyum.
Aku memiringkan tubuhku agar dapat melihat wajah Jimmy dari dekat dan lebih jelas.
Wajahnya memang apa adanya. Alis tebal, rahang yang tegas dengan bibir merah alami. kulit nya tidak terlalu pucat.
aku masih tidak percaya bisa bersama pria seperti Jimmy. Bahkan keluargaku tidak melarangku hidup bersama Jimmy.
Aku perlahan mendekati wajah nya. Aku ingin melihat lebih jelas pria ini. Seumur hidupku baru kali ini aku memiliki hubungan dengan pria sekelas Jimmy.
kadang aku pikir, aku hanya mimpi....
Jelas tergolong tampan di banding dengan teman sepantaranku. Ia pun dewasa dan mapan, pasti banyak wanita yang mengincarnya. contoh nya Jessy dan wanita dengan wajah timur tengah itu.
bahkan aku lupa siapa nama nya....
"Kalau mau mencium ku maju aja gapapa... " Jimmy membuka suara. Namun kedua matanya masih tertutup.
Aku agak mundur menjaga jarak dengannya. Aku malu dan enggan membuat Jimmy besar kepala...
Tangan Jimmy malah menahanku. Ia memelukku, wajahku masih terhitung dekat dengan posisi awalku.
"Aku lebih suka rambut keriting yang menyambutku.... " Jimmy membuka kedua matanya, lalu membelai rambut bagian depan ku yang menutup sedikit dahiku.
"Jadi aku tidak bagus ya? Atau aku lebih cantik dengan rambut ikal mengembang?" Aku malah membalas dengan tatapan manja.
"Apapun ....aku rasa nyaman untuk ku lihat. Yang jelas aku suka membuka pagi ku dengan memandang wajah polos mu... " Jimmy membelai kedua pipi ku.
"jadi sebenarnya aku cantik atau tidak dengan rambut lurus ini??" aku bertanya.
"kalau cantik, semua wanita punya sisi cantik nya... hanya saja, melihat wajah mu ini... selalu memberiku perasaan yang berbeda... " Jimmy mencoba merayu.
"Jimmy.. Jangan gini.. Aku bisa kebawa per... " Aku belum menyelesaikan kalimatku.
Jimmy sudah lebih dulu mencium bibirku. Pertama kali nya di pagi hari kami berciuman. Lebih tepatnya saat bangun tidur, tanpa mengosok gigi dulu.
Sesungguhnya aku malu dan merasa terganggu. karena aku merasa bau mulut kita tidak enak. Tapi rasanya kok beda ya?
uhm...Hangat dan belaian tangannya pada pundaku membawa rasa panas. Nafasku pun agak cepat mengimbangi ritme Jimmy.
Ya, kami melakukannya (lagi).. Hal Tabu yang selalu membawaku ke rasa bersalah dan lembah dosa. Kami bukan suami - istri, tapi hubungan ini....
ia membawaku pada situasi rumit..
saat semuanya sudah selesai, ia lalu memelukku dan mencium keningku. Dada ku rasa nya campur aduk.
pikiranku tak kalah rumit. Jika aku lihat Jimmy lebih santai dengan keadaan ini. apa faktor usia yang membuatnya tenang?
jujur saja... Aku ingin bertanya apa benar yang nicky sampaikan semalam?
Aku takut jika benar aku akan kehilangan Jimmy.
Aku mulai merasa ingin tahu jauh ke dunia Jimmy. aku juga tidak rela melihat nya dengan wanita lain.
membayangkan saya sudah membuatku marah...
'Eh, jangan.. tidak..tidak boleh Cathrine ! Jimmy selalu berbicara soal batasan.' Pikiranku mencoba mengatur agar hatiku tenang.
Aku... Aku engga mau Jimmy meninggalkan ku..
__ADS_1
Apa aku mulai jatuh cinta ke Jimmy?