
Aku masih malas membuka kedua mataku.. badanku rasanya capek sekali, apalagi kedua mataku, berat sekali.
Namun suara gaduh di dekatku membangunkanku. bukan gempa tapi, seperti orang yang menggila.
Aku membuka kedua mataku, menyingkirkan selimut yang menghangatkan badanku.
Aku membersihkan kotoran di mataku, sialan semalam aku menangis. Seluruh air mataku kering.
rupanya itu Jessy, ada apa ini?
"Jess.... Baru pulang?" Aku menyapa Jessy, aku melihatnya membating tas dan duduk di meja rias.
"Iya, maaf membuat kamu bangun. Aku cuman pengen aja balik kesini...lagi pula aku masih punya hak tinggal disini.. " Jawab Jessy
"Kenapa kamu ngomong gitu Jes? Kamar ini kan kita berbagi.. Memang aku tidak membayar dalam beberapa bulan ini. Tapi, aku sudah menabung kok. Untuk gantian membayar... " Aku menjawab.
Kesal rasanya mendengar Jessy berkata demikian. Memang aku tidak punya uang. Tapi bukan dia bisa seenaknya sendiri dalam berkata - kata.
"Menabung? Lo itu naif! Bilang saja kamu mencoba merayu Yofie untuk tinggal gratis. Lo itu cuman pelayan warung! Berapa bayaran Lo!" Nada Jessy meninggi.
"berapa sih bayaran lo? buat pergi ke salon aja ga punya duit. sok mau bayar kost, lo ya, cantik aja engga... "
Aku hanya menunduk mendengar semua perkataannya. Memang benar apa yang ia bilang. Tapi...
Apa harus sekasar ini?
"Lo denger Cath! Gw kesel sama lo! Inget ya, gimana Jimmy engga nganggep gw ada. Itu gara - gara siapa? Tau lo!? sakit Hati gw! engga pernah gw di abaikan cowok! beraninya orang model lo nyingkirin gw!" Jessy berbicara sambil menahan untuk tidak menangis.
Aku hanya mampu mengelengkan kepala. Sebenarnya aku binggung kenapa aku sedih....
jelas ia menghinaku, memang fakta yang ia katakan. tapi sebagai teman, bukannya tak perlu berkata demikian?
Sepintas aku berfikir, bagaimana jika Jessy mengetahui keadaanku dengan Jimmy. Jika sampai ia tahu, bisa makin menggila Jessy.
tenang Jess, suatu saat kamu juga aku yakin akan mengetahui. tapi aku harap kamu bisa menerimanya.
"kenapa lo liat gw! mikir apa lo? Gw itu kurang apaaa ke lo, Cath? Lo engga di ajak syuting, gw ngajak... Lo ga bisa tinggal sama tante Rose.. Gw ngajak lo disini.... Kenapa?? Kenapa Jimmy sampe engga ngelihat gw barang sebentar..... " Jessy makin serius menangis.
"....... " Aku masih belum berani menjawab. Apalagi ini masih pagi, aku belum bisa berfikir jernih.
aku salah bicara ia bisa makin aneh.
"Jawab Cath! Jangan kaya patung lo!" Jessy meninggi suaranya.
"Ehm... Gw engga tahu harus jawab gimana. Yang gw tahu, Jimmy emang orang baik.. Dan kalo orang baik.. Kita membalas baik juga seharusnya.... soal engga ngerespon atau liat ke lo....gw ga paham dan gw engga merasa apa - apa.." Suaraku parau.
"Apa..? Baik? Iya dia baik, tapi hanya ke lo doang!bayangin, gw udah maksimal buat tampil di depan dia.."
"Engga... Jimny sama semua orang dia baik kok, bukan sama gw doang.. Apalagi kita makan aja kemarin dia bebasin mau apa aja.. Sudah lah Jess... Lo jangan kebawa perasaan sampe gini.... Gw engga bisa kalo kita harus berantem akan hal yang engga penting... "
Jessy menghapus air matanya, ia mencoba menyeka semua air mata yang keluar.
"Benar.... Lo benar.. Buat apa kita debat, mendingan kita bersaing buat dapeti Jimmy. Itu adil!" Jessy mulai berkata.
Aku diam dan menutup rapat mulutku. Seperti nya ada pikiran nya ada yang tidak benar.
"Buat? bersaing?" Aku bertanya
"Ya kita bersaing siapa yang bisa bersama Jimmy hingga tidur bersama dia... Maka dia menang dan kita ga boleh merebutkan Jimmy lagi.
kalo gw sampe menang, lo harus pergi dari sini!"
Aku berdiri dan memasang wajah kesal ke Jessy.
"Sudah? Lo sadar ga sih? Ini masih pagi. Gw paham badan lo bau alkoh*l! Tapi berebut Jimmy? Please! Gw masih punya hal lain buat di urus! Bukan soal cowok mulu! Kalo sampe lo mikir ya....
Buat berebut! Ambil sana, gw capek dan males berkompetisi..
gw bangun pagi cuman buat bahas giniaan. konyol!!"
Aku lalu meninggalkan Jessy.
Aku keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu. Ada diam saja melewati adik tante kost yang menonton tv di depan kamarku.
Aku kesal, apa sih dia? Masih pagi gini sudah ribut. Soal cowok mulu.. Emang engga ada hal lain?
Aku masih mengantuk pula, bersaing? Hari gini!
Hampir semua pria itu suka sama Jessy. Kurang apa?
Aku ini apa? Ya cuman orang biasa. Rambutku yang ujung mulai keriting saja belum aku luruskan. Wajahku saja ada bekas jerawat.
Kakiku apa lagi banyak bekas luka saat jatuh naik sepeda. Tanganku? Tidak mulus, ada bulu tangan tipis.
__ADS_1
Jarang pria yang mau melihatku. Konyol Jessy!
"pagi hari udah keliatan kesel Cath..pagi yang Ramai rasanya hari ini. " om Rudi menyapaku.
Aku langsung merapikan rambut dan posisi dudukku. kalimat nya, ia menyindir apa yang terjadi baru saja.
"Pagi Om... Maaf kami berisik ya... Menganggu om nonton... " aku menjawab.
Om Rudi tersenyum, wajah keriputnya tak bisa menutupi wajahnya yang tampan.
Mungkin saat muda, ia menjadi rebutan para wanita. sepintas wajahnya memang mirip dengan Tante Kost.
"Sudah hal wajar, jika perempuan ribut. Apalagi jika kalian terlibat pada cinta dengan orang yang sama... Ah... Lebih populer, cinta segitiga.. " Om Rudi berkata.
"Iya om.. Biasa ya... " Aku menjawab.
"Tapi, sejak awal om sudah tahu. Kalian sebenarnya bukan sahabat yang baik. Mungkin kamu dan teman mu itu, bukan jodoh sebagai sahabat... "
"Maksudnya Om?" Aku mengernyitkan dahi.
"Iya.... Kalian lebih baik tidak tinggal sekamar. Karena... Teman kamu itu bisa jadi penghalang kamu... Suatu saat kamu akan paham..
Pesan om, lakukan sesuai hati mu. Jika kamu mencintai pria yang sama. Biarkan pria itu memilih.
Segala hal baik dan buruk perilakumu.. Semesta yang akan menentukan hasilnya..
Yang jelas kamu wanita yang sabar.... "
"Iya om.. Terima kasih om.... "
Brak! Brak!!
Jessy keluar dari kamar. Lalu ia lewat begitu saja di hadapan ku dan om Rudi.
Ia hanya melirik sinis kepadaku. Ia sama sekali tak berkata, kemana dan kapan ia kembali.
********
Jessy pergi ke suatu tempat. ini lebih mirip gedung tempat Jimmy biasa kerja.
gedung dengan puluhan lantai, dengan desain modern yang indah.
apa yang ia ingin lakukan?
Dari jauh Adam datang sendiri. Ia seperti kurang suka dengan adanya Jessy.
Namun, perlahan Adam mendekati Jessy.
Jessy menyadari kedatangan Adam. Ia melambaikan tangan dan memberi senyum lebar.
"Ada apa kesini?" Tanya Adam dengan nada datar.
"AA... AdamAbdul... Kamu kok gitu, aku pengen main aja kesini. Katanya kamu sekarang kerja sama Jimmy. Boleh dong main kesini ...oh iya kita lama lo engga ketemu..." Jawab Jessy dengan centil.
"Lo nyari Jimmy? Dia engga disini! Dia pergi dinas sampe bulan depan.... " Jawab Adam.
"jangan Gitu AA....eh tapi kok lama banget? Yaudah kalo gitu.. Kita makan siang yuk.. Boleh?" Jessy menawarkan.
"Engga makasih, gw tinggal dulu ya... " Adam meninggalkan Jessy.
Ia menekan akses masuk ke lift. Ia sama sekali tidak memandang Jessy. Jelas sakit dan malu akan apa yang Jessy lakukan.
Di lokasi syuting, adam hanya di anggap batu loncatan. Begitu ia dekat dengan Lutfi dan para sutradara. Ia membuang Adam begitu saja.
Adam keluar di lantai 10. Ia berjalan menuju ruangan dengan panah arah Direksi.
Ia masuk ke ruangan meeting yang persis ada di samping ruangan Jimmy. Tak ada orang disana hanya Adam sendirian. Ia seperti menunggu seseorang, tapi wajah kesalnya tak bisa di tutupi.
Jimmy masuk ke ruangan yang sama. Ia melihat Adam yang sedang gelisah.
"Kenapa wajahmu keliatan kesal?" Jimmy menyapa.
Jimmy memilih duduk di samping Adam. Diikuti dengan Jean yang ada di antara mereka.
"Selamat siang Pak, maaf saya engga lihat bapak datang.. " Jawab Abdul.
"Santai saja... Saya tidak suka menganggu jika kamu sedang ada urusan... " Jawab Jimmy
"Tidak Pak... Jadi bagaimana soal project stasiun Tv baru? Apa sudah ok dengan desain dan muatan isinya Pak..?"
"Tentu, saya senang ini adalah stasiun tv berisi berita dan fashion. Belum ada dan kita memberi edukasi soal seni dan budaya juga.....
Uhm... Jelas yang aku suka, kamu tidak memberi bumbu skandal atau film tidak berbobot dalam stasiun ini... "
__ADS_1
"Ah iya pak... Saya cuman berusaha sebisa saya.. Ini juga kali pertama saya langsung mendapat kepercayaan... "
Jimmy mengangguk, ia terlihat senang berbicara dengan Adam. Berbeda dengan Lutfi ketika datang kemarin.
"Memang kenapa ya pak, bapak memilih saya yang mendapat projek ini... " Adam memberanikan diri bertanya.
"Aku bosan dengan skandal, film dewasa dan foto wanita cantik. Aku mau sesuatu yang berbeda dan berbobot. Dengan pemikiran yang fresh dan pintar... "
"Maaf pak.. Bukannya Pak Lutfi sudah lama saya dengar akan mendapat pekerjaan ini.... Mengapa jadi saya?"
"Kamu tidak bersyukur?" Jimmy memantang balik Adam.
"Bukan Pak... bukan begitu... Maksud saya, saya kan masih asistant dari Pak Lutfi dulu. Saya cuman engga enak, apalagi ia sudah sesumbar dengan orang, bahwa ia akan megang projek ini... " Jawab Adam.
"Semua keputusan ada di saya. Ketika saya mau kamu, ya mau apa? Dia mau marah? Santai saja, aku sudah membuatnya sibuk dengan artis kacangan itu.... "
"Maksud Bapak?" Adam penasaran.
"Kamu pasti mengenal, Jessica. Jessy Noormans. Bagaimana skandal dia kamu pasti sudah tahu. Terakhir aku sudah minta artis ini tidak mendapat peran atau Host... Benar? Ratting down... "
Adam melotot, sepertinya ia tahu apa yang di katakan Jimmy.
"Oh iya, kamu kenal Cathrine Jons?" Jimmy bertanya
"Iya pak, saya kenal.. Dia wanita yang baik... Saya sering bertemu di lokasi dulu... " Jawab Adam.
"Baguslah jika kamu mengetahui. Jika kamu mengetahui ada hal yang merugikan atau menjatuhkan dia. Beri tahu kepadaku..."
"Baik pak... Akan saya beri info jika saya mengetahui... "
"Tapi ingat jangan ada yang mengetahui. Hanya aku, kamu dan Bu Jean saja. Aku sedang berusaha membantunya... Jadi beri saja aku informasi apapun yang kamu punya... "
Jimmy sengaja memilih Adam untuk kepala stasiun Tv barunya. Dengan konsep modern dan beda, jelas Adam jauh dari Lutfi.
Bukan soal skandal dan seksi saja dalam setiap tayangan. Tapi edukasi soal seni dan budaya mancanegara.
Apalagi Adam juga mengetahui wanita yang sedang bersama Jimmy. Ini nilai tambah dan lebih yang di pilih Jimmy.
setelah meeting, Bu Jean meninggalkan Jimmy dan Adam.
"sebenarnya, saya sedang merusaha membujuk wanita itu. agar ia mau tinggal bersama denganku." Jimmy memulai pembicaraan.
"Maksud Bapak Cathrine?" Adam bertanya.
"Iya, wanita polos yang membuatku seperti tersihir.... " Jimmy tersenyum mengingat wajah Cathrine.
"Haha... Iya pak, dia wanita yang apa adanya... Dia berhati baik, pekerja keras juga... " Jawab Adam.
Ia ingat bagaimana makan Mie Ayam bersama di lokasi. Saat Jessy mulai menjadikan ia sebagai pembantu.
"Ah iya, benar kamu.. Wanita yang apa adanya. Tapi, saya tidak bisa berhenti memikirkan dia. Bukankah ini gila? Bagaimana menurutmu?" Jimmy meracau.
Ia senang berbicara dengan orang yang paham soal Cathrine. Bukan yang hanya menjodohkan mereka saja.
"Ya jelas beda pokoknya Pak.. Gimana Jessy ya ini kebalikannya... "
"Ya... Kamu benar.... " Jimmy mengangguk.
Ia seperti terkena sihir, atau panah cinta? Karena hampir setiap hari Jimmy selalu terlintas wajah Cathrine.
Padahal Jimmy sudah mencoba melupakan. Tapi malah ini membuatnya ingin mengirim pesan terus untuknya.
Jimmy belum menyadari bagaimana perasaanya sesungguhnya. Ia sangat berhati - hati dengan luka masa lalunya.
Jimmy juga tidak bisa memberikan pernikahan kepada Cathrine. padahal ijin tinggal Jimmy akan habis.
"ah, apa kamu paham bagaimana WNA seperti saya jika akan menikah?" Jimmy bertanya.
"saya kurang paham pak... yang jelas prosedurnya agak ribet ya Pak... dan juga biaya nya pasti tinggi... "
"ia benar juga, jika sampai pisah pun.. aku akan kehilangan banyak uang... huft.... ijin tinggalku tinggal beberapa bulan lagi. jika aku tidak segera menikah dan memiliki kewarganegaraan disini... aku harus pergi dari sini... " Jimmy bercerita dengan wajah sedih.
"pak... apa bapak begitu menyukai kota ini? maaf negara ini maksud saya.. " Adam bertanya - tanya.
"ya... budaya, nuansa dan keramahan masyarakat disini berbeda. yang jelas mereka tidak mengenal aku siapa. hal itu yang membuatku betah disini. jika tidak ada urusan mendesak, aku tak ingin pulang ke negaraku..... "
"maaf sebelumnya, apa bapak sudah berfikir dulu? jika menikah dengan siapa dan konsekuensi nya nanti?" Adam penasaran.
"sejujurnya aku memikirkan seseorang. aku bisa membantu ia menata masa depannya, dan aku bisa mendapat ijin disini tak terbatas lagi. tapi, kamu kan tahu, wanita akan berlebihan jika mendengar kata pernikahan.... "
"....... " Adam berfikir ada benarnya. perempuan biasanya akan berubah mengerikan jika mereka menikah.
posesif, cemburu dan adanya anak. ini masalah kompleks yang sebenarnya di hindari Jimmy.
__ADS_1
"aku mau dengan wanita itu, tapi aku tak ingin ia mengetahui. jika kami berada dalam ikatan pernikahan. agar nantinya aku tidak menyakitinya... kehidupan pernikahan pasti menuntut wanita dengan banyak hal... ini yang aku tak mau... aku ingin orang tersebut bisa meraih mimpinya.... " Jimmy berkata dengan segenap hati.