
"Nick, lo ga bawa pulang nih hasil masakan lo...?" Inez sibuk menaruh dalam wadah Thinwall semua hasil praktek memasak hari itu.
Nicky hanya mengelengkan kepala, artinya ia tak ingin.
"Carhtine, lo bawa balik kan?"
"Bawa kok.. " Jawabku dengan senyum.
"Nick, punya lo gw kasi ke orang aja ya pas gw balik... " Inez berkata lagi.
Nicky pun hanya membalas dengan angukan kepala.
"Dih, ni anak kenapa sih. Gw tanya cuman angguk sama geleng. Lo kenapa lagi?" Inez mulai kesal melihat Nicky.
"Engga papa, gw kan sendirian disini. Ga bakalan ada yang makan. Bawa balik aja gih... " Nicky menjawab halus.
Semua mulai bersiap untuk pulang. Ini kelas pertama praktik memasak. Kami membuat beberapa macam steak dan saus.
Karena ini merupakan makanan yang Jimmy juga biasa makan. Aku memilih membawa pulang.
"Cath, lo mau balik apa gimana?" Inez menahanku yang ingin keluar dari gedung itu.
"Mungkin gw balik sih, soalnya gw belom beresin kamar. .. Lo mau ngajak gw jalan?"
"Engga, gw pikir lo mau nganter tu makanan ke kantor laki lo.. Kalo iya gw temenin.. Soalnya rumah gw kosong dan gw ga tau mau kemana... " Inez menjelaskan.
"Lo ngga mau ngajakin gw?" Nicky menjawab tanpa ada yang bertanya.
Aku dan inez langsung menoleh ke Nicky. Apa tidak salah dia ingin ikut dengan kami.
"Emang lo mau kumpul sama ciwi ciwi? Bukanya lo laki abis ya.... " Inez menggoda.
"Ya kali aja biar di pikir gw juga punya temen.... " Jawab nicky.
Aku tersenyum melihat mereka saling berbalas kata.
Namun, pandangan Nicky berbeda kepadaku. Mungkin ini cuman perasaanku saja.
"Yaudah jalan barengan aja gimana? Nicky bilang dia punya mobil ya udah dia nyetir.. Kita ngikut... " Aku menghentikan perdebatan mereka.
"Good idea... Cus.. Kita tunggu disini... " Inez menjawab.
"Wait.. Gw minta waktu 10 menit. Gw naroh ini dulu ya.. Tungguin.. Nicky juga mau ambil mobil kan.. " Aku langsung berjalan cepat kembali ke apartemen.
Aku melewati kedai Sammy. Ia menyapaku dengan kontak mata dan lambaian tangan.
Aku pun membalas dan cepat berjalan.
Setelah selesai aku kembali ke tempat kursusku. Disana sudah ada mobil sedan hitam yang mesin nya menyala.
Lalu kaca sebelah kanan depan mobil itu terbuka. Inez disana.
"Lo belakang ya... Gw mabok soalnya.. "
"Siap... " Aku menjawab dan langsung masuk ke dalam.
Setelah semua siap Nicky langsung menjalankan mobil nya. Aku pikir wajah garang nya akan sebanding dengan cara membawa kendaraan.
Rupanya dia tergolong halus dan sopan berkendara. Kami bercerita banyak hal dalam mobil.
"Baru kali ini gw tau, lo itu bisa juga ngobrol. Ga cuman ngerok*k sama nyendiri doang .. " Inez memuji Nicky.
"Ya kali gw cuman diem. Gw tuh cowok ramah dan baik... " Nicky mempromosikan dirinya.
"Tunggu ... Tunggu... Biasanya kalo lo ngomong diri lo baik... Brati kebalikannya... " Inez memulai lagi.
"Serah.. Turun lo... Udah di ajak pergi malah gitu.. " Nicky kesal.
"Emang lo tega, nurunin cewek di pinggir jalan...?" Aku melirik Nicky dari spion tengah mobil.
"Hmm... " Nicky menjawab sambil melirik ku balik.
Mereka pun melanjutkan pembicaraan. Aku hampir lupa memberi kabar ke Jimmy.
Aku lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan lewat aplikasi online di Hp.
Me : Jimmy, aku pergi dengan inez dan nicky. Mereka teman kursusku. Kemana nya aku kabarin lagi, aku baru saja masuk ke daerah pusat.
Persis setelah aku mengirim pesan ponselku mati. Yah.. Aku lupa mengisi daya nya semalam.
"Btw guys, kita ni mau kemana ya?" Aku memecah pembicaraan mereka.
"Kita nongkrong sama makan aja ya. Disalah satu tempat semi pusat perkantoran.. Soalnya temen lo pengen liat ekspat (warga negara asing) yang pada kerja.. " Nicky menggoda inez lagi.
"Lha emang gw doang? Lo juga kalik... Cathrine.. Kita gapapa kan cuci mata gitu. Biar engga liat nya itu - itu aja... " Inez membela diri.
"Baiklah... Ngikutt... " Aku menjawab.
Hampir 30 menit kami berkendara. Nicky membawa kami ke sebuah daerah dengan beberapa gedung pencakar langit.
Ia memilih valet service parking agar kami tidak perlu saling menunggu. Masuk ke dalam kami harus melewati metal detector.
Cukup eksklusif menurutku...
Aku melihat ini seperti perkantoran tapi semi mall. Banyak tenan makan dan di ujung ada seperti pintu yang digunakan keluar masuk kantor.
__ADS_1
Nicky memilih salah satu tempat kami makan. sepertinya ini restoran lokal yang juga menyediakan "evening tea".
"Disini yang special itu Black tea atau blue honey tea.. Kalian mau yang mana?" Nicky bertanya.
" Gw mau.... Yang...... Blue honey deh, less ice... Sama cake nya.... Red Seasonal yah.. " Aku memilih yang terlihat di mataku menggoda.
Inez malah sibuk melirik pria yang lalu lalang di area luar resto. Ia sengaja duduk di kursi yang bisa menjangkau semua jarak pandang di luar.
"Lha ni bocah malah ngiler.. Non...pesen dulu..!" Nicky menepuk pundak Inez.
"Dah samain aja.. Lo tau gw laperan.. " Inez menjawab cepat.
Nicky melihatku lalu bertanya. "Gimana?"
"Udah pesenin aja Nick.. Dia gampang kok makan segala.. " Jawabku.
Nicky pun memesan entah apa untuk Inez. Aku melihat ada colokan listrik di samping bagian atas meja.
Aku lalu mengambil charger ponsel dan mengisi daya ponselku.
"Baru kali ini gw tau di sediain di meja.. " Aku menunjuk.
"Iya, soalnya banyak orang kantoran yang kadang kerja disini.. Lo liat aja dari meja sebelah kita. Jarang kan yang duduk santai." Nicky menjawabku.
Tak lama ponselku sudah bisa menyala sendiri setelah terisi daya. Rupanya nicky memperhatikan.
"Lo uda ngabarin?" tanya Nicky.
"Udah tapi tadi ponsel gw mati. Gw mau ngabarin.. Eh, kepo juga lo.. Hehe.. " Aku tertawa.
"Lo emang manis kalo di liat dari samping. Pantes pria itu ga akan ngelepasin lo.. "
Ucapan Nicky membuatku malu. Pipi ku menjadi merah menahan malu.
"Kalo gw gimana nick??? " Inez yang tiba - tiba membuka suara.
"Lo cantik.. Cuman sayang... Kaya cowok, lo coba deh bedakan dikit...tapi yang rata biar ga kaya badut.. " Nicky menggoda lagi.
Inez kesal dan memoyongkan bibirnya.
"Nah, sekarang kaya Bebek kan... " Nicky menggoda lagi.
"Ih lu tuh yaa...nyebelin!" Inez menepuk lengan Nicky.
Pelayan pun datang dan meletakan pesanan kami.
Aku hanya melihat samar - samar di meja kasir ada pria berdiri.
Dari kejauhan seperti nya itu teman Jimmy. Fukuda? Dengan perempuan yang sedang hamil.
Mereka lalu memilih duduk jauh berpisah dengan kami. Sudah aku tidak mau memikirkan. Aku ingat pesan Jimmy, untuk tidak terlalu dekat dengan lingkungan Jimmy.
******
Ia membuka dan melihat ada fotoku dengan kedua temenku.
Lalu di susul pesan pendek dari Fukuda.
Fkd : apa kamu disini bersama wanita itu? Aku tidak melihatmu.
Me : tidak. Aku sedang meeting penting. Kau tau, aku bersama Salima. Kontrak kerja sialan itu.
Fkd : beware, kalian ada di gedung yang sama.
Me : tentu aku bisa melihat dari alat pelacak di ponsel istriku.
Jimmy lalu meletakan ponselnya. Dihadapannya ada Salima atau alma dengan beberapa rekan bisnis.
*******
Aku melihat ponselku lagi, pesanku hanya di baca oleh Jimmy. Biasanya ia selalu membalas.
"Udah jangan di cari. Lagi meeting penting kali... " Nicky berbicara kepadaku.
"Ehehee.. Malu gw, biasanya dia bales. Ya mungkin sibuk.. " Aku menjawab.
"Eh, lo belom cerita siapa sih cowo yang tinggal sama lo.. Kenalin gitu, siapa tahu punya temen atau sodara buat gw.. " Inez menepukku.
"Gw sebenernya ga gitu kenal banget. Tapi, keluarga gw kaya uda pasrah aja gw tinggal sama ni cowok.. Dia kerja cuman perusahaan apa dan dimana gw ga tahu... " Jawabku singkat.
"Owh... Eh, keluarga lo brati di kampung? Nyokab sama bokap?" Inez bertanya.
Pertanyaan wajar menurutku, namun aku diam untuk berfikir menjawab bagaimana soal keadaanku.
"Iya tapi, nyokab tu ga tau kemana... Bokap gw sakit sama bangkrut malah pergi ga tau sekarang dimana. Dikampung gw ya bokap sm adek perempuan gw aja.. " Jawabku singkat.
"Tapi lo deket kan sama adek lo..?" Tanya Nicky.
"Deket banget.. Malah gw tiap hari tu chat sama dia terus. Paling engga gw tahu kabar bokap gimana... Gw pengen sih, kalo uda kerja ngajak mereka pindah kesini atau ke pinggir kota biar lebih deket. "
"Good.... Bagus juga ide lo.. " Nicky kali ini sependapat denganku.
"Guys, kalo ga salah mata gw ya... Cathrine tu cowo yang gw pernah lihat nganterin lo.. " Inez menunjuk ke arah luar
Refleks aku dan Nicky melihat arah jari Inez. Di bagian agak jauh, di area pintu masuk perkantoran.
__ADS_1
Ya, bener... Jimmy dengan Alma... Mereka jalan berdampingan.
Alma seperti mencoba meraih lengan Jimmy. Namun Jimmy berusaha menjaga jarak.
"Mereka cocok ya teman... " Aku berkata lirih.
"..... " Nicky dan inez hanya diam membisu.
"Aku denger mereka itu di jodohin. Tapi, yang cewe kabur dan nikah sama orang lain. Entah kok sekarang balik lagi.... " Aku berbicara sendiri.
".... " Nicky hanya mengehela nafas. Inez menepuk pundak ku, mungkin agar aku tenang.
"Tapi, tadi Jimmy menghindar apa dia sengaja? Karena bisa aja kan dia tahu gw disini... Atau di belakang gw, mereka itu deket.? " Pandanganku mulai kosong.
"Udah jangan kotorin pikiran lo. Bisa aja Jimmy emang ga ada apa - apa sama Salima. Keluarga Jimmy juga punya harga diri.. Anak nya gituin ga akan sudi lah menerima.. " Nicky membalasku.
"Mereka uda pergi kan.. Gw males liat, dada gw sesek sama sakit. Kali gw cemburu.. " Aku memalingkan pandangan.
Aku memandang hidangan di hadapanku. Kue yang tadinya enak menjadi hambar.
"Ngapain juga gw cemburu. Bukan siapa gw dan gw ga punya hak apa - apa... " Aku mengigau sendiri.
"Cemburu juga boleh.. " Suara Jimmy.
Aku kaget dan membalik badan. Jimmy sudah berdiri di belakangku.
"Hallo.. Kenalin, Inez temen cathrine.. Dan yang ini... " Inez langsung memperkenalkan diri.
"Aa...hallo Inez, senang berjumpa.....Kamu kan Nicky. Anak paman.. " Jimmy menunjuk nicky.
"Ssst... Diam.. Jangan buka itu.. " Nicky enggan menyebut keluarganya.
Jimmy lalu duduk di samping cathrine. Ia meletakan ponsel nya di meja dan bergabung.
"Well.. Apa sudah dari tadi?" Jimmy bertanya.
"Tidak.. Baru sejam lah," Jawab Nicky.
"Surprise me! Gimana kamu bisa kenal Nicky?" Aku bertanya.
"Ya... Orang tua nya salah satu rekan bisnisku... " Jimmy menjawab.
"Bro.. Kalo udah intim tu manggil nya aku - kamu ya.. Engga kaya lo sama gw... " Inez menyinggung.
"Iya, salah gw ngajak kesini. Mau pindah? Biar mereka berdua.?" Nicky menjawab.
"Boleh, gw duluan aja yaa... Nikmatin waktu biar gw di anter sama cowo ini yah.. Byee... " Inez langsung berdiri.
"Cowok ini.. Emang apalah.. Supir? Duluan ya... " Nicky berdiri dan meninggalkan kami.
"Ok, hati - hati ya.. Bill nya biar saya saja.. " Jimmy memberi kode ke Nicky.
Kini tinggal kami berdua. Kikuk dan ada rasa minder dalam diriku.
Baru saja aku melihat Jimmy dan alma berdua berjalan.
"Kalian emang cocok ya kalo jalan berdua.. Kaya pasangan serasi.. " Aku berkata.
"Cemburu saja ke alma. Aku malah senang. Berarti aku ada di pikiran dan hati kamu... " Jimmy santai menjawab.
Jimmy lalu mengambil cake miliku dan memakannya. Ia senang rupanya dengan snack soreku.
"Sudah jangan melihatku begitu. Aku jadi malas, kalau aku mau berbuat lebih ke alma.. Sangat mudah...biasakan dirimu.. " Jimmy berkata dengan lembut.
"Maksud nya?" Aku mencerna perkataan Jimmy.
"Ya.. Banyak wanita lain disini selain alma.. Jadi jangan terlalu fokus dengan nya.. Lebih baik kamu memilih cincin mana yang kamu mau.. "
"aku boleh cemburu ke kamu jika bersama wanita lain?" tanyaku dengan wajah polos.
"boleh... boleh asal kamu bisa memastikan hal sebaliknya juga. aku itu pencemburu dan tidak suka berbagi." jimmy mempertegas.
kami memutuskan pergi setelah membayar cemilan soreku. lalu kami menunggu valet mobil Jimmy di lobby depan.
Ponsel Jimmy berdering, dari namanya dengan aksara yang tak ku mengerti. Jimmy memberi isyarat pergi menjauh dariku.
Ia meninggalkan ku agak ke belakang sudut lobby. Aku rasa itu panggilan penting bagi nya.
Aku melihat sekitar, rupanya sudah mulai gelap. Kumandang dari salah satu rumah ibadah menandakan ini petang.
"Kita bertemu lagi wanita desa.. " Ucap Alma yang ternyata ada di sampingku.
"Hallo, ketemu juga yah... Habis meeting ya.. " Aku mencoba ramah ke Alma.
"Meeting atau pertemuan mempersiapkan pernikahan kan kamu engga tahu.. Aku pikir kamu sudah cukup paham. Siapa saya..ehem..." alma membetulkan blow rambutnya.
"Paham.. Kamu Salimah.. Alma.. Teman atau rekanan Jimmy... " Aku menjawab polos.
"Rekanan? Aku itu calon istri nya.. Memang aku sempat gila meninggalkan Jimmy. Tapi, aku pastikan hal itu tak akan terjadi.. "
"... " Aku diam dan memperhatikan Alma.
"Jadi.. Hati - hati atau jimmy bisa saja pergi dari kamu... Kamu tidak sekelas denganku... " Alma sinis kepadaku.
"Emang gw engga sekelas sama lo. Lo jauh tua daripada gw. Tapi, kalo gw seleranya Jimmy. lo mau apa? Marah?" ucapanku mengagetkan alma. ia sampai melotot tak berkedip.
__ADS_1
Jimmy lalu muncul dan menggandeng tanganku. Rupanya mobil kami sudah sampai. Ia pun membuka pintu untuk ku.
Aku bisa melihat Alma memperhatikanku. Terserah apa yang mau ia katakan. Aku muak melihat wanita angkuh. Mengingatkan ku pada teman lamaku.