CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
72


__ADS_3

aku ingat Michael juga pernah mengatakan Cinta. lalu? Ia pergi dengan fira.


Memilih wanita populer daripada aku sicupu. Meninggalkanku dalam kehancuran, si cupu yang belum pernah punya pacar.


diberi harapan..... dihancurkan hatinya..... Dan sicupu yang dulu. Kini berada dalam pelukan pria dewasa penuh luka.


entah mengapa, aku masih terlalu polos. membawa jauh perasaan ku ke Michael.


bahkan sampai aku nyaris bunuh d***. Kadang aku juga berfikir. jika aku masih bersama Michael, pasti aku tak akan sampai pada titik ini.


Pada titik keluargaku tertolong, masa depanku ada di genggaman. dan si pria dewasa yang selalu menjadi penjagaku.


thank You Michael, buat Luka ini.


"Hari ini kita mau ngapain?" Aku bangun dari tempat tidur.


"Bebas. Kalau aku seharian di rumah bersama kamu juga bisa." Jawab Jimmy.


"Hiss... Jangan gitu dong... " Jawabku.


Jimmy menarik tanganku agar duduk di atas tempat tidur. "ayo kita jalan. aku janji memberi mu cincin kan?"


"oh iya, kita sudah lama merencanakannya. aku pikir ga jadi... " jawabku.


Jimmy tersenyum kepadaku, cekungan di dekat bibirnya membuatnya manis di pandang. Aku jadi merasa ada yang berbeda di hatiku.


Ia menarikku berdiri dan mengecup keningku. Lalu kami bersiap pergi, Jimmy hanya memberi clue. Untuk berpakaian sopan juga.


"Emang kita mau kemana sih?" Aku bertanya saat di lift.


"Ke pondok bentar ya, aku kepikiran Gibran... " Ucap Jimmy singkat.


Aku diam, diam dan menatap pria itu. Aku tak bisa memberi komen apa pun.


Mungkin sewajarnya aku bisa saja cemburu atau panas hati. Tapi, yang aku rasakan. Malah perasaan Iba dan sedih.


Tak menyangka pria ini begitu menerima Perempuan masa lalunya. Bagaimana perempuan itu hingga kini ia pun masih bertanggung jawab ke anak itu.


Sempat terbesit, jika suatu saat aku yang pergi. Apa dia akan mencariku? Atau apa aku akan punya ruang yang sama di hati Jimmy?


"Kamu kenapa?" Jimmy balik bertanya.


"Engga apa - apa. Cuman kepikiran banyak hal... " Jawabku.


"Usia kamu masih muda. Pikirin yang penting aja, yang ngga ada untung nya tinggalin lah... " Jimmy berkata enteng.


"Baiklah... "


Dan kami pun berjalan ke basement. Kami pergi ke pondok yang jaraknya jauh dari tempat kami.


"Mira sengaja memilih tempat yang jauh. Biar apa coba? Biar aku engga kesana setiap hari. Jahat wanita itu. Bahkan ia sempat melarang Pak Haji untuk menerimaku ketika bertamu... Padahal aku tidak membuat onar... " Jimmy bercerita.


"...... " Aku hanya diam dan memperhatikan jalanan.


"Sebenarnya aku mau mengadopsi Gibran. Tapi, agama kami saja berbeda. Mira juga tidak mengijinkan aku merawatnya. Jahat bukan? Anak itu anak baik, wajahnya mengingatkanku akan Mira." Jimmy berbicara lagi.


"Mungkin Mira pengen kamu melihat ke Depan. Masa depan kamu, dan ia ngga mau anak nya jadi penghalang atau beban kamu... " Aku berkomentar.


"Beban? Sama sekali engga Cathrine. Sama sekali! Aku bahkan menyayangi anak itu Tulus... Kenapa semua harus begini?" Jimmy menjawab lirih.


"Kamu masih cinta sama wanita itu? Mira?" Aku bertanya.


"Jelas. Ia ngga akan terganti di hatiku." Jimmy menjawab yakin.


Rasanya kok sakit ya, mata sebelah kiriku mengeluarkan air. Aku mencoba memalingkan pandangan ke jendela di sampingku.


Aku mengatur nafasku beberapa kali, agar tak terlihat sedih.


"Kenapa?" Jimmy panik melihatku.


"Engga.. Aku jarang lihat pohon di toll. Kampungku kan jalan toll nya kecil. Oh iya.. Jangan cerita yang sedih ya... Kita kan mau kesana nengokin... " Jawabku.


"Oh iya, kemarin Jessy ke kantorku. Ia sekarang membuka toko roti kalo ngga salah. Cuman aku ngga makan dan bawa buat kamu. Kalian masih kontak?"


"Lama banget aku ngga denger kabarnya. Mungkin dia uda bahagia, ku pikir dia akan realease film atau sinetron lagi... Eh, bukan nya kamu produser di PH nya?" Aku balik tanya.


"Sudah aku kasi Adam untuk mengatur perusahaan itu. Aku sudah lama ingin berhenti dalam industry film. Aku selalu teringat Mira... Pun aku sudah mencapai targetku, jadi biar bibit baru yang menjalankannya." Jawab Jimmy.


"...... " Aku hanya diam dan mengangguk kan kepala.


Tak terasa perjalanan kami hampir 1 jam. Kami sudah mulai mendekati area yang kami tuju.

__ADS_1


Jimmy langsung parkir di salah satu spot yang cukup rindang. Kami lantas turun dan berjalan ke kantor pengurus.


"Selamat pagi.. Assalamualaikum.. " Jimmy menyapa.


"Wa'alaikum Sallam.. Nak.. Masuk lah.. Apa bersama istrimu?" Ucap Pria dari dalam.


"Betul.. Permisi... Ayo sini... " Jimmy meraih tanganku.


Kami masuk ke dalam dan duduk di salah satu sofa tamu. Tempat yang nyaman dan cukup terang.


"Bagaimana sekarang? Sudah tahu kan nikmat dan enak nya menikah?" Tanya Pak Haji.


"Iya pak.. Sudah. Kami kemari karena mau mendengar kabar Gibran. Apa sudah ada berita dimana sekarang?" Tanya Jimmy.


"Ya... Ya... Saya tahu tujuan kamu.. Saya sama sekali engga boleh memberi tahu dimana. Ini Amanah dari Alm. begitu pun keluarga. Dimana yang saya maksud Ayah kandung Gibran... "


"...... " Wajah Jimmy berubah sedih.


"Sebenarnya, Nak Jimmy pun bisa kan memiliki keturunan sendiri dan mempercayakan Gibran kepada keluarga nya saja... Hanya kirimkan doa untuk nya, agar selalu dalam lindungan Allah Swt... " Jawab pak Haji.


"Tapi bapak kan paham cerita masa lalu nya?" Jimmy memaksa.


"Ya ... Saya tahu persis. Tapi, saya minta sudah. Itu masa lalu, kalau silaturahmi kemari, saya akan selalu membuka pintu lebar - lebar. Tapi, menyangkut anak itu. Sudah.. Jangan di tanyakan lagi... Saya mohon, agar psikologis anak itu juga bisa tumbuh sewajarnya.. Biar dia dalam asuhan keluarganya... Agar ilmu agama pun ia berada di jalan yang benar.. " Jawab pak Haji.


"..... " Jimmy terdiam.


Aku merasa tidak enak. Jadi aku keluar dan memilih duduk di kursi yang ada di bawah pohon.


Suasana disini damai dan memang benar. Jauh dari pusat kota, aku memandang Jimmy dari jendela.


Aku tak menyangka, ia begitu mencintai perempuan itu. Sebegitu besar hingga ia rela untuk mencari keberadaan anak tersebut.


"Mungkin ngga sih, kalo kita punya anak. Kamu akan seperhatian itu ke anak kita... " Aku berbicara sendiri.


"Mungkin saja... Saya yakin pasti. " Jawab suara perempuan.


Aku kaget dan menoleh ke arah samping. Perempuan berhijab dengan gamis warna pastel mendekatiku. Kira - kira seumuran dengan Jimmy.


"Boleh saya duduk?" Tanya perempuan itu.


"Jelas. Silakan.. " Aku mempersilahkan.


"Sudah cukup lama saya tak melihat nya datang kemari. Kenapa jadi bicara sendiri?" Tanya ibu itu dengan ramah.


"Ya, begitu pria. Kalau ia mencintai, logikanya ngga jalan. Padahal banyak orang bilang pria itu pake logika bukan perasaan. Tapi, Jimmy itu hatinya beda. Bukan ngomongin disini, cuman sabar lah... Tak selamanya keadaan begini. Jimmy juga harus maju.. Yang semangat ya dalam belajar dan saling nerima.."


"Ia Bu... " Aku hanya tersenyum mendengar nasehatnya.


"Ibu ingat. Pertama kali ia kesini setelah kepergian almarhum. Ia seperti orang kehilangan akal. Tapi, hari ini saya lihat 180 derajat bedanya. Terima kasih Nak. Ia bisa melanjutkan hidup nya dengan baik.. " Ucap Ibu tersebut.


*************


Kami berjalan ke area mall. Jimmy mengajakku mengambil Cincin yang ia katakan terus dari pagi.


"Jimmy... Tunggu sini dulu... " aku menahan Jimmy saat ia menarikku.


Aku menghampiri perempuan itu. Perempuan yang membuatku penasaran.


"Mama!" Aku menepuk pundaknya.


Wanita itu terkejut, sungguh kemewahan yang ia kenakan dari ujung kepala hingga kaki.


"Kamu siapa?!" Wanita itu berkata dengan emosi.


"Aku Cathrine ma... Mama lupa?" Aku menjawab.


"Ada apa ini?!" Pria tegap di samping mama menyela kami.


"Maaf Bapak... Saya... " Aku mencoba menjelaskan.


"Ini lho Pah, Engga jelas panggil - panggil mama. Aku aja ngga kenal.. "


Pria itu lalu melihat ke arahku. Aku hanya diam dan menundukkan kepala. Namun sorot matanya seperti menyembunyikan sesuatu.


"Maaf kalau saya salah. Saya cuman lihat ibu mirip dengan. Mama saya, namanya Nina, apa lagi tahi lalat di pipi ibu.. Mirip dengan mama saya.. Maaf... " Lalu aku meninggalkan mereka.


Aku melihat Jimmy berdiri di sudut toko menontonku. Aku berjalan lunglai menyusulnya.


Jimmy meraihku lalu memeluk diriku.


"Sudah... Mungkin benar bukan mama. Mari kita pergi.."

__ADS_1


Kami berjalan masuk ke toko perhiasan yang Jimmy maksud. Pramuniaga mengeluarkan cincin yang Jimmy pesan.


Aku masih tak bersemangat dengan apa yang baru saja terjadi. tapi, pria yang tadi aku lihat bersama mama memanggilku dari luar toko.


"Sayang, sebentar ya... " Ucapku.


"Mau kemana?" Jimmy melihatku pergi keluar.


Aku menghampiri pria itu, ia membawaku duduk di cafe seberang toko perhiasan.


"ada apa ya pak? Maaf soal tadi... " Aku membuka percakapan.


"Saya tahu kamu, sewaktu kamu kecil. Saya pernah bertemu dengan kamu. Dan wanita itu benar Mama kamu.. " Jawabnya.


"Apa! Tapi kenapa mama ngga mau mengakui aku?! Terus anda siapa?" Aku marah mendengarnya.


"Tenang... Saya jelaskan.... Jadi, saya memang memiliki hubungan asmara dengan mama kamu. Tapi, karena saya orang miskin dan dari keluarga yang sebagian besar mengidap Down Sindrom... Kakek - nenek kamu tidak akan memberi ijin ibumu menikah dengan saya." Jelasnya.


"Lalu? Yang jadi pertanyaan saya. Kenapa mama sama kamu?" Aku kesal.


"Biar dengar cerita saya dulu.. Tak lama, ayah kamu datang. Lalu memberi jaminan keuangan jika mama kamu mau menikah dengan dia. Yasudah, mama kamu menerima... Saya pergi keluar pulau saat tahu mama kamu di lamar orang lain.


Saya bertemu lagi sekian tahun kemudian. Mungkin kamu sudah lupa dengan saya... Tapi saya ingat, kalau mama kamu sering bercerita soal kamu dan adikmu... Waktu kecil saya sering datang ke rumah kamu...


Tapi saya paham.. Ayah mu yang pencemburu... " Pria itu menjelaskan.


"Lalu hubungan nya dengan saya? Apa mama saya perempuan benar? Bukan perempuan egois?" Aku bertanya.


"Terserah bagaimana kamu memandang, saya cuman bisa bilang. Mama kamu itu perempuan baik, dan saya juga menjaga nya dengan baik. Tolong hargai dia, jangan ada benci di hati mu... " Pria itu membela mama.


"Jujur ya Om, om itu jahat. Buat apa om kembali ke kehidupan Mama setelah mama udah memiliki keluarga? Dan mama meninggalkan kami gitu aja. Apalagi papa, om tau? Besar rasa cinta papa ke mama? Kalian memang pantes bersama. Kalian orang jahat. Baik. Aku paham. Ini alasan mama ngga menganggapku seperti tadi. Baik... Sampai jumpa."


Aku meninggalkan pria itu. Kebencianku ke mama makin bertambah. Kenapa aku harus lahir dari wanita seperti itu.?


Duk... Aku menabrak sesuatu, setelah aku lihat. Rupanya Jimmy, "maaf..." Ucapku lirih.


"Sudah? Sini jari tangan mu.. " Jimmy menarik jari tanganku.


Ia memasangkan cincin di jari manisku. Cincin yang bentuk nya simple dan elegant. Polos tanpa mata, namun kilau nya cantik.


"Rose gold? Cantik... " Ucapku.


"Sama denganku, sekarang kita pakai cincin yang sama ya... " Jimmy lalu mengandengku pulang.


Tak banyak kata selama perjalanan kami pulang. Jimmy memilih mampir makan di restoran jepang.


"Kamu makan apa? Aku mau ramen dan sushi. Oh iya, ada katsu keju kesukaan mu. kamu mau?" Jimmy menawariku.


"Bebas... " Jawabku.


Jimmy memesan beberapa menu ke pelayan. Aku tak mendengar apa saja yang ia pesan.


"Kenapa kamu? Yang di omongin tadi apa?" Jimmy mencoba mengajakku bicara.


"Dia itu mantan mama, dan perempuan itu mama. Bagaimana perasaanmu, mereka bertemu dan hidup bersama.. Mama aja tega ninggalin aku sama papa.. Sama Ghea.... Alesan apa? Ngga tau... " Aku berbicara dengan menahan emosi.


"Sudah... Mungkin cinta dan kisah mereka belum selesai... " Jimmy menyanggahku.


"Belum selesai? Dan orang itu bilang aku jangan benci sama mama. Jangan dendam sama mama. Dan... Mama akan di jaganya dengan amat baik... Gila ngga sih?!" Tanyaku.


"..... " Jimmy diam.


Pelayan datang dan mengantarkan kami makan. Aku mencoba mengisi perutku yang engga begitu lapar.


Keadaan membuatku enggan mengisi perut.


"Kamu tahu ngga sih, hari ini tu kaya hari emosiku di buat naik turun ... Dari pagi, siang dan sore tadi.. Ngga tahu mau ada apaan... " Aku berbicara sendiri.


"Bukan nya dari pagi kita baik - baik aja ya?" Tanya Jimmy.


"Ya menurut kamu baik.... " Jawabku singkat.


Kami cepat menghabiskan makanan kami lalu pulang. Aku masih enggan membuka mulutku. Bercerita atau membagi hal yang aku rasain.


Kami berjalan pulang dalam keheningan. Hanya lagu dan penyiar radio yang menemani kami.


"Sayang, kamu tahu ngga. Diem kaya gini tu ngga asik.. Kita memulai hari dengan baik. Bahkan aku ngasih kamu cincin yang kembar dengan aku pake... Lalu sekarang kamu diem.. " Jimmy membuka suara.


"Maaf, aku mungkin kebawa perasaan soal tadi pagi. Aku merasa apa ya.. Kaya campur aduk ngelihat kamu segitu care ke Mira. Lalu sore kamu tahu ada om itu.. Udah pikiranku kacau... " Jawabku.


"Soal mira? Sayang, dia itu udah disana. Sekarang kita fokus ke diri kita. Kamu sama masa depan kamu. Soal mama, time will tell..jangan nodai komunikasi kita lah. " Jimmy balik kesal.

__ADS_1


"komunikasi kita baik kok. baik banget. aku aja mau denger tiap kamu bahas wanita itu dan anaknya. hmm... sudahlah, moodku memang lagi ngga baik hari ini. " aku menyudahi pertengkaran kami.


"jangan bawa mood kamu ke hubungan kita. aku ngga mau kita bertengkar karena hal ngga penting ini." Jimmy kesal.


__ADS_2