
Din.... Din.... (Suara klakson mobil).
Cathrine buru - buru membereskan tas nya. Ia hanya membawa bedak, ponsel, dan dompetnya yang sepi.
Tas mungil yang jarang ia gunakan. Pastilah, tas model pesta yang mini ini tak cocok untuk dipakai sehari - hari.
Cathrine keluar dari rumah kost nya. Betapa terkejut nya ternyata yang menjemput adalah Jimmy..
"Lho kok? " Cathrine masih terdiam. Ia terpesona dengan pria yang berdiri tepat di hadapannya.
"Iya, karena aku yang butuh bantuanmu. Untuk menjadi teman kencan di acara malam ini."
"Tapi, aku butuh uang itu. Kalau kamu yang aku temani.. Pasti kamu bakalan langsung motong bayar aku dong.." Cathrine menggenggam tas tangannya dengan erat.
"Sudahlah.. Hutangmu cuman 200rb doang. Ga akan aku potong. Lain kali traktik aku saja sebagai bayaran nya.. "
Dan Cathrine pun langsung tersenyum. Ia lega karena setidaknya ia bisa memberi sedikit uang kepada ayah nya.
"Ayo cepat masuk! Sudah malam dan aku sudah telat. Kostmu begitu jauh dengan kota. Kita butuh 30 menit."
Cathrine langsung bergegas masuk ke mobil. Ia bergegas hingga lupa memakai gaun dan sepatu heels. Ia pun tergelincir..
"Aawh....!!" Jerit Cathrine
Hap... Jimmy meraih pinggang Cathrine dari belakang. Jimmy langsung menarik Cathrine agak berdiri dengan benar.
"Lain kali hati - hati. Kalau kamu tidak biasa menggunakan sandal aneh itu. Pakailah saja yang nyaman menurutmu." Jimmy berbisik dari belakan Cathrine.
"Terima kasih... Maaf aku ceroboh... " Ucap Cathrine sambil merapikan rambutnya.
"Sudahlah ayo.." Jimmy langsung masuk ke mobil.
Mereka pun pergi berlalu. Cathrine tak mengerti kemana ia akan dibawa. Yang ia paham, jika ia pergi dengan Jimmy. Tandanya akan aman baginya.
Entah semesta memainkan aksi apalagi. Namun mereka selalu di hadapkan pada situasi yang tak di inginkan. Jimmy yang terlalu jauh untuk di gapai.
Cathrine sedikit menghayal soal Jimmy selama di perjalanan. Ia bermimpi bersama pria di sampingnya dan memainkan nada asmara dan harmoni tentang cinta.
Menikmati perjalanan malam berdua dengan lawan jenis. Ini pengalaman baru kali ini dihadapi Cathrine. Dengan pria asing yang selalu muncul sebagai penolongnya.
Merek berhenti di sebuah gedung tingkat. Ada beberapa gedung juga disana. Namun sepertinya Jimmy mengarah ke gedung utama yang ada disana.
Di sampingnya ada mall yang terkenal dengan brand ternama dunia. Mall yang baru sekali di datangi Cathrine selama ia berada di kota tersebut.
Jimmy turun dari mobil, lalu melempar kunci ke petugas Valet. Cathrine menyusul dengan wajah terpana kearah gedung.
"Ayo sini,.. " Ucap Jimmy menghampiri Cathrine.
Jimmy meraih tangan kanan Cathrine. Ia melingkarkan di tangannya. Seperti pasangan kencan pada umumnya.
Cathrine binggung dan memandang Jimmy. Namun balasan yang di dapat malah senyum manis dari pipi Jimmy.
Cathrine tersipu malu dan menahan tawanya. Rasanya seperti sedang mendapat hadiah besar dalam hidupnya.
"Jangan tahan senyum mu. Kamu manis saat tersenyum... " Ucap Jimmy.
Mereka pun masuk ke dalam. Menuju lift utama yang ada di gedung.
Kini saat mereka menunggu giliran naik. Kami pun masuk ke dalam lift. Ada yang aneh karena gedung ini tak memiliki lantai 4, 12 dan 13.
"Lantai 14 pak?" Tanya petugas tersebut.
"Ya... " Jawab Jimmy datar.
Aneh di jaman seperti ini, mereka membangun gedung masih dengan faham Fengsui dari angka tersebut.
Petugas lift memandang kami dari pantulan dinding. Pandangannya seperti menghina kearahku.
"Ada yang aneh mas?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Ah engga Bu, cuman ibu sama bapak sepertinya terlambat karena tamu lain sudah saya antar.
"Ya.... " Jimmy menjawab.
Aku memandang Jimmy, ia daritadi hanya berkata Ya?
Ting........ (Lift terbuka).
Kami pun keluar, Jimmy sama sekali tak memperdulikan apa yang dilakukan oleh petugas tadi.
Aku sedikit kesal dan meremas tangan Jimmy.
__ADS_1
"Kamu marah?" Tanya Jimmy.
" ...... " Aku cuman diam dan memonyongkan bibirku.
"Yang tadi kamu lakukan hanya membuang waktu dan energi. Dia melihatmu bagaiman sudah biarkan. Anggap saja ia tak pernah melihat aku membawa perempuan." Ucap Jimmy sambil mengelus pipi ku.
Tangannya sangat halus dan hangat. Kali ini pertama kali nya pula, ada pria menyentuhku dengan lembut.
"Wajahmu merah.. Kamu tidak apa - apa?" Tanya Jimmy dengan pandangan sendu.
"Hah?? Engga... Engga papa... " Jawabku sambil menutupi kedua pipiku.
"Hmm... Baiklah ayo kita masuk ke dalam. Aku jelaskan singkat, disini kamu hanya perlu tersenyum. Menganggukkan kepala sedikit dengan gerakan anggun. Dan jangan jawab apapun, biarkan aku yang menjawab semua."
Aku memperhatikan dan mengingat semua detail yang Jimmy katakan. Aku tak boleh membuatnya kecewa. Ingat demi 5 juta!!
Kami pun melangkah berdua masuk ke ruangan tersebut.
Ruangan yang tidak begitu besar, namun dengan dekorasi minimalis. Khas sekali ini pesta bukan milik orang sembarang.
Banyak warga negara asing disana. Mulai dari yang berkulit gelap hingga terang. Biar aku tebak, ini pasti pesta untuk para ekspatriat.
Namun kenapa Jimmy membawaku?
Kami mulai melangkah masuk lebih dalam. Aku melakukan apa yang Jimmy mau. Hanya tersenyum dan sedikit mengangguk kan kepala.
Banyak pasang mata yang memandang kearah kami. Seperti ini pertama kali mereka melihat kami. Namun aku tak boleh ambil pusing dan tetap jaga image mu Cathrine!
"Water Sir? " Ucap pelayan yang mendekat ke tempat kami duduk.
"..... " Jimmy hanya mengangguk.
Tak banyak kata yang ia dengar. Acara makan pun sudah di mulai. Entah mereka berbicara dengan bahasa yang tak aku pahami.
Aku hanya diam, tenang dan memandang ke hidanganku. Sebuah Steak dengan aroma yang memancing liurku untuk keluar.
Jimmy mendekati telingaku, ia pun berbisik. "Jika kamu lapar, makanlah dulu. Tapi saat semua tepuk tangan. Ikutlah. jika semua tertawa, maka ikut tertawa dengan anggun. Jaga sikapmu."
Aku hanya mengangguk, aku paham apa yang di mau Jimmy. Namun aku pun memulai makan malamku.
Aku mengiris daging tersebut. Sangat lembut dan juicy. Aku memasukkan perlahan ke mulutku dan mulai menikmati daging empuk tersebut.
Entah mengapa tangan Jimmy menghampiri bibirku. Ia menggunakan Ibu Jarinya untuk menyentuh bibir kanan bagian atasku.
Jimmy hanya tersenyum melihat tingkahku. Pipinya memiliki cekungan yang menarik saat tersenyum.
Tapi, saat aku melihatnya jantungku berdetak lebih kencang. Tangan ku pun menjadi dingin. Ada apa dengan tangan ini?
******
"Bagaimana sudah kenyang?" Tanya Jimmy sambil mengemudikan mobil.
"Anggap saja sudah, aku tidak boleh terlalu gemuk. Agar di kamera aku tidak terlihat lebih besar." Aku menjawab dengan memegang lengan serta pipiku.
"Hmm... Gemuk? Kamu masih mikir soal Casting itu?"
Aku langsung menoleh ke Jimy.
"Tentu saja, dimana lagi aku bisa cepar dapat uang? Namun bukan menjadi bintang film seperti kemarin... "
"Ya aku paham, tapi kamu harus tau. Aku tidak suka melihat perempuan bermain film yang tidak baik. Apalagi aku menjadi orang mendanai di belakangnya... Asal kamu tau, aku saja tidak mengenal artis yang bermain di film yang menghabiskan uangku..."
"Oh iya? Masak artis sekelas Moo dan Jeska kamu engga kenal? Hampir semua film yang sukses di negara ini pasti menggunakan mereka sebagai bintang utama nya.. Kalau aku engga salah baca, produksi dari tempatmu juga.... "
"Tidak..... " Jawab Jimmy datar.
"Uhm..... Tapi aku??"
Jimmy menoleh ke arahku. Kami sempat saling menatap sesaat.
"Kamu kenapa??" Tanya Jimmy.
"Kenapa kamu bantu aku dari awal. Padahal kamu engga kenal sama aku... "
"Ya.... Ya karena kamu itu minta tolong. Saat kamu tertabrak dengan sengaja, yang aku dengar orang minta tolong. Jadi atas dasar rasa manusiawi aku menolong... Begitu... "
"Oooo...... Oke deh..... Tapi untuk malam ini kamu membayar aku kan?"
"Tentu.... " Jimmy mengeluarkan ponsel dari saku nya.
Ia memberikan kepadaku, "ketik akun bank kamu. Aku bayar langsung.. "
__ADS_1
Aku pun tersenyum dan mengambil ponsel Jimmy. Aku mengetik akun bank ku dengan hati - hati.
Tanganku rasanya dingin, gugup dan tak percaya aku mendapat uang semudah ini. Hanya dengan menemani dia makan malam.
Aku memberikan lagi ke Jimmy. "Ini... Sudah aku ketik detail... "
Jimmy mengambil kembali ponselnya. "Eh tanggan kamu dingin? Apa ac di mobil ini dingin??" Jimmy panik saat tangannya bersentuhan dengan jariku.
"Ah engga kok... Engga... Aku cuman gugup mau dapet uang ... Hehee... " Aku pun tertawa kecil.
Kembali Jimmy memandangku sesaat. Ini membuat ku canggung. Aku takut kalau aku malah jadi kebawa perasaan dengan Jimmy.
Apalagi ini pertama kali aku di ajak pergi dengan pria selain teman sekolahku.
Jimmy tersenyum dan kembali mengemudi. malam ini terasa amat panjang. jalanan lancar dengan lampu kelap - kelip menemani kami.
"pemandangannya bagus ya?" aku berkata memecah keheningan.
"iya bagus... melihat pemandangan begini saja kamu sudah senang?" tanya Jimmy.
"iya... aku selama ini hanya melihatnya dari bis dan angkutan umum lain. baru kali ini aku bisa memandang bebas dan luas... sangat Cantik.... "
Jimmy tersenyum melihatku..
**********
"iya ma, aku kirim 3 juta. kemarin aku dapet fee dari sinetron. belum selesai syuting jadi cuman DP nya aja dulu..." aku berbicara lewat ponsel dengan mama ku.
"iya Kak.. tapi kamu bisa cari lebih banyak? mama butuh uang untuk operasi jantung papa. kita engga punya asuransi atau jaminan yang bisa cover papa lho kak.... "
"iya ma... kakak paham, aku juga lagi usaha cari ma... tapi kumpulin uang kan ga gampang ma.... emang biaya nya kira - kira berapa sih ma?"
"kemarin mama tanya bisa sampai 100 juta kak. itu untuk 2 pembuluh darah papa. jika lebih ya kakak kali aja.. segini bisa buat mama beli obat jantung papa dan makan kak..."
"hmmm.... ma... doakan aku ya, biar bisa bantu papa sama mama... aku cuman mau cari uang yang halal ma. aku titip adek ya ma, jagain adek... "
"iya kak.. kamu juga jangan lupa makan, kamu jangan sampai ga makan ya... mama putus dulu ya kak, mama mau ambil uang nya sama beli obat.. "
"iya ma .. byee..... " aku menutup panggilan tersebut.
aku menghela nafas dengan sedikit berat. apa yang kembali aku harus lalukan? kini aku sudah sedikit mulai bekerja. apa lagi?
bagaimana dapat uang sebanyak itu?
"Cath!! cepat ada meja yang kosong.... " teriak si pemilik warung.
aku bergegas bangun dan berjalan ke depan. aku merapikan piring kotor dan membawa ke dalam troli. aku membersihkan sisa noda di meja dengan lap di tanganku.
ya, ini pekerjaan ku saat ini. menjadi tenaga kebersihan di Rumah Makan Padang langgananku. Uda dan Uni pemilik amat baik kepadaku.
mereka bilang kasihan melihatku. saat bersama Jessy aku bagai pembantu nya. padahal kami sama - sama merantau dan mencari rejeki.
jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Uni mendekati ku yang sedang mengeringkan piring di tempat cucian.
"nak... ini sedikit upah harian yang uni janjikan kalau ramai.. " Uni memberiku uang yang di lipat nya agak kecil.
"terima kasih sekali Uni... terima kasih Uni... " aku menerima uang tersebut dan menaruh dalam saku celanaku.
"kamu jangan lupa makan.. kamu rajin kalau Uni dan Uda lihat, kami senang kamu bantu disini. yang betah ya Nak... "
"iya uni..saya sudah makan tadi kok Uni..terima kasih uni..." jawabku dengan semangat.
"sudah habis ni pulang lah, kost mu di belakang sini. tapi jangan malam - malam pulang. kau anak perawan masih harus dijaga... biar nanti Uni sama Uda yang beres dan tutup kios... "
"iya Uni... " jawabku sambil merapikan semua piring yang telah bersih.
Uni pun pergi ke arah depan kios. aku bergegas membereskan dapur dan mengepel lantai. aku tak ingin menambah pekerjaan boss ku yang baik ini.
setelah selesai, aku mengambil tas slempang berwarna coklat. aku memindahkan uang yang Uni beri tadi. wah... aku mendapat 50 ribu!!
senyum ku lebar melihat uang tersebut. aku langsung buru - buru memasukkan dalam dompet dan bergegas pulang.
"uni... Uda... saya pulang dulu ya... sampai jumpa besokk.... " aku berpamitan dan telah berada di pintu masuk rumah makan tersebut.
"iyo! kau hati - hati ya... sampai jumpa...!" balas dari Uda.
aku lihat Uni masih sibuk mengajarin anak nya belajar. ia hanya melambaikan tangan kepadaku. aku pun berlalu meninggalkan warung makan tersebut.
"kasihan ya Bunda.. dia anak baik dan rajin. malah di tipu sama agensi macam itu... " ucap Uda.
"Iya Yah, makan nya Bunda minta dia kerja disini saja. sedikit pun ia terima lebih baik daripada kerja sampai pagi cuman dapat 50 ribu. masih di potong komisi pula... " jawab Uni sambil membelai rambut anak mereka
__ADS_1
"sudah Bunda, kita pulang sajo. ini sudah malam, seperti mau hujan ni... "
mereka pun menyusul Cathrine pulang. memang rumah mereka tidak jauh, namun butuh perjalanan 30 menit hingga sampai ke rumah mereka.