
Aku pun keluar dari ruang tersebut. Kemudian aku melihat ke ponselku. Sudah pukul 12 siang. Pantas saja matahari agak panas.
Aku berjalan ke arah gerbang keluar. Namun, perasaan ku tidak enak...
"Heiho... Gw nungguin selesai juga lo dari dalem... " Suara yang aku kenal.
Aku lalu membalik badanku. Rupanya Jose..
Lalu aku memutar bola mataku ke atas dan aku menghela nafas.
"Lo ngga pengen gw anterin pulang? Eh sorry.. Maksud gw.. Mau gw bantu sesuatu.. " Jose menahanku.
"Gw rasa engga... Gw mau ketemu sama..... " Aku baru terpikir bagaimana menjelaskan Jimmy.
"Biar gw tebak.. Lo udah punya pacar kan.? terus lo bakalan di jemput dia.." Jose bertanya dengan tatapan tajam.
"Jelas... Gw udah punya dan gw juga uda di tunggu.. Permisi... "
Aku meninggalkan pria itu.
Aku berjalan dengan tempo santai menuju pintu keluar. Di samping kampus ada mall untuk pangsa pasar menengah.
Jimmy menungguku untuk bertemu disana. Katanya ia ada meeting penting di weekend ini.
Aku masuk ke area dalam, ada counter donat dan minuman. aku mengantri sebentar dan membeli coffee latte disana.
Kring... Kring... (Ponsel bunyi)
"Hallo? Kamu dimana?" aku bertanya sambil minum.
"Kamu dimana?"
"Aku beli minum di Dundonat... "
"Owh... Naik 2 lantai saja. Pakai eskalator.. Aku tunggu depan Steaky.. "
Panggilan terputus.
Aku lalu jalan mengikuti petunjuk Jimmy. Mall ini tidak begitu besar, tapi segalanya cukup lengkap.
Aku berjalan santai sambil membiarkan sedotan ada di mulutku. Hingga aku bertemu dengannya...
Tatapannya manis dan hangat. Aku tersenyum membalas sapaan nya. Jantungku berdegup kencang, ada rasa yang membuatku ingin tersenyum menatapnya.
"Sudah selesai?" Ucap Jimmy.
"Sudah, aku hanya perlu membayar dan validasi lagi kesana... Apa lama menunggu?"
"Tidak... Ayo masuk.... " Jimmy meraih tanganku, ia mengajakku masuk untuk makan siang.
Kami duduk berhadapan, steak sudah tersedia di hadapanku. Jujur aku menahan air liurku agar tidak menetes.
"Ayo makan Sayang... " Ucap Jimmy.
Aku malu - malu mengambil pisau dan garpu. Kami makan siang bersama siang itu.
"Oh bagaimana perjalananmu tadi? Aku lupa kalau belum meminta Pak Teddy menjemput... " Jimmy membuka.
"Santai... Aku bisa naik bis. Aku bertemu orang baik yang membantuku.. " Ucapku santai..
sebenarnya aku kesal, aku tak paham arah.
"Setelah ini, kita bertemu Andy. Dia dokter kandungan yang pintar.. Kita konsultasikan soal hubungan kita.. " Balas Jimmy.
Aku mengangguk, sebenarnya aku ga ingin melakukannya. Sama saja aku mengatur Tuhan soal keturunan.
Aku menurut saja permintaan Pria ini...
bahaya KB dan semuanya sebenarnya memenuhi pikiranku. apa usiaku sudah cukup?
*********
Kami menunggu di depan ruang prakter dengan tulisan Andy D.
aku melirik sebelahku, Jimmy sibuk dengan tablet di tangan nya.
Aku melihat sekitar ku.. Banyak dari mereka memegang perut yang membuncit. ada pula yang sama sepertiku. datang dengan perut datar atau sendirian..
Dalam hatiku, aku merasa iri. Mereka terlihat sangat cantik dan bahagia. perut buncit, ditemani oleh suami. apa pernikahan memang seindah itu?
Mungkin ini salah satu moment bahagia bagi kehidupan pernikahan...
"Jimmy & Cathrine... " Panggil suster.
Kami pun berdiri dan masuk ke dalam. Didalan sudah menunggu seorang Pria Muda. Aku rasa ia seumuran Jimmy.
"Good Afternoon.." Sapa Pria itu kepada kami.
"Sudahlah, jangan formal begini..." Jawab Jimmy.
Kami pun duduk berdampingan dan aku masih melihat isi ruangan itu. Baru kali ini aku masuk ke ruang Dokter Kandungan.
"Apa sedang haid istrimu?" Tanya Dokter Andi.
"Ya.. Dia sedang Haid..sudah beberapa hari lalu sepertinya.. Apa bisa?" Tanya Jimmy.
"Hmm..... " Dokter hanya diam dan menulis sesuatu di buku.
"..... " Suasana diam dan hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.
"dok.... Apa aman buat saya? Saya belum pernah melahirkan dan saya ga paham soal kontrasep**... " Suaraku parau.
"Sebenarnya saya tidak menyetujui... Dimana sama saja ini menentang agama manapun.. Tetapi saya mengembalikan ke anda berdua... Jika sudah ada pembicaraan ya mari kita lanjutkan.. " Jawab dokter dengan klise.
__ADS_1
"dok.. Apa berbahaya untuk masa depan saya?" Kedua mataku mulai berkaca saat aku bertanya.
"Seharusnya tidak. Jika melepasnya, kamu bisa hamil kok. Ga akan berbeda, meskipun saya sebenar nya lebih senang kalo Ibu mau tes hormon lebih dahulu... Demi kenyamanan saja Bu... "
Aku lalu memandang Jimmy, ia malah memandang ke Dokter Andi. Yasudah aku tahu artinya.
"Sudah dok, suntik saja... " Lalu aku berdiri dan berpindah ke tempat periksa.
Dokter mengukur tensiku, lalu ia mengambil jarum dan ampul berisi apa yang aku tidak paham.
Jantungku agak tak beraturan. Aku takut tapi anggaplah tak akan ada apa - apa.
Aku merasaan jarum itu ketika masuk ke lenganku. Dingin? Tidak.. Rasanya sangat cepat. Aku hampir tak menyadari sudah selesai.
"Jika ada rasa pusing, mual dan tidak nyaman bisa kembali kesini ya.. Saya periksa lagi..mungkin KB ini tidak cocok dengan Ibu.... " Ucap Dokter Andi.
Aku hanya mengangguk, menjawab apa yang ia tanyakan. Aku tak sanggup menolak ini.
kami pun berjalan keluar dan menunggu di bagian kasir. kami akan membayar layanan injeksi tadi, antrian tidak terlalu banyak.
kami duduk di kursi tunggu di depan counter tersebut. wajahku terlihat seperti orang binggung.
"Kamu kenapa selalu begini? Aku kok ngerasa kamu kaya narik ulur hubungan kita..termasuk soal KB ini... " Aku berbisik.
"Bukan begitu.. Aku menjaga semuanya Cathrine.. Aku pengen yang udah aku rencanain lancar.... "
Aku diam hanya menghela nafas. Apa aku terlalu kekanakan.?
apa aku masih dalam usia labil?
menganggap pernikahan itu indah?
mudah?
hingga aku malah kesal dengan apa yang aku hadapi saat ini.
*****
Minggu yang cerah dengan awan yang terlihat jelas dari kamar. Aku terbangun dan melepaskan pelukan Jimmy.
Ponselku menyala, sepertinya ada pesan masuk.
Aku mengambil dan membuka.
Yofie : apa kamu akan kembali? Bagaimana dengan barang yang masih ada disini?
"Sialan, aku lupa masih ada barang tertinggal disana? Aku pikir sudah aku ambil semua... " Aku mengumpat.
"Apa sayang?" Sapa Jimmy dengan memeluk pinggangku.
"Aku mendapat pesan dari Yofie. Seingatku sudah aku ambil semua barang ku dari kost... " Aku menunjukkan pesan itu ke Jimmy.
Wajah Jimmy masih setengah sadar. Ia hanya menunjukkan senyum simpul di wajahnya.
"Yasudah mari kita kesana.. Aku sekarang bertanggung jawab atas dirimu sayang... " Jimmy lalu bangun dan meninggalkanku.
Ia bersiap dan membersihkan dirinya. Kadang aku heran, pria ini bisa lebih cekatan untuk mandi daripada aku.
********
Jam di dashboard menunjukan pukul 10.00. Perjalanan terhitung lenggang, seperti minggu biasanya menurut Jimmy.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Jimmy.
"Sarapan tadi? Enak dan murah menurutku... "
"Bukan! Yofie. Nanti kita cepat saja. Kamu besok masih harus mempersiapkan data untuk kuliah mu... " Jawan Jimmy.
"Ahh... Iya, aku malah mikir, ngapain kesana? Uhm... Jimmy, jika aku bertemu dengan Jessica apa boleh?"
"Apa? Mau ngapain? Bukannya dia benci ya sama kamu.. Tapi, balik ke kamu aja, mau ya silakan .... " Jimmy menjawabku.
"Aku juga engga paham, cuman dia bilang kangen dan pengen curhat... Tapi kan aku harus bilang ke kamu dulu... " Jawabku polos.
"Kalo aku engga ngijinin apa bisa? Semua terserah kamu, aku mengantar saja lah... " Nada Jimmy datar.
Aku rasanya malah bersalah ya. Tapi kalo ga jujur jelas ga mungkin. Aku sekarang hidup bersama dia.
mobil Suv Jimmy berhenti tepat di depan rumah Tante Nona. kami pun turun, Jimmy lalu menekan Bel.
agak lama kami menunggu, ada seseorang yang keluar. pintu pun terbuka.
"Cathrine?" Stacy menyapa.
"oh hai... apa kabar?" aku menjawab.
"sehat, baik.. mari masuk, maaf lama ya saya bukanya... " Stacy mempersilakan kami masuk.
kami masuk ke area dalam. ruang tamu agak sedikit berbeda. aku ingat kira - kira baru sebulanan aku pergi.
kami duduk di salah satu kursi. bersebelahan dan menunggu pemilik rumah. suasana kini tampak asing bagiku.
tempat yang tadinya aku tinggali saat pertama datang. Tempat yang membawaku bertemu dengan Jimmy.
"Cathrine.. kamu datang?" Yofie menyapaku.
Jimmy diam dan mengamati apa yang Yofie ingin lakukan.
"iya kak, apa kabar? sudah selesai acaranya ya kak?selamat ya,aku malah belum memberi hadiah buat kakak... " jawabku.
"tidak usah Cathrine, yang penting doa dari kamu saja cukup... " Yofie menjawab.
seseorang keluar dari dapur. ia membawa nampan berisi air dan beberapa cemilan di dalam wadah.
__ADS_1
"terima kasih," aku berkata pada perempuan paruh baya tersebut.
"Cathrine, saya buat cepat saja. jadi ada beberapa barang di dalam kamar yang kamu tinggali. apa bisa kamu ambil? karena kakak mencari Jessy sangat sulit .... sedang kakak berfikir untuk menyewakan lagi kamar tersebut.... "
aku melirik ke Jimmy, ia seperti memahami ada yang miss disini.
"Cathrine sudah membawa semua Yofie. kalau itu barang Jessy. biar dia ambil atau kalian urus saja. bukan menjadi tanggungan Cathrine... " Jimmy membuka suara.
"uhm.. begini, coba aku pastikan ya. apa masih ada barang aku.. biar ga miss, nanti biar Jessy coba aku hubungi ya... "
aku pun berdiri dan menuju kamar kostku. kamar yang sudah hampir sebulan lebih tidak aku masuki.
suasana masih sama, namun hanya beberapa barang tertinggal. aku melihat satu per satu semua yang ada. memang ini semua milik Jessy.
aku hanya menemukan pakaian blouse kami. aku ingat Jessy memberikan kepadaku saat itu. ia pertama kali mendapat gaji setelah syuting beberapa hari.
...........
"jadi Cathrine memilih tinggal denganmu?" Yofie memulai.
"jelas... dia lebih terawat dan cantik bukan... " jawan Jimmy.
"apa gunanya, jika kamu tidak bisa mendapat hatinya? yakin dia mencintai kamu? atau karena uang mu ia bertahan?" Yofie mencoba membuat panas Jimmy.
"yang jelas, saya suami sah nya. jadi apapun itu saya wajib memenuhi dan menjaga Cathrine. ohiya, saya juga tidak memaksa dia.... "
"suami? bukannya kamu itu tidak akan menikah?kalian saja tidak memakai cincin pernikahan sepertiku... " Yofie menunjukkan cincin putih milik nya.
aku kemudian masuk dan duduk di sebelah Jimmy. Yofie berubah menutup jari manisnya.
"sudah aku periksa, disana semua barang Jessy... " Aku berkata.
"baik, kalau begitu jelas ya.. kita pulang sayang... " ucap Jimmy.
aku kikuk dan mengangguk saja, lalu Jimmy berdiri dan menarik tanganku keluar.
"kami permisi kak Yofie... " aku berkata sambil bergegas pergi.
Jimmy langsung membawaku masuk ke dalam mobil. ia bergegas pergi dari sana, sepertinya Jimmy tidak betah berlama disana.
"kamu hubungin Jessy? biar dia ambil semua barang?"
"engga lah, males aku. tadi aku nemu tulisan kecil disana. bagaimana dia benci sama aku, bahkan seperti mengutuk aku.... " jawabku sambil membuang pandangan ke sebelah kanan.
"..... " Jimmy diam.
"aku ga nyangka aja, ternyata dia begitu sama aku. banyak tulisannya yang kelihatan ga suka ke aku... padahal aku engga pernah mau jahat sama dia... "
"sudahlah. kamu sudah tahu, gausah lah deket ke dia. mending mikir kuliah atau kamu mau kursus apa buat ngisi waktu.... " jawab Jimmy.
**********
yah, senin pun tiba.. Jimmy sudah bersiap dengan kemeja kerja nya. sarapan roti bakar sudah aku siapkan.
jam dinding menunjukkan pukul 5.30 pagi. seperti rutinitas awal minggu nya akan seperti ini. aku pun mulai terbiasa dan menyiapkan segalanya.
"sebenarnya pekerjaan kamu gimana sih? jam segini kamu bersiap. jam 6 sudah pergi dan kembali malam hari... " aku bertanya.
"senin itu awal minggu, aku selalu terbiasa untuk menata segala yang lebih cepat di awal minggu. kebiasaan dari orang tuaku... " jawab Jimmy.
"terus kerjaan kamu tu ngapain?" tanyaku polos.
"memeriksa keuntungan, operasional dan memilih mana yang bisa di kembangkan mana yang tidak... lalu bertemu dan membuat relasi dengan banyak orang... jaman juga sudah semakin maju, dulu kita harus tatap muka..sekarang ada web cam yang menghubungkan kita...."
"ah iya benar juga, aku masih harus banyak belajar agar paham semua itu... " jawabku dengan wajah binggung.
"oh aku lupa, harusnya aku memberi kamu Laptop dan printer ya. kan kamu harus mulai bersiap..."
"sudah, kita bicara nanti. sudah jam 6 saat nya kamu berangkat.. " aku berdiri dan mengambil tas kerja Jimmy.
lalu aku mengantar nya sampai ke pintu keluar. Jimmy memeluk dan mengecup keningku.
"aku berangkat.... "
sebuah anggukan kepala sebagai balasanku. aku tersenyum juga membalas kecupan Jimmy.
ia pun pergi meninggalkanku, aku menutup pintu dan kembali ke dalam.
tumpukan piring kotor kini menemaniku.
Jimmy memang menyediakan Simbok sebagai orang yang membersihkan apartemen ini. namun tak biasa bagiku menyuruh orang lain.
aku mencoba membersihkan semua yang ada disana. piring, kompor dan area kamar mandi.
apa ini yang di maksud pekerjaan ibu rumah tangga? aku memandang tumpukan baju yang belum di cuci.
dalam keranjang lain ada baju bersih yang harus aku setrika dan pindahkan ke lemari.
baru mengerjakan beberapa hal saja aku sudah mulai lelah. aku menghela nafas dan melanjutkan lagi semuanya.
**********
"jadi, bagaimana kehidupan rumah tangga lo?" Tanya Louise.
"Running Well... semua baik... " jawab Jimmy sambil fokus ke monitor di hadapannya.
"oh begitu, lalu bagaimana dengan Cathrine dan keluarganya? menerima dengan kehadiranmu?"
"ayah nya sudah, adiknya sedikit belum mau nampaknya. namanya juga anak perempuan yang selalu bersama kakak nya kesana kemari..." jawab Jimmy cepat.
"ibu nya?"
Jimmy langsung diam dan menatap Louise. ia diam sesaat dan berfikir.
__ADS_1
"entah, aku tak bertemu. yang aku dengar Ibunya pergi meninggalkan suami dan anak nya... Cathrine pun sepertinya tidak terlalu dekat dengan mama nya... " Jimmy menjawab.