
Aku menata piring yang sudah bersih. Warung hari itu cukup ramai.
Tapi perasaanku masih emosi.
Bagaimana Jessy merendahkan diriku. Salahku apa?
"Nak.. Kenapa?" Uni mengagetkanku.
"Ndak papa Uni... Cuman kesel aja... "
"Sudah jangan sedih. Jangan buat hati dan pikiran kamu jadi buruk. Hal buruk akan mendekatkan setan. Jadi lebih baik, kamu banyak membuang yang buruk... "
"Iya Uni, maaf saya kurang fokus hari ini.... " Aku menjawab sambil merapikan sendok di sampingku.
"Sudah.... Uni paham.. Masalah anak muda... Sudah pelanggan mulai datang.... " Uni meninggalkanku.
Aku pun berpindah fokus ke pelanggan. Uda duduk di pojok, uni pun menyusulnya.
"Bunda, bagaimana sudah bicara?" Uda bertanya.
"Belum, aku tidak tega bang. Bagaimana ya..? Abang punya ide?"
Uda hanya mengelengkan kepalanya. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
"Aku tak sampai hati bang. Bicara kalau kita mau tutup lama. Apalagi, kita akan buka lagi atau tidak saja kita tak bisa janji.
Yang aku tahu, sekarang dia cuman kerja sama kita. Sudah berhenti syuting ga jelas itu bang... " Uni berbicara dengan nada pelan.
Uni sengaja tak ingin aku mendengar mereka bicara.
Aku sibuk melayani pelanggan yang datang. Keadaan siang ini lebih ramai, mungkin ini karena mendekati jam makan siang.
"Iyo, tapi kita tetap harus bilang.. Apalagi kita nak pergi ke kampung... Paling tidak sebulan lho Bunda... " Uda menjawab.
"Sssttt.... Jangan keras bicara mu Bang. Aku akan bilang, tapi ndak sekarang juga..." Uni menjawab lalu melihat ke arahku.
"Bang, semoga dia bisa dapat lelaki baik ya bang. Anak rajin dan jujur, wajahnya pun manis... Semoga nasib baik akan mengikuti dia ya Bang... " Ucap uni.
"Amin... Amin ya Allah... Kita hanya bisa membantu dan berdoa, apalagi selama ini kita anggap dia anak sendiri."
"Itulah bang yang buat aku berat. Aku sayang seperti anak sendiri... "
Sore itu masih tutup lebih cepat. Tepat pukul 6 semua sudah rapi dan lampu mulai di padamkan.
Nampaknya boss ku memang butuh banyak istirahat. Baiklah, setidaknya aku masih mendapat gaji.
"Nak.. Besok sabtu - minggu kita tutup ya... Kami mau siap - siap pulang kampung... " Uni berkata sambil memberi gajiku.
"Oh iya Uni.. Uhm... Uni pulang lama kah?"
Wajah uni berubah sedih. Ia kemudian diam sambil berfikir.
"Sebenarnya paling tidak sebulan nak... Anak kami yang di angkat orang mau nikah. Kami harus menjadi walinya. Paling tidak bisa sebulan lebih.... " Ucap Uni.
Aku kaget dan jujur aku binggung. Bagaimana selama mereka pulang? Aku otomatis tidak akan mendapatkan uang.
"Oh iya Uni, di urus dulu saja. Pernikahan kan suatu hal yang penting. Apalagi itu anak sendiri.. " Aku berkata sambil menyembunyikan kebingunganku.
"Maaf ya nak.. Apa kamu mau kami carikan bos sementara? Teman uni ada punya butik di kota. Kamu mungkin bisa Uni tawarkan jasa menjaga di butik nya.. " Uni mencoba membantu.
Sepertinya ia sudah tahu kalau aku binggung.
"Baik Uni, bisa saja jika memang mereka butuh.. Ohiya, sudah malam.. Saya pulang dulu ya Uni.. Malam Uda.." Aku langsung pergi menjauh.
Terakhir aku lihat mereka malah sedih saat aku pulang. Padahal aku tidak masalah dengan apa yang mereka lakukan.
Aku bisa mencari syutingan atau kerja di tempat lain. Aku hanya pegawai tapi jangan sampai menganggu mereka.
*********
"kenapa bayangan wanita itu muncul terus?!" jimmy mengumpat.
ia kembali mencoba fokus pada notebook nya. namun bayangan Cathrine tak bisa hilang dari pikirannya.
"bisa gila aku! apa sih yang perempuan itu lakukan? aku bisa menjadi seperti ini... "
Jimmy kemudian mengambil ponselnya. ia menekan tombol panggilan.
'ttuuut..... tuuuutttt..... tuuutt... 'dering tunggu yang terdengar.
"sialan ga di angkat!" Jimmy kemudian menekan pesan ke Cathrine.
Jimmy : kamu dimana? kenapa ga jawab?
me : baru selesai mandi dari warung...
Jimmy : bagaimana jika kamu menginap disini? aku jemput sekarang.
me : besok saja kan hari jumat. aku akan lama disana apa boleh?
Jimmy : tentu! tinggalah selama mungkin...
Jimmy tersenyum sendiri, ia senang mengetahui aku akan tinggal lama dengannya. tapi ia langsung sadar, kenapa pesan terakhirnya tidak di balas.
Jimmy : hei? kamu jadi hening. selesai percakapan ini??
me : aku ketiduran... aku lelah.. sampai besok ...
"ah wanita ini! kenapa ia berlaku seenaknya sendiri. tidak berpamitan pula. apa dia selalu begitu?"
Jimmy : selamat malam. tidur nyenyak ya... aku menunggumu..
"nah... sekarang dia sudah benar tidur?? aku balas kamu nanti!" Jimmy kesal lalu meletakan ponsel di atas meja.
__ADS_1
biasanya wanita mengirim pesan beruntun kepadanya. kenapa Cathrine bisa cuek dan belaku demikian?
justru ini yang membuat Jimmy penasaran. bagaimana sih perasaan Cathrine kepadanya.
******
jumat sore pun tiba. aku pulang dari warung siang hari. mereka (uda & Uni) ingin segera packing dan pergi ke pelabuhan.
Aku melihat jam di ponselku. Ini masih pukul 2 siang. Aku berkemas agar bisa ke apartemen Jimmy.
Tapi aku juga ga tahu nama dan alamatnya. Aku membawa ransel kecil, aku masih meninggalkan beberapa pakaian ku disana.
Aku memutuskan naik angkot sampai ke terminal. Jumat yang tidak begitu ramai.
Aku menunggu Bis Transit yang menuju ke pusat kota. Jimmy bilang ia akan menjemputku di mall.
Akhirnya biss itu datang. Aku masuk dan duduk di samping pintu keluar. Beruntung aku naik dari halte ini.
Sesudahku ramai sekali, bahkan kami berdesakan. Aku melihat masih jauh tujuanku.
"Dek... Jangan lupa di pegangin tasnya. Banyak copet jam segini." Ucap wanita paruh baya di sampingku.
Ia mengenakan kemeja bunga berwarna putih, rambutnya sepundak dan wajahnya ramah.
Aku pun tersenyum melihatnya.
"Kamu dari daerah?" Ibu itu bertanya.
"Iya Bu.. Saya mau ke Mall Mawar Bu.. Saya jarang naik jam segini. Kok rame ya.. " Aku menjawab.
"Memang! Kalo jumat itu mulai jam 2 udah gila deh, puncaknya sampe jam 8 nanti. Nah, kalo mau kesana transit di halte 20..terus kamu jalan ke arah seberang naik bis transit lagi. Nanti 2 halte setelahnya udah sampe... " Jawab ibu itu.
"Oh iya Bu.. Tapi masi jauh bu dari sini?" Aku bertanya balik.
"Kalo engga salah 5 halte lagi deh. Palingan 30 menitan... "
"Ah iya Bu, terima kasih ya. Saya baru pertama naik sendiri rute sampe sana.."
"Sama - sama... Wah saya dah sampe.. Sudah ya... " Ibu tersebut berdiri dan mendekati pintu keluar.
Ia pergi meninggalkanku, silih berganti penumpang menemaniku. Aku merasa perjalananku panjang juga.
Aku sebenarnya menikmati, karena pemandangan sepanjang jalan. Aku bisa melihat tempat yang tak aku bisa temui setiap hari.
Jimmy sudah menawarkan diri untuk menjemput. Begitu juga dengan Pak Teddy.
"Halte 20..halte 20...transit mal... Kampus... " Kondektur memberi pengumuman secara manual.
Aku pun turun dan berjalan ke pintu sebrang di dalam halte. Aku mengantri kembali. Bis nya cukup lama yang aku tunggu.
Tak lama bis berwarna orange datang. Mereka yang bersamaku masuk ke dalam.
Bis ini cukup dingin, mungkin karena penumpang tidak ramai. Aku memilih berdiri saja. apalagi hanya 2 halte yang aku tempuh.
Aku masuk ke area mall, lalu aku ingat. Jimmy belum memberi info dimana ia menunggu.
Aku melihat jam di ponselku, astaga jam 4 sore. Ternyata aku hampir 2 jam menempuh perjalanan.
Pantas saja keadaan sekitarku ramai. Biasanya orang kantoran akan pulang cepat di hari jumat.
Jimmy : aku nunggu di donatkopi.
Itu isi pesan Jimmy. Aku mencari papan arah didalam mall.
"Apa begitu sudah menemukanku? Sampai aku yang pertama menemukanmu.. " Suara pria di belakang.
Aku menoleh, itu Jimmy. Dengan kemeja biru yang ia lipat bagian lengan nya. Jam tangan kulit di tangan kirinya.
Celana panjang hitam dan rambut dengan tatanan jabrik di bagian depan.
Kenapa ia begitu tampan?
Aku bahkan tak berkedip, justru nafasku jadi berat.
Ia berjalan mendekatiku. Makin ia dekat, makin jantungku berdetak kencang.
"Diem aja? Kamu tahu, aku menunggu lama. Ayo makan, aku lapar.. " Jimmy lalu menarik tanganku.
Kami naik eskalator ke 2 lantai di atas kami. Jimmy mengenggam tanganku, kami lalu masuk ke sebuah stand makan.
Disana mereka menjual steak dengan logo topi koboi. Aku tak paham soal steak.
Di kampungku steak itu di goreng dengan tepung tebal.
Tapi yang ada di papan menu. Semuanya tanpa kulit, rib eye, T-bone. Apa pula itu.
"Kamu mau makan apa?" Jimmy memandangku dengan hangat.
"Aku .... Sini.... " Aku mendekati telinga Jimmy.
"Aku ga tau mau makan apa. Pilihin aja ya.. Di kampungku steak itu pakai tepung tebel.. Bukan macem gini... " Aku berbisik lalu kembali ke posisiku di samping Jimmy.
"Aaa... Baik.. Kamu duduk dulu aja. Biar aku pilihkan... " Jawab Jimmy
aku memilih duduk di dekat pintu masuk. disana cukup sepi, namun hanya ada 2 pengunjung.
tempat yang tersedia pun terbatas.
Jimmy menyusul ku dan membawa minuman. ia membawa teh limun untuk kami.
"aku minum ya... " aku mengambil dan meminum nya.
aku tak sadar sudah sampai separuh gelas. aku pun berhenti dan melepas sedotan dari mulutku.
__ADS_1
"haus?" tanya Jimmy.
"..... " aku mengangguk malu.
"nanti kita beli yang lain saja kalau masih haus. oh iya bagaimana kesini. kamu engga nyasar?" Jimmy bertanya.
"tidak.. ada orang yang mau memandu di dalam. lagi pula aku seneng banget.. bisa lihat jalanan disana, banyak gedung tinggi dan kendaraan bagus di jalanan..."
"sepertinya kamu malah ketagihan naik Bis Transit ya... bisa kita coba jalan - jalan pakai Bis?" Jimmy berkata sambil mengaduk es di gelas.
"ya... aku mau banget... eh... maaf..... aku agresif banget, duh... kamu kan biasa naik mobil.. boleh deh kita coba kapan - kapan ya... "
ia tersenyum melihat diriku. aku mulai salah tingkah dihadapannya.
pelayan pun datang mengantarkan makanan kami. Jimmy memberi alat makan kepadaku.
2 piring steak berwarna coklat dengan kentang tumbuk di sampingnya. ada pula pasta berbentuk Penne di sana.
"ayo makan, jika kamu masih lapar kita bisa tambah lagi... "
kami mulai makan, steak ini masih sedikit berwarna merah di bagian tengah. tapi ada cairan yang keluar dari daging itu.
rasanya mirip seperti yang aku pernah makan bersama Jimmy dan Jessy.
"enak kan? ini bagian terenak. memasak daging sapi itu paling enak jika belum matang semua. ini berlaku untuk steak ya.. tanpa tepung." ucap Jimmy.
"iya.... aku pernah sekali kamu ajak makan. rasanya emang masih enak ya... " aku melahap cepat daging dan kentang tumbuk di piringku.
"yup... daging itu bagus untuk pria. apalagi jika program bayi... "
aku tersentak dengan ucapan Jimmy. bayi? apa maksudnya?
"tenanglah, aku cuman bercanda. kamu masih minum pengontrol kehamilan kan?"
"ah... sudah aku duga, pasti kamu bercanda... aku masih minum dan bawa pil nya kok... " aku menjawab.
sebenarnya saat tau ia bercanda kenapa rasanya sedih ya. tapi, benar juga daripada aku memiliki anak tanpa suami.
aku melanjutkan makan sore itu. sesekali aku melirik ke arah Jimmy. apa yang membuatku terlihat ingin melihatnya terus.
aku harus bisa membatasi diri. apalagi, tujuan kita bersama juga bukan pernikahan. dia butuh teman, aku butuh sponsor untuk masa depan.
fokus.... fokus Cathrine!!
"kenapa?" Jimmy bertanya.
"ah.. tidak, aku cuman sedikit mengantuk.... "
"baiklah, ayo kita pulang. kita lanjut berjalan - jalan besok saja ketika kamu sudah lebih baik.. "
Jimmy pun berdiri, ia mengambil ranselku dan menaruh di lengannya. ia bahkan lebih pantas dan tetap terlihat keren.
Ia membantuku berdiri, lalu ia merangkul pundakku. Kami berjalan keluar dari sana.
Kami menunggu di depan pintu Lift. Aku melirik ke tangan Jimmy. Rasanya tubuhku malah menjadi kaku.
Tangan Jimmy pun terlihat tegang. Aku melihat dari pantulan pintu lift. Wajahnya tetap dengan ekspresi cool.
Lift terbuka dan kami masuk. Aku memilih berdiri di tengah. Jimmy tak sedetik pun melepas tubuhku.
"Maaf bisa lepaskan tanganmu?" Aku bertanya dengan suara pelan.
"Tidak akan sampai kamu masuk ke dalam mobilku." Jawab Jimmy dengan berbisik.
"Tapi yang kamu lakukan membuatku malu. Kamu terlihat tegang memeluk pundakku, jika kamu keberatan lepas saja.. Aku tidak pusing lagi..."
"Jika kamu malu, aku bisa melakukan hal yang lebih membuatmu malu.... Soal tegang tanganku, ya memang tapi tak akan ku lepas. Lebih baik kamu menurut atau aku bisa lebih gila lagi... " Jimmy berbisik di telingaku.
"Sst... Ini tempat umum! Jangan melakukan hal memalukan disini.." Aku melirik tajam.
"Makanya diam dan menurut!"
Baiklah aku kalah, aku diam. Aku menunggu hingga lantai B2.
Lift terbuka dan Jimmy menarikku dengan pelukannya.
Aku melihat mobil Suv hitam di hadapanku. Mobil yang biasa digunakan Jimmy. Kami pun menuju kesana.
Jimmy membuka pintu mobil untukku.
"Awh... Terima kasih ya... Seperti di film yang kamu lakukan... " Aku menggodanya sambil naik ke dalam mobil.
Jimmy menyusulku naik ke dalam. Ia di sampingku mengemudi.
Aku merapikan Seatbelt yang memutar di dadaku.
"cathrine.... "
Aku menoleh ke Jimmy.
Tiba - tiba kecupan hangat di bibirku. Jimmy menciumku, ia melakukannya dengan lama.
Aku memejamkan kedua mataku. Rasanya seperti kami lama tak berjumpa dan melepas rasa kangen.
Lalu Jimmy melepaskan bibirku.
Aku membuka mataku, ia ada di hadapanku. Rasanya aku ingin Jimmy melakukannya lagi.
Seperti rasa yang membuatku kecanduan. Ini hal yang memalukan!
"Jangan disini Jimmy... Aku malu jika ada yang melihat... " Aku berkata lalu menundukan wajahku.
"Maaf, aku tak tahan... Aku.... Ah baiklah...ayo kita pergi... "
__ADS_1